close

TERAS

OASETERASWARA-WARA

Bermalas-Malas yang Alkitabiah

mendekap sayap sendiri

Teks Rinto Pangaribuan

Ilustrasi Surajiya

Kemalasan tak pernah mendapat tempat dalam kekristenan. Ia laksana hama. Bahkan dalam tradisi Kristen, ia termasuk salah satu tujuh dosa maut. Label yang bukan main-main. Ini indikator kuat betapa kemalasan adalah momok mengerikan.

Masyarakat kita mencaci-maki kemalasan. Rajin pangkal pandai. Malas pangkal bodoh. Begitu kata peribahasa kita. Orang-orang malas akan ditendang dari pergaulan. Tidak ada bos suka karyawan malas. Seorang ibu akan menjewer anak yang malas. Pun orang malas benci orang malas.

Pada sisi lain, sumpah serapah pada kemalasan adalah pemujaan terhadap kerja. Kita meluhurkan kerja sampai langit ketiga. Cita-cita masa kecil memuncak pada profesi kerja. Presiden kita menyerukan, ”Kerja! Kerja! Kerja!” Guru kita memerintah, “Kerjakan tugasmu!”

Pemujaan terhadap kerja adalah tindakan pilih kasih. Pasalnya, manusia juga diciptakan untuk malas-malasan. Tuhan mencipta manusia untuk selow dan santai menikmati dunia (Kejadian 2:16). Tuhan memberi kita hak untuk bermalas-malas atau malas-malasan. Bukan hanya hak. Bermalas-malas adalah kodrat manusia. Karena Allah telah meletakkan itu pada manusia, sejak semula.

Bagaimana membuktikan pandangan ini? Tetapi, bukankah banyak nukilan Alkitab mengatakan kemalasan—dan semua turunannya— terhisap dalam dosa?

Untuk menjawabnya, saya akan membatasi pembacaan hanya dari Amsal. Alasannya, hampir semua seruan mengenai kemalasan bersumber dari kitab ini. Jadi, benar kitab Amsal mengkritik kemalasan? Bagaimana imajinasi Alkitab tentang bermalas-malas? Atau, adakah sikap malas yang Alkitabiah?

Bermalas-malas dalam Alkitab: Sebuah Kritik

Perjanjian Baru memunculkan kata malas sebanyak tiga kali. Pada Matius 25:26, 1Timotius 5:13 dan Titus 1:12.

Matius menyematkan malas kepada hamba yang diberi satu talenta. Terma malas dalam bahasa Yunani adalah oknere. Kata ini berasal dari adjektiva okneros. Selain malas, juga berarti menyusahkan. Melihat keseluruhan konteks, saya condong pada pengertian kedua. Pada Matius ayat 24–25, kita diberitahu alasan mengapa hamba itu tidak mengusahakan talentanya. Yang bukan malas. Melainkan alasan yang menyusahkan tuannya.

Dalam 1Timotius 5:13, kata bermalas-malas ditujukan kepada janda. Dalam LXX atau Septuaginta –Alkitab Ibrani dan Yunani- memakai kata argai. Asal katanya argos, yang artinya menganggur. Terma sama juga dipakai dalam Titus 1:12.

Namun kita akan meninggalkan ketiga ayat karena istilah yang dipakai tidak mewakili apa yang kita bahas dalam tulisan ini.

Sebanyak lima kali kata malas muncul dalam Perjanjian Lama. Dalam Yosua 18:3, Hakim-hakim 18:9, Amsal 12:27 dan 18:9, Yeremia 9:5). Sedangkan kata pemalas muncul enam belas kali. Empat belas diantaranya berserak di kitab Amsal. Ayat paling terkenal dan menjadi contoh kasus kita adalah pada Amsal 6:9–11. Butir ini, bisa dikatakan, mewakili nuansa dari semua aforisme kitab Amsal.

Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” — maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Ayat ini memberi kita daftar ciri-ciri pemalas. Suka tidur, terbangun, mematikan alarm, untuk melanjutkan tidur. Akibatnya, kemiskinan dan badai kekurangan menyerbu.

Amsal melukiskan adanya hubungan sebab dan akibat, antara kemalasan dan kemiskinan. Hukum kausatif menjadi warna utama pada hampir seluruh nasihat kitab ini. Para penulis Amsal rupanya percaya hukum tabur-tuai. Kalau menanam kacang, kita menuai kacang. Jika menanam singkong, maka pohon singkong yang tumbuh. Orang Indonesia bilang, kalau rajin, kita pasti akan kaya. Kalau malas?

Pertanyaannya, mengapa penulis Amsal—kerap disebut orang bijak—percaya pada hukum sebab-akibat? Zaman sekarang hukum tabur-tuai merupakan kebodohan besar. Orang baik malah menjadi sasaran empuk penipu. Buruh bekerja keras setiap hari, tetapi tetap melarat bin sekarat. Ada emak-emak korban gebukan massa, malah dituduh operasi plastik. Dunia ini tidak adil! Mengapa masih percaya hukum tabur-tuai?

Untuk memahami kitab Amsal, kita harus mengerti dulu paradigma berpikir masa itu. Kitab Amsal dibingkai oleh motif takut akan Allah (1:7). Siapa yang segan kepada-Nya akan mempunyai akses pada hikmat (hokma, bahasa Ibrani ). Dalam pengertian Yahudi, hikmat bukan teori abstrak. Istilah hokma merupakan pengetahuan teknis kerajinan (lihat Keluaran 31:1–11). Sumbernya dari pengalaman dan bertujuan untuk mengatur kehidupan. Ia berangkat dari pengamatan fenomena alam dan budaya.

Horisonnya adalah kehidupan manusia dalam keluarga dan budaya. Semua dibalut dalam latar  teoritis: Allah memasukkan suatu tatanan yang adil. Asumsi teoritis ini penting karena merupakan jantung kitab Amsal. Ia merasuki seluruh struktur kehidupan dan menjanjikan ”jalan hidup” bagi setiap individu. Titik sentral ada pada keyakinan tindakan dan akibatnya nyata, bergantung satu sama lain. Masyarakat pembaca Amsal meyakini bahwa mekanisme mesin dunia berputar dengan adil. Jadi, siapa yang mengikuti aturan main akan dianggap bijak. Sebaliknya, orang-orang yang mencoba keluar pagar, dicap bodoh.

Sebagai orang Indonesia, sepatutnya kita tidak heran. Pasalnya, kita dekat dengan wawasan dunia seperti itu. Nenek moyang kita meyakini dunia dicipta dengan harmoni. Segalanya berjalan selaras. Sinar matahari akan diimbangi cahaya rembulan. Kemilau emas senja akan ditandingi remang fajar. Bahwa alam semesta bergerak dalam rima serentak.

Pandangan ini lazim dalam wilayah Timur Dekat pada milenium ke-3. Ini berangkat dari mitos-mitos kuno. Yang meyakini adanya kekuatan supranatural yang memasuki kosmos dan mencampuri urusan manusia. Para dewa hanya berpihak pada keadilan dan keseimbangan alam semesta.

Begitulah hukum kausatif diterima dalam kitab Amsal. Mereka memperhitungkan sesuatu yang benar. Jika malas, maka kita akan miskin. Konsekuensi dari kemalasan berfungsi sebagai penyeimbang tatanan agar tetap adil.

Pertanyaannya, apakah masyarakat kapitalisme sekarang  harus membaca Amsal dengan cara sama? Setidaknya, ada dua alasan mengapa kita harus meninggalkan keluguan teologis ini.

Pertama, kumpulan aforisme Amsal datang dari kelas masyarakat tertentu. Salomo bukanlah pengarang tunggal kitab ini. Raja dengan seribu istri ini dirujuk sebagai penulis Amsal ketika kitab Septuaginta ditulis. Sementara ribuan ajaran dari berbagai tradisi tidak diketahui lagi siapa pengarang aslinya. Namun berdasarkan gaya dan nuansa, kitab Amsal dapat dilacak datang dari tiga lapisan masyarakat.

Pertama, kitab hikmat istana. Ini ucapan-ucapan dari dunia kerajaan dan para intelektualnya. Kedua, hikmat instruksional dari para rabi. Ketiga, hikmat komunitas, dari mereka yang kembali  paska pembuangan.

Tiap kelas mewakili kepentingan masing-masing. Bayangkan jika hikmat antikemalasan datang dari istana. Kita menebak itu untuk menggembosi para petani agar rajin bekerja. Dengan demikian, mereka dapat membayar upeti kepada raja (lihat 1Raja 12:10). Situasi ini sangat mungkin. Karena kontestasi para elite politik pada era PL terbilang kotor. Mereka berkolaborasi dan bersaing secara bergantian dengan pemilik tanah dan pedagang yang kuat. Secara berurutan, mereka mengontrol surplus petani yang diperlukan untuk mendukung aparat negara dan menyejahterakan elite nonpemerintah.

Alasan kedua mengapa kenaifan teologis ini harus ditanggalkan adalah perbedaan zaman. Asumsi bahwa ketika itu dunia diperintah oleh sebuah tatanan yang adil dan masih dapat diterima. Namun, itu tidak berlaku sekarang. Kapitalisme sudah memerkosa kita habis-habisan. Tatanan adil hanya isapan jempol.

Jadi, sekeras apa pun supir ojek online menarik pedal gas, tetap berkubang dalam kemiskinan. Buruh pabrik bergulat selama dua belas jam per hari dengan mesin dan uap pabrik, tetap melarat. Sebanyak apa pun kapal ditenggelamkan, nelayan tetap miskin jika rantai distribusi tidak diperbaiki.

Kita sedang berhadapan dengan sebuah tatanan curang. Struktur yang menggerakkan dunia kita penuh dengan ketidakadilan dan eksploitasi. Oleh karena itu, semua seruan busuk pada pemuliaan kerja adalah paham tua. Semua itu harus dihancurkan dengan palu godam kemalasan. Dengan dua alasan ini, antikemalasan yang dikumandangkan oleh kitab Amsal sebaiknya kita tinggalkan.

Kemalasan adalah Penjaga

Untuk membangun malas yang Alkitabiah, kita harus mengartikan ulang kemalasan. Dalam hal ini saya akan merujuk pada Thomas Aquinas (1225-1274), filsuf dan teolog Itali yang terkenal. Berangkat dari situ, saya akan menggunakan imajinasi Paul Lafargue (1842–1911)  tentang kemalasan. Ia adalah menantu Karl Marx yang menulis buku Hak untuk Malas (1880/2008).

Aquinas membicarakan kemalasan abad 13. Ia berdiri di antara pemahaman kuno Para Bapa Gereja Padang Gurun (early church desert fathers) dan konsep modern tentang kemalasan. Pada abad 4 dan pertengahan, kemalasan menjadi sentral dalam penilaian moral. Dalam konteks inilah Aquinas berteologi. Ia memberi penjelasan mengapa kemalasan masuk dalam kategori tujuh dosa maut.

Sebagai gambaran besar, Aquinas memahami kemalasan tidak seperti cara Hollywood. Ia melukiskan kemalasan dalam konteks rohani, bukan badani—malas mencangkul, misalnya.

Istilah Yunani untuk kata malas adalah acedia. Sederhananya, kita mengartikan kata ini sebagai lack of care. Jadi, malas adalah sebuah kemampuan sadar untuk tidak peduli. Sebuah tindakan aktif untuk enggan.

