close
sunrise-by heiko stein pixabay

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
para orangtua berkatimu membangun dikajo di atas tanah leluhur
setahun tiga bulan kau lahirkan dia seperti anakmu sendiri
seorang pendeta mendaras doa diamini keluarga kerabat handai tolan
hatimu girang istrimu chef penuh cinta merawat perut pengunjung
dengan lobster kukus segar dari danau besar titipan semesta

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
baru tiga bulan usianya dibakar api enam jam rata dengan tanah oleh adik tersayang
dan seorang polisi galau yang mengotori tangannya dengan alat peledak
dengan alasan tak seorang tahu kecuali mereka dan tuhan yang mereka sembah
kau pandangi reruntuhannya seperti kau melihat kematianmu sendiri
para calon pelanggan ratapi nasib tak sempat dilayani buah tangan istrimu

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
satudua polisi jebloskan kau ke penjara dengan dusta kau aniaya alat negara
kau ikhlas dikurung tiga bulan ditemani tatap redup ratusan pasang mata sesama
yang tak kuasa menggapai keadilan karena tak ada uang di tangan
hatimu lebih kuat dari intan kala bertemu udara bebas di hadapanmu
membentang gunung batu yang keras kepala seperti setan

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
kau dan istri tercinta alami getir hidup sementara semangat baja
antara medan balige samosir kau ukur jalanjalan yang menghubungkan
kemanusiaanmu dengan tuhanmu sambil batinmu bertanya kenapa dan kenapa
saudara sedarah mengangkat tumitnya di atas kepalamu hanyutkan kenangan
hangat di rumah ibu kalian menjadi kering tak berbelas kasihan

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
tak mengerti kau tatap mata hakim di depanmu jaksa di sisi kirimu
pembela di sisi kananmu tepekur mencari ayatayat pantas untuk
dijatuhkan kepadamu membiarkan hati nurani tertinggal
kedinginan sunyi di ujung hati sedang kau berpikir dosa menjerat
dan sengsara dunia orang mati telah tiba selagi kau bernapas

ziarah ini memang untuk kau daki dengan kakimu, rudolf manurung
jangan siasiakan udara murni pemandangan suci dari ketinggian milikmu sendiri
jangan percaya suap gemerlap kekuasaan mobil mengilap kepunyaan siapapun
sepertimu, mereka hanya manusia serupa bunga yang hari ini ada besok layu dan tiada
sedang lubuk para musuhmu merana tak dikunjungi cinta tak pernah gagal
biarkan akhir ceritamu elok didengar karena tuhan yang kaupercaya
hapus air dimatamu ganti tawa dimulutmu

puisi oleh ita siregar
foto heiko stein dari pixabay

is/10/07/20

Tags : Ziarah Rudolf Manurung
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response