close
priest

Teks Ita Siregar
Foto Pixabay.com

Kita prihatin dengan berita 22 pendeta (per 3 April 2020) yang berpulang ke rumah Bapa karena terpapar virus Corona, apa pun peristiwanya. Kita gregetan mendengar beberapa dari hamba Tuhan menjadi pahlawan kesiangan di masa pagebluk ini. Mereka berkoar Tuhan lebih besar daripada Covid-19. Tentu saja. Virus hanyalah virus. Tuhan adalah Pemilik Semesta Alam.

Apa penjelasan yang waras dalam mengkonfrontasikan kekuasaan Tuhan dan keganasan virus yang bekerja senyap, sambil mempertaruhkan nyawa orang (baca umat)? Apakah terlalu malu dengan fakta bahwa anak Tuhan tidak kebal virus?

Tentang perihal di atas, saya mau berkisah tentang Pendeta Baker (baca baker, bukan beiker).

Dalam pelayanannya, Pendeta Baker menggumuli okultisme (dari bahasa Latin occultus (rahasia) dan occulere (tersembunyi). Kita (baca orang Kristen) suka dengan segala hal supranatural karena di luar kemampuan normal. Memang ada beberapa pendeta yang menunggangi talentanya menjadi kesenangan pribadi (mempertontonkan kemampuan itu karena ada udang di balik batu). Namun tak kurang pendeta yang bersikap mulia, menjadi hamba yang setia kepada Tuannya. Salah satunya adalah Pendeta Baker, yang akan saya ceritakan ini.

Suatu hari Pendeta Baker yang Batak dan istrinya yang Jawa mampir ke Balige. Dari Siborongborong mereka datang untuk satu urusan. Saya diperkenalkan kepada mereka oleh kawan saya. Perkenalan itu mengesankan karena cerita kawan saya saat bersamanya.

Satu malam mereka berkendara melewati hutan. Malam tanpa bintang. Di daerah yang namanya mereka tak tahu, mesin mobil mati. Pendeta Baker menstarter mobil puluhan kali, gagal. Sampai jarinya pegal. Dan ia berhenti. Matanya memandangi setir sekian detik, lalu berkata, “Kita harus berdoa.”

Lantas ia mengucapkan doa pendek. “Tuhan, mesin mobil mati. Di luar gelap sekali. Tolong kami. Amin.” Setelah itu tangannya memegang kunci, memutarnya sekali, dan mesin pun nyala. Haleluya!

Lalu cerita lain. Kawan saya diserang sakit perut hebat. Ia buang-buang air, usus melilit-lilit seperti mau mati. Sambil meringis dia meminta Pendeta Baker untuk membawanya ke dokter.

Melihat kawan saya, Pendeta Baker mengambil segelas air putih, berkata, “Lihat, ini air minum biasa. Minum ini, sakitmu akan hilang.” Teman saya menenggaknya habis. Tak lama ia tertidur seperti bayi. Saat bangun, sakitnya sudah ngacir.

Pendeta Baker punya sekolah untuk calon pendeta di Siborongborong. Satu kali seorang mahasiswanya kesurupan. Teman-teman si kesurupan berusaha mengusir roh yang bikin kesurupan, tidak bisa. Si kesurupan makin kesurupan. Putus asa, mereka memberitahu Pendeta Baker.

“Kenapa kalian tidak usir setannya?”

“Sudah, Pak. Tapi tidak bisa.” (Ingat kisah murid-murid Yesus yang juga tak bisa mengusir roh jahat).
Jadi Pendeta Baker pun turun tangan. Dia menuju ke TKP. Di sana para mahasiswa sedang menyanyi lagu Allah kuasa melakukan segala perkara. Termasuk si kesurupan. Bah! Setan kok nyanyi lagu rohani, pikirnya.

“Berhenti menyanyi! Mari kita ulang! Kita konsentrasi pada syair lagu,” katanya.

