close
Perjalanan Diri

Teks Vitalia Ze*
Ilustrasi L. Surajiya**

Suatu hari datanglah seorang pemuda dari Ermera, kemenakan tetangga ibumu. Dia tinggalkan kampung halaman demi mencari kerja di kota Dili. Katanya ia lelah menjadi petani kopi dan ingin mengubah nasib. Kedatangan pertamanya ke rumah ibumu terjadi berkat ayam jago merah peliharaan kakekmu.

Tiu, ini ayam jago tangguh. Bawa ke arena sabung ayam.Yang lain akan kalah. Uang taruhannya pasti banyak.” Kakekmu tertegun.

Anó , kau tahu ciri-ciri ayam jago, hah? Tidak! Aku memeliharanya untuk kesenanganku saja.”

Dari sini obrolan kakekmu dan pemuda itu mengarah ke banyak hal. Kakekmu merasa nyaman dengan pemuda itu dan menawarkannya minum kopi.

Tak lama ibumu muncul di beranda rumah dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi arabika Ermera, yang wanginya nikmat. Pemuda itu terpesona ibumu yang menoleh kepadanya sekilas sebelum berlalu. Itulah pertama kali pemuda itu minum kopi seduhan ibumu. Dihirupnya wangi kopi itu sedalam-dalamnya sambil memuja ibumu.

Pemuda itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di satu kantor pemerintah. Di sana orang-orang berbahasa Indonesia. Para laki-laki dipanggil bapak dan perempuan dipanggil ibu. Ia tidak lancar berbahasa Indonesia tapi yakin bisa kalau terbiasa. Setiap sore dia bercerita kisah para bapak dan ibu di kantornya kepada kakekmu. Kakekmu terlena. Sore hari kakekmu tidak lagi sehitam kopi kesukaannya.

Kala berbincang, ibumu lewat sambil membawa jeriken plastik menuju mata air pompa seberang rumah. Pemuda itu segera pamit dengan berdalih hari telah sore. Padahal, ia mengincar ibumu dan menawarkan diri memompa air. Ibumu malu dan sungkan. Hari demi hari pemuda itu gencar menggoda dan merayu ibumu lalu menyatakan cinta. Dia melamar ibumu. Ibumu setuju dan meminta pemuda itu melamarnya kepada kakek nenekmu. Mereka setuju. Seminggu kemudian mereka menikah di gereja. Pemuda itu resmi menjadi ayahmu.

Sebulan kemudian ibumu hamil anak pertama. Dirimu. Sembilan bulan berlalu ibumu melahirkan lewat persalinan normal dengan sakit tidak parah. Menurutnya, ia dianugerahi rahmat melahirkan saat ia mengejan kuat sekali dan bayi keluar dengan mudah. Rahasianya, kata ibumu, minum satu dua sendok minyak kelapa sebelum melahirkan.

Rumah ibumu makin ramai dan sesak. Namun itu berlangsung beberapa bulan karena saudara-saudara perempuan ibumu satu per satu menikah dan ikut suami masing-masing kecuali ibumu.

Seharusnya ibumu sudah diboyong ayahmu ke Ermera jika kakekmu tidak menolak mahar pihak keluarga ayahmu. Kakekmu bersikeras ibumu harus tinggal karena dia putri sulung. Sementara adik-adiknya boleh diboyong suami-suami mereka dengan atau tanpa mahar. Keluarga ayahmu marah besar atas keputusan ini. Demi cinta, ayahmu terpaksa menerima keputusan kakekmu dan rela dicaci keluarga sendiri agar tetap tinggal bersama ibumu.

Kini tinggallah ayahmu, ibumu, kakek nenekmu, dua pamanmu yang remaja, dan dirimu yang masih bayi. Awalnya ayahmu mampu menghidupi keluarga. Tapi lama-lama ia kewalahan sejak kunjungan saudara-saudara ibumu menyampaikan recado. Recado adalah pemberitahuan antarkeluarga ketika ada yang meninggal dari keluarga pihak suami atau kerabat, persiapan lamaran, acara adat atau lainnya.

Datangnya sebuah recado berarti permintaan sumbangan dari setiap kepala keluarga. Dalam hal ini ayahmu dan kakekmu sebagai kepala keluarga wajib menyumbang uang dan tais (kain tenun Timor) atau hewan ternak seperti babi, kambing, kerbau. Apabila kakekmu tak cukup dana maka ayahmu harus menambah atau mewakili sumbangan bagi kedua pihak keluarga.

Dan recado bisa datang setiap saat tanpa diduga dengan jumlah tak sedikit. Gaji ayahmu segenggam rupiah dan hanya cukup membeli sekarung beras serta bahan sembako. Sisanya dihemat. Jika gaji tidak cukup sebulan, ayahmu harus pandai berhutang pada atasannya dengan konsekuensi gaji bulanan rela dipotong. Kalau tidak cukup juga maka ayahmu akan berhutang kepada temannya.

