close

Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

FeaturedFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018OASETERAS

Kekristenan dalam Sastra Indonesia: Aspek Lintas Budaya*

hari-unduh-unduh.foto antara

Teks disarikan dari pidato oleh Melani Budianta

Ketika Sabda menyeruak menjadi daging, masuk dalam keseharian melalui perantara bahasa. Bahasa memiliki tatanan nilai serta cara berpikir khas, yang berbeda dari satu budaya ke budaya lain.
Sejarah kekristenan di Indonesia melewati banyak bahasa. Sedikitnya pada masa-masa awal bahasa Aramik, Ibrani, Yunani, Latin. Kemudian bahasa-bahasa Eropa. Lantas Asia. Barulah bahasa Indonesia. Lebih lanjut bahasa-bahasa suku yang ada di Indonesia.

Penerjemahan bahasa adalah penerjemahan budaya.

Penyebaran kristiani pun memakai jalur emporium Romawi. Dari Eropa ke Asia. Mereka datang bersama ekspansi ekonomi dan politik. Kekuasaan dan senjata. Termasuk relasi kuasa.
Tentang relasi kuasa yang datang satu paket dengan budaya, telah ditangkap oleh mata jeli Subagio Sastrowardoyo, dengan puisinya, Afrika Selatan.

Kristos pengasih putih wajah
-kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja
Orang putih bersorak, “Hosanah!”
dan ramai berarak ke sorga

Tapi kulitku hitam
Sorga bukan tempatku berdiam
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan

Sinterklas, salah satu warisan dari Belanda pun kita lestarikan. Piet hitam membawa karung dan sapu lidi. Tugasnya memasukkan anak-anak nakal -yang hitam- ke dalam karung. Tuan sinterklas memberi hadiah kepada anak-anak baik -yang putih.

Tema Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku dalam Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ini semestinya menggugat semua praktik yang memperlakukan sesama secara berbeda. Karena kita melihat keragaman disuntikkan oleh cara pandang yang eksklusif. Menonjolkan etnosentrisme, melihat yang lain berdasarkan bias-bias dan nilai-nilai kelompok.

Tahun 2009 saya mengikuti forum Internasional mengenai sastra. Seorang pakar dari Italia (baca: Eropa) mengeluhkan bahwa seni kristiani mulai luntur. Peserta dari Afrika, Jepang, dan saya dari Indonesia, mempertanyakan seni kristiani yang mana yang dimaksudkan oleh si pakar?

Gereja-gereja di Eropa memang waktu itu telah ditinggalkan oleh kaum muda. Namun di belahan bumi yang lain seni kristiani sedang hangat bersemi. Bila kita berkeliling ke desa-desa di Tomohon, Manado, Jawa, Papua, kita akan melihat ekspresi kristiani yang berbeda. Di Bali misalnya, kita melihat kristiani bercorak hindu. Di Jawa ada Wayang Wahyu. Di Jakarta ada Keroncong Tugu -campuran Portugis, Sunda, Arab, dan yang lain. Di desa Mojowarno, Jombang Jawa Timur, ada tradisi undhu-undhu, mempersembahkan hasil bumi ke gereja pada saat panen raya.

Semua itu adalah kesenian. Praktik agama yang mengakar pada budaya lokal. Suatu hibriditas terjadi. Dominansi lukisan-lukisan senirupa barat melebur dalam dinamika lintas budaya dan mewujud aspek-aspek kristiani. Kita tidak hanya mengagungkan yang megah, mewah, gigantik, seperti di Barat. Dengan internalisasi etnosentrisme, kita pun menerima kesedehanaan patung Bunda Maria dari Pohsaran, Kediri Jawa Timur. Itulah keragaman yang merefleksikan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku.

Penyair WS Rendra juga pernah menggugat relasi kuasa melalui sajaknya, Nyanyian Angsa. Puisi itu berkisah pelacur yang diusir oleh majikan karena terkena raja singa. Malaikat maut tidak tersenyum kepadanya. Dokter menolaknya karena ia tidak mampu bayar. Pastor menganggapnya melulu dosa. Dan pada titik terendah, ketika tak seorang pun mau menerima, ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan. Yang memeluk dan menciumnya tanpa mempertanyakan identitasnya. Ketika jiwa mereka bersatu si pelacur mengetahui bahwa tangan dan lambung laki-laki itu terluka.

