close
Buah- buah Kehidupan

Teks Krisma Adiwibawa
Gambar Surajiya

Pada satu malam saya merasa lapar. Persis waktu itu saya baru saja memasang aplikasi finansial di hape saya.

Aplikasi tersebut memberi beberapa benefit. Bila saya membeli makanan, uang sekian persen dari total belanja akan secara otomatis masuk ke dompet daring saya. Prosentasi itu menjadi lima kali lipat bila saya memakai kartu kredit bank tertentu. Wah, untung, saya pikir.

Supaya lebih untung, saya mengajak kawan. Makanan yang sudah didiskon, dibagi dua. Jadi demi diskon besar dan perut kenyang, saya menerjang kemacetan malam lalu lintas Jakarta, pergi ke rumah teman saya.

Makan adalah sebuah fakta kehidupan. Setiap makhluk hidup butuh makan. Tidak makan sama saja membiarkan diri kelaparan, lalu mati. Jadi makan adalah soal hidup dan mati.

Mengapa Allah mencipta sebuah dunia yang setiap makhluk di dalamnya perlu makan? Apa relasi makan dan minum dengan iman? Pertanyaan sepele. Dan saya belum pernah mempersoalkan. Padahal Alkitab ratusan kali mencatat kata atau peristiwa makan-minum.

Balik ke cerita saya di atas. Waktu itu kami membeli banyak sekali makanan. Daging, ikan, udang, kepiting, sayuran, jejamuran, telur, nasi.

Saya melihat itu semua. Saya pikir, tanpa makan(an), saya akan mati (tidak langsung saat itu tentu saja). Tetapi agar saya hidup (baca: makan), ada makhluk hidup lain harus mati. Kehidupan bergantung pada kematian. Dengan kesadaran tersebut, sebagai pemakan, manusia adalah sentral dalam kelit kelindan drama hidup dan mati.

Tokoh drama dalam rantai makanan cukup banyak. Kita berhubungan dengan tumbuhan dan hewan yang kita makan. Dengan tanah tempat tumbuhan dan hewan hidup. Dengan petani yang menanam padi dan sayur-mayur. Dengan peternak. Dengan kawan makan. Dengan keluarga di meja makan. Dengan Allah.

Bagaimana menjelaskan ini secara iman Kristen?

Cara kita berpikir tentang makan-minum tergantung cara kita melihat dunia. Bagi sebagian orang, dunia adalah alam semesta. Alam semesta mencakup planet-planet, termasuk bumi. Bumi memiliki berbagai fenomena alam seperti hutan, laut, gunung, tumbuhan, hewan, bakteri, dan sebagainya.

Sementara Iman Kristen menyebut alam semesta adalah ciptaan. Penciptanya: Allah. Keberadaan semua benda pada alam semesta berada dalam kuasa-Nya. Gerakan-gerakan yang terjadi pada alam semesta merupakan pemeliharaan-Nya. Tujuan alam semesta adalah kepada-Nya. Jadi Allah adalah sumber, pemelihara, dan tujuan dunia ini.

Konsep ini dikenal dengan istilah perikoresis. Dalam konsep Allah trinitaris, Allah digambarkan sebagai tarian abadi dari Bapa, Putra, Roh Kudus. Konsep ini digambarkan dengan tiga lingkaran yang saling berpaut satu sama lain, saling memberi ruang sembari mengambil ruang yang lain. Dari sana muncul istilah interpenetrasi atau saling memasuki. Tiga pribadi menyatu tanpa kehilangan keunikan masing-masing dan tidak melebur menjadi pribadi yang lain.

Basil the Great, bapa gereja, menjelaskan Allah sebagai pencipta, perawat, dan penebus dunia. Alam semesta sebagai tarian abadi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebagai tarian abadi, penciptaan tidak dilihat sebagai kejadian statis masa lampau melainkan sebuah proses yang sedang berjalan. Dalam kadar tertentu, manusia atau makhluk hidup berpartisipasi dalam proses penciptaan karena terikat pada trinitaris Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Allah mencipta dunia? Karena Allah memberi ruang dalam diri-Nya bagi yang lain. Ia memberi ruang bagi dunia untuk ada. Makhluk adalah anggota dari himpunan ciptaan.

