close
foto diskusi UIN

Catatan diskusi publik: Membincang Kembali Ideologi Indonesia

UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Tangerang

Jumat 26 Oktober 2018

Diskusi menghadirkan narasumber Prof Dr Mochtar Pabottingi, Prof Dr Azyumardi Azra, Prof Dr Siti Musdah Mulia, Radhar Panca Dahana. Dan moderator Ahmad Rifki.

Prof Dr Azyumardi Azra

Dengan pluralitasnya, Indonesia beruntung memiliki ideologi Pancasila. Di belahan dunia lain, banyak negara berada dalam situasi ribut terus. Sektarianisme tumbuh subur. Politik identitas sukar dikendalikan. Penetrasi ideologi-ideologi transnasionalisme mengakibatkan rusaknya sendi-sendi persatuan pada banyak bangsa (nation-state).

Sejak 1978, hingga kini, Afghanistan masih berada dalam situasi perang.  Mesir, sejak era  Nasser hingga Mubarak, tidak berubah keadaannya. Antara Islamisme dan idelogi-ideologi yang dianut tak mampu menciptakan kerukunan, justru perang. Paham transnasionalisme mengakibatkan sikap-sikap sektarian yang keras. Akibatnya civic education tidak berjalan.

Pancasila adalah gabungan dari tiga arus dasar ideology. Satu, akar ideologi yang bersumber dari kearifan local. Dua,  gagasan-gagasan mengenai Islam politik. Tiga, gagasan-gagasan filosofis-ideologis pada tingkat internasional. Ketiga gagasan tersebut bertemu dalam Pancasila.

Baik secara agama maupun budaya, Pancasila memiliki landasan yang kokoh. Di Indonesia, Pancasila dapat mengakomodasi keragaman budaya dan agama. Dalam rumusan finalnya, Pancasila  mendukung semangat Islam Washatiyah.

Bahwa ada kegaduhan sosial yang terjadi di Indonesia belakangan, dipastikan bersumber dari luar. Lalu, apa yang terjadi dengan Pancasila sebagai ideologi? Masih relevankah Pancasila? Dari segi kohesi sosial, Pancasila sangat relevan. Buktinya sudah 73 tahun Pancasila masih bertahan.

Ada yang tidak setuju Pancasila, itu pasti. Politik kita tidak lagi ideologis tetapi bergerak dengan dasar pragmatisme dan oportunisme politik. Yang menyangga Indonesia sudah pasti Pancasila. Masalahnya, kita sedang menghadapi tantangan, di antaranya kesenjangan antara kenyataan sosial hari ini dengan cita-cita besar yang terbuhul dalam sila-sila Pancasila.

Yang jelas dominan adalah pengamalan sila pertama, meski kita dapat bertanya, apakah kita benar-benar telah berketuhanan yang Mahaesa? Kita baru saleh secara personal. Belum saleh secara sosial. Begitu juga dengan sila Kemanusiaan. Keadaban publik kita rendah. Pancasila tidak berhasil menciptakan civic-culture dalam masyarakat.

Oleh karena itu, Pancasila mesti direjuvenasi (peremajaan kembali). Pemahaman terhadap Pancasila diremajakan seiring zaman yang berubah. Kekuatan sosial budaya kita lebih moderat, meski dari waktu ke waktu mengalami gangguan. Sebagai contoh, yang dibakar adalah bendera, tetapi yang dipahami adalah kalimat tauhid.

Prof Dr Mochtar Pabottingi

Apakah kita serius menjadi Indonesia? Atau hanya kebetulan menjadi manusia Indonesia? Jika serius, kita pasti punya pemahaman yang kuat tentang Indonesia. Siapakah saya sebagai bangsa?

Ada dua pengertian bangsa. Pertama, bangsa dalam pengertian sosiologis. Kedua, bangsa dalam kategori politik. Ideologi tidak bisa dilepaskan dari negara bangsa. Orang baru bicara ideologi sejak munculnya konsep negara bangsa.

Tempat ideologi terletak pada rumusan paling bermakna dalam hidup manusia yang berakal budi. Kegeniusan para pendiri bangsa terletak pada rumusan tentang jati diri bangsa. Mereka menyimak sejarah sampai ratusan tahun ke belakang dan merefleksikan ratusan tahun ke depan. Setelah melakukan refleksi yang dalam, barulah kita memiliki rumusan yang dalam tentang manusia Indonesia.

Pancasila adalah “wahyu” dari Allah. Pancasila bukan saja tidak bertentangan dengan Islam, tapi justru aktualisasi dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Sulit sekali bagi kita untuk mengganti Pancasila.

Prof Dr Siti Musdah Mulia

Jangan sampai ideologi Pancasila menjadi ideologi yang tertutup seperti pada masa Orde Baru. Masih relevankah sila-sila dalam Pancasila? Di manakah dasar hukum yang menetapkan Pancasila sebagai ideologi Negara? Tentang ideologi ini, apakah seluruh masyarakat Indonesia mengerti tentang ideologi?

Ada 3 kelompok di Indonesia terkait dengan ideologi:

  1. Kelompok yang menolak Pancasila,
  2. Kelompok yang menerima Pancasila,
  3. Kelompok yang tidak peduli lagi dengan ideologi Pancasila.