Secara spiritual, musuh yang diserang oleh malas adalah suka cita (joy). Aquinas membatasi konteks hanya dalam kekristenan. Ciri orang Kristen adalah peristiwa kelahiran baru. Ia mengikuti konsep kematian daging dari Paulus (Galatia 5). Sejak Roh Kudus hadir dalam diri manusia, saat itulah ia merasakan kegembiraan kudus.

Dalam relasi ini, manusia lama dibuang, manusia baru dikenakan. Akibatnya, ia harus mengubah orientasi hidupnya. Ia tidak boleh lagi hidup berdasarkan keinginan semata. Cinta (kepada Tuhan) akan menuntut sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Konsekuensinya, ada bagian dari diri yang harus dipaksa untuk melakukan sesuatu. Tubuh dan jiwa harus rela menjalani rasa tidak nyaman.

Menurut Aquinas, watak cinta bersifat already (now) but not yet. Cinta kepada Allah selalu dalam proses menjadi. Proses ini disebut pengudusan (sanctification). Dalam pengudusan inilah kemalasan menyerang. Tubuh dan jiwa dituntut untuk keluar dari zona nyaman sebagai konsekuensi cinta. Baik dalam bentuk pelatihan badani atau formasi spiritual. Semua baru bagi tubuh lama.

Dalam menjalani disiplin rohani inilah kelembaman dalam wajah kemalasan hadir. Diri seutuhnya lamban dalam melakukan tuntutan cinta. Akibatnya, kemalasan  memberontak pada identitas Kristus yang baru ditanam Roh Kudus dalam diri kita. Inilah yang menjadikan kemalasan sebagai dosa maut. Kemalasan yang dapat mengubah haluan sehingga kita menjauh dari Kristus.

Dalam pemahaman Aquinas, kemalasan hadir dari konflik batin. Ia tidak muncul sekonyong-konyong tanpa alasan. Ada suatu anasir dalam diri manusia dan mencipta rasa tidak aman dan nyaman. Dalam kesadaran penuh karena didorong rasa risih, manusia memutuskan untuk enggan bergerak. Momen inersia ini yang disebut malas.

Demikianlah kita merumuskan kemalasan secara positif. Rasa tidak aman dan nyaman dalam manusia adalah alarm tanda bahaya. Ekspresi perasaan mungkin muncul dalam rasa takut. Ketika kita berhadapan dengan hal baru, ketakutan menjadi hal lazim. Naturnya memang seperti itu. Ia bikin kita waspada.

Akibatnya, kita memilih diam dan menjauhi sesuatu itu. Kita malas mendekati hal-hal yang dianggap mengancam. Dalam hal ini, kemalasan hadir sebagai penjaga. Artinya, tidak selamanya kemalasan itu tampak negatif.

Malas sebagai Perlawanan

Paul Lafargue menulis buku yang judulnya menggelitik. Hak untuk Malas. Kutipan sajak dari Gotthold Ephraim Lessing (1729-1781), sastrawan asal Jerman, dimulai dengan, ”Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malas.” Marx memulai manifesto terkenalnya, ”Ada hantu bergentayangan.” Lalu Lafargue, ”Suatu khayalan aneh merasuki kelas pekerja.” Khayalan adalah kecintaan berlebihan pada kerja.

Sepanjang buku ia mencaci-maki kerja sebagai sumber penderitaan manusia. Kita harus pahami konteksnya berbicara adalah masyarakat kapitalisme. Pemujaan terhadap kerja yang justru mengakibatkan kelebihan produksi. Ada banyak barang, tetapi tidak ada yang  bisa beli. Akhirnya toko-toko pailit dan tutup. Krisis ekonomi dan bencana kelaparan adalah akhirnya.

Walau demikian, kelas pekerja tetap berhasrat pada kerja. Lafargue menengarai para pendeta dan intelektual sebagai kambing hitam. Dengan legitimasi teologis dan filosofis, mereka berkata hanya dengan bekerja maka penderitaan berakhir. Mereka mengujarkan bekerja adalah kewarasan mutlak manusia. Kita ingat kalimat yang terkenal, ”Tidak bekerja, jangan makan!”

Dalam konteks ini Lafargue memuja Dewa Kemalasan. Ia merindu dunia diperintah oleh rezim kebersantaian. Ia percaya puncak peradaban manusia muncul dari kemalasan. Aristoteles dan Plato tidak mungkin menelurkan filsafat hebat jika harus memintal kapas. Origen tidak mungkin menulis begitu banyak buku kalau sibuk mengurusi mesin pabrik.

Oleh karena itu ia memandang kerja, dalam rezim kapitalisme, adalah kemunduran peradaban. Untuk membuat dunia lebih baik, ia mengusulkan agar dunia memperbanyak waktu bermalas-malas. Misalnya minum kopi, nonton konser, aktivitas seni, dan sebagainya. Menurutnya, semakin banyak beristirahat, semakin manusia produktif dan kreatif.

Lafargue mengajukan proposal manusia bekerja tiga jam sehari. Seandainya tentara, politikus, dan kelas borjuis turun ke pabrik, maka target itu dapat dicapai. Dengan catatan, produksi dibatasi untuk memenuhi kebutuhan saja. Bukan untuk mencari nilai lebih.

Lafargue menyalahkan kelas pekerja. Baginya, kesadaran semu mencemari pikiran mereka. Kelas proletar terlanjur mencandu agama baru: kerja. Untuk mengalahkannya, ia menyerukan agar buruh menuntut hak kepada dunia. Hak apa? Hak untuk malas! Kita berhak untuk malas! Jangan mau dicekoki bahwa kerja adalah keharusan. Fakta sudah membuktikan bahwa semakin kelas pekerja mengisap opium kerja, penderitaan kian mendera.

Dalam penafsiran saya, Lafargue ingin menyerukan bahwa wabah dunia ini berakhir jika kelas pekerja menyudahinya. Mereka harus berani bersatu untuk malas serentak. Malas datang ke pabrik. Malas bekerja dua belas jam sehari. Malas mengemis kepada borjuasi. Malas patuh pada semua kesadaran palsu. Malas untuk tabah dan bersyukur atas segala penderitaan.

Mereka harus malas karena itulah satu-satunya cara untuk melawan!

Merajut Malas yang Alkitabiah

Tugas utama orang Kristen adalah melakukan restorasi atas tatanan dunia. Pada mulanya, Tuhan mencipta alam semesta ini baik adanya (Kejadian 1). Lalu dosa merusak tatanan baik itu. Dosa pertama adalah manusia menihilkan eksistensi sesamanya (Kejadian 4). Itulah yang terjadi sekarang. Kapitalisme menciptakan tatanan berengsek. Akibatnya, dunia menjadi kandang exploitation de l’homme par l’homme. Manusia terdegradasi menjadi hanya sebatas alat produksi (dehumanisasi). Human being, katanya, sudah tereduksi menjadi human doing.

Kita harus menarik kembali tatanan dunia ini menjadi adil seperti pada era kitab Amsal ditulis. Hanya dengan cara ini Amsal kembali relevan.

Tangan kapitalisme adalah perpanjangan tangan iblis. Ini mengancam kemanusiaan kita. Ia mengekang kebebasan kita. Alkitab mengatakan kehadiran Roh Kudus harus ditandai dengan kemerdekaan (2 Korintus 3:17). Ini seharusnya mengganggu zona aman dan nyaman kita. Seharusnya, konflik batin itu harus terus berkecamuk kuat dalam diri kita. Namun, kesadaran palsu yang disuntikkan kapitalisme tampaknya berhasil meredam kontradiksi internal itu. Akibatnya, kita tidak takut pada kapitalisme. Kita berusaha mencari cara untuk berdamai dengannya. Alih-alih melawan, kita mencoba berbagai teknik untuk beradaptasi. Ini keliru karena mengingkari kehadiran Roh Kudus!

Dalam pemahaman Aquinas, kemalasan dapat kita tarik ke kutub positif. Ia dapat menjadi penjaga terhadap bahaya. Kemalasan membuat kita enggan mendekati hal baru dan dianggap mengancam. Kapitalisme itu pengganggu. Ia menindas. Ia membuat banyak orang menjerit kesakitan. Telinga Tuhan selalu bersendengan kepada jeritan rakyat tertindas (Keluaran 3:7). Dengan begitu, seharusnya kita enggan bersentuhan dengan sistem ini. Kita harus lembam di hadapan struktur ini. Harus benar-benar malas berurusan dengannya.

Kapitalisme sudah mengingkari kodrat manusia untuk menikmati dunia (Kejadian 2:16). Kapitalisme sudah mengasingkan kita dari alam semesta. Ia memaksa kita untuk bekerja dan bekerja. Pergi ke bioskop untuk menonton film receh komodifikasi Hollywood karena kita terlalu capai untuk meresapi sastra. Pikiran kita terlalu lelah untuk menikmati puisi. Mata kita terlalu sayu untuk menikmati bintang dan rembulan malam. Kita lupa menikmati alam ciptaan Tuhan. Karena itu kemalasan radikal harus dideklarasikan. Kaum buruh sedunia, bermalaslah!

Apakah kita punya nyali?

*

Penulis adalah pegiat Selasaan

Ilustrasi Mendekap Sayap Sendiri (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogya.

read more
TERASWARA-WARA

Di Mana Sebenarnya Tempat Ideologi dalam Kehidupan Kita?

foto diskusi UIN

Catatan diskusi publik: Membincang Kembali Ideologi Indonesia

UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Tangerang

Jumat 26 Oktober 2018

Diskusi menghadirkan narasumber Prof Dr Mochtar Pabottingi, Prof Dr Azyumardi Azra, Prof Dr Siti Musdah Mulia, Radhar Panca Dahana. Dan moderator Ahmad Rifki.

Prof Dr Azyumardi Azra

Dengan pluralitasnya, Indonesia beruntung memiliki ideologi Pancasila. Di belahan dunia lain, banyak negara berada dalam situasi ribut terus. Sektarianisme tumbuh subur. Politik identitas sukar dikendalikan. Penetrasi ideologi-ideologi transnasionalisme mengakibatkan rusaknya sendi-sendi persatuan pada banyak bangsa (nation-state).

Sejak 1978, hingga kini, Afghanistan masih berada dalam situasi perang.  Mesir, sejak era  Nasser hingga Mubarak, tidak berubah keadaannya. Antara Islamisme dan idelogi-ideologi yang dianut tak mampu menciptakan kerukunan, justru perang. Paham transnasionalisme mengakibatkan sikap-sikap sektarian yang keras. Akibatnya civic education tidak berjalan.

Pancasila adalah gabungan dari tiga arus dasar ideology. Satu, akar ideologi yang bersumber dari kearifan local. Dua,  gagasan-gagasan mengenai Islam politik. Tiga, gagasan-gagasan filosofis-ideologis pada tingkat internasional. Ketiga gagasan tersebut bertemu dalam Pancasila.

Baik secara agama maupun budaya, Pancasila memiliki landasan yang kokoh. Di Indonesia, Pancasila dapat mengakomodasi keragaman budaya dan agama. Dalam rumusan finalnya, Pancasila  mendukung semangat Islam Washatiyah.

Bahwa ada kegaduhan sosial yang terjadi di Indonesia belakangan, dipastikan bersumber dari luar. Lalu, apa yang terjadi dengan Pancasila sebagai ideologi? Masih relevankah Pancasila? Dari segi kohesi sosial, Pancasila sangat relevan. Buktinya sudah 73 tahun Pancasila masih bertahan.

