close
Ingatan yang Ganjil

Teks & Ilustrasi L Surajiya

Sepertinya ada yang aneh hari ini. Bukan persoalan matahari terbit, embun yang bergulir dari daun-daun ataupun cuaca. Semua baik adanya. Tak ada bedanya dengan hari-hari lain yang aku lalui. Matahari, tetap saja muncul dari timur, air tetap mengalir ke bawah, tumbuh-tumbuhan tetap juga tumbuh sebagaimana biasanya, begitu pula dengan kehidupanku yang terus berjalan: dari pagi, siang, sore, malam, lancar-lancar saja. Tak ada pikiran apapun yang terlintas kecuali apa yang sudah kuputuskan untuk aku lakukan hari ini.

Lalu apa yang aneh?

Yang aneh adalah kiriman WA yang tiba-tiba di saat aku sendiri. Istriku pergi ke pasar dan anak-anak masih di sekolah, belum pulang. WA dikirim sekitar pukul 10 pagi ini, mengagetkanku. Ya, masih pagi bagiku, sebab segelas teh dan secangkir kopi belum diganti. Teh sudah kuminum separuh dan asap masih mengepul tipis di atas kopi, kacang goreng masih kelihatan minyaknya, belum kering.

Aku bilang: WA aneh. Ya, karena selama ini belum pernah terpikirkan olehku bahwa aku akan menerima WA dari seseorang yang tidak tertera namanya. Siapa orang ini? Aku harus memberi nama dalam kontakku. Kalau perlu dengan nama asing. Tapi untuk apa aku menyimpannya? Kalau aku tidak tahu? Tidak kenal? Apa aku namai saja ‘Ana’ yang dalam bahasa Jawa berarti, ada. Ya, Ana mungkin lebih baik, sebagai pertanda bahwa orang ini, ada.

“Apakah kau masih mencintaiku?” Itu bunyi WA-nya.

Nah, apa tidak aneh? Bayangkan saat kamu larut dalam kesendirian, pikiran melayang, belum melakukan apapun selain menyeruput kopi yang masih hangat. Muncul di ponselmu pertanyaan begitu? Tidak tertera namanya, artinya nomor itu belum ke-save atau belum pernah ada. Pasti diri bertanya. Ini nomor siapa? Mungkinkah salah kirim? Bisa jadi orang iseng, pikirku! Coba kalau itu kamu? Pasti juga akan melakukan hal yang sama. Pertama, mencari nomor itu di berbagai group. Mencoba misscall, barangkali salah satu dari puluhan group yang diikuti, namanya ada.

Aku menarik napas, membuat jarak dengan layar ponsel di tangan. Pikiranku mengembara setelah tidak kutemukan nama. Mataku agak sedikit pedih karena berjam-jam mengotak-atik hape.

“Ini siapa, ya?” tanyaku, dan pada akhir kalimat kuberi nama: Mas Yas. Aku pun mengirimkan balasan sama persis seperti yang sering dilakukan banyak orang, yaitu: Ini Siapa? Atau ini nomer siapa?

Sekian lamanya tak ada jawab. Namun satu profil muncul, seorang perempuan yang bersyal merah jambu memandang laut lepas, rambut tergerai, dan buih-buih putih serta gelombang tampak di kejauhan. Tak satu pun pohon besar, pohon kelapa misalnya, hanya gundukan pasir yang berjarak jauh.

“Lihat DP-ku apa kamu masih belum ingat?” begitu balasannya.

Aku membongkar ingatan demi ingatan yang menumpuk dari tahun ke tahun. Tak ada, dalam kotak ingatanku hanya ada abu hitam yang berserak. Tak ada tanda, tak ada gambar, tak ada suara, tak ada secercah di bilik ingatan yang berwarna. Semua telah menjadi abu. Abu-abu!

