close
Buku Tuanku Rao

There are no facts, only interpretations. –Nietzsche

Turiturian –bahasa Batak- artinya cerita, legenda, dongeng.

Parturi atau bayo parturi artinya story teller. Si tukang cerita. Si pendongeng. Dalam pemerintahan tradisional, parturi termasuk salah satu fungsinya. Dia bisa ahli sejarah atau sastra. Artinya, itu peran yang penting, sebagaimana bupati.

Orang-orang tua zaman dulu menyampaikan pesan, peristiwa, sejarah keluarga, dan lain-lain, secara lisan. Bentuknya bisa kotbah, nasihat, lagu, pantun, dan lain-lain. Para orangtua bercerita kebiasaan ompung dan adat leluhur kepada mereka yang lebih muda. Supaya cerita tak putus. Dan pendengar tidak memeriksa. Apakah fakta atau fiksi. Kisah diteruskan dari generasi ke generasi.

Adalah yang bernama Mangaraja Onggang Parlindungan. Kita singkat MOP. Tahun 1964 MOP menulis buku 700 halaman. Judulnya Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Teror agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833.

Sepuluh tahun kemudian sastrawan Haji Abdul Malik Karim Abdullah alias Hamka juga menulis buku. Judulnya Antara Khayal dan Fakta Tuanku Rao. Buku itu membantah buku MOP. Buku 80% isinya turiturian, kata Hamka.

Lama setelah itu, muncul Basyral Hamidy Harahap. Tahun 2007, mantan dosen Fakultas Sastra UI itu meluncurkan buku berjudul Greget Tuanku Rao. “Saya menulis untuk melengkapi apa yang luput dalam tulisan MOP,” kata Harahap.

Meski banyak orang menyindir tulisan MOP, Harahap berpendapat, toh perlu dibaca karena siapa tahu ada butir-butir berharga dari sana. Memang Harahap menyayangkan MOP membakar dokumen tulisan tangan ayahnya –Sutan Martua Radja- sumbernya dalam menulis buku. Alasannya, itu aib keluarga. Tak elok banyak orang tahu.

“Saya mengambil 10% (dari catatan ayah). Sisanya, biarlah aib itu hanya keluarga yang tahu,” kata MOP.

Apa aibnya?

Mereka adalah keturunan Tuanku Lelo. Ayah dari kakeknya MOP. Algojo kejam tanpa ampun dalam Perang Paderi di Tapanuli (1816-1833). Tuanku Lelo alias Idris Nasution adalah putra ke-6 Haji Hassan Nasution gelar Tuanku Kadi Malikul Adil, pedagang kuda beban. MOP ingin membersihkan nama Tuanku Rao dari yang melakukan itu.

Tuanku (seperti kiai sekarang) Rao adalah gelar untuk Pongkinangolngolan. Ia babere (kemenakan dari saudara perempuan) Sisimangamangaraja IX (1778-1819). Dinasti bermarga Sinambela. Kenapa tanpa marga?

Karena ayah Pongkinangolngolan adalah Gindoporang Sinambela, putra Sisingamangaraja VIII (1771-1788). Ibunya Gana Sinambela, Putri Sisingamangaraja IX. Sinambela vs Sinambela. Ya, mereka inses. Dan itu tabu bagi hukum Batak. Hukumannya dirajam sampai mati.
Tak tega, Sisingamangaraja IX mengusir adik dan pamannya, keluar dari Bakkara. Dalam keadaan Putri Gana hamil, mereka dibuang ke Singkil Aceh.

Di Singkil, Gindoporang bergabung angkatan polisi Aceh karena ia cakap berkuda. (Dinasti Sisingamangaraja terkenal karena punya kuda-kuda yang kuat dan tangkas). Dan ia masuk Islam. Namanya menjadi Muhammad Zainal Amirudin Sinambela. Gana Sinambela sendiri tetap beragama asli Batak.

Anak mereka pun lahirlah. Gindo memberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela. Gana memanggil bayinya Pongkinangolngolan. Diambil dari kata Pongki na Ngolngolan. Fakih yang menunggu-nunggu. Sampai usia 9 tahun Pongki diasuh ibunya, menurut agama ibunya.

Lalu Sisingamangaraja IX wafat di Bakkara. Penggantinya, Sisingamangaraja X (1819-1841), memaafkan kesalahan Gana, saudara perempuannya. Dia mengirim utusan untuk menjemput Putri Gana dan Pongkinangolngolan. Gindoporang tetap di Singkil.