Ada yang tidak setuju Pancasila, itu pasti. Politik kita tidak lagi ideologis tetapi bergerak dengan dasar pragmatisme dan oportunisme politik. Yang menyangga Indonesia sudah pasti Pancasila. Masalahnya, kita sedang menghadapi tantangan, di antaranya kesenjangan antara kenyataan sosial hari ini dengan cita-cita besar yang terbuhul dalam sila-sila Pancasila.

Yang jelas dominan adalah pengamalan sila pertama, meski kita dapat bertanya, apakah kita benar-benar telah berketuhanan yang Mahaesa? Kita baru saleh secara personal. Belum saleh secara sosial. Begitu juga dengan sila Kemanusiaan. Keadaban publik kita rendah. Pancasila tidak berhasil menciptakan civic-culture dalam masyarakat.

Oleh karena itu, Pancasila mesti direjuvenasi (peremajaan kembali). Pemahaman terhadap Pancasila diremajakan seiring zaman yang berubah. Kekuatan sosial budaya kita lebih moderat, meski dari waktu ke waktu mengalami gangguan. Sebagai contoh, yang dibakar adalah bendera, tetapi yang dipahami adalah kalimat tauhid.

Prof Dr Mochtar Pabottingi

Apakah kita serius menjadi Indonesia? Atau hanya kebetulan menjadi manusia Indonesia? Jika serius, kita pasti punya pemahaman yang kuat tentang Indonesia. Siapakah saya sebagai bangsa?

Ada dua pengertian bangsa. Pertama, bangsa dalam pengertian sosiologis. Kedua, bangsa dalam kategori politik. Ideologi tidak bisa dilepaskan dari negara bangsa. Orang baru bicara ideologi sejak munculnya konsep negara bangsa.

Tempat ideologi terletak pada rumusan paling bermakna dalam hidup manusia yang berakal budi. Kegeniusan para pendiri bangsa terletak pada rumusan tentang jati diri bangsa. Mereka menyimak sejarah sampai ratusan tahun ke belakang dan merefleksikan ratusan tahun ke depan. Setelah melakukan refleksi yang dalam, barulah kita memiliki rumusan yang dalam tentang manusia Indonesia.

Pancasila adalah “wahyu” dari Allah. Pancasila bukan saja tidak bertentangan dengan Islam, tapi justru aktualisasi dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Sulit sekali bagi kita untuk mengganti Pancasila.

Prof Dr Siti Musdah Mulia

Jangan sampai ideologi Pancasila menjadi ideologi yang tertutup seperti pada masa Orde Baru. Masih relevankah sila-sila dalam Pancasila? Di manakah dasar hukum yang menetapkan Pancasila sebagai ideologi Negara? Tentang ideologi ini, apakah seluruh masyarakat Indonesia mengerti tentang ideologi?

Ada 3 kelompok di Indonesia terkait dengan ideologi:

  1. Kelompok yang menolak Pancasila,
  2. Kelompok yang menerima Pancasila,
  3. Kelompok yang tidak peduli lagi dengan ideologi Pancasila.

Ada kelompok yang menerima Pancasila, tetapi tidak mengamalkan Pancasila sama sekali. Civic education kita lemah. Kita sibuk berdebat tentang bendera bertuliskan kalimat tauhid ketimbang berdebat tentang air bersih dan masalah transportasi. Keberhasilan Pancasila dapat dilihat dengan indeks demokrasi Indonesia.

Unsur-unsur dalam Indeks Demokrasi Indonesia dengan ukuran sebagai berikut: 1) Aspek kebebasan sipil, 2) Nilai-nilai keadaban, dan 3) Institusi/kelembagaan.

Parta-partai politik tidak punya kader. Lembaga-lembaga legislatif tidak mampu melahirkan regulasi yang memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Pancasila masih diharapkan menjadi pijakan dasar dalam kehidupan kewarganegaraan. Problemnya, bagaimana mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Radhar Panca Dahana

Sila Ketuhanan dan sila Kemanusiaan dalam Pancasila tidak dipahami dan tidak diamalkan. Apakah ideologi bekerja dalam kehidupan keseharian kita? Saya belum pernah mendapatkan bukti aktual-historis tentang kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2018. Generasi Orba adalah generasi yang pendek imajinasi. Dosa terbesar Orba adalah membatasi imajinasi rakyatnya.

Seberapa dalam ideologi dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia? Tidak ada yang tahu. Ideologi tidak bekerja dalam kehidupan kewarganegaraan kita. Menurut saya, ideologi itu makhluk asing kalau tidak dipaksakan. Kita hanya punya idea, belum ideologi secara rigid.

Sebagai ideologi, Pancasila tidak punya naskah akademik. Apakah penjelasan founding fathers tentang dasar pemikiran Pancasila dapat menjelaskan pemahaman tentang Pancasila? Apakah dasar negara yang disusun itu masih bisa kita gunakan untuk menjawab persoalan-persoalan mutakhir kita?

Bantahan Prof Mochtar terhadap pemaparan di atas:

Ketiadaan prinsip kemanusiaan dalam kehidupan sosial kita yang ditegaskan oleh RPD tidak dapat disimpulkan dari kasus-kasus ekstrem. Jumlah orang Indonesia yang mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan dalam laku keseharian masih lebih banyak dari orang-orang yang tidak berprikemanusiaan. Dalam diri saya ada determinasi Pancasila. Misalnya, pengalaman-pengalaman saya selama di luar negeri (AS) ketika saya bergaul dengan orang-orang nonmuslim di sana. Pergaulan saya dipandu oleh Pancasila, terutama tentang prinsip kerukunan antarumat beragama.

Pada bagian akhir Prof Mochtar mengutip filosofi pahlawan nasional dari Manado, Ram Ratulangi, si tou timou tumow tou. Artinya, manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sesi tanya jawab

Julia Suryakusuma

Sila-sila Pancasila harus dioperasionalisasikan. Agenda di balik topik ini adalah demokratisasi. Demokrasi hari ini tidak fashionable lagi. Kita harus melihat apakah dunia sekarang lebih baik atau lebih buruk. Apa kepentingan dari diskusi ini sebetulnya? Ideologi terlalu abstrak bagi masyarakat.

Mahasiswa UIN Jakarta 1

Saleh personal dan saleh sosial. Sila pertama tidak diamalkan. Bagaimana mengembalikan kesaktian Pancasila?

Mahasiswa UIN Jakarta 2

Kenapa Pancasila ditafsirkan secara berbeda-beda pada setiap era?

Jawaban

Prof Musdah Mulia

Masalah ideologi memang tidak perlu dibicarakan secara tuntas.

Prof Azyumardi Azra

Pancasila tidak menolak agama dan budaya lokal. Pancasila jangan disakralkan, tetapi harus diaktualisasikan. Harus ada vernakularisasi nilai-nilai Pancasila. Sebetulnya, semua syariah dijalankan oleh orang Islam. Ada atau tidaknya negara.

Prof Mochtar

Pancasila tidak pernah sakti. Saya pernah tulis pada tahun 1977, Pancasila dan Demitologisasi. Yang sakti adalah manusia-manusia yang mengamalkannya. Kita harus optimis. Wabah akan berlalu. Di medsos orang tidak atau jarang melakukan refleksi. Yang ada adalah reaksi. Orang tidak percaya pada otoritas.

Komentar

Ibu Syamsiah Achmad

Apakah yang dimaksud dengan membincang kembali ideologi Indonesia? Saya dididik oleh orangtua untuk respek pada orang lain. Saya sangat percaya bahwa ketuhanan yang maha esa adalah prinsip-prinsip yang saya yakini. Saya sudah menjalani dan mengamalkan Pancasila. Saran saya kita harus lebih sering membahas masalah ini. Bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah.

Bapak HS Dillon

Yang paling utama ideologi kita adalah anti penjajahan. Belakangan terjadi pendangkalan kehidupan bangsa. Yang kita bicarakan kembali sebenarnya adalah Indonesia. Kita boleh menghadapi perkembangan zaman dengan cara apa saja, tapi yang kita pegang adalah nilai-nilai yang bisa mempersatukan semuanya. Saya diberi kesempatan berbicara di forum ini adalah bentuk pengamalan Pancasila.

Damhuri Muhamad, 29 Oktober 2018

read more
OASETERASWARA-WARA

Cerita-Cerita dari Sekolah Minggu

sekolah minggu oleh daniel nugroho

Awal kepengarangan saya mungkin dimulai dari Sekolah Minggu (SM) di gereja. Di sinilah pertama kali saya berpengalaman sebagai pendengar. Dari cerita-cerita Kitab Suci yang dahsyat.

SM biasanya pagi hari Minggu. Maka hari libur itu adalah hari sibuk bagi keluarga Kristen. Bangun tidur, mandi, sarapan, buru-buru ke sekolah minggu.

Saya tidak ingat umur berapa pertama kali diantar ke SM. Dalam ingatan, SM adalah kegiatan sosial masa kecil yang mengasyikkan. Saya bengong ketika kakak pengasuh memberitahu bahwa kado seharusnya barang baru, ketika saya bawa tempat pensil bekas untuk teman yang berulang tahun. Pernah saya dites untuk menyanyi suara dua, malah menaikkan volume suara dua kali lebih keras. Setelah dewasa saya geli sendiri, paham kenapa si kakak langsung menarik wajahnya dari wajah saya, waktu itu.

Di mana pun kita bergereja di dunia ini, pasti ada layanan sekolah minggu. Menjadi anggota baru di gereja, anak akan ditanya usia. Berdasarkan usia itulah ia dimasukkan ke kelas tertentu. Tidak banyak. Mungkin 6-7 anak. Atau 10 anak. Bila terlalu banyak anggota, kelas akan dibagi dua.

Semasa saya kecil, SM terdiri dari Kelas Kecil, Kelas Tanggung, Kelas Besar. Ketika usia bertambah, maka anak akan dipindah dari Kelas Kecil ke Kelas Tanggung. Begitu seterusnya. Sampai ia tidak lagi berada di kelas SM. Karena sudah dewasa. Dalam tradisi gereja Baptis, SM masih ada sampai dewasa.

Naik kelas bukan berdasarkan kemampuan. Tapi berdasarkan umur. Kecuali ada hal-hal khusus. Dulu saya di Kelas Besar, ada kawan yang dari fisiknya seperti murid SMA. Ketika dewasa saya paham bahwa kawan itu menderita penyakit ayan. Pada waktu-waktu tertentu dia akan terjatuh dari kursi, tergeletak di lantai, mulutnya mengeluarkan busa.

Anak yang usianya 12 tahun, akan dimasukkan ke Kelas Remaja. Di sini kegiatannya lebih serius. Anak-anak diminta membaca Alkitab masing-masing, menghapal satu ayat, dan lain-lain.

Kegiatan di dalam kelas SM itu sederhana. Menyanyi, bermain, mendengarkan cerita. Kakak pengasuh bertugas berdoa.

Kakak pengasuh biasanya akan mengerjakan semua. Agar kelas SM-nya sejahtera. Kalau ada anak mau pipis, si kakak akan mengantar ke toilet. Kalau anak ngompol, kakak pengasuh akan membersihkan bekas pipis. Kalau anak menangis, kakak pengasuh akan melakukan apa saja agar tangisan reda. Kalau ada dua anak berkelahi, si kakak melerai, mengingatkan pesan-pesan moral kristiani ke dalamnya.