Sekarang kita melihat sastra menjadi menjadi suara hati. Dengan sastra kita dapat menggugat diri kita sendiri dan praktik-praktik kuasa yang terjadi di sekitar kita. Mengkafir-kafirkan orang lain, merasa lebih suci daripada yang lain, sama dengan melupakan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku. Lukisan dan puisi Babel yang dipamerkan dalam Festival ini (karya Setiyoko Hadi, Red) menceritakan keadaan kita sekarang dengan baik. Bahwa masyarakat kita sekarang memberhalakan identitas dan agama di atas Tuhan itu sendiri. Kita mengkotak-kotakkan demi kepentingan eksklusivisme dan kepentingan masing-masing.

Bagaimana kita mampu melihat wajah Tuhan dalam wajah orang beragama lain?

Ibu Teresa dari Kalkuta telah memberi contoh yang indah. Mata spiritualnya mampu melihat orang-orang paling miskin yang sekarat seperti ia melihat wajah Tuhan. Ibu Teresa telah melakukan hal baik bagi kemanusiaan melampaui agaman dan suku dan golonga.

Di paroki tempat saya beribadah, saya melihat Romo Marini mengutip dua puisi sufi saat sakramen penguatan. Romo Marini yang sudah tinggi spiritualitasnya mewujudkan wajah Kristus pada wajah orang lain. Dan ia mampu melihat orang yang berbeda agama dan tinggi spiritualitasnya memiliki semangat yang sama.

Puisi sufi Abu Yazid

Lebih kupilih dirimu ketimbang rahmat dan kemurahanMu
Engkau sendirilah yang kudambakan
Kepadamu aku ingin sampai
Bukan yang lain
Datanglah kepadaku dan jangan membawa apa pun selain diriMu
Jangan menarikku untuk hadiah murahan atau yang lain
Membawa apa pun selain diriMu

Puisi sufi Rabi’ah al-Adawiyah

Ya Allah, jika aku menyembahMu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Jika aku menyembahMu
karena mengharap Surga
campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

Juga puisi DukaMu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, sastrawan nonkristiani yang menangkap inti kekristenan yang kita imani.

DukaMu Abadi

prolog
masih terdengar sampai di sini
DukaMu abadi. Malam pun sesaat terhenti
Sewaktu dingin pun terdiam, di luar langit yang membayang samar
Kueja setia, semua pun yang sempat tiba
Sehabis menempuh ladang Qain dan bukit golgota
Sehabis menyekap beribu kata, di sini
Di rongga-rongga yang mengecil ini
Kusapa dukaMu juga, yang dahulu meniupkan zarah ruang dan waktu
Yang capai menyusun Huruf. Dan
terbaca: sepi manusia, jelaga.

Atau Chairil Anwar dalam sajaknya, Isa.

kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Dengan contoh-contoh di atas kita dapat mengatakan bahwa kekristenan lintas budaya mengembangkan karya sastra. Seni memanggil kita untuk membuka diri, merangkul yang lain, memahami yang lain, mengembangkan komunikasi yang lintas bahasa, lintas kelompok selera, lintas identitas, lintas sekat-sekat.

Sekarang, bagaimana mentransfornasi yang kristiani itu menjadi roh penggerak kemanusiaan yang relevan bagi semua orang. Bukan untuk kelompok sendiri saja.

Pramoedya menulis, “Kegiatan agama seyogyanya bukan untuk menarik pengikut dan beribadah, memuja hal-hal yang dianggap kudus belaka tetapi ia harus menciptakan koral agama, agar kegiatan itu tidak menjadi tandus bagi pergaulan bersama. Pergaulan lintas komunitas, pergaulan meng-Indonesia, pergaulan bhineka tunggal ika.”

Kita melakukan semua itu bukan karena agama menyuruh tetapi karena kesadaran dan tanggung jawab demi terciptanya pergaulan antarmanusia yang selaras.

Itulah makna Sabda menjadi daging. Yang menggerakkan semua potensi bahasa dan budaya untuk mewujudkan Tuhan yang membumi. Tuhan yang berpihak kepada yang lemah. Tuhan yang menemani manusia dalam penderitaan, dan Tuhan yang membangkitkan.

*Disampaikan pada pembukaan Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 pada 23 Agustus 2018 di Grha Oikoumene PGI.

