close
Kenang-kenangan Mengejutkan

Teks oleh Setyaningsih*

“Singa laut maupun burung camar yang berkoak-koak tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Mengapa manusia begitu berbeda dalam hal ini?”

Pertanyaan ini barangkali tidak akan mudah terjawab dan cukup menghentak karena hadir dari beruang kutub, Baltazar, yang ditangkap pemburu lantas dikurung di kebun binatang Cile. Cendekiawan sekaligus politisi Cile, Claudio Orrego Vicuña, menggarap riwayat Baltazar dalam buku tipis manis-melankolis berjudul Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub (2018), diterjemahkan oleh Ronny Agustinus.

Buku hadir pasca kudeta militer 1973 sebagai alegori politik sekaligus rekonsiliasi di bawah kediktatoran dan keterpenjaraan. Di pengantar, penulis mengajukan permintaan yang lebih sederhana, “Anggap saja penerbitan karya ini merupakan penghormatan oleh manusia kepada seekor beruang yang bisa merasakan belas kasih dan berbela rasa, meski hidupnya dirundung segala kesusahan. Saat masih berada di balik jeruji kebun binatang, ia mampu meraih kebebasannya.”

Monolog Baltazar barangkali sempat mengingatkan kita pada Ismael, gorila dalam novel Ishmael (Freshbook, 2006) garapan Daniel Quinn. Di sini, Ishmael ditempatkan dalam wilayah yang lebih superior karena ia berpikir dan menilai manusia (pengunjung). Manusia mungkin merasa berhak menonton binatang di kandang kebun binatang, tapi tidak sanggup memberi penilaian apa pun kecuali kehendak melihat-lihat. Hal ini bisa dibuktikan oleh pernyataan Ishmael yang “menonton” dengan segenap pikir, “…manusia-manusia yang mengunjungi kami jelas-jelas membedakan diri mereka dari kami para binatang, tapi aku tak mampu memahami kenapa. Jika aku memahami apa yang membuat kami binatang, aku tetap tidak dapat memahami apa yang membuat mereka bukan binatang.” Manusia tetap manusia sekalipun memiliki kebinatangan diri yang mungkin lebih biadab dan buas.

Penangkapan Baltazar telah membawa hidup yang berubah; dari koloni keluasan kutub menjadi soliter dalam kandang. Kandang Baltazar justu menjadi ruang paling jitu bermonolog tentang kemanusiaan dengan kejenakaan-melankolia tapi manusiawi. Dalam detak-detak peradaban, kebebasan sering meminta bayaran pertumpahan darah. Tema itu selalu memicu perang, perlawanan, atau kekerasan. Dalam kasus Baltazar, ia justru mengajukan tema krusial ini dalam jasmani yang terkungkung. Lantas siapa yang bisa mengungkung pikiran, bahkan manusia yang berbekal senjata atau teknologi penghancuran apa pun.

Namun, Baltazar harus sadar kebinatangannya. Dalam koloni beruang, raganya tidak mendapat konsekuensi ditakuti atau membahayakan. Rasa sosial di dunia sesama ini tentu tidak bisa dibawa begitu ke wilayah manusia. Baltazar justru mendapat hukuman saat mencoba “berteman” dengan anak-anak yang begitu ia kagumi sebagai sosok bebas tanpa kelelahan juga tendensi kepentingan selayaknya manusia dewasa. Ia mengatakan, “Hari itu aku paham bahwa pertemanan dengan manusia tidak akan pernah bisa melampaui perasaan ramahku kepada mereka. Rasa takut yang memisahkan kami sedalam perairan gelap dari masa kecilku. Rasa saling tidak percaya, meski tidak beralasan, begitu lebar sampai tidak bisa ditanggulangi.”

Dalam tatanan manusia modern yang mengebunkan binatang seolah mengoleksi benda-benda, wagu ada istilah hidup berdampingan dengan sesama makhluk. Apalagi, menurunkan derajat ketakdiran sebagai manusia untuk setara dengan binatang. Bahkan kepada semasa manusia, tetap ada batasan untuk merasa lebih tinggi. Merendahkan yang lain tetaplah jadi bagian dari naluri purba manusia. Baltazar mengatakan, “Kadang aku yakin bahwa manusia mengira beruang tidak punya perasaan. Itu sebabnya mereka tidak menghargai hidup kami, masa lalu kami, atau impian-impian kami. Barangkali mereka juga berbuat begitu satu sama lain. Tapi buatku sungguh jahat seseorang bisa direnggut begitu saja dari dunianya, dikurung dalam kandang, dan dilarang hidup seperti semua orang lainnya.”

Di hikayat semacam pancatantra dari India, salah satunya yang amat tua serta terkenal seperti alegori politik para binatang dalam jagat Kalila dan Dimna, kita mendapati dunia hewan yang sepenuhnya terpisah dari kuasa manusia. Mereka membentuk dunia sendiri dengan dialog, bukan monolog, penuh pikiran, intrik, strategi, dan entitas moral sebagai percontohan bagi dan pencerminan dari umat manusia. Peran manusia dihilangkan, terganti oleh para binatang sebagai lakon yang ramai.

Kita membaca kenang-kenangan Baltazar sepertinya bukan sebagai fabel yang meriuh. Baltazar seperti harus sendirian mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kemanusiaan di dunia manusia. Bahkan meski dengan risiko ditembak oleh penjaga kandang kebun binatang yang merasa “direndahkan”, Baltazar telah berhasil merongrong dengan keprihatian atas kemapanan, egoisme, kekuasaan dunia manusia.

Judul : Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Penulis : Claudio Orrego Vicuña
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetak : Pertama, November 2018
Tebal : x+68 halaman

*Esais, penulis cerita Peri Buah-buahan Bekerja (Kacamata Onde, 2018). Tinggal di Solo.

Tags : Baca BukuBeruang KutubKenang-KenanganMengejutkan
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response