close
Eko 3

Teks Rudi Fofid*

Ketika generasi milenial belum kenal novel Cinta dan Kewajiban (Balai Pustaka, 1941), penulisnya Luc Wairata, lokasi cerita Tihulale, muncul Eko Saputra Poceratu dari Tihulale, Pulau Seram, Maluku. Melihat geliat Eko dalam sepuluh tahun terakhir, Luc Wairata serasa lahir kembali.

Walau bertubuh mungil, Eko tidak kecil di panggung. Saban kali pentas, ia berubah api yang membakar, sekaligus embun penyejuk. Begitulah sarjana teologi yang bergiat di Bengkel Sastra Batu Karang, Bengkel Sastra Maluku, dan Bengkel Sastra Kintal Sapanggal ini. Dia menjadi provokator damai dalam rupa-rupa aksi karitatif dengan menyuguhkan puisi.

Bila kenal Eko melalui facebook, orang menyangka penyair muda ini cuma bisa romantis. Saban hari ada saja status yang bisa bikin gadis mati dalam pelukan. Lihat statusnya ini: Kalau dengan peluk, hatimu remuk, maka kuharap dengan cium, bibirmu ranum.

Kaum milenial penggemar Eko dengan sensasi teks romantis mungkin kecewa membaca antologi puisi Hari Minggu Ramai Sekali (HMRS). Eko yang romantis, nyaman, hits, gaul, penuh pesona Dilan, ternyata tidak menghadirkan aliran puisi romantisme ke dalam buku puisinya itu.

HMRS adalah buku kritis dan serius. Eko merambah realitas sosial yang jarang dimasuki penyair sebayanya. Dia bertolak lebih dalam, duc in altum. Dia suguhkan diksi atau frasa asli dan baru. Walau terkesan muda kasmaran di media sosial, tetapi dia matang gonad secara sastra.

Bayangkan Tuhan yang transenden dan imanen, tinggi, agung, dan mulia telah dirangkul, dipeluk, diakrabi, dan bisa dikilik-kiliknya. Tuhan jadi sahabat karib Eko dalam merambah air ketuban, luka, nanah, anyir, tetapi juga enteng dengan mimbar, jubah, kitab suci, nyanyian, hingga uang kolekte.

Melalui HMRS, Eko membalik paradigma. Realitas sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, hingga keagamaan adalah realitas jungkir-balik. Sebab itulah, dengan pembalikan, Eko memperbaiki paradigma ke posisi normal.

Butuh ratusan halaman untuk membahas HMRS. Akan tetapi, secara sangat ringkas, dapat disebut, dengan 20 puisi, Eko bagai lantang berseru di tengah gurun. Siapakah tidak tercabik membaca bait-bait ini?:

sekalipun surga itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ orang miskin di Papua// sekalipun neraka itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ ketidakadilan di Papua//” (Ada Neraka di Papua)

Matahari turun di Papua/ bawa angin dua arah/ arah kemiskinan dan arah ketidakadilan// aku di sana/ di dalam dada cenderawasih/ nyanyian kemanusiaan lebih terdengar dari jantung binatang//“ (Matahari Papua)

Miskin dan ketidakadilan adalah pergulatan lintas zaman. Eko mengingatkan fokus pembangunan kesejahteraan dan keselamatan. Diksi “miskin” dan “ketidakadilan” memaksa kita merambah ke mana-mana, dan semoga sampai pada ucapan bahagia. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Dengan pola Yesus, Eko membalik paradigma derita miskin menjadi miskin itu bahagia. Ah, Eko!

Eko terus saja membongkar alam pikiran kita yang terbalik. Perempuan yang lemah, gampang kena rayu ular sejak di Eden, disuguhkan Eko secara heroik dalam puisi Selamat Dari Bahaya:

… ini uang dari laci pendeta/ berarti juga dari bapa-nya yang di surga/ jadi mari minta terima kasih/ karena tuhan sudah pakai bapak pendeta secara ajaib/ untuk membiayai perkawinan kita besok lusa/ namun kau marah/ kau tampar aku/ di depan meja sembahyang/ di depan kitab suci dua buah/ terbuka tidak sengaja/ mazmur pujian: selamat dari bahaya.

Eko menghadirkan perempuan sebagai tiang moral. Perempuan tidak lemah. Ia pencegah korupsi, penangkal keburukan. Dalam hal ini, puisi yang ditulis di Yapen Waropen (2017), mendahului Wakil Ketua KPK Alexander Marwata yang baru saja mengajak finalis Putri Indonesia 2019, bila berkeluarga, kiranya sanggup kendalikan suami agar tidak korupsi.

