close
Ill. Kopi Pertama

Kemarin dia menunjukkan foto suaminya. Saya melihatnya dengan antusias, menggeser-geser touch screen hapenya, berkata pelan, “Waduh, masih muda ya.” Saya bisa mengatakan itu karena wajah yang tampak di sana tak menunjukkan kerut, kulitnya terang.

“Iya, Kak, masih 43 tahun waktu meninggal,” jawabnya.

Suaminya meninggal September lalu karena narkoba. Balige tahun 2000-an, katanya, sangat gawat. Laki-laki pemakai berkeliaran di kota, beberapa perempuan muda ikut-ikutan, bikin kota jadi menyeramkan. Teman-teman main suaminya itu sudah bermatian, lebih dulu.

Mereka berdua punya tiga anak. Laki-laki semua. Suaminya diciduk polisi saat mereka di rumah. Bungsunya masih 3-4 tahun usianya. Sebelum polisi menangkap, suaminya melesakkan barang terlarang itu ke telapak tangannya.

“Apa nya kau ini?” katanya tak mengerti.

Suaminya pikir polisi akan jatuh kasihan bila melihat barang itu di tangan seorang ibu dengan tiga anak laki-laki kecil. Kalau si ibu ditangkap, siapa mengurus anak-anak itu? Tetapi suaminya salah. Polisi galak menanyainya sampai dia tak mampu berkelit. Bagaimana bisa bohong? Di lengan suaminya kentara banyak bekas suntikan obat terlarang.

Memang sudah kecanduan berat suaminya itu. Kalau sedang sakau, dia akan terserang demam hebat, yang membuatnya merinding melihatnya. Bagaimana seorang manusia tega merusak diri dengan merindu obat-obatan sialan itu?

Dan malam itu suaminya dibawa pergi. Anak-anaknya masih terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi. Dan ia tahu apa yang dilakukan polisi kepada orang-orang seperti suaminya. Mereka akan dibawa ke hutan sana, dipukuli ditendangi disiksa sehabis-habisnya. Biar kapok, pikir polisi. Tapi sampai sumsum tulang mereka menagih obat. Seperti penjara besi berlapis tujuh.

Lalu suaminya dijatuhi 7 tahun penjara. Dia mengadu kepada ayahnya. Ayahnya tahu menantunya sebenarnya berhati baik. Hanya salah pergaulan. Ayahnya mengupayakan segala sesuatu, menebus waktu menantunya, tujuh tahun dipotong menjadi 3 tahun.

Selama 3 tahun dia bekerja apa saja dengan tangannya. Ada tiga anak yang harus diberi makan setiap hari. Ia mencuci pakaian orang, membereskan rumah orang, apa saja. Begitu terus sampai selesai 3 tahun. Suaminya dibebaskan.

Lalu ayahnya membelikan suaminya mobil angkutan agar bisa cari uang sebagai sopir. Mereka keluarga bahagia selama beberapa waktu. Sampai lingkungan buruk itu kembali menarik-narik suaminya. Lagi-lagi narkoba jahanam. Dia menyesali suaminya yang kurang gigih bertobat. Tapi apa mau dikata? Apa mau disesali? Itulah suaminya. Yang lebih dan kurangnya ia harus terima, bersih.

Kemudian suaminya jatuh sakit. Sangat sakit. Hanya mendekam di tempat tidur. Kurus tak berdaya. Makanan tidak dapat ditelannya.

Setahun terakhir adalah hari-hari yang berat baginya. “Kalau dipikir-pikir, bagaimana aku bisa bangun pagi, mengurus anak-anak dan suami dan rumah, kerja. Seperti mimpi, Kak. Seperti mimpi,” katanya.

Hari-hari terakhir. Suaminya sudah berulang kali meminta maaf. Karena telah membiarkan istri bekerja menafkahi keluarga. Dan dia memaafkan. Dia memaafkan dengan tulus. Apa lagi? Setiap akan pergi kerja, dia tanya suaminya, “Boleh nya aku pergi?”

“Pergilah. Asal cepat kau pulang. Sambil kau doakan aku, doakan aku,” kata suaminya.

Tubuh suaminya terlalu parah sampai mereka perlu membawanya ke rumah sakit. Mereka bergantian menjaga. Sekarang ketiga anak mereka sudah besar.

“Kalau Bapak meninggal, apa Mamak bisa membiayai kami?” tanya si bungsu memandang ibunya, ragu.

Ia memandang mata anaknya dengan gusar, menjawab, “Bah! Bisa! Gampang nya cari duit itu. Asal kau mau kerja!”

Dan hari penentuan itu pun tibalah. Suaminya pergi dalam sunyi. Tanpa pesan, tanpa kata. Sulungnya, yang waktu itu seharian menjaga, pergi pulang lalu ayahnya pergi. Dan dia sangat menyesali ayahnya. “Pak, seharian aku jaga kau, kau tak pesan apa-apa sama aku! Aku pergi sebentar, kau pergi nya!”

Kepergian itu menghentak kesadarannya. Ia tidak tahu apa dia senang atau sedih. Bebannya sudah terangkat tetapi kekosongan melanda jiwanya. Dia menyesali suaminya yang tidak berusaha hidup lebih lama untuk mendampinginya melihat cucu-cucu yang lahir kelak. Banyak yang dia sesali. Banyak juga kenangan yang kembali. Anak-anak mengasihi ayah mereka. Itulah kebaikan suaminya yang tak terhapus oleh ketidakmampuannya melawan pengaruh jahat dari luar dirinya.

“Hidup aku ini seperti mimpi, Kak. Seperti mimpi!” dia menekan kata mimpi. Saya mengangguk-angguk, mencoba paham.

“Orang bilang aku makin gemuk. Lihat Kakak kemarin aku pesta kan? Tak satu pun kebayaku muat.” Dia tertawa.

Saya ikut tertawa, mengangguk-angguk. Saya senang melihatnya senang. Dia telah melewati banyak kegelapan dalam hidup, dengan keberanian.

Sepanjang pagi hingga siang itu kami ngobrol, langit terus merajuk, menangis. “Enak kalau minum kopi dingin begini,” katanya.

“Mau? Aku bikinin ya? Dengan susu manis?”

Dia setuju. Saya bersemangat. Senin sampai Sabtu dia datang, mungkin untuk 3-4 jam membereskan rumah kawan saya, tempat saya tinggal selama hampir empat bulan, baru hari ini kami mengobrol hebat. Benang-benang merah jadi lurus sekarang. Dan saya ingin merayakannya. Membuatkan kopi untuknya. Meski dia tak suka kopi buatan saya. Terlalu pahit, katanya. (itasiregar/16/02/20)

Tags : Balige tahun 2000hindari pergaulan buruknarkoba
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response