close
Foto Diskusi UI 1

Notulensi

Diskusi publik dalam rangkaian Temu Akbar Menuju Mufakat Budaya 3 ini telah sampai pada kali ketiga. Dengan tema Kebangsaan, diskusi bertajuk Apa dan Siapa Bangsa Indonesia Ini? telah terlaksana dengan baik di Aula Terapung Perpustakaan UI Depok pada Jumat 2 November 2018. Dihadiri oleh sekitar 100 peserta, acara ini menghadirkan empat narasumber yaitu Bambang Wibawarta, Haidar Bagir, Suhadi Sendjaja dan Olivia Zalianty –mewakili generasi milenial. Diskusi dipandu oleh Bara Pattiradja.

Diskusi berfokus pada bagaimana generasi milenial sebuah bangsa terkait kedaulatan teritorial, di saat mereka mendeklarasikan diri sebagai warga global? Pada abad digital, generasi baru tidak lagi merasa berada dalam lingkup sebuah bangsa, lantaran pergaulan mereka tak ada lagi berbatas spasial dan teritorial. Ruang yang mereka huni adalah tanpa batas. Mereka telah melampaui definisi citizen, menuju interaksi alam bebas dengan status netizen.

Lalu, bagaimana dengan civic culture atau budaya kewargaan dalam sebuah bangsa yang berdaulat mesti ditegakkan? Apakah mereka masih dapat mengenali dirinya sebagai warga dari sebuah bangsa bernama Indonesia? Atau jangan-jangan identitas kebangsaan yang bersidik-jari Indonesia itu telah lebur ke dalam riuh perbincangan di jagad maya, yang dihuni oleh orang-orang asing, yang juga tidak punya identitas kebangsaan?

Prof Dr Bambang Wibawarta, M.A

Pejabat Rektor Universitas Indonesia ini mengawali dengan mengatakan bahwa empat pilar bangsa -Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD ’45 dan NKRI –  masih retorika dan seremonial, belum menjadi budaya dan perilaku. Teknologi yang bergerak pesat dan dinamis akan berdampak pada perilaku manusia secara sepihak. Pertukaran pandangan dan pikiran antarindividu dalam dunia global terjadi secara cepat. Dan anak muda yang paling terpapar.

Kebangsaan adalah rasa dan kesadaran diri yang tertanam dari diri seseorang. Kira-kira 12 tahun lalu ia diundang ke Jepang, dan mengatakan teknologi Jepang akan tertinggal dari Korea. Belakangan produk-produk selular Jepang tersingkir digantikan Samsung dan Xiaomi dari Cina. Masyarakat Jepang memutuskan sesuatu lambat sesuai budaya sungkan mereka. Sedangkan Korea merumuskan dan cepat memproduksi. Bahkan Cina, istilahnya, belum dipikir mereka sudah memproduksi.

Karakter bangsa akan dipengaruhi oleh karakter manusianya. Produk suatu bangsa akan mengandalkan masyarakat terdidik sebanyak 90% dan 10% dari sumber alam. Bangsa Indonesia masih banyak pe-er dalam hal sumber daya manusia yang baik. Bagaimana berpikir lengkap, menumbuhkan masyarakat dengan dasar pengetahuan (knowledge-based), sejak tingkat paling dasar: PAUD, SD.

Bangsa Indonesia masih bangga sebagai melting pot. Banyak budaya tercampur-baur di sini. Ibarat pecel, masing-masing komponen tak terlihat karena sudah tercampur. Kebudayaan yang komprehensif meliputi mindset, lalu bidang kesehatan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Bukan budaya materi saja.

Pemerintah seyogyanya dapat mengelola kebudayaan dan keragaman yang kita miliki sebagai kekuatan. Memang sudah ada UU pemajuan kebudayaan tetapi masih belum tahu apa dan bagaimana maksudnya. Apa yang dimaksud dengan memajukan kebudayaan? Kita belum ada strategi yang komprehensif dalam hal kebudayaan. Diperlukan kesepakatan dalam tingkat Negara untuk menghasilkan konstruksi yang terbuka. Dengan demikian penyelesaian permasalahan sampai ke akar.