Jadi, melalui kacamata trinitaris, makan-minum bukan semata-mata untuk bertahan hidup. Tetapi upaya berbagi dan memelihara kehidupan.

Arti lainnya, hidup tidak memberhalakan makanan. Menganggap makanan sumber hidup. Makan dan minum adalah bukti kita tidak dapat hidup tanpa pemeliharaan Allah.

Dalam budaya Alkitab, roti adalah simbol makanan. Makanan digambarkan sebagai keberuntungan dan keamanan. Yusuf menghindari Mesir karena kelaparan. Tuhan memberi manna kepada orang Israel di padang gurun.

Dalam bahasa Inggris, pencari nafkah disebut breadwinner. Roti menggambarkan rezeki. Berikanlah kami makanan kami …’ dalam doa Bapa Kami diterjemahkan berikanlah kami rezeki … pada beberapa terjemahan.

Peristiwa terkenal dalam Injil menyoal makan adalah Yesus memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan. Setelah itu khalayak ingin menjadikan Yesus raja (Yohanes 6:11). Ini disebabkan mereka melihat Yesus mampu memproduksi makanan sesuai permintaan pasar.

Tetapi Yesus menghindar. Makanan yang ingin Ia berikan kepada mereka adalah makanan yang memberi hidup kekal. Ia berkata, Ia adalah air kehidupan, siapa yang meminumnya tidak akan haus lagi (Yohanes 4).

Dalam satu peristiwa Perjanjian Lama, Abraham sedang santai. Ia melihat tiga orang dekat pohon tarbantin di dekat kemahnya. Ia menahan mereka untuk mampir. Ia mengundang mereka makan bersama (companionship) (Kejadian 18:3-5). Companion berasal dari kata com (dengan) dan panis (roti). Jadi, makan bersama artinya orang yang berbagi roti. Roti menggambarkan rumah, keramahan, persekutuan (communion/koinonia), dan berbagi hidup.

Dalam dunia kapitalistik sekarang, kita terdorong menjadi abai terhadap proses pembuatan makanan. Kita tidak lagi terhubung dengan buruh pabrik produsen makanan. Dengan sistem sosial budaya. Dengan kerusakan-kerusakan alam yang timbul akibat produksi makanan.

Kita menerima begitu saja apa yang ditawarkan sebuah resto cepat saji. Selada organik. Daging sapi pilihan. Tanpa berpikir proses kerja yang terjadi.

Di Cina, demi memenuhi kebutuhan pangan manusia, peternakan ayam menjadi industri ayam. Telur-telur yang menetas tidak pernah terpapar sinar matahari. Paruh ayam dipatahkan seketika mereka keluar dari cangkang. Kepala mereka digantung pada mesin-mesin canggih. Alih-alih melihat makhluk sebagai anggota dari ciptaan, manusia melihat mereka sebagai materi kimiawi. Ayam, sawah, petani dianggap tidak bermakna. Sehingga boleh dimanipulasi semaunya demi kepentingan penyedia makanan.

Makan tidak lagi sebuah peristiwa persekutuan. Sebagai anggota ciptaan, tidak ada lagi rasa syukur karena dipelihara oleh pengorbanan anggota ciptaan lain. Makan tidak lagi menjadi peristiwa intim dengan sesama. Kita menjadi terbiasa makan makanan murah dan cepat, yang dimakan sambil menyetir.

Ngomong-ngomong, adakah makan-minum di Kerajaan Allah kelak? Kerajaan Allah dalam iman kristiani hadir di bumi. Iman Kristen percaya manusia akan dibangkitkan, termasuk fisik. Yesus setelah bangkit dari kubur makan dan minum bersama murid-Nya (Lukas 24:41).

Jadi makan-minum adalah persekutuan. Hubungan intim dengan sesama. Saling memberi dan menerima. Saling memberi ruang dan keramahan. Jika kita mengarahkan makan-minum pada tujuan-tujuan ini, kita sedang membuat cuplikan-cuplikan Kerajaan Allah yang akan datang itu. Cuplikan-cuplikan yang makin sering sampai persekutuan penuh dengan Allah, yang semua dalam semua (1 Korintus 15:28).

Tags : makan-minumremeh-remehteologi
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response