Foto dari kantor berita Antara

read more
FeaturedFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018TERAS

Lukisan Aku dalam Kamu dan Takdirnya

Lukisan & David Tobing

Jumat itu (21/9) langit Jakarta mendung. Di beberapa wilayah hujan deras. Sedianya pukul 10 pagi kami bertemu. Setuju mundur demi keamanan lukisan dari hujan dan turunannya, pertemuan menjadi pukul 1 siang.

Destinasi kami rumah David Tobing. Dia seorang pengacara perlindungan konsumen. Dia baru saja membeli satu lukisan dari Pameran Lukisan di Festival.

Mewakili Panitia Festival, kami bertiga datang. Abdiel, Setiyoko Hadi, pelukisnya, dan saya. Setiyoko berangkat dari Cinere memboyong lukisan Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku (AdKKdA). Lukisan berukuran 120 x 280 cm itu ajeg di atap mobilnya.

“Lima tahun saya mencari lukisan ukuran besar untuk di sini,” aku David Tobing, ketika kami bersama memperhatikan pemasangan pada dinding ruang makan lantai 2, di kediamannya, di bilangan Sentul.

Rumah Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) ini hanya ditinggali akhir pekan. Bernuansa Bali dan berornamen Batak pada beberapa sudutnya. Bagian muka rumah terpajang gorga yang menandai kebatakan dan profesi pemilik rumah. Pada gorga diukir neraca. Pada neraca tertera Amsal 11:1 pada sisi aksara Batak. Di bawahnya tertulis Sitiop Dasing Na So Ra Teleng. Artinya, pemegang timbangan yang tak kunjung oleng.

Ayah tiga anak ini mengaku tidak fanatik benda tertentu untuk mengisi rumahnya. Saat bepergian di dalam negeri atau luar negeri, ia hanya membeli benda yang dirasanya cocok ditempatkan di rumah keduanya itu. Sembilan jam dinding manual ia kumpulkan dari belahan dunia. Perisai beragam model. Lampu-lampu dengan lukisan kontemporer dari Paris. Lukisan 31 dari seratus pintu dari Turki. Pintu bermotif Madura. Kayu-kayu bekas rel kereta.

Lukisan AdKKdA istimewa karena judulnya mengilhami tema Festival. Pada ruang kanan lukisan adalah wajah Yesus yang diilhami Ecce Homo (Behold the Man) karya pelukis Spanyol Elias Garcia Martinez (1858-1934). Pada ruang kiri kira-kira dua pertiga ukuran, terpampang 60 wajah “lain” Yesus ukuran kecil. AdKKdA dipamerkan selama dua minggu bersama 36 karya lain di Festival.

Setiyoko mulai memikirkan AdKKda sekitar tahun 2015. Sempat terhenti melukis karena mengurus hal lain. Bila dipadatkan, dua bulan waktu yang ia habiskan untuk melahirkan AdKKda. Berawal dari rasa penasaran tentang bagaimana wajah Yesus sesungguhnya. Mengumpulkan wajah-wajah Yesus yang dilukis oleh pelukis belahan bumi mana pun. Dan tak satu pun sama. Dalam proses itu ia memahami makna kemahahadiran Tuhan. Bahwa kehadiranNya berbeda dan dipahami berbeda oleh tiap individu (baca: tiap budaya).

Bagi David Tobing, ketertarikannya pada lukisan itu sederhana. Selama pencarian ia tidak berpikir akan “berakhir” dengan wajah Yesus. Di lobi Grha Oikoumene PGI, tempat ia tidak sengaja lewat, ia melihat masa depan lukisan. Waktu itu pameran sudah selesai. Lukisan-lukisan sudah diturunkan dari panel.

AdKKda telah memilih David Tobing. Begitu pula sebaiknya. Menurutnya, penampilan beragam wajah Yesus adalah gagasan berani. Dan seyogyanyalah melihat wajah Yesus adalah dengan memandang sesama dari berbagai latar belakang.