Lagu-lagu SM zaman dulu masih teringat sampai sekarang. Dan masih dinyanyikan oleh anak-anak SM zaman now. Lagu Nabi Nuh dan Istrinya, Ada Dua Jalan, Aku Anak Raja, Anak Sekolah Minggu, Kingkong Badannya Besar, Bapa Abraham, Hari Ini Harinya Tuhan, Zakeus Orang Pendek, Bila Bunyi Sangkakala, Burung Pipit yang Kecil, Dari Terbit Matahari, Dalam Tuhan Kita Bersaudara, Dengar Dia Panggil, dan lain-lain. Lengkap dengan gerakannya.

Alat musik menjadi hal penting lain di kelas SM. Itu bikin kelas bersemangat. Jadi minimal ada dua kakak pengasuh yang bertugas di kelas SM. Satu bertugas memimpin doa dan bercerita, satu lagi pemain musik. Alat musik yang dimainkan antara organ, tamborin, akordion atau piano. Minimal gitar atau okulele sudah pasti. Jarang kelas SM tidak ada musik.

Kakak-kakak pengasuh SM luar biasa baiknya. Mereka kreatif dengan sendirinya. Memutar otak agar kelas mengesankan buat anak-anak kecil. Agar minggu depan mereka muncul lagi di kelas. Maklumlah. Anak-anak kecil itu paling lama berkonsentrasi 5 menit.

Pada saat-saat tertentu kakak-kakak pengasuh membawa hadiah-hadiah kecil seperti permen, cokelat, pulpen, pensil. Siapa yang berani menyanyi di depan teman-teman, diberi hadiah. Siapa yang dapat menjawab pertanyaan kakak pengasuh, diberi hadiah. Siapa yang duduk manis tidak mengganggu teman selama di kelas, dipuji dan diberi hadiah.

Kejutan-kejutan kecil itu merupakan daya tarik bagi anak untuk datang dan datang lagi ke SM. Biasanya hadiah-hadiah dibeli dari kocek kakak pengasuh. Memang ada gereja yang mengkhususkan dana untuk itu. Hadiah yang paling sering zaman saya kecil antara lain bonbon atau tempat pensil.

Selesai waktu bernyanyi, tibalah waktu mendengarkan Firman Tuhan. Maksudnya, cerita. Cerita-cerita yang diambil dari Kitab Suci dan diolah sedemikian rupa sehingga cocok dikonsumsi dan dimengerti oleh pikiran anak. Dengan suara buatan, mimik dan gerak atraktif, diselipi guyonan khas anak, cerita akan berakhir sukses. Jangan sekali-sekali membacakan cerita dengan nada lempeng. Dalam dua detik saja anak-anak sudah bosan.

Kisah Adam dan Hawa. Pohon Pengetahuan Baik dan Benar. Bapa Abraham mempersembahkan Ishak. Daniel di Gua Singa. Sadrakh-Mesakh-Abednego di Dapur Api. Raja Daud. Salomo. Ratu Ester. Beragam kisah Yesus –Natal, Paskah, naik ke Surga. Lima Roti Dua Ikan sisa dua belas bakul. Zakeus Si Pemungut Cukai. Petrus dan Kokok Ayam 3 Kali.

Cerita-cerita itu dahsyat menurut saya. Cerita yang membuka cakrawala saya tentang dunia di luar keseharian saya. Tadinya saya pikir cerita-cerita itu karangan kakak pengasuh. Kelak saya sudah kuliah dan menjadi kakak pengasuh sekolah minggu, paham betapa mempersiapkan cerita yang bagus itu tidak gampang.

Saya takkan lupa ketika sesama pengasuh sekolah minggu berusaha melucu di depan anak-anak. Dahinya sudah berkeringat sementara anak-anak di kelasnya menonton dengan mulut terbuka. Tak paham. Di mana lucunya, mungkin begitu pikir mereka.

Obrolan-obrolan santai di warung dengan sesama pengasuh. Membicarakan tingkah-polah anak-anak di kelas. Menertawakan kebodohan-kebodohan diri ketika mengajar di kelas.

Sekarang ini kelas SM lebih canggih. Alat bantu lebih beragam. Ada panggung boneka, anak-anak bermain peran, rekreasi dan lain-lain. Gereja pun punya kurikulum  masing-masing. Begitulah cerita sekitar sekolah minggu.

Ngomong-ngomong soal RUU yang sedang hangat dibincang, bila rancangan itu berhasil diundangkan, maka cerita saya di atas takkan ada lagi. Pasalnya, setiap minggu kakak pengasuh sibuk menghitung jumlah 15 anak sebelum kelas SM dibuka. Penatua gereja sibuk bolak-balik ke Kantor Kementerian Agama/Kota untuk mendapat izin kurikulum SM. Kelas-kelas ditunda. Kakak-kakak pengasuh menunggu. Anak-anak termangu. Keburu waktu meninggalkan segala kesempatan menikmati satu dunia kecil ceria di gereja, bernama Sekolah Minggu.

Semoga para anggota dewan terhormat paham. (itasiregar/27/10/18)

 

*Gambar diambil dari danielnugroho.com

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Sang Ratu

400px-Esther

Ester,
bangunlah
pagi terang tanah
telah tiba saatnya
kau menjadi ratu atas bangsamu

kenakan kain kabungmu
jangan pupur pipimu
jangan gincu bibirmu
jangan celak matamu
bertaraklah
berdiam dirilah
tutup pintu kamarmu
menangislah semampumu
tetapi jangan sesali dirimu

karena hati raja seperti batang air
dialirkan ke mana Dia mau

Hei, Ester
lihatlah
ujung tongkat emas raja terulur kepadamu

apa yang kau inginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Tuanku Xerxes yang mulia
penguasa seratus dua puluh tujuh daerah
dari India sampai Etiopia
hambamu ini telah memeras anggur
yang legit rasanya hingga ke ubun-ubun
datanglah ke perjamuan hambamu
buktikan perkataanku benar
bersama tangan kananmu,
Haman orang Agag itu

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
betapa teka-teki perempuan
tak terselami para bangsawan

apa yang kauinginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Ester,
kau adalah Hadasa dalam bahasa negerimu
kekuatanmu hijau cemara musim dingin
matamu takjub
melihat mata rajamu tak berpaling darimu
melebihi mata pertama saat kau masuk balai pembaringannya
pipi tuanmu merekah seperti remaja dungu jatuh cinta
sementara kau mencuri pandang
air muka Haman yang kelewat gembira
saat sebuah pengertian tumbuh di hatimu

kemolekan adalah bohong
kecantikan adalah sia-sia

Tuanku Xerxes yang mulia,
tangan kananmu menikamku dari belakang
menusuk jantung bangsaku terang-terangan
membalas dendam belum tertuntaskan

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
kutuklah aku
bila tak kusula pada tiang
pengkhianat di dalam istanaku sendiri

Ester, Ester,
tak pernah kau sadari
betapa lelaki jatuh cinta
akan melampaui kata-katanya sendiri
mempertaruhkan meterai kehormatannya

Dan kini, Mordekhai saudaraku
bersukalah
kelepasan telah datang
peranku telah kutunaikan
sebagai ratu

ita siregar/28/07/18

Lukisan Ester (1878) oleh Edwin Longsdem Long koleksi National Gallery of Victoria, Melbourne

read more
OASETERASWARA-WARA

Kristen Bahari

a horizon

1

Percakapan satu WAG pada satu subuh.

Seorang kawan kirim berita ke grup. Seorang pendeta ditangkap oleh KPK karena menyuap seorang bupati. Dalam seragam oranye, pendeta itu mengulum senyum.

Setelah dua menit, seorang kawan lain melempar tanggapan: “Dia (maksudnya si pendeta) orang baik dan low profile. Jemaatnya 7500 orang. Dia sering menghimbau di mimbar agar jemaat tidak bawa mobil ke gereja. Karena parkir penuh. Dia menyekolahkan banyak anak tak mampu.”

Yang lain menyambar, “Lha, pendeta ngapain nyuap bupati?”

“Proyek besar itu sudah diincar pemda sejak lama. Kalau tidak menyuap, tidak dikasih izin.”

“Pendeta kok kelakuannya gitu, sih? Bikin malu orang Kristen aja.”

Percakapan memanas. Orang yang baru bangun tidur ikut urun pendapat. Dalam tempo kurang dari tiga puluh menit, seseorang merasa terpojok. Kesal dikeroyok, tanpa ba-bi-bu, dia pun ke kiri. Pergi.

Dan pagi datang ketika WAG kembali sunyi.

2

Saya tidak tertarik percakapan. Apalagi ingin tahu soal si pendeta. Tetapi persis tek-tok terjadi, saya tengah membaca buku Kekristenan: Gerakan Universal. Dari Kekristenan Bahari Sampai Tahun 1453 oleh Dale T. Irvin dan Scott W Sunquist (2004).  Membaca buku itu dan melihat peristiwa di WAG yang sekejab terjadi, sekilat benang merah menyata dalam pikiran.

3

Kristen bahari adalah istilah baru buat saya. Lebih sering saya mendengar Kristen perdana. Atau jemaat mula-mula.

Kristen bahari merujuk pada masa setelah kebangkitan Yesus (30 SM). Murid-murid meneruskan ajaran Yesus, guru mereka. Hal paling menarik adalah resistensi para pengikut Yesus terhadap budaya di sekitar mereka.

Israel kuno terletak di persimpangan berbagai kekaisaran dan peradaban. Sebelah Barat Laut Tengah ada tradisi Mesir, Etiopia, Yunani, Yahudi, Mesopotamia, Persia dan Latin. Sebelah timur ada kekaisaran Persia, Mesopotamia, Iran dan India. Agama dominan di Persia adalah Zoroastrianisme.

Sebelah timur dan selatan Persia dan India melintas wilayah-wilayah Asia Tenggara. Di seberang ujung timur ada pegunungan Himalaya dan daratan tinggi Tibet, di mana kekaisaran Cina berdiri. Kelak Konfusianisme dianut sebagai basis ideologi-politik-religius yang koheren dengan bahasa dan budaya bangsa Cina, yang mempersatukan kekaisaran.

Bangsa-bangsa kecil muncul dan mati. Agar bertahan masing-masing berupaya memperluas kendali politik atas berbagai negeri. Penduduk biasanya di bawah komando satu kelompok kecil kaum elite. Pemimpinnya seorang laki-laki militer.

Pola suksesi politik abad pertama adalah kekuasaan yang dilimpahkan dari ayah ke anak laki-laki. Kecuali Romawi, mereka memilih kaisar dari kalangan militer yang tidak selalu diwariskan dari kaisar sebelumnya.

Para ujung tombak komunikasi adalah para saudagar. Mereka lebih dahulu pergi membangun kontak-kontak lintas budaya dan bangsa. Jalur-jalur niaga yang paling penting di antaranya adalah Jalur Sutra (Silk of Road). Jalur ini membentang dari Tembok Besar Cina hingga ke India, sejumlah kerajaan di Asia Tengah, Persia sampai Armenia dan Suriah. Jalur inilah melting pot berbagai bahasa dan kebudayaan.

Begitulah bangsa Yahudi digempur dengan pengaruh banyak kekaisaran dan agama dan kebudayaan, selama berabad-abad. Jejak bangsa-bangsa lain pada taraf tertentu ditemukan dalam Yudaisme abad pertama.

