close
400px-Esther

Ester,
bangunlah
pagi terang tanah
telah tiba saatnya
kau menjadi ratu atas bangsamu

kenakan kain kabungmu
jangan pupur pipimu
jangan gincu bibirmu
jangan celak matamu
bertaraklah
berdiam dirilah
tutup pintu kamarmu
menangislah semampumu
tetapi jangan sesali dirimu

karena hati raja seperti batang air
dialirkan ke mana Dia mau

Hei, Ester
lihatlah
ujung tongkat emas raja terulur kepadamu

apa yang kau inginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Tuanku Xerxes yang mulia
penguasa seratus dua puluh tujuh daerah
dari India sampai Etiopia
hambamu ini telah memeras anggur
yang legit rasanya hingga ke ubun-ubun
datanglah ke perjamuan hambamu
buktikan perkataanku benar
bersama tangan kananmu,
Haman orang Agag itu

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
betapa teka-teki perempuan
tak terselami para bangsawan

apa yang kauinginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Ester,
kau adalah Hadasa dalam bahasa negerimu
kekuatanmu hijau cemara musim dingin
matamu takjub
melihat mata rajamu tak berpaling darimu
melebihi mata pertama saat kau masuk balai pembaringannya
pipi tuanmu merekah seperti remaja dungu jatuh cinta
sementara kau mencuri pandang
air muka Haman yang kelewat gembira
saat sebuah pengertian tumbuh di hatimu

kemolekan adalah bohong
kecantikan adalah sia-sia

Tuanku Xerxes yang mulia,
tangan kananmu menikamku dari belakang
menusuk jantung bangsaku terang-terangan
membalas dendam belum tertuntaskan

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
kutuklah aku
bila tak kusula pada tiang
pengkhianat di dalam istanaku sendiri

Ester, Ester,
tak pernah kau sadari
betapa lelaki jatuh cinta
akan melampaui kata-katanya sendiri
mempertaruhkan meterai kehormatannya

Dan kini, Mordekhai saudaraku
bersukalah
kelepasan telah datang
peranku telah kutunaikan
sebagai ratu

ita siregar/28/07/18

Lukisan Ester (1878) oleh Edwin Longsdem Long koleksi National Gallery of Victoria, Melbourne

Tags : AlkitabEsterRatu PersiaSang Ratu
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response