Aku sadar betul bahwa setelah menikah, aku sudah tidak punya ingatan. Semua hilang, seolah sudah terbakar habis. Memang aku sengaja membakarnya bersama ribuan rasa sakit yang tak kunjung usai, dan dengan sepenuh hati aku ingin lupa. Aku ingin terlahir kembali, hidup baru sepenuhnya dengan keluarga kecilku. Tak ada, tak ada di ingatanku di masa lalu, hidupku sudah mengalir seperti air, berhembus seperti angin, tak ingin sekalipun meninggalkan jejak-jejak yang bisa dibaca.

“Benar, aku ini tidak ingat. Kau siapa?”

“Dasar sombong, bajingan, kurang ajar!”

Membaca balasan itu aku menjadi tersenyum. Sebuah godaan, menguji hati agar tetap tabah dan sabar. Pagi ini, ada orang yang mengumpat tidak jelas. Ditanyai nama juga tidak menjawab. Aku mencoba membayangkan orang ini, namun tetap sulit kuraih wajahnya dalam ingatan. Jujur, aku sudah lupa benar siapa orang ini?

Aku mengurut dada, menahan napas, menjaga pikiran agar tetap jernih, tidak kalut oleh ucapan atau makian, yang sebenarnya tidak perlu aku pikirkan. Bagiku umpatan tidak mengubah apapun. Aku tidak memikirkannya sama sekali, mungkin dia sedang marah dengan impian, harapan, dan keinginannya sendiri.

“Lihat, nih!”

Dari layar ponselku, aku melihat seorang lelaki setengah telanjang seperti mau masuk kamar mandi dengan handuk warna kuning di tangan. Di sudut samping terlihat tempat tidur dengan sprei bermotif bunga-bunga, dindingnya warna kuning dan lantainya marmer agak kecoklatan. Ada kursi yang terlihat dekat cermin. Dari dalam cermin terlihat separuh ruangan kamar itu. Ada AC, tas, serta makanan kecil yang ditaruh dekat lampu duduk di atas meja. Ada dua botol air mineral, dua gelas teh yang masih tertutup, semacam welcome drink.

Aku kembali menyusuri jalan memori yang begitu panjang dan gelap, tak kutemukan satu ingatan pun. Laki-laki itu siapa? Sungguh! Tak ada gambar di pikiranku, yang ada hanya setumpuk keinginan dan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Masa laluku benar-benar sudah mati, sudah terbakar menjadi abu.

“Lihat, nih! Masih nyangkal?” Ia mengirim gambar yang lain ke ponselku.

“Ini siapa?” tanyaku.

“Itu kamu!”

Aku mengambil cermin memastikan apakah itu benar wajahku. Itu aku? Kulihat laki-laki yang sedang berpelukan di bawah pohon besar, di sampingnya air terjun. Mataku bisa membaca sebuah tulisan yang berbunyi, hati-hati licin pada papan kayu di dekat air terjun yang berbatu.

Laki-laki dalam foto itu masih muda, memakai kaus bergaris horizontal, berlengan panjang, rambut pendek disisir ke belakang, dan mukanya cerah tak berkerut. Sementara perempuan yang nampak di sana begitu cantik, matanya bersinar, tangannya halus, lentik.

Berulang kali aku mengamati laki-laki dalam foto. Tak ada yang sama denganku. Kulihat dalam cermin di hadapanku ini. Di sini yang terlihat adalah laki-laki setengah baya, rambut memutih, mata berkerut, ada kumis dan jambang tidak rata.

“Itu bukan aku!” jawabku tegas.

Tidak begitu lama dia mengirim banyak foto lain dan mengancamku. Jika aku tidak mau mengakuinya, dia akan upload dan men-share ke medsos. Sebagian akan diprint dan ditempel di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan di tempat keramaian. Aku malah jadi geli membaca teks yang terakhir itu.

Jam satu siang aku memutuskan untuk istirahat sejenak. Melupakan ingatan orang yang aneh, yang aku rasa amat ganjil. Aku dipaksa harus mengakui foto laki-laki itu. Aneh!
*

Aku terbangun pukul dua siang. Aku merasa ada yang tidak biasa dalam tidurku. Ada rasa gelisah tanpa sebab, pikiran tidak nyaman, dan entah, badan pun terasa gerah. Aku beranjak dari tempat tidur ke ruang depan. Aku melongok lewat jendela, kulihat istriku sudah duduk di teras, memegang ponselku sambil menangis.