Setelah masa pembuangan (ke Babilonia), orang Israel tetap setia pada iman monoteistik yang ketat. Mereka menyembah Allah yang Esa, yang mewahyukan Taurat kepada Musa, yang memerintah Salomo membangun Kanisah atau Bait Allah.

Pada masa sebelum dan sesudah Yesus lahir, sudah ada mazhab-mazhab. Dua kelompok yang menonjol adalah Saduki dan Farisi. Kaum Saduki yang lebih konservatif,  tidak percaya kebangkitan orang mati. Orang Farisi cukup toleran dengan Yesus dan ajarannya (ingat Nikodemus, guru besar mereka, yang menyelinap malam hari untuk bertemu Yesus). Orang Farisi bertentangan dengan ajaran Yesus dalam hal persepuluhan, ketaatan pada aturan Sabat, perjamuan dan rupa-rupa yang menyangkut kesalehan hidup sehari-hari.

Kekaisaran Romawi sendiri memperlihatkan sikap tenggang rasa menyangkut keragaman dalam hal adat istiadat dan keyakinan agama. Kadang kala kaisar yang berkuasa meminta warga untuk menaati segi-segi kultur kekaisaran Roma, yaitu menyembah dewa-dewi resmi mereka. Tuntutan itu diperlunak bagi orang Yahudi, sebagai penghormatan terhadap larangan agama mereka untuk beribadah kepada ilah-ilah lain.

Pada praktiknya, orang Yahudi menjadi sasaran umum dari berbagai satir yang dipentaskan dalam seni mereka. Di amfiteater misalnya, para aktor menertawakan ketaatan orang Yahudi pada aturan-aturan Sabat. Atau penolakan terhadap makanan daging yang dianggap najis. Jati diri yang terpisah itulah yang sering menjerumuskan orang Yahudi dalam tindak penganiayaan lokal.

Dari pihak orang Yahudi sendiri ada yang bersikap longgar terhadap larangan-larangan budayanya. Mereka ikut bertanding atletik. Padahal, dalam dunia Yunani-Romawi, laki-laki yang turut berlaga tidak mengenakan busana apa pun. Jadi mereka yang paling gampang dikenali karena memiliki tanda sunat.

 

3

Demikian juga Yesus. Sejak masa kecil ia tidak terlepas dari rupa-rupa pengaruh yang melampaui tradisi iman Israel. Dalam Matius 2, para majus –kelompok imam Zoroaster- dengan dibentarai oleh satu bintang, menyaksikan kelahiran Yesus. Matius melaporkan penguasa Romawi saat itu, Herodes, pernah bersekongkol membunuh bayi Yesus, namun oleh orangtuanya dibawa ke Mesir, di Afrika.

Pada usia sekitar 30 tahun, Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, sepupunya dari pihak ibu. Ketika memulai pelayanan, ia mengumpulkan murid-murid. Reputasi-Nya segera tersebar. Ia dikenal sebagai penyembuh dan pengusir roh-roh jahat. Warga mendiskusikan konten khotbah-khotbahnya. Beragam kelas dan golongan menanggapi amanatnya, tanpa kecuali.

Pada masanya, Yesus menentang praktik ritual yang memisahkan perempuan dan laki-laki. Ia mengajak penduduk untuk mulai hidup dalam pola kekeluargaan baru yang berciri nonpartriarkat. Ia makan semeja dengan orang dari berbagai kelas sosial dan para penyandang najis secara ritual. Mereka yang dianggap berdosa oleh pengajar Taurat.

Ringkasnya, Yesus dan para pengikutnya merobohkan sekat-sekat sosial masa itu.

4

Mengaitkan histori di atas, baru-baru ini telah dilaksanakan sebuah diskusi kebudayaan. Dalam diskusi, budayawan Radhar Panca Dahana, mencatat masyarakat Nusantara yang telah hidup dalam ekosistem kepulauan. Beragam etnik dan kepercayaan agama dan bahasa, saling berkelindan. Simbol air atau pantai yang merupakan adab bahari, memperlakukan orang lain sama dengan dirinya.

Pantai adalah wilayah pesisir tempat bertemunya banyak orang dari berbagai latar belakang. Dalam pergaulan pantai, tak satu kelompok memandang rendah, apalagi meremehkan kelompok lain. Dari pantai, sejauh mata memandang hanyalah horison. Pada titik inilah egalitarianisme sebagai tonggak utama masyarakat multicultural, terbentuk.

Sementara itu sejak jaman kolonial, Indonesia diasuh dalam adab Eropa yang bersifat kontinental. Kebudayaan kontinental ditandai dengan simbol gunung atau piramid. Piramid adalah simbol yang memperlakukan orang lain lebih rendah dari dirinya. Perspektif  yang senantiasa dalam hierarki: atas bawah, besar-kecil, mayoritas-minoritas, dan semacamnya.

Dalam bahasa eksistensialisme, Radhar menggunakan proposisi “aku di dalam kamu, kamu di dalam aku”, untuk menjelaskan adab kebaharian. Fondasi egaliterianisme, multikulturalisme, dan toleransi inilah yang telah tercerabut dari masyarakat Indonesia karena sudah terlalu lama berada dalam keadaban kontinental.

 

5

Balik ke tulisan awal. Warga WAG yang tidak berhasil memufakatkan sebuah sikap terhadap pendeta yang melakukan suap agar memperoleh izin, dibanding gaya hidup Kristen bahari yang memiliki kecenderungan ekspansionis tanpa kekuasaan duniawi, apakah kita dapat menyimpulkan, bahwa adab kontinental telah koheren dalam keseharian komunitas kristiani? (Ita Siregar/22/10/18)

read more
FeaturedTERASWARA-WARA

Apa Sebenarnya Kebudayaan Indonesia?

Foto BBJ Kompas

Pada Kamis lalu (18/10/2018) telah diselenggarakan Diskusi Publik bertajuk Apa Sebenarnya Kebudayaan Indonesia?  Bertempat di Bentara Budaya Jakarta, diskusi menghadirkan pembicara Taufik Abdullah, Mohamad Sobary, Erros Djarot, dan Radhar Panca Dahana. Diskusi selanjutnya akan diadakan bertema Ideologi, Kebangsaan, Konstitusi, Kenegaraan, hingga Temu Akbar 3 pada akhir November 2018.

Berikut ringkasan masing-masing narasumber.

Prof Dr. Taufik Abdullah

Secara rinci menguraikan pemetaan tentang fase-fase sejarah Indonesia di dalam masingmasing periode proses pembentukan Kebudayaan Indonesia berlangsung. Menurut sejarahwan senior tersebut, saat ini proses pembentukan Kebudayaan Indonesia sedang berada dalam situasi crisis of mutual trust, crisis of crisis management, dan the spiral of stupidity, dan krisis toleransi. Fase ini berlangsung setelah era polemik kebudayaan yang melahirkan dua kelompok besar cendikiawan Indonesia, yaitu kelompok pro barat dan pro timur. Bagi kelompok pro barat, eropa kiblat peradaban dunia, dan kalau kita ingin memiliki kebudayaan yang adiluhung, maka kita harus menghadapkan segala visi ke barat. Sementara kekompok pro timur, masih memercayai bahwa masih banyak yang bisa digali dari timur, dan tidak perlu menghadap ke barat. Singkatnya di masa itu, diskursus pemikiran memberi kontribusi pada proses pembentukan kebudayaan Indonesia. Persoalannya, saat ini Indonesia semakin jauh dari iklim diskursus pemikiran itu, dan justru bergerak menuju kedangkalan demi kedangkalan. Alih-alih merumuskan kembali Apa itu Kebudayaan Indonesia, kita semakin kehilangan arah, semakin tersesat dalam situasi yang mencemaskan bagi masa depan Indonesia.

Mohamad Sobary

Budayawan ini menggunakan satria dan pandita dalam khazanah pewayangan Jawa untuk menggambarkan seperti apa masyarakat Indonesia menatap masa depan. Satria adalah karakter yang memandang kegemilangan di masa depan, sementara pandita justru masa depan itu di belakang, atau di masa silam. Dari dua kategori tersebut, menurut Sobary, yang paling diperlukan dalam proses pembentukan kebudayaan adalah resistensi atau perlawanan yang terukur terhadap segala bentuk arus utama. Dengan begitu, kita tidak bisa menerima begitu saja apa yang datang dari barat. Bagi Sobary, modal utama pembentukan kebudayaan Indonesia adalah resistensi yang tak henti-henti terhadap segala macam gagasan arus utama. Di titik itulah dapat ditentukan, apakah kita dapat survive dengan jati diri kultural atau justru terseret jauh ke dalam euforia eropasentrisme yang dianggap adiluhung itu.

Erros Djarot

Budayawan ini tidak secara eksplisit mendefinisikan Kebudayaan Indonesia, tapi menggunakan terminologi kehendak kebudayaan, untuk menjelaskan proses terbentuknya kebudayaan Indonesia. Menurut seniman film ini, kehendak kebudayaan itu sudah tercantum dalam mukaddimah pembukaan UUD 45 dengan prinsip-prinsip utama seperti antikolonial, antipenjajahan, dan negara berketuhanan. Kehendak kebudayaan tersebut, adalah sebuah indikator bahwa Kebudayaan Indonesia tersebut masih mungkin terbentuk, sepanjang diimplementasi dalam praktik-praktik kehidupan kewarganegaraan. Persaoalannya adalah, rumusan kehendak kebudayaan yang telah tertuang dalam dasar konstitusi tersebut, tidak berjalan sesuai dengan idealisasi yang ditanamkan oleh founding of the father. Dalam hal ini, Eros mempertanyakan siapa yang sungguh-sungguh mengamalkan butir-butir sila Pancasila hari ini? Pancasila hanya menjadi jargon di forum- forum formal-seremonial, dan tak tercermin dalam iklim demokrasi, apalagi dalam berbagai kebijakan staregis sebagai panduan kehidupan kewarganegaraan. Jadi sepanjang kehendak kebudayaan itu belum menjadi bagian yang inheren dalam kehidupan kewarganegaraan, maka wajah kebudayaan Indonesia yang didambakan itu tidak akan pernah terlihat.

Radhar Panca Dahana

Secara tegas budawayan cum teaterawan ini menggarisbahawi bahwa sejak dari kurun politik etis hingga era pemerintahan Jokowi, arah kebudayaan Indonesia sudah tersesat begitu jauh. Sebab, sejak jaman kolonial, Indonesia dibesarkan dalam keadaban Eropa kontinental, sementara masyarakat pra-Indonesia tumbuh dalam ekosistem kepulauan. Radhar menggunakan simbol gunung atau piramid untuk kebudayaan Eropa kontinental, dan simbol air atau pantai untuk kebudayaan maritim. Piramid adalah sebuah simbol yang memperlakukan orang lain lebih rendah dari dirinya, sehingga perspektif mereka senantiasa berada dalam hierarki atas bawah, besar-kecil, mayoritas-minoritas, dan semacamnya. Sementara simbol air atau pantai, adalah tanda yang memperlakukan orang lain sama dengan kita. Pantai adalah wilayah pesisir tempat bertemunya banyak orang dari berbagai latar belakang. Dalam pergaulan orang pantai, prinsipnya adalah rata-rata air. Tidak ada satu kelompok pun yang boleh memandang rendah, apalagi meremehkan kelompok lain. Di titik inilah muncul egalitarianisme sebagai tonggak utama terbentuknya masyarakat multikultural. Sejak dari fase perkembangan yang paling purba, masyarakat bahari sudah bercorak multikultural. Dalam bahasa eksistensialisme, Radhar menggunakan sebuah proposisi “Aku di dalam Kamu, Kamu di dalam Aku.”Fondasi egaliterianisme, multikulturalisme, dan toleransi inilah yang telah tercerabut dari masyarakat Indonesia karena sudah terlalu lama berada di pangkuan keadaban kontinental. Maka, bagi Radhar, kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan bahari yang harus dijemput kembali. Ia mengajak kita untuk kembali ke pangkal jalan, agar tidak tersesat lebih jauh lagi.

