close

GAYA

Festival SaPa Kristiani 2020GAYATERASWARA-WARA

Handaka B. Mukarta

Handaka

Menyukai membaca sejak perpanjangan tahun ajaran baru 1978. Saat itu, sekolah terasa santai dan di kelas tempat tersimpan buku-buku perpustakaan SD, ia menemukan kemewahan. Mulai membaca buku-buku sastra saat di SMAN 1 Yogyakarta. Teman sebangnya memiliki koleksi buku-buku kakeknya zaman Soekarno seperti karya Tolstoy, Dostoevsky, Tagore, hampir semua buku Iwan Simatupang, Putu Wijaya. Sampai sekarang masih menekuni kesukaannya membaca berbagai novel. Tinggal di Jakarta.

read more
Festival SaPa Kristiani 2020GAYATERASWARA-WARA

Venerdi Handoyo

Venerdi 2

Penulis.

Lahir dan tinggal di Jakarta. Sebelum mulai menulis naskah drama televisi, film layar lebar dan novel, ia bekerja penuh waktu sebagai editor buletin dan majalah gereja selama dua tahun.

Di Festival ini, ia akan diajak Handaka B. Mukarta untuk membincang novella karyanya Lusifer! Lusifer! yang terbit tahun 2019 oleh penerbit POST Press.

read more
Festival SaPa Kristiani 2020GAYATERASWARA-WARA

Mario F. Lawi

Mario F Lawi

Penyair, Pengajar.

Lahir di Kupang, pada 1991. Belajar bahasa Latin secara formal di Seminari Menengah Santo Rafael Kupang pada rentang 2005-2009. Buku puisinya, Ekaristi, dipilih sebagai Buku Puisi Pilihan Tempo 2014. Ia menerima penghargaan Academia Award 2014 kategori Sastra dari Forum Academia NTT, Taruna Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sejak 2019, ia menerbitkan terjemahan-terjemahan karya sastra para penulis yang menulis dalam bahasa Latin. Beberapa hasil terjemahannya yang telah terbit dalam bentuk buku adalah Elegidia: Elegi-Elegi Pendek karya Sulpicia (2019), Puisi-Puisi Pilihan karya Catullus (2019), Dua Himne karya Sedulius (2019), Ecloga I karya Vergilius (2019), 60 Epigram tentang Puisi dan Penyair karya Martialis (2020) dan Ramuan bagi Wajah Perempuan karya Ovidius (2020).

Ia pengampu rubrik terjemahan situs sastra Baca Petra, editor dan penerjemah penerbit Dusun Flobamora dan pengajar di Seminari Menengah St. Rafael, Kupang.

Di Festival ini, ia akan mengajar di kelas Pelatihan Bahasa Latin dalam dua kali pertemuan, tanggal 20 November dan 28 November 2020, dimulai pukul 10.00 WIB.

read more
Festival SaPa Kristiani 2020GAYATERASWARA-WARA

Fien Sopamena

Fien Sopamena

Rohaniwan.

Sarjana S1 Teologi dan S2 Hukum ini lahir dan besar hingga sekarang tinggal di Makassar. Pemerhati literasi  Kristen ini pertama menjadi pendeta di Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS) Jemaat Pulau Selayar, pernah bertugas sebagai Wakil dan Ketua Sinode dan Sekum MPH di PGI Wilayah Sulselbara. Ia mengurus dua yayasan yang membina pendidikan dasar dan yatim-piatu, pernah mempersiapkan 12  sendratari di Sanggar Messalina dan Sanggar Oikumene.

Di Festival ini, ia akan membahas buku puisi Ia Dinamai Perempuan karya Ita Siregar, pada 16 November 2020.

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Pada Posisi Enak, Masih Perlukah Menjadi Orang Merdeka?

16 istri mengeluh

Menyoal merdeka, tak semua orang tertarik menjadi orang bebas. Sepanjang hidup nyaman tak kurang sesuatu pun, apa masih perlu menjadi merdeka?

