close
Umbul kapilaler

Foto Umbul Kapilaler Desa Ponggok

Apa yang akan terjadi bila 83.931 desa (BPS tahun 2018) di Indonesia punya hari-hari perayaan literer?

Saya bayangkan orang-orang duduk membaca-menulis di ruang-ruang di perpustakaan. Mereka akan bikin museum sendiri. Mereka akan mengenal diri seutuhnya. Hoax bukan lagi teror.

Adalah satu Desa Ponggok. Mereka baru saja menyelenggarakan festival literasi, bertajuk Green Literacy Camp (GLC) 2019. Sejak pertama kegiatan dikawinkan dengan isu lingkungan. Selama 4 hari 3 malam, 29 narasumber berbagi pengetahuan, melayani warga. Penyelenggaranya Pemdes, pendananya Bumdes. Ini berita luar biasa.

Saya telah mendatangi beberapa kegiatan literasi desa. Katakankah Festival Ubud di Bali, Festival Rumah Dunia di Banten, Festival Sastra Boja di Kendal. Penggagas memulai dengan semangat yang tak mudah patah. Tiap tahun mereka merayakan ulang kegiatan karena merasa masih banyak yang perlu dibicarakan. Waktu berlari dan mereka membuat jeda-jeda asyik agar waktu tak kabur begitu saja.

Penyelenggara biasanya mengundang segelintir narasumber dan melibatkan sebanyak mungkin warga atau pengunjung. Kegiatan nonprofit semacam ini harus bermanfaat sebanyak-banyaknya karena berbiaya mahal. Mereka merogoh kocek dalam-dalam karena sulit meyakinkan donatur di awal bahwa kegiatan ini akan terus berlangsung.

Dalam hal dana Ponggok barangkali lebih siap. Desa ini dinyatakan makmur, bahkan paling makmur di kelasnya, meninggalkan jauh kesan desa tertinggal yang disematkan padanya tahun 2006. Dari 5 umbul (mata air) yang mereka punya, Umbul Ponggok memancurkan air 800 liter per detik. Satu perusahaan air kemasan terkenal negeri ini menyewa salah satu umbul di desa ini, untuk melancarkan usahanya.

Para narasumber tinggal di homestay milik Bumdes. Pengurus homestay tempat saya tinggal memberi info bahwa setiap bulan selalu ada tamu yang menginap. Pernah 105 orang dari Sulawesi magang selama dua minggu di desa, memenuhi homestay mereka. Satu kesibukan yang bermakna bagi sekitar 2000 orang populasi desa.

“Kira-kira enam bulan persiapan kegiatan,” ujar Atta Verin, pegiat literasi, yang menerjemahkan keinginan Kades membuat kegiatan literasi bagi warga. Atta dibantu pemuda Karang Taruna dan sekelompok mahasiswa yang sedang KKN di sana. Mereka mengemas wisata air sebagai bonus untuk menarik perhatian orang luar.

Saya menjadi narasumber di dua sesi. Kelas menulis esai dan kelas jurnalisme warga. Heran juga mendapati hanya seorang warga di kelas yang disebut terakhir. Semua peserta adalah mahasiswa Jateng dan Jatim yang tahu kegiatan dari medsos. Dari warga tersebut saya tahu bahwa kegiatan semacam itu masih asing bagi mereka, tidak lebih penting daripada menyelesaikan yang rutin.

Sayang memang. Nama-nama Kang Maman, Jokpin, Aan Mansyur, Sekar Chamdi, belum menggelorakan rasa ingin tahu warga. Artis Nadine Chandrawinata mungkin bernasib lebih baik dalam hal ini.

Kades Junaedi Mulyono akrab dipanggil Bopo Djoened, dalam satu sambutannya mengatakan Ponggok sedang diperhatikan dunia, bukan hanya oleh Indonesia. Desa ini menjadi tempat belajar mereka yang ingin desanya berhasil. Karenanya ia mencanangkan wani sinau (berani belajar) sebagai upaya terus menyegarkan desa.

Moga Joko Winarno, Ketua Panitia sekaligus Direktur Bumdes, dalam menyelenggarakan GLC berikutnya, mendorong warga untuk wani menjadi narasumber, berbagi warisan cerita dari 5 umbul dan bagaimana mereka berevolusi, cerita para leluhur desa, pohon-pohon gayam yang setia, ikan-ikan nila yang rajin bertelur. Moga perpustakaan Ponggi sudah berpindah ke tempat lebih luas karena buku-buku bertambah. Moga Pramoedya, Widji Tukul, Nh Dini, Moh Hatta, Tolstoy, Rumi, dan yang lain akrab di telinga. Jadi bila tahun ini mereka belum mendengar nama Goenawan Mohamad, termaafkanlah.

Kredit foto Akhmad Doddy Firmansyah

(itasiregar/juli/2019)

Tags : Ponggok Wani Sinau Umbul
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response