Bangsa bukanlah suatu ras atau orang yang punya kepentingan sama, dibatasi geografis saja melainkan jiwa dan asas solidaritas pengorbanan masa lampau dan sekarang, berlanjut ke masa depan, melalui kesepakatan untuk hidup bersama. Kaum milenial bukan yang terlepas dari kebangsaan tetapi selalu ada benang merah yang kita harus rajut bersama. Kita harus mempunyai perekat yang mengikat keindonesiaan kita seperti bahasa misalnya.

Laut bukan pemisah pulau tetapi perekat keindonesiaan, begitu pula budaya dan masalah pendidikan ekonomi. Ini yang harus diinternalisasi dalam pendidikan formal. Ujung tombaknya pendidikan termasuk pendidikan budaya dan nilai-nilai yang kita sepakati bersama. Dengan demikian kita tidak khawatir dengan budaya yang masuk dari luar. Karenanya titik singgung agar berdampingan harus dipelihara. Sistem pendidikan  diinternalisasi menjadi perilaku sehari-hari agar dapat menangkal  korupsi, intoleransi, radikalisasi, dan lainnya.

Suhadi Sendjaja

Maha Pandita Utama Buddha Dharma Niciren Syosyu (NSI) memaparkan kebangsaan dari perspektif Buddha. Bahwa bangsa bukan sekumpulan manusia yang senasib, dalam batas geografi yang sama, yang berada dalam tiga masa -lampau, sekarang, dan masa depan, namun sepenuh kehadiran. Kehadiran saya sangat khas. Keadaan setiap orang sangat khas. Bahkan manusia yang lahir kembar pun tidak ada yang persis sama

Manusia dan lingkungan mempunyai hubungan saling mempengaruhi. Manusia dan alam bukan dua, bukan juga two in one, tetapi satu. Karena itu apa yang ada di lingkungan merupakan sepenuhnya refleksi dari subyek ini. Bila lingkungan harus diperbaiki maka yang diperbaiki adalah tubuhnya. Itu prinsip dasarnya.

Manusia sebagai sebuah komunitas dan perkembangan lainnya adalah teknologi. Agama Buddha melihatnya sebagai temuan-temuan. Misalnya, cerita komik Kho Ping Ho menceritakan tentang cermin lopian yang dapat mendengar dari jarak jauh. Dulu rasanya tak mungkin. Sekarang itu bukan hal aneh lagi. Newton pun tidak menciptakan hukum daya tarik bumi tetapi dia menemukan. Temuan-temuan oleh manusia adalah alat bantu untuk meningkatkan kemudahan bagi kemudahan dalam hidup. Ujungnya adalah untuk kebaikan dan kemanusiaan. Kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kemajuan spiritual. Untuk kebahagiaan manusia.

Semua manusia itu bersaudara. Indonesia menjadi satu bangsa yang dilandasi oleh kebudayaan dari 17 ribu pulau. Di laut kehidupan jutaan, ikan kecil menjadi makanan ikan besar, plankton ada rumput laut, dan biota lain. Semua bersimbiose mutualisme. Begitu juga bangsa indonesia dengan ribuan suku bangsa dan ratusan bahasa. Masing-masing menjadi landasan komunitas dan perbedaan menjadi kekuatan untuk membentuk sebuah kebangsaan yang unggul. Kita sebagai makhluk sosial ada pemikiran bahwa dalam diriku ada dirimu, dalam dirimu ada diriku. Bersimbiose yang mutualisme di alam semesta menjadi suatu ciri khas karena perbedaan manusia, tempat kedudukan, pribadi-pribadi menjadi kekuatan bersama ketika kita sepakat untuk tingkatan kesejahteraan bagi seluruhnya.

