close

CERITA

CERITACerpenFestival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Natal di Kampung Rote

Natal Di Kampung Rote

Teks Gerson Poyk

Ilustrasi Ersta Andantino

AKU lahir di Pulau Rote yang disebut desa pantai bernama Namodale, bagian dari ibu kota Ba’a, ibu kota kabupaten Rote, (sekarang Kabupaten Rote Ndao). Rumahku sebuah rumah toko yang berderet-deret membelakangi pantai. Di petak ketiga, melalui pintunya aku bisa melihat mercusuar kecil, satu-satunya mercuar di Namodale.

Ibuku seorang bangsawan Rote. Cantik, berkulit putih, rambutnya lurus, tetapi karena kurang tebal ia selalu menambahnya dengan kabaleru (seikat rambut tambahan) agar sanggulnya terlihat lebih besar sedikit. Gadis-gadis bangsawan Rote, setelah tamat Sekolah Dasar, dididik di rumah pendeta orang Belanda, mereka diajarkan beragam pengetahuan yang hampir setingkat SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Setelah pandai mengurus rumah tangga, gadis-gadis itu ada yang menikah dengan guru-guru dan pendeta. Mereka disebut Mama Nyora, Mereka pintar sekali memasak makanan Belanda. Yang paling aku suka adalah masakan babi guling (kata orang Bali) dan juga kambing guling.

Aku suka sekali dengan telinga dan hidung dari babi guling, sebab jika dikunyah akan berbunyi kriuk…kriuk… Di samping itu, ibuku paling pintar membuat kue Belanda dari bahan terigu, mentega, telur, vanili dan kenari yang didatangkan dari pulau Alor. Bila Natal tiba, meja makan diatur rapi seperti meja makan di hotel internasional, walaupun rumahnya berlantai tanah, atapnya dari daun lontar dan ilalang.

Pesta Natal berbeda dengan pesta Tahun Baru. Di hari Natal, Bapak pendeta duduk di kepala meja dan di sebelah kanannya Papa Messen Malang (Bapa Guru Melayu), di kirinya Papa Raja (Manek). Mejanya panjang, di kiri dan kanan duduk rakyat biasa dengan anak dan isterinya. Aku biasa duduk di samping ibu. Khotbah pendeta memakai bahasa Melayu tinggi bercampur dengan bahasa Rote dari jenis syair yang dipelajari pendeta dari Manahelo (nama penyair Rote). Pidatonya rasanya terganggu oleh bau harum makanan, tapi aku masih bisa ingat isi dan arti pidato Bapa Pendeta walau ia memakai bahasa Melayu tinggi. Walaupun aku masih duduk di kelas tiga di sekolah Melayu yang diajar oleh Messe Malay (guru Melayu), namun aku aku bisa menangkap pidato Bapa Pendeta. Pidatonya tertangkap oleh otak Roteku.

Bapa Pendeta mengatakan bahwa manusia di dunia ini berada di bawah kekuasaan Sri Baginda, alias Raja Segala Raja, alias Sengsara Lara. Manusia lahir dari rahim duka nestapa. Mahkotanya Raja Belanda dari Inggris tapi mahkota itu berduri. Ketika seorang lelaki Rote duduk termangu didera lapar keparat di bawah pohon lontar, Seri Baginda Duka Nestapa membisik ke telinganya, “Ambillah haik (ember yang terbuat dari daun lontar), pisau tajam, lalu panjatlah ke atas, sampai di puncak, irislah batang bunga lontar dan akan ke luar nira yang manis dan harum, dengan begitu kau tidak lapar lagi!”

Maka si Ta’ek (lelaki Rote) itu memanjat dan mengiris batang bunga lontar, lalu haik yang penuh nira pun diturunkan. Baru setengah pohon si Taek turun, babi-babi di kandang melihatnya, lalu mereka ke luar dan berkeliaran lapar, seseorang membisikkan telinganya, seolah menyuruh lelaki itu untuk memberi minum pada babi-babi yang sedang lapar itu. Anak-anak dan nenek-nenek pun kebagian air nira. Mereka sudah memasak daging dan sayur kelor (Matungga dalam bahasa Rote, bahasa latinnya Mahina Olivera). Lalu babi dan manusia bisa kenyang atas perintah moral Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri.

Walaupun riwayat derita hidup orang Rote ditulis di atas tanah berselang karang, namun deritanya adalah derita Sri Baginda. Duka nestapa yang memerintah, “Itu air lautmu” masih bisa surut dan segeralah ke pantai, di sana ada latu (rumput laut), di sana ada ikan dan kerang, ada kepiting dan sebagainya, ambil dan masak, makan dan bernyanyi sambil bersesandu, tambur dan gong, mainkan sambil menari kabalai (tarian Rote). Begitulah Sri Baginda Duka Nestapa Mahkota Duri itu pada mulanya memperbaiki otak Rote dan kemudian mengenyangkan perut orang Rote.

Tiba-tiba terdengar bunyi ‘gedebuk’ yang bersumber dari meja makan. Piring dan gelas pecah karena kepalaku membentur meja makan. Aku mengantuk, barangkali karena lapar atau karena pendeta berkhotbah tentang Sri Baginda Duka Nestapa bermahkota Duri terlalu lama? Ibu lalu membawaku ke luar, ke halaman dan menggendong aku sambil bernyanyi :

Bauh doka dodoka langga na

Tana be nem

Benem kamda langga

(Kalung tergantung tidur

Tanah pun hilang

Hilang juga kepala kerbau)

Setelah bangun dari tidur, aku habiskan satu piring nasi dan lauk daging babi guling, aku terguling bersama babi guling….

*

Ayahku tamatan sekolah Melayu Angka Loro. Ayah dipindahkan ke Flores, tepatnya ke Ruteng. Di Ruteng aku dimasukkan ke sekolah dasar tiga tahun, kemudian ke Sekolah Standar Katolik tiga tahun sampai kelas enam, dihitung dari tiga tahun pertama di sekolah dasar desa. Agama Protestan minoritas, yang Protestan hanya beberapa kepala keluarga, termasuk orang Rote dan keluargaku. Meski orang Rote minoritas, mereka tersisip di mana-mana. Kepala polisi di ruteng orang Rote, hakim, jaksa, bestuur asisten, klerk dan beberapa tukang (tukang besi dan kayu) semuanya dari Rote. Beberapa orang rote kawin-mawin dengan gadis-gadis Manggarai (Ruteng).

Hari Minggu kadang aku mengikuti misa secara Katolik, meski sesungguhnya aku Protestan. Sempat terpikir untuk masuk seminari dan kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi. Tapi kemudian, setelah besar aku dituntun oleh filsuf Katolik Jaques Maritain melalui beragam bukunya. Di atas segalanya, yang penting aku dekat dengan Kristus, baik di gereja Katolik maupun Protestan. Walaupun anak-anak Protestan sedikit, terdiri dari anak-anak polisi, beberapa orang Rote dan juga Manado, di hari Natal kami rayakan dengan sukacita.

Di masa penjajahan Jepang, ketika banyak orang tidak punya apa-apa, termasuk pakaian Natal, kami tetap merayakannya dengan penuh rasa bahagia. Terkadang hujan membasahi pakaian yang kami kenakan, di hari Natal tak jarang aku mengeringkan pakaianku yang terkena hujan di depan api unggun yang aku dan teman-teman nyalakan, kami memutar-mutar pakaian itu di atas lidah api sampai kering, tetapi bau asapnya tetap menganggu hidung. Di masa penjajahan Jepang ada wabah tuma, kutu yang tinggal di pakaian yang menyebabkan koreng, aku terkena wabah itu, dan koreng kian berkembang karena gatal dan sering digaruk.

Suatu hari sebelum Natal, aku membersihkan badanku dengan obat koreng yang berbau belerang, lalu mandi di kali dengan sabun cuci. Kulitku tak berbau lagi, tapi lukanya masih terbuka. Untuk mengobatinya, kutempelkan pil kinina yang sudah dihancurkan ke kulitku. Perih dan rasa sakitnya memang luar biasa. Aku berlari sembari mengaduh ke belakang rumah dan kuceburkan badanku sampai pil kinina tepung itu ke luar dari badanku. Sesudahnya aku memakai pakaian berbau asap itu dan pergi merayakan Natal dengan sejuta bau asap, tetapi tubuhku segarnya luar biasa, rasa sakit hilang!

Kami sudah beberapa kali berlatih drama Natal yang disebut tonil. Waktu kebaktian, aku dan teman-teman sebaya, ditentukan menjadi setan. Ada juga yang menjadi orang Majus, Maria dan Malaikat di Padang Efrata. Kami muncul dengan wajah bengkak-bengkak dan muka kami dilebur arang dan pupur putih dari tepung sagu. Kami bernyanyi, nyanyiannya demikian :

Kami adalah setan-setan neraka

Di neraka ada banyak sapi

Banyak uang

Mari…mari masuk neraka

Kak…kak…kak…

Tiba-tiba Bapak pendeta berbisik ke telingaku, “Saya sudah bilang jangan sebut sapi. Nanti Tuan Raja Manggarai tersinggung karena dia suka sapi.” Namun suara Kak…kak…kak… kami dikeraskan oleh loud speaker gereja, sehingga seakan-akan atap seng gereja Protestan itu bergoyang. Yang menarik adalah, tiga orang anak yang memerankan orang Majus nyanyiannya bagus sekali, di antaranya aku. Aku sudah lupa siapa yang menjadi Bunda Maria, bayi Yesus dan malaikat. Barangkali mereka merupakan boneka.