Pendeta Baker mulai angkat suara, para mahasiswa mengikuti. Baru satu baris lirik, si kesurupan menjerit, “Panas, panas!” Seketika Pendeta Baker menghardik, “Pergi kau dari orang ini!” Setan pun pergi. Si kesurupan siuman.

“Setan sering ngaku-ngaku jadi siapa saja. Nenek moyang, kawan yang sudah meninggal, bahkan malaikat. Camkan itu,” kata Pendeta Baker kepada para mahasiswanya.

Lalu pada satu subuh pukul 3 asrama mereka dikagetkan oleh suara orang berkotbah. Suaranya kencang minta ampun. Ternyata seorang mahasiswa kemasukan roh khotbah. Dia berkotbah dalam bahasa Inggris, Rusia, Jawa, berganti-ganti. Padahal kawan itu tak bisa bercakap bahasa Inggris sehari-hari.

Teman-teman si pengkhotbah berusaha menyadarkan, tak berhasil. Akhirnya mereka kembali memanggil suhu, Pendeta Baker.

Pendeta Baker berdiri menghadap si pengkhotbah, memintanya memandang matanya “Siapa kamu?” tanyanya.

“Aku Gabriel,” jawab si pengkhotbah.

“Ah, Gabriel gadungan kamu! Pergi sekarang juga!” sentak Pendeta Baker.

Malaikat gadungan itu pun kabur. Si mahasiswa sadar, bertanya-tanya, “Kenapa kita di sini?”

Kemampuan Pendeta Baker dikenal dari mulut ke mulut. Banyak orang kemudian tahu. Dan mereka meminta tolong untuk urusan segala macam. Masalah penyakit, jodoh, ingin anak, relasi harmonis, dan lain-lain.

Pendeta Baker sadar bahwa talentanya sangat menggoda untuk diselewengkan. Umat atau siapa pun yang merasa tertolong, tentu tak keberatan menyerahkan amplop berisi persembahan kasih sekadarnya, yang kadang-kadang bukan sekadarnya.

Pendeta Baker telah berjanji kepada dirinya. Bahwa dia takkan hidup dari persembahan orang-orang yang dilayaninya. Karena itu dia bertani. Dia punya tanah 3000 meter. Dia menanami tanahnya dengan jeruk, alpukat, cabai, dan rupa-rupa yang lain. Setiap tiga bulan dia ke Padangsidempuan untuk menjual hasil ladang. Di pasar dia berjumpa dengan orang dari golongan apa pun, agama apa pun. Dia menjalani kesehariannya yang lain sebagai petani.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

Dia pun berkisah. Waktu kecil, pertama kali dia diajak oleh ibunya ke gereja orang dewasa. Mereka duduk mendengarkan orang di atas mimbar berbicara. Setelah itu jemaat membuang uang di kantong yang diedarkan. Dia bertanya kepada ibunya, apa pekerjaan orang itu. Pendeta, jawab ibunya. Sejak itu dia bercita-cita menjadi pendeta. Hanya berbicara, orang mendengarkan, setelah itu orang kasih uang. Gampang sekali, pikirnya.

Lalu tahun 70-an, dia dan abangnya akan sidi. Pendeta gereja meminta biaya Rp10.000 untuk masing-masing. Waktu itu ayahnya tak punya uang. Jadi dia bilang kepadanya, “Kau sidi belakanganlah dari abangmu ya. Bapak tak ada uang.” Pendeta Baker sedih padahal dia sudah membayangkan akan mengenakan kemeja putih lengan panjang.

Sejak itu dia berjanji, kelak menjadi pendeta, tak berharap persembahan umat. Pengalaman sidi selalu dia kenang sampai sekarang. Dan sudah selayaknya jemaat memikul tanggung jawab bersama. Menolong agar pendeta mereka menjalani tugas mulia secara bermartabat. Menjaga agar para hamba Tuhan kesayangan tak jual diri di bawah ketiak Tuhan.

Semoga kita dapat melewati masa pagebluk dengan kewarasan. Bukan dengan iman yang klise.

(is/04/04/20)

Tags : gerejamusim pageblukPendetavirus Corona
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response