Kalau hanya menerka judul tanpa membaca isi, orang bisa salah kira bahwa Eko dan HMRS mengajak tamasya ke pantai elok di Maluku. Tidak! Eko justru sangat serius dan tidak ramai. Dia sedang membantai prasangka dan perilaku menyimpang dalam relasi manusia dan Tuhan. Secara intim, nama Tuhan 15 kali disebut sebagai pihak ketiga, yang sedang dibicarakan secara sinis, bercanda, seperti membicarakan kawan baik.

Aku datang dengan rapih, kemeja mahal, sepatu mahal, supaya Tuhan terkesima.

Eko pakai pendekatan seksual. Pakai baju bagus supaya lawan jenis jatuh pesona, termasuk Tuhan. Orang ke gereja mempertonton kelamin sekunder dan tersier demi merayu lawan jenis.

Aku datang dengan amplop khusus, supaya Tuhan lirikkan matanya pada siapa yang banting sepatu di pintu masuk

Ungkapan ini adalah pendekatan material. Tuhan dilukiskan matre jadi bisa dirayu pakai uang. Inilah gratifikasi. “Aku” mewakili prasangka jemaat dalam kultur masyarakat korup bahwa Tuhan bisa disuap.

Buku HMRS beredar ketika Paus Fransiskus mengkritik uskup dan pastor agar tidak menjual rahmat demi uang. Sungguh sebuah momentum yang indah. Eko mengkritik jemaat, sedangkan Paus mengkritik para pelayan.

Puisi Episode Mariana adalah kemewahan lain. Eko sodorkan Mariana yang “dibeatifikasi” secara spektakuler. Enam episode dalam 16 halaman. Mungkin kelak Mariana akan dikenang laksana Maria Zaitun dalam Nyanyian Angsa WS Rendra, atau Maria Magdalena dalam musik opera Jesus Christ Superstar.

Bayangkan Distrik Yapen Timur, Papua Barat, pada Senin, 14 Agustus 2017. Itulah tempat dan tanggal lahir Episode Mariana. Enam episode lahir tiga hari menjelang pesta 72 tahun Kemerdekaan RI. Permenungan Mariana adalah permenungan Indonesia. Mariana adalah rakyat jelata yang didera ketidakadilan. Eko yang rindu keadilan menggugat hal itu.

Eko memang mengiris tali napas kita, sampai benar-benar putus napas bersama Mariana. Tentu Eko gagal andai berhenti pada kematian. Justru dalam susah sengsara, air mata, dan derita, Eko terbitkan harapan. Tidak sia-sia dia belajar teologi. Kependetaan dan kenabian sang penyair terpancar di sini:

Mariana sudah tamatkan riwayat// Bayinya meliuk seperti ulat sagu/Ketika dievakuasi dari dalam sana// Bayi Mariana menari yospan//

Ulat sagu adalah larva kumbang sagu, yang biasa dimakan orang Maluku dan Papua. Eko memilih ulat sagu sebagai metafora. Ibu mati tetapi bayi hidup. Bahkan bayi itu menari yospan, tarian Papua yang dinamis. Ulat sagu dan yospan, diksi yang sempurna.

Kehadiran Eko di permukaan sastra Indonesia, tentulah baru satu jejak kecil. Jalan masih panjang. Biarpun begitu, Eko telah melanjutkan tradisi puisi di Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku.

Dari kampus Tanah Lapang Kecil Ambon telah muncul pendeta-pendeta yang sastrawi seperti Piet Tanamal, Wem Davids, Jacky Manuputty, Rudy Rahabeat, Morika Tetelepta, Weslly Johannes, Wirol Haurissa, dan sebagainya.

Tidak berlebihan jika berharap bahwa Eko sebagai titisan Luc Wairata juga kelak berada di jalan yang sama dengan Pendeta Fridolin Ukur, Pastor YB Mangunwijaya atau Kiai Mustofa Bisri dalam kancah sastra Indonesia. Dengan begitu, suara kenabian dari Timur Indonesia semakin nyaring, sebagaimana sudah dimulai Eko dengan HMRS.

Ambon, 2 Juli 2019

*Redaktur pelaksana Malukupost.com, penerima Maarif Award 2016 sebagai tokoh pelaku damai di tanah Maluku, pendiri bengkel sastra Maluku.

Tags : Mendengar Suara Kenabian dari Timur
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response