Begitulah hari Natal. Terasa indah di gereja Protestan yang kecil di Ruteng dengan jemaatnya yang juga kecil. Tanpa kue, tanpa minuman, tapi segar. Pulang ke rumah, hanya ada kacang goreng dan kolak. Setelah aku dewasa, aku berlibur ke Ruteng, gereja Protestan tua itu sudah tiada, telah dibongkar diganti baru, tapi kenangan tentangnya tak hilang. Begitu pula rumah bambu yang dibangun oleh ayah dan aku (si kecil korengan berpakaian bau asap). Tapi Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri, menuntun aku berjalan di atas jalan berdebu. Sampai tua perjalanan hidupku penuh debu. Dan Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri memberiku ketabahan, kesehatan dan intuisi kreatif….

*

Cerpen ini termasuk dalam buku kumpulan cerpen Rahel Pergi ke Surga Sendiri (2018)

read more
CERITACerpenTERASWARA-WARA

Saya Tak Hendak Merayakan Natal, Tuan Raus

Dialog dalam Diam

Teks oleh Jasman Fery Simanjuntak

Ilustrasi Dialog dalam Diam oleh Surajiya

 

Sedikit banyak saya mengenalmu, dan saya kagum akan apa yang kamu perbuat untuk banyak orang, Tuan Raus. Setelah tiga bulan kebersamaan kita, saya semakin mengenalmu dan kini saya punya pengertian betapa saya keliru menilaimu.

Tak sepatutnya saya menilaimu, atau menilai siapa pun orangnya. Namun, saya tak bisa melepas pandang darimu, Tuan Raus. Kamu seumpama air segar bagi kerongkongan yang kering. Ketika pendeta-pendeta berkhotbah melulu soal memberikan perpuluhan adalah kewajiban yang tak bisa diabaikan, atau sibuk menambah jumlah jemaat dan proyek pembangunan gedung gereja yang lebih besar lagi, kamu berada pada jalur yang berlainan dari itu. Saya ingat, kamu bilang sedikit dan banyak domba sama berharganya di hadapan Tuhan. Setiap domba adalah domba, tidak peduli dari mana ia berasal. Dan begitulah, saya adalah domba yang butuh gembala. Saya domba; lelaki yang mencintai lelaki adalah domba; perempuan yang bercinta dengan sesama perempuan adalah juga domba; buruh kasar di pabrik yang menuntut agar upah mereka yang sedikit itu ditambahkan adalah domba; orang-orang yang berkubang dalam kecemasan adalah domba; orang-orang yang menginginkan kemerdekaan karena tanah mereka dijajah adalah juga domba. Kami semua, kita semua, adalah domba. Kerajaan Tuhan hadir di sini bagi setiap domba dan semua ciptaan, begitu katamu, Tuan Raus. Dan salahkah saya bila menganggapmu hamba Tuhan yang sebetulnya?

Saya domba yang cemas lagi goyah arah, Tuan Raus. Hubungan saya dengan pacar saya baru saja berakhir. Cinta saya kepadanya memang sedikit berkurang, tetapi saya tahu saya masih mencintainya. Entahlah, barangkali karena saya kelewat khawatir atau tidak sampai hati berbagi kesesakan dengannya. Saya dipecat dari kantor, dan ibu pacar saya tengah dirawat di rumah sakit yang membutuhkan banyak biaya. Saya benar-benar tidak tega menyampaikan unek-unek dan betapa saya tidak tahu lagi bagaimana membayar sewa kamar tinggal saya. Saya sungguh khawatir akan hidup saya esok hari. Saya tidak punya iman seteguh imanmu, Tuan Raus, bahwa Tuhan akan merawat saya. Saya terlalu fokus hanya pada masalah yang menimpa saya sampai-sampai saat itu komunikasi saya dengan pacar berantakan. Kami jadi gampang bersitegang. Kami jadi sering bersitegang hingga mencapai titik jenuh, dan akhirnya kami memutuskan tidak lagi berhubungan sebagai kekasih.

Tak lama setelah itu, saya menghubungimu, Tuan Raus. Saya ingin sekali bertemu denganmu dan menceritakan nasib buruk yang mendera saya. Saat itu saya pikir tidak salah memintamu untuk kita bertemu. Saya belum lupa bahwa dalam beberapa khotbahmu, kamu menyisipkan bahwa kamu pernah kuliah psikologi, dan bekal ilmu itu kamu gunakan untuk memahami orang-orang. Oya, sesungguhnya saya berharap kamu bisa membantu saya meneduhkan kegusaran hati saya.

Kita bertemu di satu taman pada petang itu. Seperempat jam kita berputar-putar dalam pembicaraan yang bukan inti; saya berterima kasih sebab kamu sudah menyediakan waktumu yang berharga untuk saya dan mengucapkan beberapa basa-basi lainnya, dan kamu membalas dengan basa-basi pula. Kita memang hidup dalam budaya yang lekat dengan basa-basi. Setelah itu, saya mengutarakan kerumitan saya, dan kamu menanggapinya dengan tenang dan sepertinya tepat semata. “Kita harus terus berupaya merengkuh kerapuhan kita,” katamu, Tuan Raus. “Tuhan mengizinkan kerumitan terjadi pada hidup kita agar kita percaya bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang orang anggap mustahil kita lakukan.” Banyak ucapanmu yang bisa saya tangkap di antara riuh anak-anak muda, tidak jauh dari tempat kita duduk.

Saat itu saya ingin lebih lama lagi bercakap-cakap denganmu, tetapi itu pupus oleh petang yang telah berganti malam. Kamu mesti menjemput istrimu di kantornya, sementara saya harus cukup puas dengan perjumpaan kita.

Saya akui, kecemasan saya berkurang setelah perbincangan kita, Tuan Raus. Pikir-pikir, saya perlu bertemu denganmu lagi. Saya harap kamu bersedia. Namun, sebaiknya tempat pertemuan kita ganti, bukan lagi di taman itu. Sepanjang pertemuan kita terdahulu, saya kerap membagi perhatian antara menyimak omonganmu dan membayangkan orang-orang melihat kita. Kamu tahu, orang-orang telanjur menganggap sepasang manusia dewasa yang berlama-lama duduk berduaan di taman, pasangan kekasih. Saya risih dengan itu, Tuan Raus. Kita bukan sepasang kekasih, dan saya tidak mencintaimu.

Kita bukan sepasang kekasih, tetapi saya telah jatuh cinta padamu. Pertemuan-pertemuan berkuasa menumbuhkan rasa cinta di hati saya. Semestinya saya tak membiarkannya berkecambah. Kamu sudah beristri. Akan tetapi, bagaimana saya harus mengatakannya? Saya tak cukup kuat untuk menghalau rasa, Tuan Raus. Darah saya berdesir saat tanganmu menyentuh saya. Saya dibutakan oleh kharismamu, sehingga apa-apa yang kamu lakukan atau ucapkan betul belaka di mata saya.

“Kita tak boleh terus-terusan seperti ini, Tuan Raus.”

Kamu bersuara, tetapi tidak untuk merespons ajuan saya. “Besok temani saya mengunjungi tapol. Mau, ‘kan?”

Saya mesti bagaimana lagi? Menghindar darimu adalah jalan terbaik, sebab saya tak ingin semakin larut mencintaimu, Tuan Raus. Tetapi, menjadi apa saya nantinya, adakah moral baik saya, bila menolakmu setelah apa yang kamu perbuat dalam membantu saya menanggulangi kecemasan saya. Entahlah, Tuan Raus. Apakah tepat sekiranya mengumpamakan saya, domba yang satu ini, tersesat di padang rumput yang luas?

Pada akhirnya, saya ikut juga denganmu berkunjung ke penjara, tempat lima sahabat kita ditahan. Mereka, yang berasal dari ujung timur negeri berdemonstrasi di barat, diperkarakan makar. Saya kira, siapa dapat merasa, mereka tentu ingin memisahkan diri dari negeri ini. Anak-anak mereka kekurangan nutrisi sementara kekayaan alam mereka terus-menerus digerus; anak-anak muda mereka disiksa bahkan dibunuh manakala berunjuk rasa di jalanan; mereka disebut dan diperlakukan seperti binatang. Ah, saya tak tahan mengungkitnya, Tuan Raus. Saya, yang lahir dan hidup di barat negeri ini, hanya bisa menyumbang rasa kemanusiaan saya buat mereka. Sembari menekan gelora cinta yang mungkin kian tumbuh seiring persuaan kita, sekali dalam sepekan saya bersamamu mengunjungi lima sahabat kita di penjara atau di pengadilan.

Akan tetapi, saya gagal. Makin dalam saya mencintaimu, Tuan Raus.

“Kita tak boleh terus-terusan seperti ini, Tuan Raus.”

“Saya juga jatuh cinta padamu,” katamu, Tuan Raus, bikin saya bergeming. “Saya tahu ini salah.”

Saya bertanya-tanya dalam hati apakah benar kamu jatuh cinta pada saya, sehingga saya kehilangan beberapa pokok ucapanmu. Ah, bodoh sekali saya. Tak sepantasnya saya memikirkan itu.

“Tidak. Kamu tidak boleh jatuh cinta pada saya, Tuan Raus.”

“Saya telah berpikir untuk menanggalkan jubah supaya bisa bersamamu.”

“Jangan pernah menanggalkan jubah untuk bisa hidup bersama saya.” Saya merasakan dada saya mengembang-mengempis begitu cepat. “Dengan jubah itu, kamu bisa mengabarkan kebenaran dari altar gereja, Tuan Raus.”

