close
Pulau Simamora

Teks Ita Siregar
Foto Tim Voyage

Seminggu sebelum hari Rabu saya sudah mengajak Tim Voyage Hopper, ke Bakara. Rabu hari pasar (onan) di sana. Kita naik kapal, saya bilang. Lembah hijau yang menawan itu, sudah memanggil-manggil.

Selasa sore kami mengecek ke pelabuhan Balige. Petugas bilang kapal akan lepas jangkar pukul 8, teng. Keberangkatan yang ambisius. Pagi selalu repot. Tim juga belum bangun. Mungkin. Saya tenang berpikir kami akan ber-trail saja.

Kami siap jam 11. Agak telat memang. Matahari sudah sengit. Syukurlah angin sibuk meniup-niup panas.
Dari Balige, motor trail Tim meluncur mulus ke arah Siborongborong. Jalanan bagus. Mesin tak berisik. Saya bisa sandarkan punggung dengan enak ke boks akrilik sesekali, ke belakang. Tim suka mengecek google map-nya. Saya lebih suka bertanya ke orang lewat. Selebihnya, kami setia pada petunjuk jalan.

Dari Dolok Sanggul motor menyentuh mulut Bakara. Setelah ini jalanan akan menurun, terus hingga di lembah, di bawah sana. Di satu ketinggian, kami berhenti. Mendengar deras sungai seperti tertawa. Memandang sawah-sawah malas membentang. Dinding-dinding bukit pinus bikin hati hijau. Lembah Bakara indah tiada tara. Konon, tentara Belanda banyak terjatuh dari kuda yang tergelincir akibat mata kelewat asyik memandang.

Kami mampir ke istana Sisingamangajara XII, di desa Bakti Raja. Kompleks bersih dan rapi. Serba hitam-merah-putih. Penjaga, adalah siapa saja keluarga Sinambela, marga dinasti raja, yang ada di sana. Ramah mempersilakan. Di halaman kompleks satu ompung menaruh sekarung mangga Toba yang sudah masak. Omakku boru Regar, jadi mar namboru ma ho tu ahu, katanya. Saya membeli satu plastic mangga.

Di satu rumah makan yang pernah saya kunjungi, saya berharap makan mi sup. Sayang tidak ada menu itu. Jadi kami makan siang ayam semur dan gulai daun singkong tumbuk. Tim bolak-balik diajak selfi oleh pemilik kedai, yang girang kedatangan bule. Dua putrinya antusias bertanya ini-itu, menyoal Tim. Saya penerjemah yang baik. Ganteng, kata mereka. Setelah saya memotret Tim dan mereka bertiga, beberapa kali, baru kami pergi.

Meski tertutup helm, rambut gimbal pirang Tim nongol. Kebuleannya segera dikenali. Di atas motor, seruan-seruan, Hello Mister, Hello Mister, berulang kali. Tim entah akan mengangkat tangan atau menjawab, Horas!

Kami parkir di depan onan. Seandainya kami tadi naik kapal, maka pelabuhan Bakara persis di belakang onan. Melewati gapuranya, seorang pedagang menawari minuman es kocok. Saya senang karena mereka pasangan penjual yang saya pernah mengobrol banyak. Dulu, si suami bercerita masa keemasan mencari lobster yang tersembunyi di balik-balik karang yang sulit, di tepian Toba. Usaha bagus itu kemudian menimbulkan banyak masalah, banyak perselisihan, dan akhirnya dia tinggalkan.

Kami berjalan lagi. Seorang menghadang jalan kami. Makan pisang goreng kami yang enak ini, katanya. Seribu sepotong. Bah! Enak, murah. Paduan yang sempurna. Di dermaga sederhana, dua kapal mangkal. Segerombolan anak kecil terpesona melihat ada makhluk serupa Tim di dunia ini. Mereka tertawa-tawa menyapa, hello, hello.

Kami melipir keluar pasar. Harus sigap. Masih banyak tempat harus dikunjungi. Hampir ke parkir motor, seorang pemuda memburu. Swandi Marbun, saya tour guide di Bakara, katanya menyalam saya. Matanya tertawa.

