close
Masjid apung di Donggala

 

Saya sedang mengobrol intens bersama teman di ruang tamunya ketika stasiun televisi menampilkan gambar-gambar hidup. Teks berlari pada layar mengatakan gempa 7,7 skala Richter sedang menimpa Palu.

Kami menahan obrolan. Dalam diam teman saya bangkit dari duduk, membesarkan volume televisi, meyakinkan bahwa gempa memang terjadi waktu itu. Skala 7,7 adalah goncangan dahsyat. Gempa yang menggentarkan di Lombok Juli lalu berskala 7,0.

Kami berdiri di depan televisi, tidak berkomentar sesuatu pun. Televisi terus menampilkan gambar-gambar akibat gempa. Kami bertahan dalam posisi itu mungkin satu menit. Setelah itu tiba-tiba kami mendapati diri kami duduk di tempat semula.

Obrolan macam apa yang menahan kami dari rasa ingin tahu tentang bencana di Donggala?

Sambil mengobrol, setiap lima belas menit –atau kurang- adik teman saya keluar dari kamarnya untuk berbagai urusan. Kencing atau bertanya sesuatu kepada teman saya yang sudah pasti adalah halusinasinya.

“Mau makan sekarang?” tanya teman saya, pada kemunculan ke sekian kali adiknya di mulut pintu kamar.

Si adik terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Teman saya membimbingnya duduk di meja makan sementara ia mengambil piring di dapur. Dari belakang punggungnya kami menyaksikan aktivitas makan si adik.

“Kenapa kepalanya miring ke kanan?” bisik saya.

“Dalam pikirannya, seseorang sedang menaruh beban besar di leher kirinya,” jawab teman saya.

Nasi dan lauk masih menumpuk di piring, si adik sudah berpindah duduk ke kursi panjang, di seberang televisi. Penampilannya membuat mata sedih memandang. Kelopak matanya berat. Bibir bawahnya tertarik turun. Napas tak beraturan. Tubuh hendak rubuh.

Dalam kondisi normal ia makan kurang dari lima menit, bisik teman saya.

Semua ini bermula dua minggu lalu. Psikiater adiknya -yang sudah empat tahun menjadi dokter si adik- memutuskan untuk mengurangi dosis obat. Alasannya supaya si sakit mandiri.

Namun akibatnya fatal. Adiknya menjadi lebih sering halusinasi. Gelisah dan tidak dapat tidur. Suara-suara di dalam kepala makin mengacau. Sakit kepala hebat. Berat badannya sudah turun empat kilo.

Rutinitas teman saya pun terganggu. Beberapa kali pulang lebih cepat dari kantor. Dua hari terakhir ia terpaksa cuti mendadak karena adiknya harus didampingi detik demi detik, dalam arti yang sesungguhnya.

Delapan tahun sudah teman saya merawat adik lelakinya itu. Fakta mengatakan bahwa mereka bersepuluh saudara. Kecuali teman saya, tak satu pun pasang badan untuk saudara mereka yang schizofrenia sejak usia muda itu. Teman saya menerima tongkat estafet sebagai caregiver dari ibunya, yang meninggal delapan tahun lalu.

Teman saya menjalani rutinitas baru sejak adiknya menumpang di rumah. Satu dua tahun dia masih berharap salah satu dari saudaranya akan berubah sikap. Sayangnya waktu yang diharapkan belum muncul.

Dari koceknya sendiri, teman saya meyakinkan adiknya mendapat pengawasan dari psikiater terbaik dan obat-obat paten berkualitas. Sekarang ini dia sudah yakin seratus persen bahwa si adik hanya tergantung kepadanya, seorang.

Lalu terjadilah pada tahun kelima adiknya di rumah, manajemen kantor teman saya –entah karena apa- memintanya untuk pensiun dini. Singkatnya, kantor tidak lagi membutuhkan keahliannya. Mendengar ultimatum itu, yang muncul dalam benaknya adalah wajah adiknya.

Saya harus mencari pekerjaan baru. Kalau tidak, bagaimana membeli obat-obat untuk adiknya?

Saat itulah ia terserang napas pendek. Kadang-kadang tidak bisa bernapas. Ia merasa setiap hari akan mati.