Kamu menyebut nama saya, Tuan Raus. Kamu menyebut sekali lagi nama saya. Air mukamu seperti air muka istri sahabat kita yang dipenjara. Saya membayangkan serupa itu pula kelak terjadi pada istrimu bila mengetahui apa yang terjadi antara kita tiga bulan terakhir ini.

“Saya tidak mencintainya. Saya tak pernah mencintainya.”

“Jangan katakan itu, Tuan Raus. Istrimu tengah hamil. Ia akan melahirkan anak kalian yang kedua.”

“Dia bukan anak saya. Bayi yang dikandung istri saya itu juga bukan anak saya. Saya tak pernah tidur dengan istri saya.”

Kali ini saya ragu padamu, Tuan Raus. Saya tak tahu apakah saya bisa percaya atau tidak padamu. Di depan orang banyak, kehidupan rumah tangga kalian kelihatan akur-akur saja. Sekarang kamu bilang bahwa kalian tak pernah seranjang, tidak cinta satu sama lain. Kamu juga bilang bahwa kamu tak ingin keluarga istrimu menanggung malu atas kehamilan tanpa suami, hamil yang bukan denganmu, dan karena itu kamu rela menikahi putri mereka.

Begitu rapi kamu memoles keretakan rumah tangga kalian. Ah ya, apakah saya keliru menyebutnya ‘keretakan’? Begitu rapi, sehingga seorang pun tak menyadarinya.

Tuan Raus, segala citra elok tentangmu yang terbangun di kepala saya kini runtuh.

“Saya…”

“Cukup, Tuan Raus!” Saya melakukannya. Saya benar-benar memotong omongan Tuan Raus. Saya tidak pernah begitu sebelumnya.

“Apa yang terjadi di antara kita adalah kesalahan, Tuan Raus.”

“Saya sungguh mencintaimu.”

“Tidak, Tuan Raus. Saya akan pergi, dan kamu jangan mencari saya.”

“Iya, di antara kita adalah kesalahan.” Saya melihat gerak dadamu seperti dada saya. “Sekarang sudah bulan Desember. Saya harap kamu mau ikut merayakan Natal bersama. Kita dan jemaat lain.”

“Jangan menarik saya lagi, Tuan Raus.”

“Kalau kamu menganggap saya menarikmu, izinkan itu saya lakukan untuk terakhir kalinya.”

Saya hanya diam.

“Saya harap kamu ikut merayakan Natal bersama.”

Saya menghela napas panjang. “Saya tak hendak merayakan Natal, Tuan Raus. Saya tak sanggup.”

Kamu menyebut nama saya, kemudian meminta maaf.

*

 

Jasman Fery Simanjuntak lahir dan tumbuh di Sibolga Sumatera Utara. Sejak tahun lalu ia belajar menulis cerita pendek, dan sudah tayang di Basabasi.co, Ruangliterasi.com, Magrib.id.

Surajiya, perupa, tinggal di Yogyakarta.

Keterangan ilustrasi 40x27cm, Tinta dan Cat Air di Kertas, 2020

 

read more
PuisiWARA-WARA

ziarah panjang berbatu seorang bernama rudolf manurung

sunrise-by heiko stein pixabay

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
para orangtua berkatimu membangun dikajo di atas tanah leluhur
setahun tiga bulan kau lahirkan dia seperti anakmu sendiri
seorang pendeta mendaras doa diamini keluarga kerabat handai tolan
hatimu girang istrimu chef penuh cinta merawat perut pengunjung
dengan lobster kukus segar dari danau besar titipan semesta

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
baru tiga bulan usianya dibakar api enam jam rata dengan tanah oleh adik tersayang
dan seorang polisi galau yang mengotori tangannya dengan alat peledak
dengan alasan tak seorang tahu kecuali mereka dan tuhan yang mereka sembah
kau pandangi reruntuhannya seperti kau melihat kematianmu sendiri
para calon pelanggan ratapi nasib tak sempat dilayani buah tangan istrimu

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
satudua polisi jebloskan kau ke penjara dengan dusta kau aniaya alat negara
kau ikhlas dikurung tiga bulan ditemani tatap redup ratusan pasang mata sesama
yang tak kuasa menggapai keadilan karena tak ada uang di tangan
hatimu lebih kuat dari intan kala bertemu udara bebas di hadapanmu
membentang gunung batu yang keras kepala seperti setan

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
kau dan istri tercinta alami getir hidup sementara semangat baja
antara medan balige samosir kau ukur jalanjalan yang menghubungkan
kemanusiaanmu dengan tuhanmu sambil batinmu bertanya kenapa dan kenapa
saudara sedarah mengangkat tumitnya di atas kepalamu hanyutkan kenangan
hangat di rumah ibu kalian menjadi kering tak berbelas kasihan

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
tak mengerti kau tatap mata hakim di depanmu jaksa di sisi kirimu
pembela di sisi kananmu tepekur mencari ayatayat pantas untuk
dijatuhkan kepadamu membiarkan hati nurani tertinggal
kedinginan sunyi di ujung hati sedang kau berpikir dosa menjerat
dan sengsara dunia orang mati telah tiba selagi kau bernapas

ziarah ini memang untuk kau daki dengan kakimu, rudolf manurung
jangan siasiakan udara murni pemandangan suci dari ketinggian milikmu sendiri
jangan percaya suap gemerlap kekuasaan mobil mengilap kepunyaan siapapun
sepertimu, mereka hanya manusia serupa bunga yang hari ini ada besok layu dan tiada
sedang lubuk para musuhmu merana tak dikunjungi cinta tak pernah gagal
biarkan akhir ceritamu elok didengar karena tuhan yang kaupercaya
hapus air dimatamu ganti tawa dimulutmu

puisi oleh ita siregar
foto heiko stein dari pixabay

is/10/07/20

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Elegi Mira Waria

Ill Mira Waria

-setelah membaca Kematian Sang Waria oleh Andreas Harsono

mira waria dituduh mencuri dompet dan telepon genggam
pemilik dompet seorang sopir melapor kepada preman
preman mendatangi mira waria di kamar kos sederhana
diajak ke tempat parkir longroom new priok container
lima ratus meter dari gang salak kontrakan mira waria

di tempat parkir si pemilik dompet melontarkan tuduhan
dua puluh lima sopir kenek kuli angkutan jadi saksi
mira waria terdesak tak kuasa bela diri
preman preman menunjuk nunjuk kepalanya
memukulnya menghajarnya seperti kesetanan
mira waria lemas terjongkok
mulutnya tetap membantah

sampai seorang jagoan menuang dua liter bensin ke kepala mira waria
suaranya keras mengancam hendak membakar
korek api dinyalakan didekatkan ke muka mira waria
diluar perkiraan si jagoan
percik api melompat jatuh di pakaian dan tubuh mira waria

wusss …. api menjalar cepat

seketika api membakar rambut mira waria gundul
wajahnya menyala hingga gosong
sopir kenek kuli angkutan kabur ketakutan
tinggal sang jagoan panik memadamkan api
melepas baju mira waria digeret masuk ke dalam got
gelora api padam lalu

mira waria keluar dari got sendiri dengan tubuh penuh luka
kakinya berjalan gontai terseok nenuju kontrakan sederhana
dia pikir lebih bagus menyongsong mati di kamar sendiri
tapi dia jatuh terduduk dekat satu musala
orang berkerumun mencari tahu mencari bantuan
membawa mira waria ke rumah sakit koja
kala itu adzan bergema sendu di cilincing

esok harinya mira waria memutuskan mati sendiri
meninggalkan kenalan dan kawan kumpulkan sumbangan
empat juta untuk bayar biaya rumah sakit dan tanah kuburan

mira waria merasa tak ada lagi alasan hidup di dunia
setiap hari hanya menunggu berganti
diskriminasi penghinaan penangkapan
negeri ini mencatat delapan puluh delapan persen korban kriminalisasi
terjadi pada manusia seperti mira waria atau transgender istilah ilmiahnya
sudah berlangsung dua belas tahun dan pasti
takkan banyak berubah kecuali peningkatan kekerasan

mira waria tahu tak ada lagi alasan hidup di dunia
dia tak menyesali hidup empat puluh dua tahun
dilahirkan ibu tersayang di makassar
melewati banyak waktu bingung memahami diri
pada ketika ia mampu menamai diri
saat sama keluarga menolak hidup yang dipilihnya
tak ada jalan lain kecuali tinggalkan semua di kampung
kabur ke ibukota tanpa ktp tanpa keterampilan

ia membuktikan ibukota lebih kejam dari ibu tiri
hidup tak mudah hingga ia jajakan diri mudah
sekadar napas lebih panjang hingga esok hari
seperti godot ia menunggu hidup menjadi ramah
tapi manusia sejenis mira waria akan selalu dikepung basa basi gaya negeri ini
empat puluh sembilan produk hukum dan kebijakan bahkan
diskriminasi adalah jerat bagi orang sejenis mira waria dikriminalisasi
undang undang anti pornografi bilang seks sesama jenis menyimpang
aturan agama menghukum mati matian manusia serupa mira waria
dengan cambuk seratus kali dan penjara seratus bulan

di negeri ini manusia serupa mira waria harus paham
bahwa tak ada tempat sejengkal terbuka
bahwa menahan napas tak lebih baik daripada bernapas
bahwa berkata jujur akan menjorokkan ke nista lebih dalam
bahwa berpikir untuk mati adalah paling bijaksana
dunia akan baik-baik saja tanpa seorang mira waria
dunia tak peduli meski wajah kemanusiaannya tercoreng tinta tebal

dalam luka terhina paling mencekau
sendu mira waria merasa tenang
dalam ingatan masa kanak-kanaknya
yang maha tak mungkin tak mencintai ciptaannya
dalam keadilan
dalam kemesraan
maka di dekat rumah tuhan ia rebahkan diri
dia tahu yang maha tak menolak siapa pun seburuk apa pun
seperti dunia menyiksanya dengan segala ancaman surga neraka

yang maha dalam ingatannya
adalah tangan yang mendekap sepenuh rindu
menyambut dengan senyum paling baru
membersihkan luka luka tubuhnya
mengecup amis darah kering di keningnya
menghapus semua kenangan buruk di benaknya
menjadi steril dan suci dan
mira waria tak sempat menangis ketika
tuhan menggendong dan mengayunnya di udara
tuhan yang ia kenang pada masa kanak kanaknya
bukan tuhan yang ia dengar pada masa dewasanya

foto shutterstock.com
itasiregar/13/04/20

read more
BukuCERITAPuisiTERASWARA-WARA

Surga/Neraka Itu Dihadirkan

HMRS

Teks Arie Saptaji*

 