 

Jakarta, 19 Oktober 2018

Damhuri Muhammad

read more
OASETERASWARA-WARA

Tidur: Bukan Menyongsong Ketidakpastian

Di Bawah Setangkup Malam 2017

Teks Julius C. Adiatma

Gambar Di Bawah Setangkup Malam (2017) Surajiya

 

Saya senang tidur. Bagi saya, tidur adalah tempat pelarian sementara dari masalah. Saat sedih, sakit, marah, bosan. Ketika bangun, saya merasa bahagia. Setidaknya beberapa detik sebelum kesadaran kembali menguasai. Saya tak pernah bosan tidur. Meski sepertiga waktu saya dalam sehari, habis karena tidur.

Melongok Alkitab, tidak mudah menemukan satu tarikan makna mengenai tidur. Memang tidak mungkin. Karena jelas, Alkitab ditulis bukan untuk menjelaskan aktivitas-aktivitas manusia.

Bagaimana pun, banyak catatan mengenai kegiatan tidur dalam Alkitab yang tidak saling terkait. Bahkan maknanya kontradiktif.[1] Tetap, saya sulit menemukan bahan rujukan teologis yang memuaskan menyoal tidur. Tersebab inilah saya akan menarik kisah dan pemaknaan mengenai tidur secara pribadi. Perlu saya sampaikan bahwa rujukan yang tercantum di sini semata-mata sumber inspirasi, sehingga ketika Anda membacanya, mungkin kesimpulan yang didapat berbeda dari saya.

Pertama, konsep tidur dalam peristiwa penciptaan. Rupanya, tidur terekam pada peristiwa penciptaan Hawa. “TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak” (Kejadian 2:21). Tidak berhenti di situ. Pada beberapa peristiwa setelah itu, Allah menunjukkan “karya-Nya” ketika manusia tidur.

Yakub bergulat dengan Tuhan dalam tidur (Kejadian 32:24). Allah menghukum bangsa Mesir ketika mereka tidur tengah malam (Keluaran 12:29-30). Samuel dipanggil Tuhan saat ia sedang tidur (1 Samuel 3:3-5).

Dari sini, saya mengajukan kesimpulan sementara bahwa dalam tidur manusia, Tuhan berkarya dan membentuk manusia. Atau bisa juga kita bayangkan, tidur sebagai salah satu cara manusia yang imanen, “berinteraksi” dengan Tuhan yang transenden. Tuhan, yang secara ontologis “tidak eksis”, tidak dapat “dijumpai” oleh manusia dalam kenyataan material. Maka Ia hanya mungkin “dijumpai” dalam dimensi nonmaterial, yang diakses manusia dalam tidurnya.

Kembali ke peristiwa penciptaan.

Jika kita memandang tidur sebagai bagian dari istirahat, kita akan menemukan “Allah memberkati hari ketujuh dan menguduskannya, karena pada hari itu Ia berhenti” (Kejadian 2:3). Angka 7 adalah sakral bagi orang Yahudi. Kemungkinan angka itu berakar dari tradisi-tradisi sekitar Kitab Kejadian ditulis, yaitu abad 6 SM. Dalam beberapa tradisi Kristen pun, angka 7 dianggap simbol kesempurnaan atau kepenuhan.[2]

Maka, istirahat menjadi sesuatu yang sentral sebab ditempatkan pada hari ketujuh. Karya penciptaan Tuhan digenapi dengan berhenti bekerja, beristirahat pada hari ketujuh (meski kita tahu Ia tidak membutuhkannya). Istirahat menjadi syarat pekerjaan menjadi lengkap. Bahkan Allah menguduskan hari itu sementara Ia tidak menguduskan hari-hari sebelumnya waktu mencipta, bahkan ketika menciptakan manusia.[3]

Kedua, saat kejatuhan manusia. Sejak berdosa, manusia harus “dengan bersusah payah mencari rezeki dari tanah seumur hidup” (Kejadian 3:17). Hingga saat ini kita melihat kondisi manusia harus bekerja keras sampai-sampai mengurangi waktu istirahat (baca: tidur). Mereka yang bekerja lembur, shift malam hari, atau pekerjaan sampingan untuk menutup biaya hidup.

Gereja Katolik melalui beberapa ensikliknya (surat Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik sedunia), mulai dari Pacem in Terris, Rerum Novarum, hingga Laborem Exercens, kontinu mendorong hak beristirahat secara layak sebagai aspek penting dalam martabat manusia. [4]

Di sisi lain, istirahat seakan-akan hanya menjadi suatu keharusan bagi manusia karena kebutuhan fisik. Kita pun mudah menemukan banyak penelitian yang menunjukkan pentingnya istirahat (dan tidur) dalam meningkatkan produktivitas kerja. Pekerja yang cukup tidur dan rekreasi, kesehatan fisik dan mentalnya akan lebih baik. Demikianlah perusahaan menjadi lebih untung dan kerja lebih produktif. Penelitian-penelitian ini memberi validasi pada pengurangan jam kerja di negara-negara Eropa.

Pieper, seorang filsuf Jerman, berkata bahwa konsep ini telah mereduksi istirahat sebagai pelayan dari kerja. Padahal, menurutnya, istirahat adalah suatu kondisi yang secara nilai dan hakikatnya, independen dari kerja.[5] Bila kita memeriksa peristiwa penciptaan, istirahat akan menggenapi kerja. Istirahat (baca tidur) memberi dampak positif bagi kemampuan kerja seseorang meski itu dilihat sebagai efek samping.

Istirahat dan tidur merupakan salah satu fitur manusia dan kemanusiaan. Tanpanya, manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Perlu dicatat bahwa Pieper berbicara mengenai istirahat dalam arti kontemplatif. Tidak serta-merta berarti tidur.

Barangkali kita pernah berada dalam situasi tidak dapat tidur karena ada “ancaman”. Misalnya pindah ke lokasi baru dan tidak dikenal. Di sini, tidur dilihat sebagai suatu kondisi ketika manusia diharuskan kehilangan kesadaran dan kontrol atas dirinya.

Tidur secara signifikan membuat kita kehilangan kemampuan penginderaan kita seperti terhadap suara, pandangan, maupun sentuhan. Maka tidur sebenarnya seperti menceburkan diri dalam lubang ketidakpastian yang paling dalam. Ketika tidur, kita melepaskan diri sepenuhnya kepada “Ia yang tidak terlelap dan tidak tertidur: Penjaga Israel” (Mazmur 121:4).

Dalam Markus 4:36-41, Yesus tertidur tenang di kapal saat badai menerjang. Satu konflik berkecamuk di antara murid-murid. Kala itu Yesus mengajak mereka untuk menyeberang danau Galilea. Mereka akan menuju suatu wilayah baru yang tak dikenal, melewati danau, yang sewaktu-waktu dapat diterpa badai. Ada kegelisahan dalam diri murid-murid atas ketidakpastian ini. Namun kegelisahan itu tidak dialami oleh Yesus, yang diceritakan tertidur dengan nyenyak. Adegan ini bukanlah penggambaran kuasa Yesus atas cuaca semata, namun teladan keberanian dan ketenangan dalam menghadapi suatu yang tak pasti, mencekam, berbahaya.[6]

Ketika kita menyadari tidur sebagai suatu tindakan menyongsong ketidakpastian, yang kita mampu lakukan secara rutin dan sukarela, menurut saya, dalam perjuangan hidup yang penuh ketidakpastian ini, kita dapat memilih bersikap serupa Yesus. Kita tidur dengan harapan atau keyakinan bahwa kita akan bangun pada keesokan harinya. Demikian pula kita menyongsong pergumulan hidup dengan keyakinan bahwa kita akan memenangkannya.

Lalu bagaimana kita memandang perumpamaan pada Markus 13:33-37 tentang penjaga pintu dan Matius 25:1-13 tentang gadis bijaksana dan gadis bodoh? Atau tentang pencuri pada malam hari dalam 2 Tesalonika 5:3-6, yang seakan-akan menempatkan tidur sebagai sesuatu yang salah?

Tentu ayat-ayat itu tidak mengatakan kepada kita untuk tidak tidur secara harfiah. Menarik ketika Yesus menggunakan perumpamaan mengenai penjaga pintu, tidur adalah hak istimewa dari kelompok atau kelas tertentu. Hamba-hamba dan penjaga pintu diharuskan berjaga sampai tuan mereka pulang. [7]

Pada ayat 37, Yesus mengatakan, “Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: Berjaga-jagalah!” Terlihat Ia menghancurkan batas-batas kelas sosial. Bukan hanya hamba yang harus berjaga, melainkan semua. Tuan dan hamba. Harus berjaga dalam menyambut kedatangan Tuhan.

Saya rasa Yesus paham bahwa tidak mungkin manusia berjaga terus, sementara istirahat dan tidur adalah fitur yang inheren dalam diri manusia. Lalu bagaimana kita dapat berjaga? Dengan melakukannya secara kolektif alih-alih secara individual. Ingat, Yesus menghimbau kita berjaga. Itu bukan sekadar tidak tidur. Bukan sekadar menunggu. Berjaga berarti bersiap dan menyambut.

Ketika Kerajaan Allah mendekat, para hamba saling mempersiapkan diri dan menyambut. Sementara tuan-tuan individualis akan terkapar -meski tidak tidur-, tidak mampu bergerak karena kehabisan daya.

Kitab Ibrani mengungkap visi Kerajaan Allah sebagai tempat peristirahatan. “Masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibrani 4:9-10).

Dalam hal ini seakan-akan di Kerajaan Allah manusia berhenti bekerja. Namun kerja adalah hakikat manusia yang telah dimandatkan oleh Allah pada waktu penciptaan (Kejadian 1:26). Saya meyakini bahwa kerja yang dimaksud adalah kerja yang, sebagaimana istirahat, telah tereduksi oleh kejatuhan manusia. Maka di Kerajaan Allah, manusia akan melakukan kerja dan istirahat yang sejati. Istirahat dalam kerajaan Allah kembali pada hakikat penggenapan kerja dan menjadikannya kudus.ῼ

 

Julius C. Adiatma, penggiat diskusi Selasaan

Surajiya, perupa dan tinggal di Yogya

 

 

[1] https://www.christiancourier.com/articles/753-biblical-concept-of-sleep-the

[2] http://www.biblestudy.org/bibleref/meaning-of-numbers-in-bible/7.html

[3] https://www.theologyofwork.org/key-topics/rest-and-work-overview

[4] Allison McMorran Sulentic. (2014). Now I Lay Me Down to Sleep: Work-Related Sleep Deficits and the Theology of Leisure. Hal 753-762.

[5] Ibid. Hal 765.