Dr Haidar Bagir

Menurut doktor lulusan Universitas Harvard dan CEO Mizan ini, pertanyaan “apa dan siapa bangsa Indonesia ini” seperti sejarah tentang segala sesuatu. Ia pernah menulis strategi kebudayaan namun mungkin bagi orang lain itu tidak pantas.

Manusia adalah persoalan keunikan. Manusia punya kedudukan yang berbeda-beda, sebagai individu dan masyarakat. Budaya yang berbeda itu alami dan disyukuri. Pluralisme budaya tidak bisa dihindari namun harus disyukuri dan dipertahankan agar kehidupan menjadi lengkap.

Dalam satu forum bertema, Adakah Islam Indonesia, dia mengatakan Islam indonesia itu panteisme. Pada waktu itu Sutan Takdir Alisyahbana sangat khawatir kalau Indonesia menjadi bagian dari budaya timur. Baginya, budaya timur adalah budaya yang ketinggalan dan itu akan membuat bangsa Indonesia akan tertinggal dari budaya barat yang kompetitif dan mudah menerima. Padahal kebudayaan yang matang itu yang seimbang, yang tidak tertarik pada satu ekstrem tertentu.

STA menulis tiga lapis budaya Indonesia:

  1. Agama-agama asli membentuk budaya, primitif dan animistik
  2. India, hinduisme yang kenal kesusasteraan yang tinggi, unsur rasional, agama yang bersifat mistikal sehingga melahirkan literasi yang tinggi.
  3. Islam modern, yang membawa pada rasionalisme.

Menurut Bagir, yang pernah mendalami filfasat dan mistisisme, agama, bahkan Tuhan, tak lepas dari rekaan manusia. Rekaan yang dimaksud adalah teofanik, manudia memanifestasikan ketuhanan. Namun tidak berarti agama dan Tuhan dapat direka oleh manusia, namun Tuhan kehilangan obyektivitasnya karena manusia adalah teofani tuhan.

Setiap manusia adalah wadah dari satu pancaran. Dalam mistisisme Islam ada yang disebut matham atau wadah. Karena manusia unik, sinar matahari yang memancar akan berbeda, karena menyangkut manusia dan juga masyarakat.

Bagaimana homo sapien yang tak punya peran apa-apa, perannya terlalu kecil sampai punya kemampuan kognitif.

Manusia dari satu nenek moyang menjadi banyak dan membentuk budayanya sendiri. Terjadi migrasi, interbreeding, sampai ada mutasi manusia-manusia. Di pantai akan terbentuk budaya berbeda, di tanah gersang akan menjadi nomad, ke tempat subur budaya akan terbentuk oleh pertanian. Budaya seperti ini harus disyukursi karena sebagai wadah unik dari pancaran ketuhanan.

Manusia diciptakan dalam suku dan bangsa untuk saling belajar kearifan lokal dan kultural. Panteistik animisme dan mistik dalam konotasi positif. Islam pada batas tertentu animistic dan mistik. Panteistik dan mistikal adalah animisme yang positif. Ketika seseorang menyembah batu, pohon, laut, gunung, sebenarnya mereka sedang menyembah Tuhan karena semua mahluk adalah teofanik. Kita seharusnya tidak mempermasalahkan sedekah laut, sesajen, namun dipahami sebagai simbol rasa syukur kepada alam.

Budaya agama seharusnya tidak antiteknologi. Karena sekarang inilah yang menarik bagi generasi milenial. Generasi ini berbeda dengan generaasi sebelumnya. Mereka peduli makanan organik, solidaritas. Dalam hal agama banyak yang memutuskan meninggalkan agama karena tidak menarik buat mereka. Agama tidak menekankan kebaikan, tetapi mengedepankan kemenangan.

Olivia Zalianty

Artis muda Indonesia ini berpendapat bahwa generasi milenial adalah generasi kebingungan. Berbicara soal pembangunan, masa depan, ledakan penduduk, terjadi bom waktu pada 2045, yang menjanjikan, bila tidak ditangani dengan baik, akan menjadi beban masyarakat bahkan menjadi sumber chaos.

