close
Lukisan & David Tobing

Jumat itu (21/9) langit Jakarta mendung. Di beberapa wilayah hujan deras. Sedianya pukul 10 pagi kami bertemu. Setuju mundur demi keamanan lukisan dari hujan dan turunannya, pertemuan menjadi pukul 1 siang.

Destinasi kami rumah David Tobing. Dia seorang pengacara perlindungan konsumen. Dia baru saja membeli satu lukisan dari Pameran Lukisan di Festival.

Mewakili Panitia Festival, kami bertiga datang. Abdiel, Setiyoko Hadi, pelukisnya, dan saya. Setiyoko berangkat dari Cinere memboyong lukisan Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku (AdKKdA). Lukisan berukuran 120 x 280 cm itu ajeg di atap mobilnya.

“Lima tahun saya mencari lukisan ukuran besar untuk di sini,” aku David Tobing, ketika kami bersama memperhatikan pemasangan pada dinding ruang makan lantai 2, di kediamannya, di bilangan Sentul.

Rumah Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) ini hanya ditinggali akhir pekan. Bernuansa Bali dan berornamen Batak pada beberapa sudutnya. Bagian muka rumah terpajang gorga yang menandai kebatakan dan profesi pemilik rumah. Pada gorga diukir neraca. Pada neraca tertera Amsal 11:1 pada sisi aksara Batak. Di bawahnya tertulis Sitiop Dasing Na So Ra Teleng. Artinya, pemegang timbangan yang tak kunjung oleng.

Ayah tiga anak ini mengaku tidak fanatik benda tertentu untuk mengisi rumahnya. Saat bepergian di dalam negeri atau luar negeri, ia hanya membeli benda yang dirasanya cocok ditempatkan di rumah keduanya itu. Sembilan jam dinding manual ia kumpulkan dari belahan dunia. Perisai beragam model. Lampu-lampu dengan lukisan kontemporer dari Paris. Lukisan 31 dari seratus pintu dari Turki. Pintu bermotif Madura. Kayu-kayu bekas rel kereta.

Lukisan AdKKdA istimewa karena judulnya mengilhami tema Festival. Pada ruang kanan lukisan adalah wajah Yesus yang diilhami Ecce Homo (Behold the Man) karya pelukis Spanyol Elias Garcia Martinez (1858-1934). Pada ruang kiri kira-kira dua pertiga ukuran, terpampang 60 wajah “lain” Yesus ukuran kecil. AdKKdA dipamerkan selama dua minggu bersama 36 karya lain di Festival.

Setiyoko mulai memikirkan AdKKda sekitar tahun 2015. Sempat terhenti melukis karena mengurus hal lain. Bila dipadatkan, dua bulan waktu yang ia habiskan untuk melahirkan AdKKda. Berawal dari rasa penasaran tentang bagaimana wajah Yesus sesungguhnya. Mengumpulkan wajah-wajah Yesus yang dilukis oleh pelukis belahan bumi mana pun. Dan tak satu pun sama. Dalam proses itu ia memahami makna kemahahadiran Tuhan. Bahwa kehadiranNya berbeda dan dipahami berbeda oleh tiap individu (baca: tiap budaya).

Bagi David Tobing, ketertarikannya pada lukisan itu sederhana. Selama pencarian ia tidak berpikir akan “berakhir” dengan wajah Yesus. Di lobi Grha Oikoumene PGI, tempat ia tidak sengaja lewat, ia melihat masa depan lukisan. Waktu itu pameran sudah selesai. Lukisan-lukisan sudah diturunkan dari panel.

AdKKda telah memilih David Tobing. Begitu pula sebaiknya. Menurutnya, penampilan beragam wajah Yesus adalah gagasan berani. Dan seyogyanyalah melihat wajah Yesus adalah dengan memandang sesama dari berbagai latar belakang.

Pelukis dan pemilik lukisan sama-sama berbagi senang. AdKKdA siap dinikmati dan ditafsir siapa pun yang mampir ke rumah eklektik sang pengacara. (is/26/9)

Tags : Festival Sastra & Rupa Kristianiteras
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response