close
Di Bawah Setangkup Malam 2017

Teks Julius C. Adiatma

Gambar Di Bawah Setangkup Malam (2017) Surajiya

 

Saya senang tidur. Bagi saya, tidur adalah tempat pelarian sementara dari masalah. Saat sedih, sakit, marah, bosan. Ketika bangun, saya merasa bahagia. Setidaknya beberapa detik sebelum kesadaran kembali menguasai. Saya tak pernah bosan tidur. Meski sepertiga waktu saya dalam sehari, habis karena tidur.

Melongok Alkitab, tidak mudah menemukan satu tarikan makna mengenai tidur. Memang tidak mungkin. Karena jelas, Alkitab ditulis bukan untuk menjelaskan aktivitas-aktivitas manusia.

Bagaimana pun, banyak catatan mengenai kegiatan tidur dalam Alkitab yang tidak saling terkait. Bahkan maknanya kontradiktif.[1] Tetap, saya sulit menemukan bahan rujukan teologis yang memuaskan menyoal tidur. Tersebab inilah saya akan menarik kisah dan pemaknaan mengenai tidur secara pribadi. Perlu saya sampaikan bahwa rujukan yang tercantum di sini semata-mata sumber inspirasi, sehingga ketika Anda membacanya, mungkin kesimpulan yang didapat berbeda dari saya.

Pertama, konsep tidur dalam peristiwa penciptaan. Rupanya, tidur terekam pada peristiwa penciptaan Hawa. “TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak” (Kejadian 2:21). Tidak berhenti di situ. Pada beberapa peristiwa setelah itu, Allah menunjukkan “karya-Nya” ketika manusia tidur.

Yakub bergulat dengan Tuhan dalam tidur (Kejadian 32:24). Allah menghukum bangsa Mesir ketika mereka tidur tengah malam (Keluaran 12:29-30). Samuel dipanggil Tuhan saat ia sedang tidur (1 Samuel 3:3-5).

Dari sini, saya mengajukan kesimpulan sementara bahwa dalam tidur manusia, Tuhan berkarya dan membentuk manusia. Atau bisa juga kita bayangkan, tidur sebagai salah satu cara manusia yang imanen, “berinteraksi” dengan Tuhan yang transenden. Tuhan, yang secara ontologis “tidak eksis”, tidak dapat “dijumpai” oleh manusia dalam kenyataan material. Maka Ia hanya mungkin “dijumpai” dalam dimensi nonmaterial, yang diakses manusia dalam tidurnya.

Kembali ke peristiwa penciptaan.

Jika kita memandang tidur sebagai bagian dari istirahat, kita akan menemukan “Allah memberkati hari ketujuh dan menguduskannya, karena pada hari itu Ia berhenti” (Kejadian 2:3). Angka 7 adalah sakral bagi orang Yahudi. Kemungkinan angka itu berakar dari tradisi-tradisi sekitar Kitab Kejadian ditulis, yaitu abad 6 SM. Dalam beberapa tradisi Kristen pun, angka 7 dianggap simbol kesempurnaan atau kepenuhan.[2]

Maka, istirahat menjadi sesuatu yang sentral sebab ditempatkan pada hari ketujuh. Karya penciptaan Tuhan digenapi dengan berhenti bekerja, beristirahat pada hari ketujuh (meski kita tahu Ia tidak membutuhkannya). Istirahat menjadi syarat pekerjaan menjadi lengkap. Bahkan Allah menguduskan hari itu sementara Ia tidak menguduskan hari-hari sebelumnya waktu mencipta, bahkan ketika menciptakan manusia.[3]

Kedua, saat kejatuhan manusia. Sejak berdosa, manusia harus “dengan bersusah payah mencari rezeki dari tanah seumur hidup” (Kejadian 3:17). Hingga saat ini kita melihat kondisi manusia harus bekerja keras sampai-sampai mengurangi waktu istirahat (baca: tidur). Mereka yang bekerja lembur, shift malam hari, atau pekerjaan sampingan untuk menutup biaya hidup.

Gereja Katolik melalui beberapa ensikliknya (surat Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik sedunia), mulai dari Pacem in Terris, Rerum Novarum, hingga Laborem Exercens, kontinu mendorong hak beristirahat secara layak sebagai aspek penting dalam martabat manusia. [4]

Di sisi lain, istirahat seakan-akan hanya menjadi suatu keharusan bagi manusia karena kebutuhan fisik. Kita pun mudah menemukan banyak penelitian yang menunjukkan pentingnya istirahat (dan tidur) dalam meningkatkan produktivitas kerja. Pekerja yang cukup tidur dan rekreasi, kesehatan fisik dan mentalnya akan lebih baik. Demikianlah perusahaan menjadi lebih untung dan kerja lebih produktif. Penelitian-penelitian ini memberi validasi pada pengurangan jam kerja di negara-negara Eropa.

Pieper, seorang filsuf Jerman, berkata bahwa konsep ini telah mereduksi istirahat sebagai pelayan dari kerja. Padahal, menurutnya, istirahat adalah suatu kondisi yang secara nilai dan hakikatnya, independen dari kerja.[5] Bila kita memeriksa peristiwa penciptaan, istirahat akan menggenapi kerja. Istirahat (baca tidur) memberi dampak positif bagi kemampuan kerja seseorang meski itu dilihat sebagai efek samping.