“Saya tahu kedatangan kalian dari teman. Kristine Sinambela dari Simangulampe. Katanya kenal Kakak,” katanya. Ah, betul. Saya menghubungi Aril Aritonang, teman Kristine, soal kedatangan saya hari ini.

“Di Homestay Simamora sedang berkumpul petugas Dinas Pariwisata Humbanghas (Kabupaten Humbang Hasundutan). Kalau bersedia, datanglah. Kita diskusi soal pariwisata,” katanya.

Kami setuju. Kami mengekor.

Homestay yang dimaksud oleh Swandi adalah rumah kayu panggung di tengah sawah. Depan-belakang bukit-bukit pinus di kejauhan. Homestay terdiri dari dua kamar, ruang tamu, dapur mungil, kamar mandi. Ada wifi. Ada antena parabola. Kelak saya tahu Dinas Pariwisata telah membangun 7 homestay serupa. Tercanggih persis menghadap Danau Toba.

Kami mengobrol dengan 7-8 petugas, yang antusias. Beberapa berbahasa Inggris dengan baik, bicara dengan Tim. Mereka sebutkan pariwisata yang mereka punya. Tempat kemping dengan sewa tenda murah, rafting, naik ke puncak Gonting, berenang di air jernih, sewa sepeda Rp35ribu per hari.

“Tadi kami ke pantai dekat mess Pemkab. Itu terbersih yang saya lihat selama saya di sini,” kata Tim.
Bakara tidak perlu apa-apa lagi karena dirinya indah. “Kami tinggal memikirkan kegiatan-kegiatan malam agar wisman punya banyak pilihan,” kata salah satu dari mereka.

Kami harus pamit. Kami akan ke air terjun Janji. Air terjun yang cipratan airnya terasa dari radius 50 meter. Kekuatan suaranya menyejuk hati.

Menuju ke sana, jalanan menyajikan pemandangan hebat. Ada pulau Simamora yang seperti menyembul hijau di tengah air danau. Tim beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Kami duduk di batu di pinggir jalan, hanya memandangi semua keajaiban itu.

Lalu kami ke Aek Sipangolu. Sumber air yang konon Raja Sisingamangaraja menancapkan tongkat di Gunung, sehingga mengalir air.

Sudah jam 5 sore. Kami harus cepat kecuali mau disergap gelap. Kami akan mengambil sepanjang sisi danau Toba, ke Muara. Matahari di belakang kami, berwarna emas. Awan-awan menutupi.

Kami balik lewat Sipinsur, jalanan yang membelah hutan. Bau dedaunan muda, segar minta ampun. Dan kami ketemu satu ketinggian lain. Berjejak di atasnya, seperti hendak terbang. Air danau tenang berkilau di sebuah jarak, pulau-pulau kecil diam sendiri. Perlahan matahari jatuh. Tiba-tiba kelabu, pekat. Angin lebih kencang, lebih dingin.

Tim melesatkan kendaraannya. Berlomba dengan angin. Kami tiba di Balige sekitar pukul 7 malam. Turun dari motor, rindu Bakara sudah memanggil.

Oya, tentang Tim Voyage. Dia adalah petualang asal Jerman. Dia bertemu Sebastian Hutabarat di Medan, berencana hanya mampir satu dua hari di Balige, sekarang sudah dua bulan tinggal, karena akhirnya dia punya banyak agenda ini-itu. Sebentar lagi dia akan memulai tur menembus Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, bermotor. Seandainya melihat siluet dengan gambaran yang saya ceritakan di atas, dialah itu. Catatan perjalanannya dapat dilihat di motomundo.de

Seperti diakui petugas Dinas Pariwisata, warga dan PemKab sebaiknya gotong-royong memikirkan banyak kegiatan kreatif agar wisman tinggal lebih lama di Bakara. Tidak asal lewat. Seperti sudah terjadi pada Tim. (is/06/03/20)

Tags : BakaraBakti RajaOnanTim Voyage
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response