Sejarah mengatakan orang Israel kuno tinggal di Mesir lebih dari 400 tahun dan ditindas, hidup kepayahan. Mungkin tidak semua merasakan hal sama. Ketika Musa memberitahu kabar gembira mereka akan keluar dari negeri terjajah ke negeri bebas yang berlimpah susu dan madu, beberapa orang merasa ragu.

Menjadi orang bebas tetapi hidup lebih sulit, untuk apa? Mungkin inilah keluhan seorang istri yang ragu pergi ke negeri yang menjadikan dirinya bebas:

akan menyeberangkah kita suamiku
setelah empat ratus tiga puluh tahun
tanah yang lahirkan leluhur anak cucu kita
gurun pasir oase kotakota
piramida kuil obelisk
cerita dewadewi

akan menyeberangkah kita
tinggalkan rumah home sweet home
sudut dapur yang kita rancang sendiri
kayukayu kursi meja yang kita plitur sendiri
kebunkebun yang kita tanami dengan cinta
jelai mijumiju ketimun bawang prei melon anggur
bir gandum basahi kerongkongan kita nyaman

bagaimana kalau kita rindu sungai nil yang bagaikan ibu
rumah bagi burung heron ibis ikan angsa kadal kuda nil
di tepinya kita duduk melamun segala letih menguap
angin utara yang sapu keringat kita sejuk
panas matahari keringkan pakaian kita
lembah yang memeluk hujan musim panas musim gugur
papirus gelagah dan o teratai air

benarkah negeri terjanji melimpah susu madu
bagaimana kalau itu isapan jempol pemimpin
bagaimana kalau allah kita bukan allah
bagaimana kalau kita jadi tinggal nama
bagaimana

sudah selesai kita pergi sekarang, istriku sayang
kita akan mengenang semua dengan hebat
tak mungkin kita lupakan
katakan selamat tinggal mesir
katakan terima kasih mesir
katakan maafkan mesir
kita pergi sekali
untuk selamanya

Doules membaca larik-larik puisi dan tertarik pada kalimat si istri soal pakaian kering. Akankah tempatku menjemur di negeri bebas kelak selepas dan seluas sekarang?

Tidak ada jawaban pasti. Hidup memang paradoks.

Diambil dari buku puisi Ia Dinamai Perempuan karya Ita Siregar.

Sia kontak WA 0852-0626-6722 atau email diadinamaiperempuan@gmail.com untuk memesan buku.

read more
BukuTERASWARA-WARA

Ia Dinamai Perempuan

Facebook-edit2

Kumpulan Puisi

Buku karya Ita Siregar ini berisi 54 puisi perempuan kitab suci. Masing-masing puisi dilengkapi ilustrasi oleh Doules Nggebu.

1.ibu maria
2.maria dari magdala
3.ratu syeba
4.perempuan tiang garam
5.perempuan yang melawan dengan bungkam
6.abigail
7.mikhal
8.perempuan pemanggil arwah
9.selia, anak perempuan yeta
10.lima anak perempuan zelafehad
11.hawa
12.sifra dan pua
13.herodias
14.perempuan siro-fenisia
15.ester
16.seorang istri berkeluh kepada suaminya
17.putri tamar
18.dina
19.persembahan janda miskin
20.putri bithia dari mesir
21.sara
22.perempuan yang dua belas tahun perdarahan
23.vasthi
24.gomer
25.ribka
26.hagar
27.sara kepada hagar
28.rahel
29.ruth
30.delila
31.perempuan yang kedapatan berzinah
32.perempuan dengan parfum 300 dinar
33.hanna
34.balada adara
35.martha
36.bibi yoseba
37.miryam
38.elizabeth
39.perempuan di sumur
40.janda sarfat
41.izebel
42.yael
43.zipora
44.tamar
45.rahab
46.perempuan kain ungu
47.istri potifar
48.salome
49.yedija binti adaya
50.batsyeba
51.gadis sulam
52.naomi
53.lea, perempuan yang menyewa suaminya sendiri
54.asnat

Pemesanan ke nomor WA 0852-0626-6722 atau email diadinamaiperempuan@gmail.com

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Pongkinangolngolan

Buku Tuanku Rao

There are no facts, only interpretations. –Nietzsche

Turiturian –bahasa Batak- artinya cerita, legenda, dongeng.