“Anda tidak dapat membaca Alkitab tanpa menyimak pesan Tuhan peduli kepada mereka yang tersingkir, yang terinjak-injak, yang tertindas!” kata Philip Yancey, penulis Amerika yang kerap menyuarakan kegelisahannya atas gereja.

Eko Saputra Poceratu dalam buku puisinya Hari Minggu Ramai Sekali (HRMS), menangkap pesan itu. Sembari mengumandangkan latar Papua dan Maluku, penyair muda ini memberi kredo pada awal buku:

Pada awalnya Tuhan menciptakan kata,/lalu sastra,/ maka kutulis puisi sebagai bentuk/ paling realistis untuk melayani/ yang tertindas.

Menggemakan Doa Bapa Kami, yang memohon agar kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga, Eko dalam Ada Neraka di Papua menyatakan bahwa surga dan neraka itu dihadirkan. Puisi ini mengingatkan kita hidup bukan sekadar untuk antre masuk surga, tetapi berjuang menghadirkan surga di bumi.

Sekalipun neraka itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ ketidakadilan di Papua

 Puisi sebagai Sikap Politik

Puisi-puisi Eko menawarkan dua latar yang jarang dalam khasanah sastra Indonesia, yaitu kristiani dan wilayah Timur Indonesia.

Gaya tuturnya mengingatkan kita pada puisi-puisi balada Rendra. Namun, Eko lebih lugas dan hemat metafora.

Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal,/ sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima,/ siapa yang tiba” (HMRS, h. 24).

Hal paling menyegarkan tak lain kredo kepenyairannya: bahwa Eko menulis puisi sebagai bentuk pelayanan bagi mereka “yang tertindas”. Baginya, menulis puisi adalah sikap politik.

Sastra kita banyak dipengaruhi oleh ideologi Manifesto Kebudayaan (Manikebu) yang mempromosikan konsep “seni untuk seni”, suatu sikap berkesenian yang apolitis. Mengutip cuitan Mikael Johani tentang Manikebu: an ideology that voices not dissent, but a divorce from everyday,  reality that has sterilized Indonesian literature, especially poetry, sucked the politics out of it, and turned it into spineless, hallmark drivel that helps prop up the status quo.

Eko memilih menyempal dan memasuki barisan penyair yang menggunakan puisi untuk menyuarakan sikap politik. Dan, betapa tajam suara yang tersiar melalui kumpulan puisi ini!

Terantuk dan Tersentak

Sebagai orang Jawa yang belum pernah menginjakkan kaki di Papua dan Maluku, saya terantuk konteks lokal. Sageru atau kusu-kusu, misalnya. Apa itu? Mungkin seperti ini rasanya orang Indonesia Timur membaca Pengakuan Pariyem atau puisi-puisi Wiji Thukul.

Saya teringat komentar seorang teman Toraja saat membaca novel saya, Warrior: Sepatu untuk Sahabat. Terlalu Jawa, keluhnya. Tapi, saya tak ingin mengeluh. Saya ingin menikmati dan merayakan keragaman warna lokal, yang menolong saya untuk menengok keragaman Indonesia tanpa perlu beranjak dari tempat duduk.

Sebagai pembaca Kristen, saya tersentak menyimak kegelisahan Eko terhadap gereja dan lingkungannya. Gereja cenderung menyukai puisi-puisi religius ala Hallmark, sejenis yang ditawarkan oleh Manikebu tadi. Orang Kristen lebih suka gambar-gambar elok dengan kutipan ayat atau kata-kata menggugah. Puisi-puisi Eko, sebaliknya, meski dibumbui humor, lebih mirip pil pahit.

Saya tepekur, betapa gereja (baca: saya) lebih menelanjangi dosa-dosa personal, tetapi memalingkan muka dari dosa-dosa sosial. Kita sibuk berebut masuk surga, tetapi alpa berjuang menghadirkan surga di dunia. Puisi-puisi Eko menempelak kecenderungan tersebut.

Mariana dan Maria Zaitun

Salah satu (atau salah enam) puisi yang mencekam adalah Episode Mariana (1) sampai Episode Mariana (6). Perempuan yang mati beranak di Papua  adalah puisi pedih tentang perempuan yang tertindas.

Saya menyandingkan puisi itu dengan puisi Rendra, Nyanyian Angsa. Bagaimana nasib Mariana dalam puisi Eko dan Maria Zaitun dalam puisi Rendra?

Maria Zaitun terusir dari rumah pelacuran, pergi ke dokter yang memberinya suntikan vitamin C, lalu ke gereja. Koster gereja menahannya di luar pintu. Pastor menemuinya untuk menghakimi. Dan Malaikat penjaga firdaus menguntit dengan wajah dengki. Sampai di tepi kali ia bertemu Sang Mempelai. Ia mengalami penebusan dan pembebasan: Pelacur dan pengantin adalah saya. Simul justus et peccator.

Mariana mirip-mirip nasibnya. Ia terusir dari pernikahannya, dikhianati suaminya, dalam kondisi hamil lima bulan. Tanpa uang, ia tersaruk-saruk di jalanan. Naik angkot, seorang lelaki membayar ongkosnya, namun menggagahinya: tanda-tanda sudah tak memihak seorang janda. Ia mendapat pekerjaan di pabrik kayu setelah mandor menidurinya: Dari kasur ke kasur. Mariana mati saat melahirkan, bayinya diadopsi orang.

Berbeda dari Rendra, Eko mengeliminasi kehadiran Tuhan dan gereja dalam puisinya. Tuhan dan gereja hadir saat Mariana dan suami menikah, menguap setelah mereka bercerai. Mengapa Mariana tidak mengadukan nasibnya kepada Tuhan atau gereja? Seandainya Mariana lari ke gereja, akankah nasibnya lebih baik? Atau senasib dengan Maria Zaitun?

 Tenggelam di Jakarta

Pesan kumpulan puisi ini menjadi relevan di tengah kondisi Papua sekarang. Tim Kemanusiaan yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Nduga menyatakan 182 pengungsi meninggal di tengah konflik bersenjata.

“Tingkat pelanggaran kemanusiaan yang terlalu dahsyat. Ini bencana besar bagi Indonesia sebenarnya, tapi Jakarta santai-santai saja,” kata John Jonga, anggota tim.

Ketidakadilan di Papua terekam dalam puisi Matahari Papua. Benar Matahari turun di Papua. Namun, alih-alih menerbitkan harapan, matahari bawa angin dua arah/ arah kemiskinan dan arah ketidakadilan.

Bukan matahari yang mengkhianati mereka tapi kota (baca: Jakarta). Puisi itu menutup diri dengan pahit: matahari memang terbit di papua dan tenggelam di jakarta”. Matahari harapan yang terbit di Papua (di-)tenggelam(-kan) di (atau oleh) Jakarta. Maka nerakalah yang tersisa.

Buku HMRS tipis saja. Namun, ia lantang mengumandangkan suara kenabian. Puisi-puisinya adalah suara kenabian, penyambung lidah kaum yang tertindas.

***

*Penulis dan peresensi, tinggal di Yogyakarta

 

Hari Minggu Ramai Sekali

Penulis: Eko Saputra Poceratu

Penerbit: Bentara

Tahun 2019

Tebal 84 halaman

13x19cm

 

read more
CERITACerpenTERASWARA-WARA

Ingatan yang Ganjil

Ingatan yang Ganjil

Teks & Ilustrasi L Surajiya

Sepertinya ada yang aneh hari ini. Bukan persoalan matahari terbit, embun yang bergulir dari daun-daun ataupun cuaca. Semua baik adanya. Tak ada bedanya dengan hari-hari lain yang aku lalui. Matahari, tetap saja muncul dari timur, air tetap mengalir ke bawah, tumbuh-tumbuhan tetap juga tumbuh sebagaimana biasanya, begitu pula dengan kehidupanku yang terus berjalan: dari pagi, siang, sore, malam, lancar-lancar saja. Tak ada pikiran apapun yang terlintas kecuali apa yang sudah kuputuskan untuk aku lakukan hari ini.

Lalu apa yang aneh?

