close

GAYA

BukuGAYATERASWARA-WARA

Pada Posisi Enak, Masih Perlukah Menjadi Orang Merdeka?

16 istri mengeluh

Menyoal merdeka, tak semua orang tertarik menjadi orang bebas. Sepanjang hidup nyaman tak kurang sesuatu pun, apa masih perlu menjadi merdeka?

Sejarah mengatakan orang Israel kuno tinggal di Mesir lebih dari 400 tahun dan ditindas, hidup kepayahan. Mungkin tidak semua merasakan hal sama. Ketika Musa memberitahu kabar gembira mereka akan keluar dari negeri terjajah ke negeri bebas yang berlimpah susu dan madu, beberapa orang merasa ragu.

Menjadi orang bebas tetapi hidup lebih sulit, untuk apa? Mungkin inilah keluhan seorang istri yang ragu pergi ke negeri yang menjadikan dirinya bebas:

akan menyeberangkah kita suamiku
setelah empat ratus tiga puluh tahun
tanah yang lahirkan leluhur anak cucu kita
gurun pasir oase kotakota
piramida kuil obelisk
cerita dewadewi

akan menyeberangkah kita
tinggalkan rumah home sweet home
sudut dapur yang kita rancang sendiri
kayukayu kursi meja yang kita plitur sendiri
kebunkebun yang kita tanami dengan cinta
jelai mijumiju ketimun bawang prei melon anggur
bir gandum basahi kerongkongan kita nyaman

bagaimana kalau kita rindu sungai nil yang bagaikan ibu
rumah bagi burung heron ibis ikan angsa kadal kuda nil
di tepinya kita duduk melamun segala letih menguap
angin utara yang sapu keringat kita sejuk
panas matahari keringkan pakaian kita
lembah yang memeluk hujan musim panas musim gugur
papirus gelagah dan o teratai air

benarkah negeri terjanji melimpah susu madu
bagaimana kalau itu isapan jempol pemimpin
bagaimana kalau allah kita bukan allah
bagaimana kalau kita jadi tinggal nama
bagaimana

sudah selesai kita pergi sekarang, istriku sayang
kita akan mengenang semua dengan hebat
tak mungkin kita lupakan
katakan selamat tinggal mesir
katakan terima kasih mesir
katakan maafkan mesir
kita pergi sekali
untuk selamanya

Doules membaca larik-larik puisi dan tertarik pada kalimat si istri soal pakaian kering. Akankah tempatku menjemur di negeri bebas kelak selepas dan seluas sekarang?

Tidak ada jawaban pasti. Hidup memang paradoks.

Diambil dari buku puisi Ia Dinamai Perempuan karya Ita Siregar.

Sia kontak WA 0852-0626-6722 atau email diadinamaiperempuan@gmail.com untuk memesan buku.

read more
BukuTERASWARA-WARA

Ia Dinamai Perempuan

Facebook-edit2

Kumpulan Puisi

Buku karya Ita Siregar ini berisi 54 puisi perempuan kitab suci. Masing-masing puisi dilengkapi ilustrasi oleh Doules Nggebu.

1.ibu maria
2.maria dari magdala
3.ratu syeba
4.perempuan tiang garam
5.perempuan yang melawan dengan bungkam
6.abigail
7.mikhal
8.perempuan pemanggil arwah
9.selia, anak perempuan yeta
10.lima anak perempuan zelafehad
11.hawa
12.sifra dan pua
13.herodias
14.perempuan siro-fenisia
15.ester
16.seorang istri berkeluh kepada suaminya
17.putri tamar
18.dina
19.persembahan janda miskin
20.putri bithia dari mesir
21.sara
22.perempuan yang dua belas tahun perdarahan
23.vasthi
24.gomer
25.ribka
26.hagar
27.sara kepada hagar
28.rahel
29.ruth
30.delila
31.perempuan yang kedapatan berzinah
32.perempuan dengan parfum 300 dinar
33.hanna
34.balada adara
35.martha
36.bibi yoseba
37.miryam
38.elizabeth
39.perempuan di sumur
40.janda sarfat
41.izebel
42.yael
43.zipora
44.tamar
45.rahab
46.perempuan kain ungu
47.istri potifar
48.salome
49.yedija binti adaya
50.batsyeba
51.gadis sulam
52.naomi
53.lea, perempuan yang menyewa suaminya sendiri
54.asnat

Pemesanan ke nomor WA 0852-0626-6722 atau email diadinamaiperempuan@gmail.com

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Pongkinangolngolan

Buku Tuanku Rao

There are no facts, only interpretations. –Nietzsche

Turiturian –bahasa Batak- artinya cerita, legenda, dongeng.