Parturi atau bayo parturi artinya story teller. Si tukang cerita. Si pendongeng. Dalam pemerintahan tradisional, parturi termasuk salah satu fungsinya. Dia bisa ahli sejarah atau sastra. Artinya, itu peran yang penting, sebagaimana bupati.

Orang-orang tua zaman dulu menyampaikan pesan, peristiwa, sejarah keluarga, dan lain-lain, secara lisan. Bentuknya bisa kotbah, nasihat, lagu, pantun, dan lain-lain. Para orangtua bercerita kebiasaan ompung dan adat leluhur kepada mereka yang lebih muda. Supaya cerita tak putus. Dan pendengar tidak memeriksa. Apakah fakta atau fiksi. Kisah diteruskan dari generasi ke generasi.

Adalah yang bernama Mangaraja Onggang Parlindungan. Kita singkat MOP. Tahun 1964 MOP menulis buku 700 halaman. Judulnya Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Teror agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833.

Sepuluh tahun kemudian sastrawan Haji Abdul Malik Karim Abdullah alias Hamka juga menulis buku. Judulnya Antara Khayal dan Fakta Tuanku Rao. Buku itu membantah buku MOP. Buku 80% isinya turiturian, kata Hamka.

Lama setelah itu, muncul Basyral Hamidy Harahap. Tahun 2007, mantan dosen Fakultas Sastra UI itu meluncurkan buku berjudul Greget Tuanku Rao. “Saya menulis untuk melengkapi apa yang luput dalam tulisan MOP,” kata Harahap.

Meski banyak orang menyindir tulisan MOP, Harahap berpendapat, toh perlu dibaca karena siapa tahu ada butir-butir berharga dari sana. Memang Harahap menyayangkan MOP membakar dokumen tulisan tangan ayahnya –Sutan Martua Radja- sumbernya dalam menulis buku. Alasannya, itu aib keluarga. Tak elok banyak orang tahu.

“Saya mengambil 10% (dari catatan ayah). Sisanya, biarlah aib itu hanya keluarga yang tahu,” kata MOP.

Apa aibnya?

Mereka adalah keturunan Tuanku Lelo. Ayah dari kakeknya MOP. Algojo kejam tanpa ampun dalam Perang Paderi di Tapanuli (1816-1833). Tuanku Lelo alias Idris Nasution adalah putra ke-6 Haji Hassan Nasution gelar Tuanku Kadi Malikul Adil, pedagang kuda beban. MOP ingin membersihkan nama Tuanku Rao dari yang melakukan itu.

Tuanku (seperti kiai sekarang) Rao adalah gelar untuk Pongkinangolngolan. Ia babere (kemenakan dari saudara perempuan) Sisimangamangaraja IX (1778-1819). Dinasti bermarga Sinambela. Kenapa tanpa marga?

Karena ayah Pongkinangolngolan adalah Gindoporang Sinambela, putra Sisingamangaraja VIII (1771-1788). Ibunya Gana Sinambela, Putri Sisingamangaraja IX. Sinambela vs Sinambela. Ya, mereka inses. Dan itu tabu bagi hukum Batak. Hukumannya dirajam sampai mati.
Tak tega, Sisingamangaraja IX mengusir adik dan pamannya, keluar dari Bakkara. Dalam keadaan Putri Gana hamil, mereka dibuang ke Singkil Aceh.

Di Singkil, Gindoporang bergabung angkatan polisi Aceh karena ia cakap berkuda. (Dinasti Sisingamangaraja terkenal karena punya kuda-kuda yang kuat dan tangkas). Dan ia masuk Islam. Namanya menjadi Muhammad Zainal Amirudin Sinambela. Gana Sinambela sendiri tetap beragama asli Batak.

Anak mereka pun lahirlah. Gindo memberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela. Gana memanggil bayinya Pongkinangolngolan. Diambil dari kata Pongki na Ngolngolan. Fakih yang menunggu-nunggu. Sampai usia 9 tahun Pongki diasuh ibunya, menurut agama ibunya.