Yang aneh adalah kiriman WA yang tiba-tiba di saat aku sendiri. Istriku pergi ke pasar dan anak-anak masih di sekolah, belum pulang. WA dikirim sekitar pukul 10 pagi ini, mengagetkanku. Ya, masih pagi bagiku, sebab segelas teh dan secangkir kopi belum diganti. Teh sudah kuminum separuh dan asap masih mengepul tipis di atas kopi, kacang goreng masih kelihatan minyaknya, belum kering.

Aku bilang: WA aneh. Ya, karena selama ini belum pernah terpikirkan olehku bahwa aku akan menerima WA dari seseorang yang tidak tertera namanya. Siapa orang ini? Aku harus memberi nama dalam kontakku. Kalau perlu dengan nama asing. Tapi untuk apa aku menyimpannya? Kalau aku tidak tahu? Tidak kenal? Apa aku namai saja ‘Ana’ yang dalam bahasa Jawa berarti, ada. Ya, Ana mungkin lebih baik, sebagai pertanda bahwa orang ini, ada.

“Apakah kau masih mencintaiku?” Itu bunyi WA-nya.

Nah, apa tidak aneh? Bayangkan saat kamu larut dalam kesendirian, pikiran melayang, belum melakukan apapun selain menyeruput kopi yang masih hangat. Muncul di ponselmu pertanyaan begitu? Tidak tertera namanya, artinya nomor itu belum ke-save atau belum pernah ada. Pasti diri bertanya. Ini nomor siapa? Mungkinkah salah kirim? Bisa jadi orang iseng, pikirku! Coba kalau itu kamu? Pasti juga akan melakukan hal yang sama. Pertama, mencari nomor itu di berbagai group. Mencoba misscall, barangkali salah satu dari puluhan group yang diikuti, namanya ada.

Aku menarik napas, membuat jarak dengan layar ponsel di tangan. Pikiranku mengembara setelah tidak kutemukan nama. Mataku agak sedikit pedih karena berjam-jam mengotak-atik hape.

“Ini siapa, ya?” tanyaku, dan pada akhir kalimat kuberi nama: Mas Yas. Aku pun mengirimkan balasan sama persis seperti yang sering dilakukan banyak orang, yaitu: Ini Siapa? Atau ini nomer siapa?

Sekian lamanya tak ada jawab. Namun satu profil muncul, seorang perempuan yang bersyal merah jambu memandang laut lepas, rambut tergerai, dan buih-buih putih serta gelombang tampak di kejauhan. Tak satu pun pohon besar, pohon kelapa misalnya, hanya gundukan pasir yang berjarak jauh.

“Lihat DP-ku apa kamu masih belum ingat?” begitu balasannya.

Aku membongkar ingatan demi ingatan yang menumpuk dari tahun ke tahun. Tak ada, dalam kotak ingatanku hanya ada abu hitam yang berserak. Tak ada tanda, tak ada gambar, tak ada suara, tak ada secercah di bilik ingatan yang berwarna. Semua telah menjadi abu. Abu-abu!

Aku sadar betul bahwa setelah menikah, aku sudah tidak punya ingatan. Semua hilang, seolah sudah terbakar habis. Memang aku sengaja membakarnya bersama ribuan rasa sakit yang tak kunjung usai, dan dengan sepenuh hati aku ingin lupa. Aku ingin terlahir kembali, hidup baru sepenuhnya dengan keluarga kecilku. Tak ada, tak ada di ingatanku di masa lalu, hidupku sudah mengalir seperti air, berhembus seperti angin, tak ingin sekalipun meninggalkan jejak-jejak yang bisa dibaca.

“Benar, aku ini tidak ingat. Kau siapa?”

“Dasar sombong, bajingan, kurang ajar!”

Membaca balasan itu aku menjadi tersenyum. Sebuah godaan, menguji hati agar tetap tabah dan sabar. Pagi ini, ada orang yang mengumpat tidak jelas. Ditanyai nama juga tidak menjawab. Aku mencoba membayangkan orang ini, namun tetap sulit kuraih wajahnya dalam ingatan. Jujur, aku sudah lupa benar siapa orang ini?

Aku mengurut dada, menahan napas, menjaga pikiran agar tetap jernih, tidak kalut oleh ucapan atau makian, yang sebenarnya tidak perlu aku pikirkan. Bagiku umpatan tidak mengubah apapun. Aku tidak memikirkannya sama sekali, mungkin dia sedang marah dengan impian, harapan, dan keinginannya sendiri.

“Lihat, nih!”

Dari layar ponselku, aku melihat seorang lelaki setengah telanjang seperti mau masuk kamar mandi dengan handuk warna kuning di tangan. Di sudut samping terlihat tempat tidur dengan sprei bermotif bunga-bunga, dindingnya warna kuning dan lantainya marmer agak kecoklatan. Ada kursi yang terlihat dekat cermin. Dari dalam cermin terlihat separuh ruangan kamar itu. Ada AC, tas, serta makanan kecil yang ditaruh dekat lampu duduk di atas meja. Ada dua botol air mineral, dua gelas teh yang masih tertutup, semacam welcome drink.

Aku kembali menyusuri jalan memori yang begitu panjang dan gelap, tak kutemukan satu ingatan pun. Laki-laki itu siapa? Sungguh! Tak ada gambar di pikiranku, yang ada hanya setumpuk keinginan dan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Masa laluku benar-benar sudah mati, sudah terbakar menjadi abu.

“Lihat, nih! Masih nyangkal?” Ia mengirim gambar yang lain ke ponselku.

“Ini siapa?” tanyaku.

“Itu kamu!”

Aku mengambil cermin memastikan apakah itu benar wajahku. Itu aku? Kulihat laki-laki yang sedang berpelukan di bawah pohon besar, di sampingnya air terjun. Mataku bisa membaca sebuah tulisan yang berbunyi, hati-hati licin pada papan kayu di dekat air terjun yang berbatu.

Laki-laki dalam foto itu masih muda, memakai kaus bergaris horizontal, berlengan panjang, rambut pendek disisir ke belakang, dan mukanya cerah tak berkerut. Sementara perempuan yang nampak di sana begitu cantik, matanya bersinar, tangannya halus, lentik.

Berulang kali aku mengamati laki-laki dalam foto. Tak ada yang sama denganku. Kulihat dalam cermin di hadapanku ini. Di sini yang terlihat adalah laki-laki setengah baya, rambut memutih, mata berkerut, ada kumis dan jambang tidak rata.

“Itu bukan aku!” jawabku tegas.

Tidak begitu lama dia mengirim banyak foto lain dan mengancamku. Jika aku tidak mau mengakuinya, dia akan upload dan men-share ke medsos. Sebagian akan diprint dan ditempel di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan di tempat keramaian. Aku malah jadi geli membaca teks yang terakhir itu.

Jam satu siang aku memutuskan untuk istirahat sejenak. Melupakan ingatan orang yang aneh, yang aku rasa amat ganjil. Aku dipaksa harus mengakui foto laki-laki itu. Aneh!
*

Aku terbangun pukul dua siang. Aku merasa ada yang tidak biasa dalam tidurku. Ada rasa gelisah tanpa sebab, pikiran tidak nyaman, dan entah, badan pun terasa gerah. Aku beranjak dari tempat tidur ke ruang depan. Aku melongok lewat jendela, kulihat istriku sudah duduk di teras, memegang ponselku sambil menangis.

Ada apa dengan dirinya di pasar? Kenapa menangis? Aku bertanya dalam hati. Istriku sudah lama kerja di pasar mulai subuh hingga pukul 2 siang.

Aku mendekatinya. Dia menatapku, matanya berkaca-kaca.

“Siapa Ana?” tanyanya.

“Tidak tahu,” jawabku.

“Ini foto-foto siapa dan siapa Ana? Tolong jawab dengan jujur?” desaknya.

“Aku tidak tahu Ana. Tidak tahu juga foto-foto dalam WA itu.”

“Bohong! Pendusta! Lihat, jelas-jelas ini Maria tapi kau beri nama Ana.”

Istriku menunjukkan foto-foto yang sudah ter-download. Meski dia ngotot bilang Maria, aku tetap menjawab: tidak tahu.

“Ini kamu!”

“Bukan, bukan aku!”

“Tukang bohong!”

Dan pyarrrrr … ponsel dibanting, pecah berkeping-keping.

Aku diam, dalam hatiku masih bisa berbisik, “Semoga ini yang terbaik!”
*

Sejak kejadian itu, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Ingatanku berkunang-kunang. Tak ada gambar jelas yang bisa kutangkap. Semua menghilang. Hari-hariku serasa sempurna tanpa hape. Aku menjadi lebih hening, lebih peka terhadap suara-suara alam, bisa menikmati keceriaan anak-anak yang bermain, serta mencermati dan mendengar suara yang datang dan pergi dalam diri.

Beberapa hari terlewati, tenang dan damai.

Sama, pada waktu pagi, sekitar pukul sepuluh juga, ada orang datang dari pasar. Katanya aku dipanggil polisi karena ada dua ibu bertengkar, dan akulah penyebabnya. Aku pun bergegas. Setiba di pasar, aku melihat istriku dikerumuni banyak orang.

“Sudah kubilang, sejak kita menikah, aku ini sudah tidak punya masa lalu. Tak ada yang kuingat selain janji perkawinan, sehidup semati dalam suka maupun duka,” kataku. “Dan kamu …,” aku menoleh seolah ingin minta maaf kepada perempuan di sebelahnya, “Tak usah merasa bersalah dengan ingatanmu yang ganjil. Tapi sesungguhnya, yang lalu sudah mati.”