Pelukis dan pemilik lukisan sama-sama berbagi senang. AdKKdA siap dinikmati dan ditafsir siapa pun yang mampir ke rumah eklektik sang pengacara. (is/26/9)

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Puisi

Babel *

IMG_20180904_074708 (1)

gerbang para dewa
markah kekacaubalauan
syahwat
yang tak pernah manusia
lupakan

setelah petaka banjir mematikan itu
elohim berjanji takkan lagi bah
menghukum bumi

lalu sem
ham
yafet

ham melahirkan kush
kush melahirkan nimrod
pertama manusia terkuat di bumi
istrinya simeramus
jalan menuju neraka

700 tahun kemudian
ke negeri timur mereka pergi
di tanah Sinear
mari kita buat menara tinggi
surga kita sendiri
kata nimrod

satu bahasa mereka
membakar bata seperti batu
tanah liat sebagai perekat
di atas tanah datar segi empat
selama seratus tujuh tahun
mereka berpeluh keringat
mendirikan bata demi bata
dua puluh lima gerbang
seribu pintu
warna merah tua
hingga 2484 meter menjulang

namun di menara tinggi babel
hanya bertemu kediaman roh-roh jahat
persembunyian roh najis
tempat bercabul
sampai elohim turun dari surga
melipatgandakan lidah mereka
tak lagi satu
melainkan tujuh puluh dua
bahasa

15 untuk yafet
30 untuk ham
27 untuk sem

betapa kacau
betapa balau
syahwat itu

sudah rubuh babel
sudah rubuh babel

dan hari ini
jutaan tahun kemudian
kami kerasukan roh
gerbang para dewa
markah kekacaubalauan

kami membangun kembali
babel
si menara tinggi
dengan kebiasaan kami
ritual kami
bahasa kami
agama kami
demi kami
kami

betapa kacau
betapa balau
syahwat itu

dan di tepi-tepi sungaimu, babel
kami hanya duduk dan menangis
bila mengingat Zion

itasiregar/18/8/18

*puisi ini dibuat untuk lukisan Setiyoko Hadi yang diberi judul Yang Diserakkan. Perupa merasa menara Babel sebagai simbol dari kemampuan manusia purba untuk melawan Tuhan, yang tetap relevan sepanjang masa. Telepon sebagai simbol dari sebuah komunikasi dua arah. Posisi gagang yang terjatuh di lantai mengisyaratkan putusnya sebuah komunikasi. Kemampuan manusia membangun menara yang menjulang sampai ke langit digambarkan susunan bata yang memenuhi seluruh bidang kanvas. Tidak digambar sesuatu yang kokoh melainkan seperti sesuatu yang mudah runtuh. Yang diserakkan adalah cara Tuhan menyadarkan akan keberadaannya di hadapan kekuatan Tuhan

read more
AcaraFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Penutupan Festival & Pengumuman Lomba-Lomba

Header GForm Diskusi Panel

Akhirnya Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 berakhirlah. Perhelatan tiga hari ini ditutup dengan keriangan Poetry Slam yang diadakan di Grha Oikoumene PGI.

Selamat kepada penulis Yuditeha asal Surakarta yang malam itu diumumkan sebagai pemenang Lomba Menulis Tokoh Tradisional. Juri menetapkan tidak ada pemenang untuk Lomba Menulis Resensi Buku.

Festival Sa-Pa Kristiani 2018 mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi sehingga Festival ini dapat terselenggara. Kepada volunter, para pembicara, dan para donatur.

Terima kasih kepada Ketua Umum PGI, Ibu Henriette Hutabarat-Lebang, yang telah berkenan membuka Festival. Terima kasih kepada Romo Mudji Soetrisno yang telah menyampaikan refleksi tema yang menggugah. Kepada Ibu Melani Budianta yang telah memaparkan Kekristenan dalam Sastra Indonesia: Aspek Lintas Budaya.

Panitia memuliakan penulis senior Andar Ismail di Jakarta dan perupa senior I Ketut Lasia di Bali pada Festival kali ini.

Festival berterima kasih kepada para pembicara – Ayu Utami, Anwar Tjen, Aurelia Pasaribu, Bandung Mawardi, Benni E. Matindas, Cathy Roslinda dan tim, Dedy Tri Riyadi, Dhita Hapsarani, Eka Budianta, Eko Saputra Poceratu, Herdiana Hakim, Iksaka Banu, Jeli Manalu, La Vita Oppusunggu, Na’imatur Rofiqoh, Riris Toha Sarumpaet, Samuel Mulia, Sihar Ramses Simatupang.