Lalu Sisingamangaraja IX wafat di Bakkara. Penggantinya, Sisingamangaraja X (1819-1841), memaafkan kesalahan Gana, saudara perempuannya. Dia mengirim utusan untuk menjemput Putri Gana dan Pongkinangolngolan. Gindoporang tetap di Singkil.

Di Bakkara, Pongkinangolngolan kerap diajak berburu rusa oleh sang paman. Untuk meredakan gosip, Pongkinangolngolan diberi marga Simorangkir. Diangkat anak oleh saudara perempuan Gana, Sere Sinambela. Suaminya Hulubalang Djomba Simorangkir.

Upacara itu diendus para datu. Mereka keukeuh Pongkinangolngolan harus dihukum mati. Alasan, mereka melihat tahi lalat berambut di lidah Pongkinangolngolan. Raja-raja dinasti Sisingamangajara dikenali dengan dilana marimbulu. Ada tahi lalat berambut di lidah. Kalau dibiarkan hidup, bisa-bisa keponakan bunuh paman. Demi kekuasaan. Begitu ramalan para datu.

Meski sedih, tidak ada jalan bagi Sisingamangaraja X kecuali menurut. Bila dilanggar, keseimbangan sosial dan diplomasi Dinasti dipertaruhkan. Masa itu Bakkara sudah berelasi baik dengan banyak pihak luar, untuk berdagang.

Pongkinangolngolan dihukum dengan ditenggelamkan ke danau Toba. Tubuhnya diikat pada kayu dan diberati batu-batu.

Hari yang ditentukan tiba. Di tepi danau, Sisingamangaraja datang untuk inspeksi terakhir. Diam-diam, dia menyelipkan kantong kulit berisi uang perak ke baju kemenakan tersayang. Dan melonggarkan ikatan-ikatan pada kayu.

Pongkinangolngolan ditenggelamkan namun selamat karena ikatan-ikatan mudah lepas. Dia mengapung di atas air, di atas kayu. Angin membawanya ke Narumonda, hulu sungai Asahan. Dia ditemukan oleh nelayan bernama Lintong Marpaung.

Lintong sangat sayang kepada Pongkinangolngolan. Khawatir keberadaannya diketahui para datu Bakkara, Marpaung membawanya ke Laguboti. Di sana ia dijual seharga 3 ringgit burung, ke Sahala Simatupang, seorang Syanghai Boss. Syanghai-Boss adalah kepala rombongan pedagang.

Sahala berdagang hingga ke Sipirok Sumatera Selatan. Di Sipirok, Pongkinangolngolan menyerahkan 6 ringgit burung –uang dari pamannya – kepada bosnya, agar ia dapat bebas.

Lalu ia bekerja untuk Raja Baun Siregar. Juragan kuda. Enam tahun bekerja, dia memutuskan merantau ke Minangkabau. Di sini ia bertemu Djamangarait Nasution, penjual kuda beban. Ia diminta mengurus 24 kuda untuk nanti dijual ke Datuk Bandaharo Ganggo. Waktu itu usianya sudah 15 tahun.

Datuk Ganggo seorang ulama. Dia sedang menyiapkan rombongan pergi ke Kamang. Dia akan berjumpa kawannya, Tuanku Nan Renceh.
Di Kamang sedang ada gerakan pembersihan agama Islam. Berawal dari tiga orang haji kembali dari Mekah. Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik. Mereka dari Mazhab Hambali. Mengajarkan agama Islam yang sangat murni.

Dalam perjalanan dari Lubuksikaping ke Kamang selama lima hari, ia mengenal Peto Syarif (kelak Tuanku Imam Bonjol).

Di Kamang, Tuanku Nan Renceh mendengar ia kemenakan Sisingamangaraja X, memintanya dari Datuk Ganggo, untuk bekerja kepadanya.
Oleh Tuanku Nan Renceh, ia dimuslimkan. Namanya menjadi Umar Katab. Ia disekolahkan tentara Paderi dan lulus memuaskan. Ia di bawah komando Haji Piobang, tentara kavaleri yang pernah berperang untuk Turki di Mesir. Waktu itu usianya 24 tahun.