Ada apa dengan dirinya di pasar? Kenapa menangis? Aku bertanya dalam hati. Istriku sudah lama kerja di pasar mulai subuh hingga pukul 2 siang.

Aku mendekatinya. Dia menatapku, matanya berkaca-kaca.

“Siapa Ana?” tanyanya.

“Tidak tahu,” jawabku.

“Ini foto-foto siapa dan siapa Ana? Tolong jawab dengan jujur?” desaknya.

“Aku tidak tahu Ana. Tidak tahu juga foto-foto dalam WA itu.”

“Bohong! Pendusta! Lihat, jelas-jelas ini Maria tapi kau beri nama Ana.”

Istriku menunjukkan foto-foto yang sudah ter-download. Meski dia ngotot bilang Maria, aku tetap menjawab: tidak tahu.

“Ini kamu!”

“Bukan, bukan aku!”

“Tukang bohong!”

Dan pyarrrrr … ponsel dibanting, pecah berkeping-keping.

Aku diam, dalam hatiku masih bisa berbisik, “Semoga ini yang terbaik!”
*

Sejak kejadian itu, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Ingatanku berkunang-kunang. Tak ada gambar jelas yang bisa kutangkap. Semua menghilang. Hari-hariku serasa sempurna tanpa hape. Aku menjadi lebih hening, lebih peka terhadap suara-suara alam, bisa menikmati keceriaan anak-anak yang bermain, serta mencermati dan mendengar suara yang datang dan pergi dalam diri.

Beberapa hari terlewati, tenang dan damai.

Sama, pada waktu pagi, sekitar pukul sepuluh juga, ada orang datang dari pasar. Katanya aku dipanggil polisi karena ada dua ibu bertengkar, dan akulah penyebabnya. Aku pun bergegas. Setiba di pasar, aku melihat istriku dikerumuni banyak orang.

“Sudah kubilang, sejak kita menikah, aku ini sudah tidak punya masa lalu. Tak ada yang kuingat selain janji perkawinan, sehidup semati dalam suka maupun duka,” kataku. “Dan kamu …,” aku menoleh seolah ingin minta maaf kepada perempuan di sebelahnya, “Tak usah merasa bersalah dengan ingatanmu yang ganjil. Tapi sesungguhnya, yang lalu sudah mati.”

Orang-orang yang berkerumun mulai pergi, Aku menunduk, dan ketika kupegang tangan kedua perempuan itu, ingatanku kembali. Dua perempuan –istriku dan Maria- dulu, di masa mudanya, mereka pernah pula bertengkar di dekat rel kereta, hatiku pun menjerit, “Kalianlah orang-orang yang kucintai. Tolonglah, jangan bertengkar lagi!”

Kulon Progo, 8 Juli 2019 13:06

Judul ilustrasi Ingatan yang Ganjil

Keterangan:
WA = WhatsApp, aplikasi pesan untuk ponsel cerdas (smartphone)
DP = Display Picture, foto profil di WA, dll.

Tentang Penulis & Perupa
L Surajiya lahir di Kulon Progo, 5 Juli 1974, pendidikan seni diperoleh di SMSR Yogyakarta (1991-1995), ISI Yogyakarta (1997-2005). Aktif menulis dan melukis. Salah satu pendiri Makna Media Para Perupa (2004). Tahun 2007 diundang ke Belanda untuk memamerkan karya puisi dan lukisannya. Ia menulis beberapa buku antologi puisi. Kumpulan cerpennya Aku, Istriku, dan Bukan Apel terbit tahun 2006. Bergiat di Komunitas Api Kata Bukit Menoreh. Tinggal dan berkarya di Studio Gunung, Kulon Progo, Yogyakarta.

Tags : Ingatan Ganjil Cerpen
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response