Generasi 1980-an ada citizen, sekarang netizen. Sekarang ada sekitar 150 juta pengguna facebook, 95 juta instagram. Teknologi bagus dan anak muda harus mengikuti teknologi. Namun harus diperhatikan karena ada kemajuan teknologi yang menggerus adab-adab kebudayaan kita. Sekarang serba cepat dan tidak lagi memiliki romantisme seperti dulu. Menunggu surat, misalnya.

Pemerintah pada umumnya ingin membantu masyarakat namun sering masyarakat tidak merasa pemerintah tidak memahami budaya mereka. Seperti di Adonara, penangkapan ikan paus adalah budaya namun pemerintah bikin peraturan melarang karena khawatir spesies ikan paus akan habis. Orang Ambon makan sagu tetapi pemerintah memberi beras karena tidak tahu budaya yang ada di sana, dll.

Sesi tanya-jawab:

1.Wibowo, dari Aliansi Kebangsaan

Siapa Indonesia itu? Pada 1908 Sutomo mungkin tidak tahu jawaban tetapi ia tahu tantangan yang harus dijawabnya saat itu. Seperti halnya Sukarno, Kartini, dll. Mereka punya inisiatif karena ada tantangan. Bangsa Indonesia punya sumber manusia yang luar biasa kita tinggal mengumpulkan saja. Kuncinya adalah manusia.

Jawaban Haidar

Berbicara apa dan siapa adalah sebuah pilihan bukan suatu keniscayaan, bukan merasa lebih unggul dari orang lain. Kita merawat pluralisme karena ada persamaan dan perbedaan.

Jawaban Bambang

Tidak ada kekhawatiran soal generasi milineal, karena nanti akan ada jawabnya sendiri. Budaya itu berubah dan dinamis, semua itu ada naik-turunnya, tidak ada puncak kehidupan. Akan menemukan puncak-puncaknya sendiri.

Bahwa tidak semua budaya harus dilestarikan tetapi harus disesuaikan dengan zaman. Kalau ada budaya harus menyembelih seribu kerbau, sekarang tidak cocok dilaksanakan. Nilai pahlawan berubah, yang berguna bagi kemanusiaan dan peradaban. Nilai gotong-royong sekarang bukan sekadar membersihkan got bersama tetapi memanfaatkan semua kemampuan untuk kepentingan bersama.

2.Indira, Putri Kebudayaan

Bagaimana mengubah komunikasi yang konvensional  sehingga bisa dipahami generasi sekarang?

Jawaban Haidar

Soft komunikasi, pergunakan saja semua medsos. Komunikasi tidak dilakukan secara tatap muka. Komunikasi dilakukan sesuai zaman, kitalah yang harus melestarikan.

3.Bapak HS Dillon

Kita bukan melting pot tetapi bhineka secara alami. Panteisme bahwa Tuhan ada di segala tempat. Itu bukan bangsa Cina atau Arab yang membawa tetapi kita telah punya sejak lama. Sudah ada masyarakat, pemerintah, agama.

Intinya kita berikan yang sudah kita kerjakan selama ini. Itulah yang kita berikan. Generasi milenial tidak perlu dibingungkan karena manusia sama sejak mulai peradaban hingga sekarang. Manusia tidak berubah, yang berubah props-nya.

Masalah utama, bangsa ini tidak bisa bermartabat, selama pemimpinnya semua mau merusak bangsa ini yang sudah dibentuk 1928.

4.Jonathan

Apa yang dimaksud gerakan anak muda Islam Cinta?

Jawaban Haidar

Anak-anak muda punya kebutuhan spiritualnya sendiri. Mereka bagian dari budaya itu sendiri. Kaum milenial butuh soal jati diri, identitas. Di Gerakan islam cinta ada ribuan anak muda terlibat karena kebutuhan itu.

Tags : Apa dan SiapaBangsa IndonesiaIdentitasMufakat Budaya Indonesia
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response