Pongkinangolngolan bergelar Tuanku Rao. Ia disekolahkan ke Siria setelah naik haji di Mekkah. Tahun 1816 ia kembali ke Sipirok dan menjadi Gubernur Militer Tentara Paderi selama dua tahun. Tahun 1821, dalam pertempuran gagah berani melawan Belanda di Air Bangis, dia wafat. Jenazahnya tidak pernah ditemukan. Ia meninggalkan istrinya Zaharah Daudi dan 3 anak.

Begitulah kisah Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Di buku MOP.

itasiregar/05/06/2020

read more
FeaturedGAYAPerjalananTERASWARA-WARA

Rabu Onan di Bakara

Pulau Simamora

Teks Ita Siregar
Foto Tim Voyage

Seminggu sebelum hari Rabu saya sudah mengajak Tim Voyage Hopper, ke Bakara. Rabu hari pasar (onan) di sana. Kita naik kapal, saya bilang. Lembah hijau yang menawan itu, sudah memanggil-manggil.

Selasa sore kami mengecek ke pelabuhan Balige. Petugas bilang kapal akan lepas jangkar pukul 8, teng. Keberangkatan yang ambisius. Pagi selalu repot. Tim juga belum bangun. Mungkin. Saya tenang berpikir kami akan ber-trail saja.

Kami siap jam 11. Agak telat memang. Matahari sudah sengit. Syukurlah angin sibuk meniup-niup panas.
Dari Balige, motor trail Tim meluncur mulus ke arah Siborongborong. Jalanan bagus. Mesin tak berisik. Saya bisa sandarkan punggung dengan enak ke boks akrilik sesekali, ke belakang. Tim suka mengecek google map-nya. Saya lebih suka bertanya ke orang lewat. Selebihnya, kami setia pada petunjuk jalan.

Dari Dolok Sanggul motor menyentuh mulut Bakara. Setelah ini jalanan akan menurun, terus hingga di lembah, di bawah sana. Di satu ketinggian, kami berhenti. Mendengar deras sungai seperti tertawa. Memandang sawah-sawah malas membentang. Dinding-dinding bukit pinus bikin hati hijau. Lembah Bakara indah tiada tara. Konon, tentara Belanda banyak terjatuh dari kuda yang tergelincir akibat mata kelewat asyik memandang.

Kami mampir ke istana Sisingamangajara XII, di desa Bakti Raja. Kompleks bersih dan rapi. Serba hitam-merah-putih. Penjaga, adalah siapa saja keluarga Sinambela, marga dinasti raja, yang ada di sana. Ramah mempersilakan. Di halaman kompleks satu ompung menaruh sekarung mangga Toba yang sudah masak. Omakku boru Regar, jadi mar namboru ma ho tu ahu, katanya. Saya membeli satu plastic mangga.

Di satu rumah makan yang pernah saya kunjungi, saya berharap makan mi sup. Sayang tidak ada menu itu. Jadi kami makan siang ayam semur dan gulai daun singkong tumbuk. Tim bolak-balik diajak selfi oleh pemilik kedai, yang girang kedatangan bule. Dua putrinya antusias bertanya ini-itu, menyoal Tim. Saya penerjemah yang baik. Ganteng, kata mereka. Setelah saya memotret Tim dan mereka bertiga, beberapa kali, baru kami pergi.

Meski tertutup helm, rambut gimbal pirang Tim nongol. Kebuleannya segera dikenali. Di atas motor, seruan-seruan, Hello Mister, Hello Mister, berulang kali. Tim entah akan mengangkat tangan atau menjawab, Horas!

Kami parkir di depan onan. Seandainya kami tadi naik kapal, maka pelabuhan Bakara persis di belakang onan. Melewati gapuranya, seorang pedagang menawari minuman es kocok. Saya senang karena mereka pasangan penjual yang saya pernah mengobrol banyak. Dulu, si suami bercerita masa keemasan mencari lobster yang tersembunyi di balik-balik karang yang sulit, di tepian Toba. Usaha bagus itu kemudian menimbulkan banyak masalah, banyak perselisihan, dan akhirnya dia tinggalkan.