Orang-orang yang berkerumun mulai pergi, Aku menunduk, dan ketika kupegang tangan kedua perempuan itu, ingatanku kembali. Dua perempuan –istriku dan Maria- dulu, di masa mudanya, mereka pernah pula bertengkar di dekat rel kereta, hatiku pun menjerit, “Kalianlah orang-orang yang kucintai. Tolonglah, jangan bertengkar lagi!”

Kulon Progo, 8 Juli 2019 13:06

Judul ilustrasi Ingatan yang Ganjil

Keterangan:
WA = WhatsApp, aplikasi pesan untuk ponsel cerdas (smartphone)
DP = Display Picture, foto profil di WA, dll.

Tentang Penulis & Perupa
L Surajiya lahir di Kulon Progo, 5 Juli 1974, pendidikan seni diperoleh di SMSR Yogyakarta (1991-1995), ISI Yogyakarta (1997-2005). Aktif menulis dan melukis. Salah satu pendiri Makna Media Para Perupa (2004). Tahun 2007 diundang ke Belanda untuk memamerkan karya puisi dan lukisannya. Ia menulis beberapa buku antologi puisi. Kumpulan cerpennya Aku, Istriku, dan Bukan Apel terbit tahun 2006. Bergiat di Komunitas Api Kata Bukit Menoreh. Tinggal dan berkarya di Studio Gunung, Kulon Progo, Yogyakarta.

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Parade Suci

Gerome_Bethseba

daud

di sotoh istana dua matamu
gagahi batsyeba mandi mulutmu
sumpahi setia anak buahmu

telunjukmu keji menindas
sepotong khilaf jelatamu
aduhai paduka dalam
bisu empat jari menudingmu

jera sesalmu daud
membasuh lubukmu bening
melantikmu raja
hingga keturunan kesatu
kedua keseribu sampai
abadi

salomo

gendam salomo
adalah tujuh ratus istri
tiga ratus gundik
sulamit gadis manis hitam
perigi seribu kidung cinta
cermin sang mahardika
dan mempelainya

musa

kau mengaku berat mulut
kau bilang tebal bibir
tapi firaun tunduk perintahmu
laut merah terbelah hardikmu

itu tongkatnya dalam genggamanmu

yunus

jangan kabur merpatiku
cintailah niniwe
kota menghamba dosa

jangan kabur burung jahilku
ikan besar mengintai
menelan amarah konyolmu
mendamparkanmu ke syeol
liang bawah laut terdalam

jangan kabur pendendam
tebarkan rahmat penuh rahim
kepada seratus dua puluh ribu
tak tahu jarak tangan kanan tangan kiri

jangan merajuk pemberang
ini sebatang pohon jarak
pelipurmu

ayub

menukar kala
benjut
lara
serapah
sendiri
sunyi
hampa
kosong
salib

dengan tujuh anak laki-laki
tiga anak perempuan
empat belas ribu kambing
enam ribu pasangan unta
seribu keledai betina
seratus empat puluh tahun nyawa

catatan
Perjanjian Lama dipenuhi kisah-kisah orang-orang biasa. Respons mereka pada romantika kehidupan menjadikan mereka luar biasa. Daud, Salomo, Musa, Yunus, Ayub. Mereka adalah raja, nabi, tokoh, awam. Spiritualitas mereka menjadi kenangan sepanjang masa. Kelemahan mereka sekaligus kekuatan mereka.

Gambar
Reproduksi imajinasi pelukis Prancis Jean-Leon Gerome (1824-1904) tentang sekuel Daud-Batsyeba. Pada lukisan asli, di sisi kiri gambar tampak Daud di sotoh. (gambar diambil dari electrummagazine.com)

itasiregar/12juli/2019

read more
CERITACerpenTERASWARA-WARA

Sang Kepala Keluarga

Perjalanan Diri

Teks Vitalia Ze*
Ilustrasi L. Surajiya**

Suatu hari datanglah seorang pemuda dari Ermera, kemenakan tetangga ibumu. Dia tinggalkan kampung halaman demi mencari kerja di kota Dili. Katanya ia lelah menjadi petani kopi dan ingin mengubah nasib. Kedatangan pertamanya ke rumah ibumu terjadi berkat ayam jago merah peliharaan kakekmu.

Tiu, ini ayam jago tangguh. Bawa ke arena sabung ayam.Yang lain akan kalah. Uang taruhannya pasti banyak.” Kakekmu tertegun.

Anó , kau tahu ciri-ciri ayam jago, hah? Tidak! Aku memeliharanya untuk kesenanganku saja.”

Dari sini obrolan kakekmu dan pemuda itu mengarah ke banyak hal. Kakekmu merasa nyaman dengan pemuda itu dan menawarkannya minum kopi.

Tak lama ibumu muncul di beranda rumah dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi arabika Ermera, yang wanginya nikmat. Pemuda itu terpesona ibumu yang menoleh kepadanya sekilas sebelum berlalu. Itulah pertama kali pemuda itu minum kopi seduhan ibumu. Dihirupnya wangi kopi itu sedalam-dalamnya sambil memuja ibumu.

Pemuda itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di satu kantor pemerintah. Di sana orang-orang berbahasa Indonesia. Para laki-laki dipanggil bapak dan perempuan dipanggil ibu. Ia tidak lancar berbahasa Indonesia tapi yakin bisa kalau terbiasa. Setiap sore dia bercerita kisah para bapak dan ibu di kantornya kepada kakekmu. Kakekmu terlena. Sore hari kakekmu tidak lagi sehitam kopi kesukaannya.

Kala berbincang, ibumu lewat sambil membawa jeriken plastik menuju mata air pompa seberang rumah. Pemuda itu segera pamit dengan berdalih hari telah sore. Padahal, ia mengincar ibumu dan menawarkan diri memompa air. Ibumu malu dan sungkan. Hari demi hari pemuda itu gencar menggoda dan merayu ibumu lalu menyatakan cinta. Dia melamar ibumu. Ibumu setuju dan meminta pemuda itu melamarnya kepada kakek nenekmu. Mereka setuju. Seminggu kemudian mereka menikah di gereja. Pemuda itu resmi menjadi ayahmu.

Sebulan kemudian ibumu hamil anak pertama. Dirimu. Sembilan bulan berlalu ibumu melahirkan lewat persalinan normal dengan sakit tidak parah. Menurutnya, ia dianugerahi rahmat melahirkan saat ia mengejan kuat sekali dan bayi keluar dengan mudah. Rahasianya, kata ibumu, minum satu dua sendok minyak kelapa sebelum melahirkan.

Rumah ibumu makin ramai dan sesak. Namun itu berlangsung beberapa bulan karena saudara-saudara perempuan ibumu satu per satu menikah dan ikut suami masing-masing kecuali ibumu.

Seharusnya ibumu sudah diboyong ayahmu ke Ermera jika kakekmu tidak menolak mahar pihak keluarga ayahmu. Kakekmu bersikeras ibumu harus tinggal karena dia putri sulung. Sementara adik-adiknya boleh diboyong suami-suami mereka dengan atau tanpa mahar. Keluarga ayahmu marah besar atas keputusan ini. Demi cinta, ayahmu terpaksa menerima keputusan kakekmu dan rela dicaci keluarga sendiri agar tetap tinggal bersama ibumu.

Kini tinggallah ayahmu, ibumu, kakek nenekmu, dua pamanmu yang remaja, dan dirimu yang masih bayi. Awalnya ayahmu mampu menghidupi keluarga. Tapi lama-lama ia kewalahan sejak kunjungan saudara-saudara ibumu menyampaikan recado. Recado adalah pemberitahuan antarkeluarga ketika ada yang meninggal dari keluarga pihak suami atau kerabat, persiapan lamaran, acara adat atau lainnya.

Datangnya sebuah recado berarti permintaan sumbangan dari setiap kepala keluarga. Dalam hal ini ayahmu dan kakekmu sebagai kepala keluarga wajib menyumbang uang dan tais (kain tenun Timor) atau hewan ternak seperti babi, kambing, kerbau. Apabila kakekmu tak cukup dana maka ayahmu harus menambah atau mewakili sumbangan bagi kedua pihak keluarga.

Dan recado bisa datang setiap saat tanpa diduga dengan jumlah tak sedikit. Gaji ayahmu segenggam rupiah dan hanya cukup membeli sekarung beras serta bahan sembako. Sisanya dihemat. Jika gaji tidak cukup sebulan, ayahmu harus pandai berhutang pada atasannya dengan konsekuensi gaji bulanan rela dipotong. Kalau tidak cukup juga maka ayahmu akan berhutang kepada temannya.

Lahirnya anak kedua membuat kebutuhan rumah tangga bertambah sementara gaji ayahmu tetap. Frustrasi, ayahmu mulai minum tua sabu (arak Timor) atau whiski bersama teman-temannya hingga pulang malam karena mabuk berat. Ayahmu mulai rajin merokok sebungkus filter sehari. Awalnya ibumu maklum mengira ayahmu hanya ingin melepas lelah. Kata kakekmu lazim kalau ayahmu begitu. Dia adalah pencari nafkah utama.

Lama-kelamaan ibumu tidak tahan kelakuan pemabuk ayahmu. Ibumu mengandung lagi. Setiap dua hari sekali ayahmu pulang dalam keadaan mabuk dan lebih parah pada akhir pekan. Kadang ayahmu tertidur di tengah jalan dan digotong pulang oleh teman-temannya dan kedua pamanmu yang beranjak dewasa. Merasa malu, ibumu muak. Diambilnya ranting pohon kersen di depan rumah lalu memukul ayahmu sekerasnya sambil mencaci-maki ayahmu. Ayahmu tak membalas. Ia biarkan dirinya dipukul sampai ranting kersen patah. Begitulah rumah tangga ibumu.