Lahirnya anak kedua membuat kebutuhan rumah tangga bertambah sementara gaji ayahmu tetap. Frustrasi, ayahmu mulai minum tua sabu (arak Timor) atau whiski bersama teman-temannya hingga pulang malam karena mabuk berat. Ayahmu mulai rajin merokok sebungkus filter sehari. Awalnya ibumu maklum mengira ayahmu hanya ingin melepas lelah. Kata kakekmu lazim kalau ayahmu begitu. Dia adalah pencari nafkah utama.

Lama-kelamaan ibumu tidak tahan kelakuan pemabuk ayahmu. Ibumu mengandung lagi. Setiap dua hari sekali ayahmu pulang dalam keadaan mabuk dan lebih parah pada akhir pekan. Kadang ayahmu tertidur di tengah jalan dan digotong pulang oleh teman-temannya dan kedua pamanmu yang beranjak dewasa. Merasa malu, ibumu muak. Diambilnya ranting pohon kersen di depan rumah lalu memukul ayahmu sekerasnya sambil mencaci-maki ayahmu. Ayahmu tak membalas. Ia biarkan dirinya dipukul sampai ranting kersen patah. Begitulah rumah tangga ibumu.

Kakekmu yang awalnya diam ikut menegur ayahmu berhenti minum. Ayahmu segan terhadap kakekmu dan mencoba berhenti minum. Akan tetapi ketika ayahmu harus berhutang lagi karena gaji tidak cukup, ia kembali mabuk-mabukan. Kebutuhan harian keluarga membengkak setelah kelahiran anak ketiga.

Setelah menderita batuk-batuk seminggu, kakekmu yang biasanya bekerja sebagai kuli bangunan harus berhenti dan beristirahat di rumah karena saran seorang mantri. Pada malam kematiannya kakekmu berpesan kepada ayahmu agar menjadi kepala keluarga yang baik. Ayahmu hanya tertegun mendengar pesan itu. Kakekmu meninggal dengan senyum damai yang sendu.

Sepeninggal kakekmu, ayahmu kewalahan menjadi kepala keluarga. Ibumu tidak mau memutar otak ikut mencari nafkah. Menurutnya, itu tugas suami dan mengelola hasil nafkah suami adalah tugas istri. Ayahmu meminta ibumu berjualan sembako atau sayuran seperti perempuan-perempuan lain di pasar. Ibumu menolak. Ia tidak sudi menjadi penjual sayur atau pedagang karena merasa terhormat menjadi ibu rumah tangga. Ayahmu kecewa tapi tak sanggup mendebat. Belum genap anak ketiga setahun, hadir anak keempat.

Pada kelahiran adikmu, ibumu dinasihati bidan ikut KB. Kata bidan punya anak dengan jarak dekat berisiko bagi kesehatan. Ibumu bimbang. Dia tidak yakin suaminya akan mengerti dan setuju. Hadirnya anak keempat pun belum mengubah sifat pemabuk suaminya.

Saat anak keempat berusia delapan bulan, ibumu mengandung lagi sambil berharap kali ini anak laki-laki karena sebelumnya semua perempuan. Seperti biasa ayahmu tertekan.Untuk menutupinya, ia mabuk-mabukan lagi.

Meski kesal kepada ayahmu, ibumu bangga pada dirinya setiap tahun melahirkan anak. Ia menceritakannya kepada saudara-saudaranya proses kelahiran anak-anaknya ketika berkumpul di hajatan sehingga saudara-saudaranya iri sebab mereka menanggung sakit berlebihan ketika ibumu tidak. Dipersalinan kelima, ibumu kembali diperingatkan jika jarak kelahiran berikutnya pendek, ia bisa mengalami prolapsus uteri. Sebenarnya ibumu cemas namun segan memberitahu saudara-saudaranya bahkan suaminya sendiri.

Anak keenam sembilan bulan, ibumu mengandung lagi. Kali ini ia resah tapi tidak berani memberitahu ayahmu. Dan ketika anak ketujuh lahir, ibumu mengalami pendarahan hebat. Uterus ibumu menonjol keluar dari vagina karena otot dindingnya melemah. Beruntung dia dan bayi selamat. Namun ibumu harus menjalani histerektomi, operasi pengangkatan rahim.

Sejak itu ibumu tidak lagi mengandung. Nenekmu meninggal. Kedua pamanmu menikah dan tinggal jauh dari rumah. Sekarang tinggal kalian bertujuh bersama ayah dan ibumu. Ayahmu masih mabuk-mabukan dan ibumu masih memukulnya dengan ranting pohon kersen.

Pada suatu hari datanglah aku, pemuda rantau dari Baucau, tetanggamu. Aku datang untuk mencari kerja di kota Dili.

Kedatangan pertamaku ke rumahmu adalah berkat ayam jago merah peliharaan ayahmu. Kusarankan ayahmu membawa ayam itu ke arena sabung ayam dan dia langsung setuju. Di situlah aku berteman dengan ayahmu dan ia menawarkanku minum kopi.