Ia sudah memasang beberapa kaca pada dinding rumahnya untuk memberi kesan lega. Berkonsultasi dengan rohaniwan. Membaca buku-buku yang menguatkan jiwa. Mendengarkan musik-musik bagus. Mengikuti nasihat-nasihat modern untuk menenangkan diri. Namun penderitaan tidak berkurang panjangnya. Tubuh tidak menerima terapi semacam itu. Setiap hari ia menjelajahi dasar bumi yang paling gelap dan sunyi.

Berapa banyak orang berbalik dari Tuhan karena penderitaan?

Samuel Beckett, pengarang Inggris salah satu penerima hadiah Nobel, menulis banyak karya gelap dan pesimistik, bukan tanpa alasan. Karyanya yang penting, Menunggu Godot (1952), adalah kisah dua orang yang menunggu kedatangan seseorang yang tidak pernah terjadi.

Tahun 1920, jalanan di Dublin, kota kelahirannya, dipenuhi tentara-tentara yang nyaris gila setelah kembali dari Perang Dunia I. Pemandangan itu menusuk kemanusiaannya. Sekitar waktu yang sama kawan sekolahnya menolak Tuhan dan kekristenan.

Dibesarkan dalam keluarga penganut Anglican, Beckett diajak oleh ayahnya ke gereja setiap Minggu sore untuk mendengar khotbah. Ayahnya wafat tahun 1933. Ibunya meninggal tahun 1950 karena komplikasi Parkinson dan patah tulang paha. Selama tiga setelah bulan tahun 1954, ia menemani adiknya yang sekarat karena kanker paru.

Kalau memang Tuhan ada, gugatnya, Tuhan seperti apa yang mengatur dunia semacam ini? Menghibur seorang yang sedang menderita dengan kata-kata surga, menurutnya adalah penghinaan.

Pengarang dunia lainnya, CS Lewis, menghadapi realitas lain saat kematian istrinya. Dalam bukunya A Grief Observed (1961), ia menulis Tuhan hanya berdiri di belakang pintu, mengunci rapat-rapat, terhadap penderitaannya.

Namun pada akhir buku ia menulis, “Ketika saya bertanya kepada Tuhan dan mendapat jawaban tidak, itu tidak yang khusus. Bukan pintu terkunci. Bukan tatapan tanpa belas kasihan. Saya hanya melihat Dia menggeleng, memberi lambaian pada pertanyaan saya, seperti berkata, “Berdamailah, Nak, kamu belum mengerti.”

Dapatkah yang fana bertanya Tuhan tidak punya jawaban atas satu pertanyaan? Itu seperti bertanya, berapa jam yang diperlukan untuk satu mil? Kuning itu bentuknya segi empat atau bulat?

Pada akhir buku, ia menulis Poi si tornò all’ eterna Fontana. Istrinya berdamai dan tersenyum, kembali kepada Sumber Mata Air Abadi (baca: Tuhan).

Mengetahui bahwa kita menderita bukan karena Allah membenci kita itu penting. Bahwa penderitaan selalu ada batas akhirnya. Bahwa kehadiran Allah akan membuat kita kuat menghadapi keadaan-keadaan yang tak terpikirkan dalam hidup.

Akhirnya, teman saya menemukan kata kunci saat berkonsultasi dengan psikiaternya. Panic attack biasanya menyerang seseorang dengan tanggung jawab besar, ucap si dokter. Jawaban yang sederhana dan berharga. Seharusnya ia sudah tahu jawaban itu. Ketika sesak napas menyingkir, dia mendapat pekerjaan baru begitu saja.

“Planet bumi ini diatur oleh sistem interdependen yang sangat teliti dan khusus. Saya pernah baca di mana gitu. Termasuk perubahan-perubahan permukaan bumi yang tengah bergerak ini,” ucap teman saya lirih, tanpa bermaksud mengecilkan bencana hebat yang kami saksikan di televisi.

Saya mengangguk-angguk pendek. Tidak kuasa menimpali.

Hampir larut saya pamit. Dia berkata akan mengabari apa pun yang terjadi pada adiknya. Kepala saya penuh. Sementara saya tidak memberinya nasihat apa pun. Dia memang tidak butuh nasihat saya yang amatir ini. Dia ahlinya. Sudah menemukan kata kunci bagi penderitaan-penderitaannya. (itasiregar/1/10/18)

 

*Foto Intisari.grid.id

Tags : Donggalakata kunci
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response