Kami berjalan lagi. Seorang menghadang jalan kami. Makan pisang goreng kami yang enak ini, katanya. Seribu sepotong. Bah! Enak, murah. Paduan yang sempurna. Di dermaga sederhana, dua kapal mangkal. Segerombolan anak kecil terpesona melihat ada makhluk serupa Tim di dunia ini. Mereka tertawa-tawa menyapa, hello, hello.

Kami melipir keluar pasar. Harus sigap. Masih banyak tempat harus dikunjungi. Hampir ke parkir motor, seorang pemuda memburu. Swandi Marbun, saya tour guide di Bakara, katanya menyalam saya. Matanya tertawa.

“Saya tahu kedatangan kalian dari teman. Kristine Sinambela dari Simangulampe. Katanya kenal Kakak,” katanya. Ah, betul. Saya menghubungi Aril Aritonang, teman Kristine, soal kedatangan saya hari ini.

“Di Homestay Simamora sedang berkumpul petugas Dinas Pariwisata Humbanghas (Kabupaten Humbang Hasundutan). Kalau bersedia, datanglah. Kita diskusi soal pariwisata,” katanya.

Kami setuju. Kami mengekor.

Homestay yang dimaksud oleh Swandi adalah rumah kayu panggung di tengah sawah. Depan-belakang bukit-bukit pinus di kejauhan. Homestay terdiri dari dua kamar, ruang tamu, dapur mungil, kamar mandi. Ada wifi. Ada antena parabola. Kelak saya tahu Dinas Pariwisata telah membangun 7 homestay serupa. Tercanggih persis menghadap Danau Toba.

Kami mengobrol dengan 7-8 petugas, yang antusias. Beberapa berbahasa Inggris dengan baik, bicara dengan Tim. Mereka sebutkan pariwisata yang mereka punya. Tempat kemping dengan sewa tenda murah, rafting, naik ke puncak Gonting, berenang di air jernih, sewa sepeda Rp35ribu per hari.

“Tadi kami ke pantai dekat mess Pemkab. Itu terbersih yang saya lihat selama saya di sini,” kata Tim.
Bakara tidak perlu apa-apa lagi karena dirinya indah. “Kami tinggal memikirkan kegiatan-kegiatan malam agar wisman punya banyak pilihan,” kata salah satu dari mereka.

Kami harus pamit. Kami akan ke air terjun Janji. Air terjun yang cipratan airnya terasa dari radius 50 meter. Kekuatan suaranya menyejuk hati.

Menuju ke sana, jalanan menyajikan pemandangan hebat. Ada pulau Simamora yang seperti menyembul hijau di tengah air danau. Tim beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Kami duduk di batu di pinggir jalan, hanya memandangi semua keajaiban itu.

Lalu kami ke Aek Sipangolu. Sumber air yang konon Raja Sisingamangaraja menancapkan tongkat di Gunung, sehingga mengalir air.

Sudah jam 5 sore. Kami harus cepat kecuali mau disergap gelap. Kami akan mengambil sepanjang sisi danau Toba, ke Muara. Matahari di belakang kami, berwarna emas. Awan-awan menutupi.

Kami balik lewat Sipinsur, jalanan yang membelah hutan. Bau dedaunan muda, segar minta ampun. Dan kami ketemu satu ketinggian lain. Berjejak di atasnya, seperti hendak terbang. Air danau tenang berkilau di sebuah jarak, pulau-pulau kecil diam sendiri. Perlahan matahari jatuh. Tiba-tiba kelabu, pekat. Angin lebih kencang, lebih dingin.

Tim melesatkan kendaraannya. Berlomba dengan angin. Kami tiba di Balige sekitar pukul 7 malam. Turun dari motor, rindu Bakara sudah memanggil.