Lalu kau datang dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi arabika Ermera. Kata ayahmu itu kopi kesukaan keluarga kalian. Harumnya benar-benar enak. Aku terpesona kepadamu. Kau tersipu malu dan berlalu. Pertama kali minum kopi seduhanmu, kuseruput sedalam-dalamnya. Ayahmu memandangku dengan tatapan sinis mengejek. Aku langsung salah tingkah.

Aku bekerja sebagai tukang bersih-bersih di satu kantor pemerintah. Di sana orang-orang berbahasa Portugis. Laki-laki dipanggil senhor dan perempuan senhora. Aku tidak berbahasa Portugis tapi bisa belajar. Setiap sore kuceritakan kisah para senhor dan senhora kepada ayahmu. Ayahmu tertegun ceritaku. Katanya itu seperti kisahnya waktu masih muda dulu.

Lalu kau lewat sambil membawa jeriken plastik menuju mata air pompa seberang rumahmu. Kuhabiskan kopiku segera lalu pamit kepada ayahmu.

“Tidak usah buru-buru. Aku tahu ke mana kau akan pergi setelah ini, anó.”

Aku heran atas perkataan ayahmu. Lalu ayahmu menceritakan bagaimana ia melakukan pendekatan kepada ibumu di mata air pompa. Aku jadi malu.

Tidak butuh waktu lama aku mendekatimu, menggodamu, merayumu, menyatakan cinta kepadamu serta keinginan melamarmu. Kau setuju. Ayah dan ibumu setuju. Kita menikah di gereja. Aku resmi menjadi suamimu.

Kau mengandung anak kita pertama dan setelah sembilan bulan ia lahir normal. Katamu sakit melahirkan tidak parah karena seperti ibumu, kau dianugrahi rahmat melahirkan.

Rumah kita ramai dan sesak. Saudara-saudaramu yang masih bersekolah bergantung pada gajiku dan uang sisa pensiun ayahmu yang tidak seberapa.

Seharusnya sudah kuboyong kau kekampungku di Baucau jika keluargamu setuju menerima mahar keluargaku. Seperti kakekmu, ayahmu menolak mahar dan bersikeras bahwa aku harus tinggal bersamamu di rumahnya karena kau putri sulung. Adik-adikmu boleh meninggalkan rumah jika menikah. Keluargaku marah besar atas keputusan ini dan merasa terhina.Tapi demi cintaku padamu, terpaksa kuterima keputusan ayahmu dan dicaci keluarga agar tetap bersamamu.

Sejak itu, tinggal aku, kau, ayah ibumu, empat saudara perempuanmu, dua adik laki-lakimu yang beranjak remaja, dan bayi kita.

Ayahmu mulai batuk-batuk selama seminggu. Dokter menyarankan ayahmu dirawat inap karena komplikasi paru akibat merokok dan minum alkohol.

Pada malam kematiannya, ayahmu memanggilku dan menceritakan kisahnya sebagai kepala keluarga.

“Sekarang, kaulah kepala keluarga selanjutnya, anó. Di tanganmu kuserahkan semua beban keluarga ini. Terima dan jalanilah. Ketika kau merasa tertekan, minumlah tua sabu sampai mabuk. Kau akan lupa masalahmu. Kalau istrimu memukulmu dengan ranting pohon kersen, terima saja. Sekarang aku lepas dari jabatan ini, kepala keluarga. Dan kau, jadilah kepala keluarga yang baik. Kalau kau tidak bisa, jangan lari, karena itu bukanlah laki-laki sejati.”

Begitulah pesannya kepadaku dengan senyum mengejek dan napas serak bak kucing sekarat. Ia tertidur dengan wajah menyedihkan. Aku termenung.

Sekarang akulah kepala keluarga selanjutnya namun aku tidak mau menjalani hidup menyedihkan seperti ayahmu.

Dili-Timor-Leste, April 2018

*

Tiu = om/paman, sebutan hormat untuk laki-laki yang lebih tua
Anó = nak, sebutan untuk anak laki-laki atau pemuda.
Senhor = tuan (bhs. Portugis)
Senhora = nyonya (bhs. Portugis)

*Penulis asal Timor Leste, tinggal di Dili. Ia peserta Asean & Japan Writers Residency and Literary Festival 2016 di Jakarta. Ia menulis dalam bahasa Indonesia namun lebih aktif menulis cerpen dan puisi dalam bahasa Tetun. Novelet pertamanya Knananuk iha Akamutu (bahasa Tetun, Nyanyian dari Akamutu) terbit tahun 2013.

**L. Surajiya, alumni ISI Yogyakarta, tinggal di Yogyakarta. Berpameran sejak 1993. Termutakhir Standing with the Masters, Jababeka Convention Center Cikarang. Pameran tunggalnya di antaranya Silent Conversation, Yogyakarta 2011.

Tags : CerpenSang Kepala Keluarga
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response