Istirahat dan tidur merupakan salah satu fitur manusia dan kemanusiaan. Tanpanya, manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Perlu dicatat bahwa Pieper berbicara mengenai istirahat dalam arti kontemplatif. Tidak serta-merta berarti tidur.

Barangkali kita pernah berada dalam situasi tidak dapat tidur karena ada “ancaman”. Misalnya pindah ke lokasi baru dan tidak dikenal. Di sini, tidur dilihat sebagai suatu kondisi ketika manusia diharuskan kehilangan kesadaran dan kontrol atas dirinya.

Tidur secara signifikan membuat kita kehilangan kemampuan penginderaan kita seperti terhadap suara, pandangan, maupun sentuhan. Maka tidur sebenarnya seperti menceburkan diri dalam lubang ketidakpastian yang paling dalam. Ketika tidur, kita melepaskan diri sepenuhnya kepada “Ia yang tidak terlelap dan tidak tertidur: Penjaga Israel” (Mazmur 121:4).

Dalam Markus 4:36-41, Yesus tertidur tenang di kapal saat badai menerjang. Satu konflik berkecamuk di antara murid-murid. Kala itu Yesus mengajak mereka untuk menyeberang danau Galilea. Mereka akan menuju suatu wilayah baru yang tak dikenal, melewati danau, yang sewaktu-waktu dapat diterpa badai. Ada kegelisahan dalam diri murid-murid atas ketidakpastian ini. Namun kegelisahan itu tidak dialami oleh Yesus, yang diceritakan tertidur dengan nyenyak. Adegan ini bukanlah penggambaran kuasa Yesus atas cuaca semata, namun teladan keberanian dan ketenangan dalam menghadapi suatu yang tak pasti, mencekam, berbahaya.[6]

Ketika kita menyadari tidur sebagai suatu tindakan menyongsong ketidakpastian, yang kita mampu lakukan secara rutin dan sukarela, menurut saya, dalam perjuangan hidup yang penuh ketidakpastian ini, kita dapat memilih bersikap serupa Yesus. Kita tidur dengan harapan atau keyakinan bahwa kita akan bangun pada keesokan harinya. Demikian pula kita menyongsong pergumulan hidup dengan keyakinan bahwa kita akan memenangkannya.

Lalu bagaimana kita memandang perumpamaan pada Markus 13:33-37 tentang penjaga pintu dan Matius 25:1-13 tentang gadis bijaksana dan gadis bodoh? Atau tentang pencuri pada malam hari dalam 2 Tesalonika 5:3-6, yang seakan-akan menempatkan tidur sebagai sesuatu yang salah?

Tentu ayat-ayat itu tidak mengatakan kepada kita untuk tidak tidur secara harfiah. Menarik ketika Yesus menggunakan perumpamaan mengenai penjaga pintu, tidur adalah hak istimewa dari kelompok atau kelas tertentu. Hamba-hamba dan penjaga pintu diharuskan berjaga sampai tuan mereka pulang. [7]

Pada ayat 37, Yesus mengatakan, “Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: Berjaga-jagalah!” Terlihat Ia menghancurkan batas-batas kelas sosial. Bukan hanya hamba yang harus berjaga, melainkan semua. Tuan dan hamba. Harus berjaga dalam menyambut kedatangan Tuhan.

Saya rasa Yesus paham bahwa tidak mungkin manusia berjaga terus, sementara istirahat dan tidur adalah fitur yang inheren dalam diri manusia. Lalu bagaimana kita dapat berjaga? Dengan melakukannya secara kolektif alih-alih secara individual. Ingat, Yesus menghimbau kita berjaga. Itu bukan sekadar tidak tidur. Bukan sekadar menunggu. Berjaga berarti bersiap dan menyambut.

Ketika Kerajaan Allah mendekat, para hamba saling mempersiapkan diri dan menyambut. Sementara tuan-tuan individualis akan terkapar -meski tidak tidur-, tidak mampu bergerak karena kehabisan daya.

Kitab Ibrani mengungkap visi Kerajaan Allah sebagai tempat peristirahatan. “Masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibrani 4:9-10).

Dalam hal ini seakan-akan di Kerajaan Allah manusia berhenti bekerja. Namun kerja adalah hakikat manusia yang telah dimandatkan oleh Allah pada waktu penciptaan (Kejadian 1:26). Saya meyakini bahwa kerja yang dimaksud adalah kerja yang, sebagaimana istirahat, telah tereduksi oleh kejatuhan manusia. Maka di Kerajaan Allah, manusia akan melakukan kerja dan istirahat yang sejati. Istirahat dalam kerajaan Allah kembali pada hakikat penggenapan kerja dan menjadikannya kudus.ῼ

 

Julius C. Adiatma, penggiat diskusi Selasaan

Surajiya, perupa dan tinggal di Yogya

 

 

[1] https://www.christiancourier.com/articles/753-biblical-concept-of-sleep-the

[2] http://www.biblestudy.org/bibleref/meaning-of-numbers-in-bible/7.html

[3] https://www.theologyofwork.org/key-topics/rest-and-work-overview

[4] Allison McMorran Sulentic. (2014). Now I Lay Me Down to Sleep: Work-Related Sleep Deficits and the Theology of Leisure. Hal 753-762.

[5] Ibid. Hal 765.

[6] https://politicaltheology.com/crossing-over-to-the-other-shore-mark-435-41/

[7] https://politicaltheology.com/the-politics-of-sleep-mark-1324-37-amy-allen/

Tags : Teologi Remeh TemehTidur
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response