Oya, tentang Tim Voyage. Dia adalah petualang asal Jerman. Dia bertemu Sebastian Hutabarat di Medan, berencana hanya mampir satu dua hari di Balige, sekarang sudah dua bulan tinggal, karena akhirnya dia punya banyak agenda ini-itu. Sebentar lagi dia akan memulai tur menembus Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, bermotor. Seandainya melihat siluet dengan gambaran yang saya ceritakan di atas, dialah itu. Catatan perjalanannya dapat dilihat di motomundo.de

Seperti diakui petugas Dinas Pariwisata, warga dan PemKab sebaiknya gotong-royong memikirkan banyak kegiatan kreatif agar wisman tinggal lebih lama di Bakara. Tidak asal lewat. Seperti sudah terjadi pada Tim. (is/06/03/20)

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Lapis-Lapis Intertekstualitas dalam Buku Puisi Pelajaran dari Orang Samaria

Kaver Depan Pelajaran Orang Samaria

Orang Samaria yang baik hati (the Good Samaritan) adalah dongeng Yesus untuk murid-muridnya dalam rangka merenungkan siapa itu sesama manusia. Karena pesan universalnya, cerita dengan plot sederhana ini, populer dan mendunia. Kisah ini telah diterjemahkan ke beragam bentuk kreatif seperti cerita anak, komik, film, tari, selain kotbah pendeta di mimbar tentu saja.

Orang Samaria dibenci setengah mati oleh orang Yahudi lantaran mereka warga campuran. Mereka adalah hasil perkawinan dengan warga Asyur setelah mereka kalah perang, dan tinggal di kota Samaria, di utara Yudea. Di sana mereka mengadopsi agama baru dan meninggalkan agama lama.

Dan kebencian itu diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka tidak saling cakap. Tidak saling anggap. Tembok Berlin di antara mereka belum dihancurkan. Sampai ada cerita orang Samaria versi Yesus: Ada seorang Yahudi tergolek tak berdaya di jalan sehabis dirampok, tidak ditolong oleh sesamanya Yahudi, malah ditolong habis-habisan oleh musuh mereka: orang Samaria.

Puisi-puisi dari buku Pelajaran dari Orang Samaria karya Giovanni A.L. Arum ini seluruhnya biblis, artinya, diilhami oleh teks kitab suci.

Ketika penyair menulis puisi dengan meminjam dari teks-teks lain, maka karyanya menumpuk dengan lapisan makna. Bila sebuah teks dibaca berdasarkan teks lain, maka segala asumsi dan efek dari teks lain itu, memberi kebaruan dan mempengaruhi cara orang menafsir teks asli. Itu disebut intertekstualitas.

Alkitab adalah contoh konsep intertekstualitas karena teks dalam perjanjian baru (setelah Yesus lahir) ada dalam perjanjian lama, dengan kemungkinan lapis makna tadi.

Mari kita perhatikan petikan puisi Pelajaran dari Orang Samaria ini.

Di kedalaman dukamu yang porak-poranda

Ingin kukunjungi engkau dengan rindu paling mulia

Di sana, kutuntaskan ibadahku

Dengan cara sederhana

Membersihkan luka-luka cintamu

Dengan minyak dan anggur

Dengan cinta yang melampaui

Sekat-sekat hukum kenajisan

Puisi ini dapat dibaca mandiri tanpa pembaca pernah membaca kisah Orang Samaria sebelumnya. Makna bisa ditemukan melalui latar dan pengalaman pembaca. Barthes (1992) mengatakan bahwa suatu teks bukanlah satu baris kata yang melepaskan makna “teologis” tunggal (pesan pengarang atau Tuhan) tetapi merupakan ruang multi-dimensi berbagai tulisan, yang nyatanya tidak satupun asli, saling bercampur dan berbenturan. Teks adalah kutipan yang diambil dari esensi budaya yang tak terhitung jumlah(di dalam)-nya.

Frase duka yang porak-poranda mudah dipahami sebagai suatu keadaan duka berganda (keadaan membenci secara turun-temurun); yang pada beberapa orang dapat memunculkan rindu paling mulia, yaitu kerinduan hati yang berusaha mewujud setelah banyak kontemplasi; bahwa ibadah dengan cara sederhana yaitu spiritualitas pribadi yang dekat dan intim, yaitu membersihkan luka-luka cintamu, satu tindakan nyata yang dapat melampaui sekadar luka fisik; dengan minyak dan anggur, yang dalam tradisi kitab suci adalah simbol roh suci dan sukacita.