Parturi atau bayo parturi artinya story teller. Si tukang cerita. Si pendongeng. Dalam pemerintahan tradisional, parturi termasuk salah satu fungsinya. Dia bisa ahli sejarah atau sastra. Artinya, itu peran yang penting, sebagaimana bupati.

Orang-orang tua zaman dulu menyampaikan pesan, peristiwa, sejarah keluarga, dan lain-lain, secara lisan. Bentuknya bisa kotbah, nasihat, lagu, pantun, dan lain-lain. Para orangtua bercerita kebiasaan ompung dan adat leluhur kepada mereka yang lebih muda. Supaya cerita tak putus. Dan pendengar tidak memeriksa. Apakah fakta atau fiksi. Kisah diteruskan dari generasi ke generasi.

Adalah yang bernama Mangaraja Onggang Parlindungan. Kita singkat MOP. Tahun 1964 MOP menulis buku 700 halaman. Judulnya Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Teror agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833.

Sepuluh tahun kemudian sastrawan Haji Abdul Malik Karim Abdullah alias Hamka juga menulis buku. Judulnya Antara Khayal dan Fakta Tuanku Rao. Buku itu membantah buku MOP. Buku 80% isinya turiturian, kata Hamka.

Lama setelah itu, muncul Basyral Hamidy Harahap. Tahun 2007, mantan dosen Fakultas Sastra UI itu meluncurkan buku berjudul Greget Tuanku Rao. “Saya menulis untuk melengkapi apa yang luput dalam tulisan MOP,” kata Harahap.

Meski banyak orang menyindir tulisan MOP, Harahap berpendapat, toh perlu dibaca karena siapa tahu ada butir-butir berharga dari sana. Memang Harahap menyayangkan MOP membakar dokumen tulisan tangan ayahnya –Sutan Martua Radja- sumbernya dalam menulis buku. Alasannya, itu aib keluarga. Tak elok banyak orang tahu.

“Saya mengambil 10% (dari catatan ayah). Sisanya, biarlah aib itu hanya keluarga yang tahu,” kata MOP.

Apa aibnya?

Mereka adalah keturunan Tuanku Lelo. Ayah dari kakeknya MOP. Algojo kejam tanpa ampun dalam Perang Paderi di Tapanuli (1816-1833). Tuanku Lelo alias Idris Nasution adalah putra ke-6 Haji Hassan Nasution gelar Tuanku Kadi Malikul Adil, pedagang kuda beban. MOP ingin membersihkan nama Tuanku Rao dari yang melakukan itu.

Tuanku (seperti kiai sekarang) Rao adalah gelar untuk Pongkinangolngolan. Ia babere (kemenakan dari saudara perempuan) Sisimangamangaraja IX (1778-1819). Dinasti bermarga Sinambela. Kenapa tanpa marga?

Karena ayah Pongkinangolngolan adalah Gindoporang Sinambela, putra Sisingamangaraja VIII (1771-1788). Ibunya Gana Sinambela, Putri Sisingamangaraja IX. Sinambela vs Sinambela. Ya, mereka inses. Dan itu tabu bagi hukum Batak. Hukumannya dirajam sampai mati.
Tak tega, Sisingamangaraja IX mengusir adik dan pamannya, keluar dari Bakkara. Dalam keadaan Putri Gana hamil, mereka dibuang ke Singkil Aceh.

Di Singkil, Gindoporang bergabung angkatan polisi Aceh karena ia cakap berkuda. (Dinasti Sisingamangaraja terkenal karena punya kuda-kuda yang kuat dan tangkas). Dan ia masuk Islam. Namanya menjadi Muhammad Zainal Amirudin Sinambela. Gana Sinambela sendiri tetap beragama asli Batak.

Anak mereka pun lahirlah. Gindo memberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela. Gana memanggil bayinya Pongkinangolngolan. Diambil dari kata Pongki na Ngolngolan. Fakih yang menunggu-nunggu. Sampai usia 9 tahun Pongki diasuh ibunya, menurut agama ibunya.

Lalu Sisingamangaraja IX wafat di Bakkara. Penggantinya, Sisingamangaraja X (1819-1841), memaafkan kesalahan Gana, saudara perempuannya. Dia mengirim utusan untuk menjemput Putri Gana dan Pongkinangolngolan. Gindoporang tetap di Singkil.

Di Bakkara, Pongkinangolngolan kerap diajak berburu rusa oleh sang paman. Untuk meredakan gosip, Pongkinangolngolan diberi marga Simorangkir. Diangkat anak oleh saudara perempuan Gana, Sere Sinambela. Suaminya Hulubalang Djomba Simorangkir.

Upacara itu diendus para datu. Mereka keukeuh Pongkinangolngolan harus dihukum mati. Alasan, mereka melihat tahi lalat berambut di lidah Pongkinangolngolan. Raja-raja dinasti Sisingamangajara dikenali dengan dilana marimbulu. Ada tahi lalat berambut di lidah. Kalau dibiarkan hidup, bisa-bisa keponakan bunuh paman. Demi kekuasaan. Begitu ramalan para datu.

