close
‘As I see it, Pinocchio was motivated by a need to prove himself, while both Hansel and Gretel were driven by an inborn rebelliousness.’

Sudah beberapa kali saya mendengar Radhar Panca Dahana mengungkap kekagumannya kepada Joko Pinurbo dalam memahami puisi. Itu terjadi karena Jokpin pernah secara tepat mengatakan apa yang dia “baca” dari satu puisi Radhar. Barangkali Radhar merasa perlu mengatakannya lagi dan lagi untuk menekankan pentingnya kritik/us di tengah belantara puisi. Arti lain, tidak mudah memahami puisi seseorang dengan tepat.

Abah D Zawawi Imron, penyair senior kesayangan, si Bulan Tertusuk Ilalang (1982), tiap ketemu, seingat saya, beliau pasti cerita soal pertemuannya yang mengesankan dengan Sitor Situmorang, si Bunga di Atas Batu (1989). Kalau yang ini, itu karena beliau tahu saya orang Batak.

“Apa artinya Bunga di Atas Batu, Bah?” Saya berpikir malas.

“Kamu pikir dulu, dong. Mungkin ndak bunga di atas batu?”

Baru saya ngeh. Memahami satu larik kadang-kadang seperti mengisi teka-teki silang. Kalau betul akan pas memenuhi kotak-kotak jawaban. Barangkali kemampuan Jokpin memahami puisi Radhar adalah semacam hasil latihan bekejaran dengan waktu dalam mengerti kata/kalimat dan apa yang ada di belakangnya. Ini sebuah kegirangan.

Sewaktu DKJ menggelar Lomba Kritik Sastra 2013 saya pikir saya akan turut serta. Buku yang langsung teringat saat itu adalah Perempuan yang Dihapus Namanya (2010) karya Avianti Armand. Hanya lima puisi (panjang) dalam buku itu. Empat puisi tentang empat perempuan dalam Perjanjian Lama yang merupakan temuan-temuan apresiatifnya. Namun dalam satu puisinya, menurut saya, satu dan dua hal telah terlewatkan oleh penulisnya, yang mungkin saya bisa bahas.

Zen Hae menulis sebuah esai bagus ketika dia diminta sebagai pembahas buku puisi itu di Komunitas Salihara. Avianti mengirimkan esai itu kepada saya. Judulnya panjang, yang saya ingat, Puisi-puisi yang Menggenapkan Kitab Suci. Semacam itulah. Kami sama-sama mengagumi tulisan itu. Dalam esainya Zen Hae mengaku menghabiskan waktu seminggu membaca di perpustakaan Freedom sebelum menulis esai tersebut.

Pada waktu yang berbeda saya bersama Damhuri Muhammad di satu kedai di UI. Saya lupa ngobrol apa, tetapi dia mengungkap bahwa dia punya sedikit kesulitan dalam memahami puisi-puisi Mario F. Lawi. Apakah penyebabnya sama seperti kasus saya bertanya kepada Abah Zawawi? Saya tidak bertanya lebih lanjut waktu itu.

Pada Green Literacy Camp 2019 desa Ponggok yang baru lalu, pada malam Poem Battle antara Jokpin dan M Aan Mansyur, wasit Anton Kurnia meminta Nana Djoened menjadi juri dadakan, Ibu Kades cantik yang bilang jarang membaca puisi itu menjawab, saya telah mendengar kedua puisi, dan saya memilih puisi M Aan Masyur karena saya lebih bisa mengikuti (baca: memahami).

Lebih mutakhir saya baru saja membaca Keledai dalam Kitab Suci, resensi Saddam HP di basabasi.co tentang buku puisi Mario F. Lawi, Keledai Yang Mulia (2019). Saya menduga Saddam menulis resensi itu dalam sekali “klik” saja, mengingat unsur kedekatannya dengan penulisnya, mereka satu perguruan, sering bercakap-cakap, dan alasan lain. Mungkin.

Saya boleh jadi masih akan menemukan pengalaman-pengalaman baru dalam membaca puisi dan mendengar para penikmati puisi memahami puisi-puisi yang mereka baca. Ini sangat membesarkan hati. Puisi selalu dan bisa dipahami.

Bagaimana pun saya belum berani merapat ke Abang Ahmad Yulden Erwin dalam hal menulis dan membaca puisi. Soalnya dalam menghitung saja saya perlu ekstra hati-hati. Boro-boro membaca puisi secara matematis.

(itasiregar/13/07/19)

Tags : Kritik Sastra Terbatas
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response