Ada kelompok yang menerima Pancasila, tetapi tidak mengamalkan Pancasila sama sekali. Civic education kita lemah. Kita sibuk berdebat tentang bendera bertuliskan kalimat tauhid ketimbang berdebat tentang air bersih dan masalah transportasi. Keberhasilan Pancasila dapat dilihat dengan indeks demokrasi Indonesia.

Unsur-unsur dalam Indeks Demokrasi Indonesia dengan ukuran sebagai berikut: 1) Aspek kebebasan sipil, 2) Nilai-nilai keadaban, dan 3) Institusi/kelembagaan.

Parta-partai politik tidak punya kader. Lembaga-lembaga legislatif tidak mampu melahirkan regulasi yang memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Pancasila masih diharapkan menjadi pijakan dasar dalam kehidupan kewarganegaraan. Problemnya, bagaimana mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Radhar Panca Dahana

Sila Ketuhanan dan sila Kemanusiaan dalam Pancasila tidak dipahami dan tidak diamalkan. Apakah ideologi bekerja dalam kehidupan keseharian kita? Saya belum pernah mendapatkan bukti aktual-historis tentang kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2018. Generasi Orba adalah generasi yang pendek imajinasi. Dosa terbesar Orba adalah membatasi imajinasi rakyatnya.

Seberapa dalam ideologi dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia? Tidak ada yang tahu. Ideologi tidak bekerja dalam kehidupan kewarganegaraan kita. Menurut saya, ideologi itu makhluk asing kalau tidak dipaksakan. Kita hanya punya idea, belum ideologi secara rigid.

Sebagai ideologi, Pancasila tidak punya naskah akademik. Apakah penjelasan founding fathers tentang dasar pemikiran Pancasila dapat menjelaskan pemahaman tentang Pancasila? Apakah dasar negara yang disusun itu masih bisa kita gunakan untuk menjawab persoalan-persoalan mutakhir kita?

Bantahan Prof Mochtar terhadap pemaparan di atas:

Ketiadaan prinsip kemanusiaan dalam kehidupan sosial kita yang ditegaskan oleh RPD tidak dapat disimpulkan dari kasus-kasus ekstrem. Jumlah orang Indonesia yang mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan dalam laku keseharian masih lebih banyak dari orang-orang yang tidak berprikemanusiaan. Dalam diri saya ada determinasi Pancasila. Misalnya, pengalaman-pengalaman saya selama di luar negeri (AS) ketika saya bergaul dengan orang-orang nonmuslim di sana. Pergaulan saya dipandu oleh Pancasila, terutama tentang prinsip kerukunan antarumat beragama.

Pada bagian akhir Prof Mochtar mengutip filosofi pahlawan nasional dari Manado, Ram Ratulangi, si tou timou tumow tou. Artinya, manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sesi tanya jawab

Julia Suryakusuma

Sila-sila Pancasila harus dioperasionalisasikan. Agenda di balik topik ini adalah demokratisasi. Demokrasi hari ini tidak fashionable lagi. Kita harus melihat apakah dunia sekarang lebih baik atau lebih buruk. Apa kepentingan dari diskusi ini sebetulnya? Ideologi terlalu abstrak bagi masyarakat.

Mahasiswa UIN Jakarta 1

Saleh personal dan saleh sosial. Sila pertama tidak diamalkan. Bagaimana mengembalikan kesaktian Pancasila?

Mahasiswa UIN Jakarta 2

Kenapa Pancasila ditafsirkan secara berbeda-beda pada setiap era?

Jawaban

Prof Musdah Mulia

Masalah ideologi memang tidak perlu dibicarakan secara tuntas.

Prof Azyumardi Azra

Pancasila tidak menolak agama dan budaya lokal. Pancasila jangan disakralkan, tetapi harus diaktualisasikan. Harus ada vernakularisasi nilai-nilai Pancasila. Sebetulnya, semua syariah dijalankan oleh orang Islam. Ada atau tidaknya negara.

Prof Mochtar

Pancasila tidak pernah sakti. Saya pernah tulis pada tahun 1977, Pancasila dan Demitologisasi. Yang sakti adalah manusia-manusia yang mengamalkannya. Kita harus optimis. Wabah akan berlalu. Di medsos orang tidak atau jarang melakukan refleksi. Yang ada adalah reaksi. Orang tidak percaya pada otoritas.

Komentar

Ibu Syamsiah Achmad

Apakah yang dimaksud dengan membincang kembali ideologi Indonesia? Saya dididik oleh orangtua untuk respek pada orang lain. Saya sangat percaya bahwa ketuhanan yang maha esa adalah prinsip-prinsip yang saya yakini. Saya sudah menjalani dan mengamalkan Pancasila. Saran saya kita harus lebih sering membahas masalah ini. Bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah.

Bapak HS Dillon

Yang paling utama ideologi kita adalah anti penjajahan. Belakangan terjadi pendangkalan kehidupan bangsa. Yang kita bicarakan kembali sebenarnya adalah Indonesia. Kita boleh menghadapi perkembangan zaman dengan cara apa saja, tapi yang kita pegang adalah nilai-nilai yang bisa mempersatukan semuanya. Saya diberi kesempatan berbicara di forum ini adalah bentuk pengamalan Pancasila.

Damhuri Muhamad, 29 Oktober 2018

Tags : diskusi publikideologimufakat budaya Indonesia 3Pancasilatemu akbar
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response