[6] https://politicaltheology.com/crossing-over-to-the-other-shore-mark-435-41/

[7] https://politicaltheology.com/the-politics-of-sleep-mark-1324-37-amy-allen/

read more
OASETERASWARA-WARA

Sodom, Homofobia dan Paus

gay-tangan

Jika seorang gay dan dia mencari Tuhan dengan sepenuh hati, siapakah saya berani menghakimi dia? –Paus Francis

Ingat Sodom, ingat homoseksual. Dua kata serupa iklan saking keduanya terbenam dalam ingatan yang bertradisi Protestan ini. Apakah Sodom identik dengan kejahatan homoseksual?

Mari kita memeriksa kota purba Sodom.

Sedikitnya kata Sodom disebut 21 kali di Alkitab. Kebanyakan teks menganalogikan Sodom dengan segala hal yang tidak mulia. Ulangan 32:32, anggur dari Sodom beracun dan pahit. Yeremia 23:14, yang berzinah dan berkelakuan tidak jujur. Yesaya 13: 19, seperti Babel –kacau-balau. Zefanya 2:9, akan menjadi tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya. Yudas 7, yang melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Yehezkiel 16: 49, kesalahan Sodom adalah kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup, tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.

Jadi, kota Sodom bukan melulu kejahatan homoseksual. Segala macam kejahatan, iya.

*

Allah menciptakan Adam dan Eve (Hawa). Bukan Adam dan Steve. Sebuah petunjuk bahwa sejak awal Allah menciptakan (pernikahan) laki-laki dan perempuan. Bukan laki-laki dan laki-laki.

Teks Kejadian 1:28,” Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”, kerap dijadikan pijakan bahwa itu adalah perintah Allah (dalam pernikahan) agar manusia beranak-cucu.

Coba kita runut dari awal penciptaan.

Kejadian 1:27, berbunyi, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambarNya diciptakannya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Kejadian 1:28, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Lalu Kejadian Pasal 2. Di sini (seolah) terjadi pengulangan (penciptaan), namun hanya pada tiga  makhluk hidup, yaitu manusia, tumbuhan, binatang.

Berikut teks-teksnya:

Kejadian 2: 7, “Tuhan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Kejadian 2: 9, “Lalu Tuhan menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi.”

Kejadian 2: 19, “Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.”

Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Berdasar urutan di atas, teks Kejadian 1:28 tidak mengisyaratkan agar manusia berkembang biak (melalui perkawinan laki-laki dan perempuan). Tetapi agar manusia menguasai dan mengelola dan memenuhi tanah/bumi. Ingat, Adam dan Hawa belum “dihidupkan” oleh Tuhan Allah.

Teks Kejadian 2:24, bukan sebuah perintah agar manusia laki-laki dan perempuan menikah namun lebih pada pernyataan tentang penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. Artinya, manusia menikah atau melajang bukan hal yang dogmatis sifatnya. Itu keputusan pribadi manusia yang bersangkutan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan.

*

Pekan lalu saya mengikuti diskusi bertajuk Tuhan, Anakku LGBT, Apa yang Harus Kulakukan. Ini kali pertama saya berada di lingkungan ini, dalam arti memahami apa yang sedang terjadi di kalangan mereka, mendengarkan pengalaman-pengalaman orang pertama.

Seorang muda Tionghoa, aktivis gereja, sejak belia sudah merasakan perbedaan dalam dirinya. Tidak berani membuka diri karena mengkhawatirkan perasaan orangtua. Lama menyimpan rahasia itu sendirian, memutuskan coming out (istilah mengaku identitas di kalangan LGBT) pada usia 25. Di luar dugaannya, respons orangtua hanya kaget pertama mendengar, setelah itu menerima keberadaannya. Ia membesarkan hati orangtua bahwa keadaan dirinya bukan karena kesalahan orangtua. Bahwa tidak ada yang berubah dalam relasi mereka setelah pengakuan ini. Selama ini ia menjalani selibasi dan merasa hubungannya baik-baik saja dengan Tuhan.

Samuel Mulia, kolumnis di koran harian, salah satu narasumber, berbagi pengalaman yang segar. Keluarganya cukup demokratis, bahkan ayahnya membebaskan dia melakukan apa yang dia inginkan, selama ia dapat bertanggung jawab dengan pilihannya. Ziarah perjalanan rohaninya dengan Tuhan sebagai gay, menghidupkan cerita, dan sungguh bermakna. Tidak ada yang salah hidup sebagai gay.

Pengalaman seorang ibu dengan anak transgender sungguh melelehkan hati yang beku. Ia dan suaminya –yang adalah penatua- luar biasa kaget saat mendengar salah satu anaknya coming out pada usia 17 tahun. Mereka sangat bingung bagaimana merespons ketika anaknya berkata bahwa dia sebenarnya perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Lebih bingung karena tidak ada tempat berbagi. Keluarga besar tidak. Apalagi gereja. Sangat lega mendengarkan dia tetap dan masih dan akan mengasihi anaknya yang itu.

Seorang aktivis menyebut data bahwa LGBT di Indonesia adalah fenemona gunung es. Mereka yang coming out hanya pada posisi puncak. Jumlah terbanyak justru berada di bawah gunung, yang tidak terlihat.

Sayang sekali mendengar pernyataan seorang psikilog yang mengatakan bahwa di kalangan mereka pun belum sepakat dalam hal melayani LGBT. Padahal sebagai intelektual mereka diharapkan menjadi jembatan antara masyarakat dan kalangan LGBT untuk saling memahami. Menyedihkan mendengar pengalaman seorang individu dengan orientasi homoseksual yang berada di ruang konsultasi, malah dinasihati untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Mungkinkah ruang-ruang nyaman bagi LGBT diciptakan pada tingkat keluarga, sosial, Negara?

*

Dan baru saja saya mendapat lontaran pesan di dinding WA saya. Tulisan seorang ahli saraf. Judulnya provokatif, Mari kita basmi bersama (maksudnya LGBT). Dia menorehkan ingatan dengan segala informasi negatif tentang LGBT. Himbauan agar setiap keluarga mengamankan anggota keluarga dari dari serangan LGBT.

Tulisan itu memberi isyarat bahwa sebagian besar masyarakat dan gereja bersikap homofobik terhadap masalah ini. Pada beberapa kasus pada tingkat banal dan traumatik.

Homofobia adalah diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap kaum homoseksual. Bentuk yang muncul dari ketakutan adalah tindak kekerasan atau penolakan terhadap mereka.

Diskriminasi terhadap LGBT kebanyakan didasarkan atas ketakutan karena kurangnya pengetahuan, merasa diri lebih baik daripada mereka, tidak mau tahu dan langsung menghakimi. Mungkin ingatan mereka yang dimulai dari duo Sodom-homoseksual, perlu sedikit demi sedikit dikikis. Kitab suci berkata, di mana ada ketakutan, di situ kasih lenyap.

Pengarang Narnia, C.S. Lewis, menulis sesuatu yang indah tentang iman. Ia berujar bahwa iman adalah sebuah proses perjalanan hidup dan proses dialogis dengan Tuhan dan dengan diri sendiri. Keraguan adalah bagian dari iman. Mempertanyakan akan membuat kita mencari tahu, tidak berhenti di tempat. Iman sejatinya selalu bertumbuh.

Paus Francis, bapa suci umat Katolik, telah menyerukan agar kita tidak menyingkirkan mereka ke pinggiran. Kita seharusnya menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat. Seyogyanya pula kita menyambut seruan itu dengan sepenuh kemanusiaan kita.

Kalau Yesus pernah bertanya kepada Petrus yang tiga kali menyangkal, dengan tiga pertanyaan sama, apakah kamu mengasihi Aku, perlu berapa kali Yesus bertanya kepada kita pertanyaan sama, sampai kita menerima seorang dengan LGBT di tengah kita?  (itasiregar10/10/2018)

 

 

 

read more
PuisiTERASWARA-WARA

Hari Minggu Ramai Sekali

wajah orang-orang bergegas (2018)

Puisi-Puisi Eko Poceratu

HARI MINGGU RAMAI SEKALI

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong bernyanyi, “Hujan Berkat ‘kan Tercurah”
Aku wakili anak dan istri supaya dapat berkat lalu kubagi-bagi
Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal, sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima, siapa yang tiba,
Aku datang dengan amplop khusus, supaya Tuhan lirikkan matanya pada siapa yang membanting sepatu dipintu masuk
Supaya Tuhan menyuruh malaikat-malaikatnya memberi sapaan yang pantas dan lembut

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong pergi berdoa
Aku tinggalkan istri tersayang sebab Tuhan yang utama, sebab istri takkan bisa memberi berkat selain memberi anak dan anak sepanjang masa
Aku tinggalkan anak terkasih, sebab Tuhan yang lebih kukasihi, sebab anak hanya menimbulkan masalah, menghabiskan uangku di bank, sebab anak tidak bisa memberi berkat selain menghabiskan berkat yang sudah Tuhan berikan setiap saat
Aku tinggalkan tugas kantor, sebab Tuhanlah sumber sejahtera, direktur tidak dapat membayarku mahal, direktur tidak bisa cepat menaikkan gaji, tetapi Tuhan dapat melipatgandakan gajiku setiap hari

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang begitu ramah, mereka saling menyapa
Mereka membawa alkitab yang besar supaya bisa selipkan banyak uang
Mereka bawa tas yang besar supaya Tuhan tahu mereka orang berada
Aku bawa alkitab yang sedang-sedang saja, sebab yang utama bagi Tuhan bukanlah ukuran alkitab melainkan ukuran kolekta, persembahan yang wah, sebab malaikat-malaikatnya akan tersenyum bila persembahanku berbau wangi, sebab malaikat-malaikatnya akan melayaniku dengan baik bila persembahanku berbau narwastu
Mereka akan merawat istri dan anakku ketika sakit bila amplopku lebih dari satu

Aku pakai celana yang banyak sakunya, kemeja yang banyak sakunya, supaya semuanya terisi dengan uang. setibanya tiba di gereja aku akan bagikan kepada orang lain, supaya Tuhan tahu firmannya tidak sia-sia, aku perlabakan uang, maka Tuhan gandakan pahalanya,

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menunduk kepala saat lonceng berbunyi, sebab mereka sedang menerima pengampunan yang suci,
Aku tidak menunduk kepala, bagaimana mungkin Tuhan melihat wajahku bila aku begitu, biarkan Tuhan melihat kita supaya sebentar malam dia lemparkan berkatnya di atap rumah,
Orang-orang membuka tangan mereka lebar-lebar saat penerimaan berkat
Aku membuka tangan dan kakiku lebar-lebar, sebab Tuhan akan memberi berkat yang banyak dan tangan saja tidak cukup, aku juga membuka dada supaya berkatnya turut masuk disana, aku juga buka otakku supaya berkatnya masuk dan berkarya, supaya nantinya aku bisa pandai berbisnis, supaya nantinya aku bisa berbagi dengan kaum miskin

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menyanyikan lagu “Hari minggu hari yang mulia”
Aku wakili istri dan anakku supaya dapat berkat dan kemuliaan, sebab hari minggu adalah hari menanam benih, siapa yang menanam banyak akan menuai seratus kali lipat,
Wah!

Ambon, 21 Juli 2013

 

MIMPI SEORANG JEMAAT DI GEREJA

Dari sekian jemaat yang baik, duduk seorang penjudi di kursi paling depan gereja. Itu aku. Minggu benar-benar ramai, penuh orang muda di tanggal muda. Nyanyian-nyanyian agak panjang tidak berhasil membawaku pada kesimpulan akan hidup. Kita menarik napas dan menghembus dalam kata-kata tanpa bisa melakukan kebaikan nyata, rasanya palsu, itu juga aku.