Terima kasih kepada kurator Eddy Soetriyono dan para perupa – Angga Sukma, Alvon, JT, Bambang Priyono, Daniel Priyanto, Daniel Nugraha, Deni Katili, Febrantonius Sinaga, Gde Sukana, Gogor Purwoko, Hayden Tanis, Heru Susanto, Inno Angga, Indra Gunadharma, Kathleen Emanuel Wijaya, L. Surajiya, Made Suparta, Mudji Sutrisno, Robinson Simarmata, Sri Hardana, Setiyoko Hadi, Timotius Suwarsito. Wisnu Sasongko, Zakaria Hafid.

Festival Sa-Pa 2018 dimulai 23 Agustus sampai 25 Agustus 2018 dan pameran Lukisan SERUNI sampai 6 September 2018.

Sampai jumpa pada Festival tahun depan. Tuhan memberkati.

 

Panitia Festival Sa-Pa 2018

Pelaksana

Ketua:                                      Ita Siregar

Wakil Ketua:                          Abdiel Fortunatus Tanias

Sekertaris:                              Olivia Susan, Yessica Kansil

Bendahara:                             Nosen Carol

Acara:                                      Olivia Elena, Dina Tuasuun, Agatha, Keke Aritonang, Setiyoko Hadi

Logistik & Perlengkapan:    Erna Manurung, Richard Riruma, Ryan, William Wahyu

Humas & Publikasi:              Syarif Oppusunggu

Desainer:                                 Rae Hutapea, Meiliana Mulyani, Andes Vergia, Yoel Kevin Moeljono

Sie Dana:                                 Carmelia Sukmawati

Koordinator Volunter:         Dina Tuasuun

 

Pengarah 

  1. Gomar Gultom
  2. Dharma E. Hutauruk
  3. Eka Budianta

 

Sekretariat:

Biro Pemuda Remaja

Grha Oikoumene PGI Lt. 3

Jalan Salemba Raya No 10, Jakarta Pusat

 

Rekening Panitia

Bank BCA no 5730-406-888 a/n. Yayasan Komunikasi Bina Kasih

 

Kontak

Olivia Susan 0812-8702-2316

Email: festivalsa.pa2018@gmail.com

Website  Litera.id/Festival Sastra & Rupa Kristiani

 

Penyelenggara Bersama

Biro Pemuda Remaja PGI

Litera.id

SERUNI (Seni Rupa Kristiani)

Lembaga Alkitab Indonesia

Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta

Penerbit Bina Kasih

Penerbit BPK Gunung Mulia

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Penulis & Perupa

Benny E. Matindas

Foto Benni E Matindas
Lahir 1955 di Manado. Sejak remaja ini menulis puisi, cerpen, esai dan tayang di media di Jakarta, Manado, Bandung, Yogyakarta, Surabaya. Buku-buku puisi Tahlillahirillahi (1978), Tadah-Lidah (1985), Hari Penentuan (antologi puisi bersama M.S. Hutagalung dan Shaut Hutabarat, 1986), kumpulan esai Trifacet Kesenian Daerah, Kesenian di Daerah, dan Daerah Kesenian (1979); naskah drama Pulang-Pulang (1976), Sang Masingko & Amanat Yang Pasti (1978), Rasul Ditangkap Karena Sifilis (1978), Bumi Kita Kusta (oratorium, 1977), Mazmur Tempurung (opera, 1979). Ia menulis hampir seribu artikel dan puluhan buku dengan tema
beragam meliputi filsafat, sosial budaya, teologi, sejarah, ekonomi pembangunan, politik, hukum, perburuhan, dan kritik sastra. Buku-bukunya Paradigma Baru Politik Ekonomi (1998), Negarakertagama-Kimia Kerukunan (2002), Negara Sebenarnya (2005). Ia menulis Meruntuhkan Benteng Filsafat Atheisme Modern (Yogyakarta: Andi, 2010) dan Etika Seharusnya (manuskrip 2015). 
Pada Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ia akan menjadi narasumber pada sesi Sastra Kristen dalam Sejarah Sastra Indonesia pada 23 Agustus 201
read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Penulis & Perupa