Di Bakkara, Pongkinangolngolan kerap diajak berburu rusa oleh sang paman. Untuk meredakan gosip, Pongkinangolngolan diberi marga Simorangkir. Diangkat anak oleh saudara perempuan Gana, Sere Sinambela. Suaminya Hulubalang Djomba Simorangkir.

Upacara itu diendus para datu. Mereka keukeuh Pongkinangolngolan harus dihukum mati. Alasan, mereka melihat tahi lalat berambut di lidah Pongkinangolngolan. Raja-raja dinasti Sisingamangajara dikenali dengan dilana marimbulu. Ada tahi lalat berambut di lidah. Kalau dibiarkan hidup, bisa-bisa keponakan bunuh paman. Demi kekuasaan. Begitu ramalan para datu.

Meski sedih, tidak ada jalan bagi Sisingamangaraja X kecuali menurut. Bila dilanggar, keseimbangan sosial dan diplomasi Dinasti dipertaruhkan. Masa itu Bakkara sudah berelasi baik dengan banyak pihak luar, untuk berdagang.

Pongkinangolngolan dihukum dengan ditenggelamkan ke danau Toba. Tubuhnya diikat pada kayu dan diberati batu-batu.

Hari yang ditentukan tiba. Di tepi danau, Sisingamangaraja datang untuk inspeksi terakhir. Diam-diam, dia menyelipkan kantong kulit berisi uang perak ke baju kemenakan tersayang. Dan melonggarkan ikatan-ikatan pada kayu.

Pongkinangolngolan ditenggelamkan namun selamat karena ikatan-ikatan mudah lepas. Dia mengapung di atas air, di atas kayu. Angin membawanya ke Narumonda, hulu sungai Asahan. Dia ditemukan oleh nelayan bernama Lintong Marpaung.

Lintong sangat sayang kepada Pongkinangolngolan. Khawatir keberadaannya diketahui para datu Bakkara, Marpaung membawanya ke Laguboti. Di sana ia dijual seharga 3 ringgit burung, ke Sahala Simatupang, seorang Syanghai Boss. Syanghai-Boss adalah kepala rombongan pedagang.

Sahala berdagang hingga ke Sipirok Sumatera Selatan. Di Sipirok, Pongkinangolngolan menyerahkan 6 ringgit burung –uang dari pamannya – kepada bosnya, agar ia dapat bebas.

Lalu ia bekerja untuk Raja Baun Siregar. Juragan kuda. Enam tahun bekerja, dia memutuskan merantau ke Minangkabau. Di sini ia bertemu Djamangarait Nasution, penjual kuda beban. Ia diminta mengurus 24 kuda untuk nanti dijual ke Datuk Bandaharo Ganggo. Waktu itu usianya sudah 15 tahun.

Datuk Ganggo seorang ulama. Dia sedang menyiapkan rombongan pergi ke Kamang. Dia akan berjumpa kawannya, Tuanku Nan Renceh.
Di Kamang sedang ada gerakan pembersihan agama Islam. Berawal dari tiga orang haji kembali dari Mekah. Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik. Mereka dari Mazhab Hambali. Mengajarkan agama Islam yang sangat murni.

Dalam perjalanan dari Lubuksikaping ke Kamang selama lima hari, ia mengenal Peto Syarif (kelak Tuanku Imam Bonjol).

Di Kamang, Tuanku Nan Renceh mendengar ia kemenakan Sisingamangaraja X, memintanya dari Datuk Ganggo, untuk bekerja kepadanya.
Oleh Tuanku Nan Renceh, ia dimuslimkan. Namanya menjadi Umar Katab. Ia disekolahkan tentara Paderi dan lulus memuaskan. Ia di bawah komando Haji Piobang, tentara kavaleri yang pernah berperang untuk Turki di Mesir. Waktu itu usianya 24 tahun.

Pongkinangolngolan bergelar Tuanku Rao. Ia disekolahkan ke Siria setelah naik haji di Mekkah. Tahun 1816 ia kembali ke Sipirok dan menjadi Gubernur Militer Tentara Paderi selama dua tahun. Tahun 1821, dalam pertempuran gagah berani melawan Belanda di Air Bangis, dia wafat. Jenazahnya tidak pernah ditemukan. Ia meninggalkan istrinya Zaharah Daudi dan 3 anak.

Begitulah kisah Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Di buku MOP.

itasiregar/05/06/2020

Tags : Buku Tuanku RaoPongkinangolngolanSisingamangaraja XTuanku Rao
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response