Kita berdoa sangat lama hingga hilang konsentrasi lalu berimajinasi di atas kasur atau curi beras di swalayan,  tapi doa belum juga berakhir. Baru kusadari bahwa doa dapat lebih lama daripada menunggu empat angka keluar dari Singapura.

Pendeta berkotbah, lama. Paduan suara bernyanyi, lama. Aku tertidur nyenyak dan bermimpi, bertemu seorang lelaki berjubah putih. Dari tangannya ia serahkan papirus lebar. Ada delapan angka,  4646, 1616. Aku mendadak terjaga oleh nyanyian tiga perempuan di samping kanan mimbar.

Kolektan mengambil uang-uang dari saku-saku dan buku-buku tangan jemaat dengan tiga kantong sekali jalan. Aku tak punya uang untuk Tuhan hari ini, mampus aku. Aku berjalan keluar, dan semua orang memandang. Akulah pelarian seperti Yunus. Berjalan dengan tatapan lurus di jalan seribu belokan. Nyanyian jemaat semakin keras. Langit bergemuruh. Angin menjatuhkan bunga-bunga bougenville di halaman gereja.

Aku berlari masuk pasar apung. Bertemu Anji Mangkasa, kawanku. Kubisik empat angka di telinga kirinya, dan empat angka lain di telinga kanannya.  Aku minta dia pasang taruhan. Orang-orang ramai di depan bandar. Nyanyian “Haleluya-Haleluya” masih bisa kudengar. Aku melihat kata-kata dan angka-angka lebih dicintai di luar gereja. Orang-orang memuja dan percaya pada angka. Orang-orang tunggu hasil taruhan dan tidak tunggu Tuhan.

Anji Mangkasa berbisik di telingaku. “Ko tembus empat angka Hongkong dan empat angka Singapura.  Jitu”.  Aku berseru, “Haleluya, Amin”. Di tanganku, ada uang berjuta-juta. Aku lari ke gereja. Pelataran  yang sudah tidak bersih, penuh bunga dan daun gugur. Angin tersisa sedikit tapi lagu masih terdengar, “persembahan kami, sedikit sekali, kiranya Tuhan terimalah dengan senang hati”.

Kantong-kantong kolekta sudah penuh. Aku menuju meja  dan meletakkan seluruh uangku di kotak pembangunan gereja. Lagu berhenti. Orang-orang memandangku penuh senyuman. Seolah-olah aku baru saja diterima dalam persekutuan. Pendeta memandangku, dari altar yang tinggi.  Ia mengajak jemaat: “Mari kita berdoa”.

Itu, aku.

Awunawai, 6 September 2017

 

Eko Saputra Poceratu adalah penyair muda dari Ambon. Ia diundang ke Jakarta menjadi narasumber Festival Sastra & Rupa Kristiani pada 23-25 Agustus 2018. Buku puisinya -salah duanya puisi-puisi ini – akan diterbitkan oleh Litera.id.

Gambar berjudul Wajah-Wajah yang Bergegas (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogyakarta.

 

read more
FeaturedOASETERASWARA-WARA

Makan-Minum: Sebuah Drama Hidup dan Mati

Buah- buah Kehidupan

Teks Krisma Adiwibawa
Gambar Surajiya

Pada satu malam saya merasa lapar. Persis waktu itu saya baru saja memasang aplikasi finansial di hape saya.

Aplikasi tersebut memberi beberapa benefit. Bila saya membeli makanan, uang sekian persen dari total belanja akan secara otomatis masuk ke dompet daring saya. Prosentasi itu menjadi lima kali lipat bila saya memakai kartu kredit bank tertentu. Wah, untung, saya pikir.

Supaya lebih untung, saya mengajak kawan. Makanan yang sudah didiskon, dibagi dua. Jadi demi diskon besar dan perut kenyang, saya menerjang kemacetan malam lalu lintas Jakarta, pergi ke rumah teman saya.

Makan adalah sebuah fakta kehidupan. Setiap makhluk hidup butuh makan. Tidak makan sama saja membiarkan diri kelaparan, lalu mati. Jadi makan adalah soal hidup dan mati.

Mengapa Allah mencipta sebuah dunia yang setiap makhluk di dalamnya perlu makan? Apa relasi makan dan minum dengan iman? Pertanyaan sepele. Dan saya belum pernah mempersoalkan. Padahal Alkitab ratusan kali mencatat kata atau peristiwa makan-minum.

Balik ke cerita saya di atas. Waktu itu kami membeli banyak sekali makanan. Daging, ikan, udang, kepiting, sayuran, jejamuran, telur, nasi.

Saya melihat itu semua. Saya pikir, tanpa makan(an), saya akan mati (tidak langsung saat itu tentu saja). Tetapi agar saya hidup (baca: makan), ada makhluk hidup lain harus mati. Kehidupan bergantung pada kematian. Dengan kesadaran tersebut, sebagai pemakan, manusia adalah sentral dalam kelit kelindan drama hidup dan mati.

Tokoh drama dalam rantai makanan cukup banyak. Kita berhubungan dengan tumbuhan dan hewan yang kita makan. Dengan tanah tempat tumbuhan dan hewan hidup. Dengan petani yang menanam padi dan sayur-mayur. Dengan peternak. Dengan kawan makan. Dengan keluarga di meja makan. Dengan Allah.

Bagaimana menjelaskan ini secara iman Kristen?

Cara kita berpikir tentang makan-minum tergantung cara kita melihat dunia. Bagi sebagian orang, dunia adalah alam semesta. Alam semesta mencakup planet-planet, termasuk bumi. Bumi memiliki berbagai fenomena alam seperti hutan, laut, gunung, tumbuhan, hewan, bakteri, dan sebagainya.

Sementara Iman Kristen menyebut alam semesta adalah ciptaan. Penciptanya: Allah. Keberadaan semua benda pada alam semesta berada dalam kuasa-Nya. Gerakan-gerakan yang terjadi pada alam semesta merupakan pemeliharaan-Nya. Tujuan alam semesta adalah kepada-Nya. Jadi Allah adalah sumber, pemelihara, dan tujuan dunia ini.

Konsep ini dikenal dengan istilah perikoresis. Dalam konsep Allah trinitaris, Allah digambarkan sebagai tarian abadi dari Bapa, Putra, Roh Kudus. Konsep ini digambarkan dengan tiga lingkaran yang saling berpaut satu sama lain, saling memberi ruang sembari mengambil ruang yang lain. Dari sana muncul istilah interpenetrasi atau saling memasuki. Tiga pribadi menyatu tanpa kehilangan keunikan masing-masing dan tidak melebur menjadi pribadi yang lain.

Basil the Great, bapa gereja, menjelaskan Allah sebagai pencipta, perawat, dan penebus dunia. Alam semesta sebagai tarian abadi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebagai tarian abadi, penciptaan tidak dilihat sebagai kejadian statis masa lampau melainkan sebuah proses yang sedang berjalan. Dalam kadar tertentu, manusia atau makhluk hidup berpartisipasi dalam proses penciptaan karena terikat pada trinitaris Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Allah mencipta dunia? Karena Allah memberi ruang dalam diri-Nya bagi yang lain. Ia memberi ruang bagi dunia untuk ada. Makhluk adalah anggota dari himpunan ciptaan.

Jadi, melalui kacamata trinitaris, makan-minum bukan semata-mata untuk bertahan hidup. Tetapi upaya berbagi dan memelihara kehidupan.

Arti lainnya, hidup tidak memberhalakan makanan. Menganggap makanan sumber hidup. Makan dan minum adalah bukti kita tidak dapat hidup tanpa pemeliharaan Allah.

Dalam budaya Alkitab, roti adalah simbol makanan. Makanan digambarkan sebagai keberuntungan dan keamanan. Yusuf menghindari Mesir karena kelaparan. Tuhan memberi manna kepada orang Israel di padang gurun.

Dalam bahasa Inggris, pencari nafkah disebut breadwinner. Roti menggambarkan rezeki. Berikanlah kami makanan kami …’ dalam doa Bapa Kami diterjemahkan berikanlah kami rezeki … pada beberapa terjemahan.

Peristiwa terkenal dalam Injil menyoal makan adalah Yesus memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan. Setelah itu khalayak ingin menjadikan Yesus raja (Yohanes 6:11). Ini disebabkan mereka melihat Yesus mampu memproduksi makanan sesuai permintaan pasar.

Tetapi Yesus menghindar. Makanan yang ingin Ia berikan kepada mereka adalah makanan yang memberi hidup kekal. Ia berkata, Ia adalah air kehidupan, siapa yang meminumnya tidak akan haus lagi (Yohanes 4).

Dalam satu peristiwa Perjanjian Lama, Abraham sedang santai. Ia melihat tiga orang dekat pohon tarbantin di dekat kemahnya. Ia menahan mereka untuk mampir. Ia mengundang mereka makan bersama (companionship) (Kejadian 18:3-5). Companion berasal dari kata com (dengan) dan panis (roti). Jadi, makan bersama artinya orang yang berbagi roti. Roti menggambarkan rumah, keramahan, persekutuan (communion/koinonia), dan berbagi hidup.

Dalam dunia kapitalistik sekarang, kita terdorong menjadi abai terhadap proses pembuatan makanan. Kita tidak lagi terhubung dengan buruh pabrik produsen makanan. Dengan sistem sosial budaya. Dengan kerusakan-kerusakan alam yang timbul akibat produksi makanan.

Kita menerima begitu saja apa yang ditawarkan sebuah resto cepat saji. Selada organik. Daging sapi pilihan. Tanpa berpikir proses kerja yang terjadi.

Di Cina, demi memenuhi kebutuhan pangan manusia, peternakan ayam menjadi industri ayam. Telur-telur yang menetas tidak pernah terpapar sinar matahari. Paruh ayam dipatahkan seketika mereka keluar dari cangkang. Kepala mereka digantung pada mesin-mesin canggih. Alih-alih melihat makhluk sebagai anggota dari ciptaan, manusia melihat mereka sebagai materi kimiawi. Ayam, sawah, petani dianggap tidak bermakna. Sehingga boleh dimanipulasi semaunya demi kepentingan penyedia makanan.

Makan tidak lagi sebuah peristiwa persekutuan. Sebagai anggota ciptaan, tidak ada lagi rasa syukur karena dipelihara oleh pengorbanan anggota ciptaan lain. Makan tidak lagi menjadi peristiwa intim dengan sesama. Kita menjadi terbiasa makan makanan murah dan cepat, yang dimakan sambil menyetir.

Ngomong-ngomong, adakah makan-minum di Kerajaan Allah kelak? Kerajaan Allah dalam iman kristiani hadir di bumi. Iman Kristen percaya manusia akan dibangkitkan, termasuk fisik. Yesus setelah bangkit dari kubur makan dan minum bersama murid-Nya (Lukas 24:41).

Jadi makan-minum adalah persekutuan. Hubungan intim dengan sesama. Saling memberi dan menerima. Saling memberi ruang dan keramahan. Jika kita mengarahkan makan-minum pada tujuan-tujuan ini, kita sedang membuat cuplikan-cuplikan Kerajaan Allah yang akan datang itu. Cuplikan-cuplikan yang makin sering sampai persekutuan penuh dengan Allah, yang semua dalam semua (1 Korintus 15:28).

read more
1 2 3 4
Page 2 of 4