Cathy Roslina & Franklin Tempomona

collageo (1)
Cathy Roslinda
Menjadi guru sekolah minggu usia 19 tahun. Ia dilatih pertama kali oleh Lembaga Pelayanan Anak
(LPA) tahun 1999. Ia mengikuti Pelatihan Teaching Children Effectively level 1 kemudian Instructor of
Teachers Level 1 di Jakarta. Tahun 2013 ia bergabung di LPA atau Child Evangelism Fellowship,
lembaga interdenominasi bertempat di Amerika dan berdiri tahun 1937. Sejak berdirinya tahun 1979,
LPA hadir di 26 kota di seluruh Tanah Air.
Franklin Tempomona
Ia mengikuti Training Teaching Children Effectively level 1 tahun 2005. Dilanjutkan level 2 pada 2006.
Tahun 2009 ia bergabung di LPA. Ia telah pula mengikuti pelatihan Instructor of Teachers Level 1 tahun
2011 dan Level 2 tahun 2013. Sejak itu mengajar TCE level 1 & 2 di Sekolah Tinggi Teologia Bina Muda
Wirawan Tangerang.
Pada Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 keduanya akan menjadi pelatih di Kelas Pembina Sekolah
Minggu pada 24 Agustus 2018.
read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Penulis & Perupa

Syarif Oppusunggu

Foto Syarif Op
Mengawali karier sebagai editor dan jurnalis di majalah berita dan rohani seperti Editor, Sinar,
Belanja, Pelita Kasih. Ia terjun ke dunia penerbitan buku dan memimpin beberapa penerbit yang
menerbitkan buku sekolah, umum, rohani. Ia juga membantu usaha pengadaan buku untuk Penerbit
Piranti, Penerbit Duta Ministri, Penerbit Asosiasi Pastoral Indonesia, Penerbit Matana. Sekarang
memimpin Penerbit Bina Kasih (Yayasan Komunikasi Bina Kasih) dan Sekretaris Umum Ikatan
Profesi Pastoral Indonesia. Ia juga pelatih sekaligus asesor penulisan dan penerbitan bersertifikat
BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
Pada Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ia akan menjadi pemandu pada diskusi panel Ayat Tabu:
Dibuang atau Dimanfaatkan.
read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Penulis & Perupa

La Vita Oppusunggu

Foto La Vita
Sejak di sekolah dasar ia gemar menulis cerita. Kumpulan ceritanya Pengorbanan Lilo Lebah ditulis
ketika masih SD, mendapat predikat Sangat Bagus untuk kategori Buku Pengayaan Kepribadian oleh
Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk), Kemendikbud. Sejak usia 4 tahun ia banyak menjuarai
lomba mendongeng dan membaca cerita (story telling). Sebagai juara satu di Lomba Dongeng
Gramedia; Lomba Dongeng Indonesia Library & Publisher Expo; Lomba Bercerita, Fakultas
Psikologi UI; Lomba Dongeng, Fakultas Ilmu Budaya UI; Lomba Bercerita, Festival & Lomba Seni
Siswa Nasional; dan Lomba Bercerita Children Books & Gifts Fair 2011. Sekarang ia duduk di kelas
2 SMA.
Pada Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ia akan menjadi narasumber pada diskusi panel Inspirasi
Pertamaku: Pengarang Muda, pada 24 Agustus 2018.
read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Penulis & Perupa

Sihar Ramses Sakti Simatupang

Foto Sihar 2
Lulusan Sosiologi FISIP Universitas Sam Ratulangi Manado dan Fakultas Sastra Universitas Airlangga
Surabaya. Tahun 1996 ia bergabung dengan Komunitas Gapus dan Teater Puska di Surabaya dan co-
founder Komunitas Rumpun Jerami. Puisi, esai, cerpen banyak tayang di berbagai media cetak. Buku
puisinya Metafora Para Pendosa (2004), Manifesto (2009) dan Semadi Akar Angin (2014). Novelnya
Narasi Seorang Pembunuh (Kumpulan Cerpen, 2004), Bulan Lebam di Tepian Toba (Novel, Prenada
Media Group, 2009), Misteri Lukisan Nabila (Novel, Nuansa Cendekia, Bandung, 2013) dan Lorca,
Memoar Penjahat Tak Dikenal (Novel, 2018). Pernah bekerja sebagai wartawan budaya untuk harian
Sinar Harapan. Kini aktif menulis dan mengajar.
Pada Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018, ia akan menjadi menjadi tutor dalam workshop Menulis
Cerpen dan menjadi narasumber pada diskusi panel Panggilan Puisi
read more
1 2 3 4
Page 1 of 4