Kakekmu yang awalnya diam ikut menegur ayahmu berhenti minum. Ayahmu segan terhadap kakekmu dan mencoba berhenti minum. Akan tetapi ketika ayahmu harus berhutang lagi karena gaji tidak cukup, ia kembali mabuk-mabukan. Kebutuhan harian keluarga membengkak setelah kelahiran anak ketiga.

Setelah menderita batuk-batuk seminggu, kakekmu yang biasanya bekerja sebagai kuli bangunan harus berhenti dan beristirahat di rumah karena saran seorang mantri. Pada malam kematiannya kakekmu berpesan kepada ayahmu agar menjadi kepala keluarga yang baik. Ayahmu hanya tertegun mendengar pesan itu. Kakekmu meninggal dengan senyum damai yang sendu.

Sepeninggal kakekmu, ayahmu kewalahan menjadi kepala keluarga. Ibumu tidak mau memutar otak ikut mencari nafkah. Menurutnya, itu tugas suami dan mengelola hasil nafkah suami adalah tugas istri. Ayahmu meminta ibumu berjualan sembako atau sayuran seperti perempuan-perempuan lain di pasar. Ibumu menolak. Ia tidak sudi menjadi penjual sayur atau pedagang karena merasa terhormat menjadi ibu rumah tangga. Ayahmu kecewa tapi tak sanggup mendebat. Belum genap anak ketiga setahun, hadir anak keempat.

Pada kelahiran adikmu, ibumu dinasihati bidan ikut KB. Kata bidan punya anak dengan jarak dekat berisiko bagi kesehatan. Ibumu bimbang. Dia tidak yakin suaminya akan mengerti dan setuju. Hadirnya anak keempat pun belum mengubah sifat pemabuk suaminya.

Saat anak keempat berusia delapan bulan, ibumu mengandung lagi sambil berharap kali ini anak laki-laki karena sebelumnya semua perempuan. Seperti biasa ayahmu tertekan.Untuk menutupinya, ia mabuk-mabukan lagi.

Meski kesal kepada ayahmu, ibumu bangga pada dirinya setiap tahun melahirkan anak. Ia menceritakannya kepada saudara-saudaranya proses kelahiran anak-anaknya ketika berkumpul di hajatan sehingga saudara-saudaranya iri sebab mereka menanggung sakit berlebihan ketika ibumu tidak. Dipersalinan kelima, ibumu kembali diperingatkan jika jarak kelahiran berikutnya pendek, ia bisa mengalami prolapsus uteri. Sebenarnya ibumu cemas namun segan memberitahu saudara-saudaranya bahkan suaminya sendiri.

Anak keenam sembilan bulan, ibumu mengandung lagi. Kali ini ia resah tapi tidak berani memberitahu ayahmu. Dan ketika anak ketujuh lahir, ibumu mengalami pendarahan hebat. Uterus ibumu menonjol keluar dari vagina karena otot dindingnya melemah. Beruntung dia dan bayi selamat. Namun ibumu harus menjalani histerektomi, operasi pengangkatan rahim.

Sejak itu ibumu tidak lagi mengandung. Nenekmu meninggal. Kedua pamanmu menikah dan tinggal jauh dari rumah. Sekarang tinggal kalian bertujuh bersama ayah dan ibumu. Ayahmu masih mabuk-mabukan dan ibumu masih memukulnya dengan ranting pohon kersen.

Pada suatu hari datanglah aku, pemuda rantau dari Baucau, tetanggamu. Aku datang untuk mencari kerja di kota Dili.

Kedatangan pertamaku ke rumahmu adalah berkat ayam jago merah peliharaan ayahmu. Kusarankan ayahmu membawa ayam itu ke arena sabung ayam dan dia langsung setuju. Di situlah aku berteman dengan ayahmu dan ia menawarkanku minum kopi.

Lalu kau datang dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi arabika Ermera. Kata ayahmu itu kopi kesukaan keluarga kalian. Harumnya benar-benar enak. Aku terpesona kepadamu. Kau tersipu malu dan berlalu. Pertama kali minum kopi seduhanmu, kuseruput sedalam-dalamnya. Ayahmu memandangku dengan tatapan sinis mengejek. Aku langsung salah tingkah.

Aku bekerja sebagai tukang bersih-bersih di satu kantor pemerintah. Di sana orang-orang berbahasa Portugis. Laki-laki dipanggil senhor dan perempuan senhora. Aku tidak berbahasa Portugis tapi bisa belajar. Setiap sore kuceritakan kisah para senhor dan senhora kepada ayahmu. Ayahmu tertegun ceritaku. Katanya itu seperti kisahnya waktu masih muda dulu.

Lalu kau lewat sambil membawa jeriken plastik menuju mata air pompa seberang rumahmu. Kuhabiskan kopiku segera lalu pamit kepada ayahmu.

“Tidak usah buru-buru. Aku tahu ke mana kau akan pergi setelah ini, anó.”

Aku heran atas perkataan ayahmu. Lalu ayahmu menceritakan bagaimana ia melakukan pendekatan kepada ibumu di mata air pompa. Aku jadi malu.

Tidak butuh waktu lama aku mendekatimu, menggodamu, merayumu, menyatakan cinta kepadamu serta keinginan melamarmu. Kau setuju. Ayah dan ibumu setuju. Kita menikah di gereja. Aku resmi menjadi suamimu.

Kau mengandung anak kita pertama dan setelah sembilan bulan ia lahir normal. Katamu sakit melahirkan tidak parah karena seperti ibumu, kau dianugrahi rahmat melahirkan.

Rumah kita ramai dan sesak. Saudara-saudaramu yang masih bersekolah bergantung pada gajiku dan uang sisa pensiun ayahmu yang tidak seberapa.

Seharusnya sudah kuboyong kau kekampungku di Baucau jika keluargamu setuju menerima mahar keluargaku. Seperti kakekmu, ayahmu menolak mahar dan bersikeras bahwa aku harus tinggal bersamamu di rumahnya karena kau putri sulung. Adik-adikmu boleh meninggalkan rumah jika menikah. Keluargaku marah besar atas keputusan ini dan merasa terhina.Tapi demi cintaku padamu, terpaksa kuterima keputusan ayahmu dan dicaci keluarga agar tetap bersamamu.

Sejak itu, tinggal aku, kau, ayah ibumu, empat saudara perempuanmu, dua adik laki-lakimu yang beranjak remaja, dan bayi kita.

Ayahmu mulai batuk-batuk selama seminggu. Dokter menyarankan ayahmu dirawat inap karena komplikasi paru akibat merokok dan minum alkohol.

Pada malam kematiannya, ayahmu memanggilku dan menceritakan kisahnya sebagai kepala keluarga.

“Sekarang, kaulah kepala keluarga selanjutnya, anó. Di tanganmu kuserahkan semua beban keluarga ini. Terima dan jalanilah. Ketika kau merasa tertekan, minumlah tua sabu sampai mabuk. Kau akan lupa masalahmu. Kalau istrimu memukulmu dengan ranting pohon kersen, terima saja. Sekarang aku lepas dari jabatan ini, kepala keluarga. Dan kau, jadilah kepala keluarga yang baik. Kalau kau tidak bisa, jangan lari, karena itu bukanlah laki-laki sejati.”

Begitulah pesannya kepadaku dengan senyum mengejek dan napas serak bak kucing sekarat. Ia tertidur dengan wajah menyedihkan. Aku termenung.

Sekarang akulah kepala keluarga selanjutnya namun aku tidak mau menjalani hidup menyedihkan seperti ayahmu.

Dili-Timor-Leste, April 2018

*

Tiu = om/paman, sebutan hormat untuk laki-laki yang lebih tua
Anó = nak, sebutan untuk anak laki-laki atau pemuda.
Senhor = tuan (bhs. Portugis)
Senhora = nyonya (bhs. Portugis)

*Penulis asal Timor Leste, tinggal di Dili. Ia peserta Asean & Japan Writers Residency and Literary Festival 2016 di Jakarta. Ia menulis dalam bahasa Indonesia namun lebih aktif menulis cerpen dan puisi dalam bahasa Tetun. Novelet pertamanya Knananuk iha Akamutu (bahasa Tetun, Nyanyian dari Akamutu) terbit tahun 2013.

**L. Surajiya, alumni ISI Yogyakarta, tinggal di Yogyakarta. Berpameran sejak 1993. Termutakhir Standing with the Masters, Jababeka Convention Center Cikarang. Pameran tunggalnya di antaranya Silent Conversation, Yogyakarta 2011.