 Coba kita tampilkan satu puisi lain dengan gaya intertekstualitas ini.

 

Iman adalah sebuah siasat jatuh

Ke dalam gaya Tarik-Mu

 

Puisi di atas berjudul Sebagai benih yang harus jatuh. Penyair mengutip perkataan Yesus yang menganalogikan manusia sebagai benih. Bahwa manusia, sebagaimana benih, dapat tumbuh bersemi bila ia jatuh dan pecah di dalam tanah. Kematian yang memunculkan kehidupan baru. Lalu lapisan makna tadi dibenturkan dengan iman, sebuah keyakinan yang utuh dan bulat tak perlu bukti, dengan sifat gravitasi bahwa apa pun benda memang akan jatuh ke bawah. Sebuah temuan yang rajin, bukan?

Sekarang coba yang satu ini.

Cinta pada pandangan berbahaya

Tatapan Tuhan sungguh berbahaya

Jauh lebih tajam dari pedang bermata dua

 

Lagi-lagi penyair menunjukkan ketekunannya dalam menemukan dan menghadirkan suasana intertekstualitas antara sebuah ungkapan kearifan dan baris teks dalam kitab suci.

Dalam buku Divine Love Story (2019), penulis Naek S Meliala, memberi subjudul yang menarik: Dalam permainan cinta, Dia pun kalah. D huruf besar merujuk pada Tuhan. Bab-bab dalam buku itu menjelaskan sebuah konsep (yang gawat) bahwa begitu cinta Tuhan kepada manusia -makhluk ciptaan-Nya, sehingga dalam interaksi untuk mendapat perhatian manusia sepenuhnya kepada-Nya, Tuhan pun menyerah, kalah.

Buku itu mengutip banyak teks kitab suci yang menunjukkan Tuhan menangis, Tuhan menyesal, Tuhan Haus. Intinya, Dia yang Maha Segala dikecilkan oleh manusia yang serba terbatas. Bagaimana penjelasannya?

Pintu maaf Tuhan selalu terbuka bagi setiap manusia yang meminta ampun, berapa kali dan seberapa parahnya pun dosa itu. Sementara pada teks yang berbeda, ada teks yang mengatakan setiap dosa berujung maut. Bukanlah dengan demikian artinya Tuhan berkali-kali menyerah, demi manusia dapat abadi bersama-Nya?

Dalam konteks sekarang, bisa saja hal ini dianggap sebagai sebuah penistaan terhadap ke-Maha-an Tuhan (tunggu saja didemo). Tetapi itulah cinta. Sesuatu yang zahir. Sebuah kegilaan. Seperti penyair yang coba katakan dalam baris-baris puisi ini.

Karena iman adalah lintasan kegilaan

Maka Nuh bersiteguh mengerjakan bahtera

 

Sebenarnya tipis garis antara menggunakan intertekstualitas sebagai perangkat sastra dan menjiplak, bahkan seandainya pun tidak pernah dimaksudkan. Sementara penggunaan intertekstualitas yang kompleks dianggap sebagai alat canggih dalam penulisan. Pemanfaatan intertekstualitas akan melibatkan ideologi, konsep, atau yang lain, cerita atau sumber teks.

Penulisan ulang cerita yang populer dalam konteks modern dapat dipandang sebagai penggunaan intertekstualitas yang berbudaya. Yang pasti, intertekstualitas adalah alat penulisan yang sayang bila diabaikan. Ia membuka kemungkinan dan perspektif untuk membangun sebuah cerita dan menghadirkan makna baru dalam lapisan-lapisannya.

Ada 52 puisi dalam buku ini, namun saya mengambil hanya 4 di sini. Selamat membaca dan menemukan lapisan makna, yang bagi saya telah memberi rasa seperti melompat-lompat atau sukacita yang mengharukan, melihat bagaimana frase kata memberi kepuasan dalam spiritualitas.

 

Pelajaran dari Orang Samaria

Oleh Giovanni A.L. Arum

13x19cm

86 halaman

Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora

2119

 

itasiregar/09/12/19

read more
1 2 3 6
Page 1 of 6