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

balada buat asnat istriku

Joseph Asenath

lalu firaun menamai yusuf zafnat-paaneah, serta memberikan asnat, anak potifera, imam di on, kepadanya menjadi istrinya. –kejadian 41: 45

pengantar:
setelah yusuf menjadi orang nomor dua di mesir, empat bulan kemudian, firaun menyuruhnya pergi ke kota heliopolis –atau on- untuk bertemu potifera (pentephres dalam bahasa mesir), imam tinggi yang sangat dihormati di seluruh mesir.

imam di mesir bertugas hanya di kuil untuk merayakan dewa-dewa. ia bertanggung jawab membuka segel pintu kuil, menyalakan obor di seluruh dinding kuil, mendaras doa-doa, menyalakan dupa, membersihkan patung dewa-dewa dalam kuil (yang terbuat dari emas solid), menaruh pakaian bersih dan perhiasan, mempersembahkan makanan dan minuman, mengatur para penyanyi mencanting lagu-lagu pujian. petang hari, dia membersihkan jejak kaki di lantai kuil, menyegel pintu kuil kembali.

potifera punya anak gadis perawan bernama asnat (as-neith dalam bahasa mesir, artinya favorit dewi neith, asenath dalam bahasa inggris). asnat sangat cantik jelita. banyak putra raja dan bangsawan mesir ingin menyuntingnya. konon putra firaun pun ingin mengawini asnat, dilarang oleh firaun karena menganggap mereka beda status.

imam di mesir hidup sejahtera. asnat tinggal di dekat kuil, di rumah orangtuanya. ia diberitahu oleh ayahnya bahwa yusuf akan datang menemuinya, atas perintah firaun. asnat sangat bersusah hati karena ia sudah mendengar siapa yusuf. yusuf anak yang dibuang oleh keluarga, penggembala domba (pekerjaan yang menjijikkan bagi orang mesir), mantan budak, berselingkuh dengan istri majikan, pemimpi. dia hanya beruntung karena dapat mengartikan mimpi firaun. ia tak sudi diperistri oleh yusuf.

ketika diberitahu bahwa kereta yusuf sudah mendekat gerbang rumah, asnat lari ke loteng. ia mengintip yusuf dari jendela kamar. ia melihat yusuf turun dari kereta kencana yang ditarik empat kuda putih. yusuf mengenakan tunik putih, jubah linen ungu, mahkota dua belas permata. tongkat raja di tangan kanan dan di tangan kirinya ranting zaitun. ternyata yusuf luar biasa tampan. asnat jatuh cinta kepada yusuf pada pandangan pertama.

asnat dipanggil turun oleh orangtuanya untuk bertemu yusuf. ketika yusuf pamit pulang, potifera memintanya untuk mencium asnat, yusuf menolak. dalam tradisi ibrani, tidak diperkenankan seorang laki-laki mencium perempuan yang belum menjadi istri, katanya. kala itulah asnat sadar bahwa seperti dirinya, yusuf pun masih perawan. perjaka tingting.

asnat berusia 18 tahun ketika itu. dan yusuf sekitar 33 tahun. asnat adalah satu-satunya perempuan yang dalam hidup yusuf, seumur hidupnya.
 
balada buat asnat istriku
-dari yusuf, nyanyian

asnat, putri potifera
tinggi semampai tubuhmu
keindahanmu melebihi hator
milik dewi neith engkau
aku datang kepadamu
dengan hati gentar

ini buah tanganku
anggur dan kurma
buah delima bunga ara
dan sepasang merpati
untukmu
 
jangan kau pandang aku
seperti jubah dan mahkota ini
tongkat dan cincin ini
kereta kencana ini
ini hanyalah hiasan firaun
untukku
aku bukan raja muda mesir
aku hanya laki-laki ibrani rudin
yang terusir
dari negeri sendiri
 
aku tinggal di rumah ayahku
di betel tanah yang subur
ayahku seorang pahlawan
melahirkan ribuan ternak
ayahku seorang pendongeng
melahirkan ribuan cerita
heroik masa mudanya
ia seperti allah bagiku
aku aman berada dekatnya
 
ayahku punya dua istri dua gundik
aku anak dari rahel ibuku
saudara laki-lakiku sebelas
satu kakak perempuanku
aku mencintai mereka
mereka mencintaiku
dengan cara mereka
 
memang terbuang aku
memang budak aku
memang terpenjara aku
memang pemimpi aku
namun tak kubiarkan kedua tanganku
mereka-reka yang jahat
karena kuingat pesan ayahku
sepasang mata di tempat tinggi
mengawasiku
 
asnat, kekasihku
di rumah potifar
aku dijadikan cabul
dijebloskan ke sel busuk
namun aku luput
dari azab dan penalti
dari mutilasi
karena allah ayahku allah kakekku
melindungi aku
 
di tahanan
juru minuman raja
juru roti raja
menjadi ikhwanku
mereka bermimpi
dan aku membaca mimpi mereka
lalu juru roti dibebaskan
tapi juru minuman diputus mati
 
dua tahun berlalu
aku dilupakan
tapi ubin sel belum berlumut
ketika firaun telah bermimpi
dan gelisah
karena apa yang ia lihat
 
tujuh lembu gemuk
tujuh lembu kurus
tujuh bulir gandum bernas
tujuh bulir gandum kurus
 
berbekal gelar si penafsir mimpi
aku dibawa ke istana megah
bertemu firaun
kalau mampu membaca mimpiku, katanya
hanya ada dua pilihanmu
hidup seperti raja mesir
atau lenyap seperti kutu busuk
 
kala itu aku berpikir
inilah akhir hidupku
mati terhukum
tetapi asnat, cintaku
allah mengingatku
langit terbuka
angin berembus berbisik ke telingaku
rahasia mimpi firaun
tentang tujuh tahun kelimpahan
dan tujuh tahun kekeringan
sehingga terbebaslah firaun
dari beban mimpi
lalu ia memberiku nama baru
zafnat-paaneah
sebab katanya
allah bersabda ia hidup
 
dan segala kebesaran ini
yang ia berikan kepadaku
begitu agung
begitu mulia
tetapi dibanding kebebasanku
bukan apa-apa
aku diberi kesempatan kedua
untuk hidup bermakna
 
sekarang mari
kita berhadap-hadapan
bimbinglah aku
menjadi seorang kekasih
karena aku tak pernah kenal
apa itu perempuan
 
lagi asnat, istriku
aku bersumpah
takkan mendua hati seperti ayahku
meski ia pahlawanku
karena kau satu-satunya perempuan bagiku
waktu ini
dan selamanya
 
 

Lukisan Joseph & Asenath oleh tidak dikenal, dipamerkan di Staatliche Museen
 

is/17/1/19

 

 

 

 

 

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Tragedi Cinta Dina dan Sikhem

shechem_siezes_dinah

Pada suatu hari Dina
Berjalan-jalan ke Sikhem
Berkenalan kupu-kupu bebungaan kota itu
 
Wajah segar serupa embun
Mata rupawan serupa bulan
Senyum ranum serupa anggur musim panen
 
Konon, sedetik mata Sikhem tercucuk pandang gadis itu
Tertusuk ia oleh panah cinta
Tergiur liurnya
Terpukul-pukul jantungnya
Limbung hatinya tak tahan
 
Marilah, dik, naiklah ke sotoh istana yang dibuat ayahku
Yang membuat kota ini di atas namaku
Kau tengoklah pebukitan hijau di seberang sana
Itulah Gerizim
Gunung penghubung antara langit dan bumi
Dan lihat itu tarbantin
Pohon keramat tempat kami menyembah Asyera, dewi kesuburan kami
Yang di bawahnya kakekmu Abram bermezbah
dari letih hijrahnya
 
Dan Dina tak berpaling dari mulut manis Sikhem
Yang tak henti meneteskan madu
Tangannya mencengkeram lengan laki-laki muda itu
“Aku takkan kembali ke rumah ayahku
Sampai kau ceritakan padaku semua tentangmu
Sebab sakit asmara aku”
 
Pinang gadis itu menjadi istriku, Ayah, seru Sikhem kepada Hemor
Mari kita menjadi saudara, Saudaraku, ujar Hemor kepada Yakub
 
Berembug Yakub dengan kedua belas lelaki di kemahnya
Panas telinga mereka membara
Mendengar penghinaan suku tak bersunat itu
Menginjak-injak martabat mereka
 
“Mari kita beri satu pelajaran orang tak beradab itu,” sumpah mereka
Katakan kita sepakat menggelar kenduri tujuh hari tujuh malam
Asalkan mahar kulit khatan sebanyak laki-laki dewasa
 
Dan, dengan kegirangan meluap
Sikhem dan Hemor pulang ke kota mereka
Di pintu gerbang mereka berkampanye
“Hari ini sejarah baru bangsa kita toreh
Biarlah kitab-kitab mencatatnya
Kita akan merger dengan bangsa yang beradab
Ekonomi politik budaya militer
Kita akan menjadi satu yang besar disegani
Karena itu baiklah setiap laki-laki dewasa
Memotong kulit khatannya masing-masing
Di rumahnya sendiri”
 
Sementara itu dua anak lelaki Yakub
Mengasah mata pedang mereka baik-baik
Dan sepuluh lainnya
Menguatkan hati mereka baja
 
Pada hari ketiga
(ketika laki-laki dewasa kota Sikhem masih kesakitan)
Mereka mendatangi kota itu
Seperti pahlawan pergi perang
Dengan pedang di tangan kiri dan kanan
Simeon dan Lewi
Menebas setiap laki-laki dewasa tanpa kecuali
Sedang sepuluh lainnya
Menjarah kota itu bersih
Menarik Dina keluar dari sana
(Sedang ia menjerit menangisi masa muda Sikhem
Yang mati sia-sia)
 
Yakub, lihatlah
Langit hitam di atasmu
Tanah merah di bawahmu
Kota Sikhem berubah yatim
Ditinggalkan para lelakinya
 
Kau mengundang celaka ke rumah kita, anak-anakku
“Siapa suruh memperlakukan kita seperti kotoran?”
 
O Dina, o Sikhem
Kisah kalian
Bukankah kitab-kitab sudah mencatatnya?
 
Gambar diambil dari Wikipedia
 

is/15/1/19/

read more
1 2 3 6
Page 1 of 6