Meski sedih, tidak ada jalan bagi Sisingamangaraja X kecuali menurut. Bila dilanggar, keseimbangan sosial dan diplomasi Dinasti dipertaruhkan. Masa itu Bakkara sudah berelasi baik dengan banyak pihak luar, untuk berdagang.

Pongkinangolngolan dihukum dengan ditenggelamkan ke danau Toba. Tubuhnya diikat pada kayu dan diberati batu-batu.

Hari yang ditentukan tiba. Di tepi danau, Sisingamangaraja datang untuk inspeksi terakhir. Diam-diam, dia menyelipkan kantong kulit berisi uang perak ke baju kemenakan tersayang. Dan melonggarkan ikatan-ikatan pada kayu.

Pongkinangolngolan ditenggelamkan namun selamat karena ikatan-ikatan mudah lepas. Dia mengapung di atas air, di atas kayu. Angin membawanya ke Narumonda, hulu sungai Asahan. Dia ditemukan oleh nelayan bernama Lintong Marpaung.

Lintong sangat sayang kepada Pongkinangolngolan. Khawatir keberadaannya diketahui para datu Bakkara, Marpaung membawanya ke Laguboti. Di sana ia dijual seharga 3 ringgit burung, ke Sahala Simatupang, seorang Syanghai Boss. Syanghai-Boss adalah kepala rombongan pedagang.

Sahala berdagang hingga ke Sipirok Sumatera Selatan. Di Sipirok, Pongkinangolngolan menyerahkan 6 ringgit burung –uang dari pamannya – kepada bosnya, agar ia dapat bebas.

Lalu ia bekerja untuk Raja Baun Siregar. Juragan kuda. Enam tahun bekerja, dia memutuskan merantau ke Minangkabau. Di sini ia bertemu Djamangarait Nasution, penjual kuda beban. Ia diminta mengurus 24 kuda untuk nanti dijual ke Datuk Bandaharo Ganggo. Waktu itu usianya sudah 15 tahun.

Datuk Ganggo seorang ulama. Dia sedang menyiapkan rombongan pergi ke Kamang. Dia akan berjumpa kawannya, Tuanku Nan Renceh.
Di Kamang sedang ada gerakan pembersihan agama Islam. Berawal dari tiga orang haji kembali dari Mekah. Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik. Mereka dari Mazhab Hambali. Mengajarkan agama Islam yang sangat murni.

Dalam perjalanan dari Lubuksikaping ke Kamang selama lima hari, ia mengenal Peto Syarif (kelak Tuanku Imam Bonjol).

Di Kamang, Tuanku Nan Renceh mendengar ia kemenakan Sisingamangaraja X, memintanya dari Datuk Ganggo, untuk bekerja kepadanya.
Oleh Tuanku Nan Renceh, ia dimuslimkan. Namanya menjadi Umar Katab. Ia disekolahkan tentara Paderi dan lulus memuaskan. Ia di bawah komando Haji Piobang, tentara kavaleri yang pernah berperang untuk Turki di Mesir. Waktu itu usianya 24 tahun.

Pongkinangolngolan bergelar Tuanku Rao. Ia disekolahkan ke Siria setelah naik haji di Mekkah. Tahun 1816 ia kembali ke Sipirok dan menjadi Gubernur Militer Tentara Paderi selama dua tahun. Tahun 1821, dalam pertempuran gagah berani melawan Belanda di Air Bangis, dia wafat. Jenazahnya tidak pernah ditemukan. Ia meninggalkan istrinya Zaharah Daudi dan 3 anak.

Begitulah kisah Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Di buku MOP.

itasiregar/05/06/2020

read more
FeaturedGAYAPerjalananTERASWARA-WARA

Rabu Onan di Bakara

Pulau Simamora

Teks Ita Siregar
Foto Tim Voyage

Seminggu sebelum hari Rabu saya sudah mengajak Tim Voyage Hopper, ke Bakara. Rabu hari pasar (onan) di sana. Kita naik kapal, saya bilang. Lembah hijau yang menawan itu, sudah memanggil-manggil.

Selasa sore kami mengecek ke pelabuhan Balige. Petugas bilang kapal akan lepas jangkar pukul 8, teng. Keberangkatan yang ambisius. Pagi selalu repot. Tim juga belum bangun. Mungkin. Saya tenang berpikir kami akan ber-trail saja.

Kami siap jam 11. Agak telat memang. Matahari sudah sengit. Syukurlah angin sibuk meniup-niup panas.
Dari Balige, motor trail Tim meluncur mulus ke arah Siborongborong. Jalanan bagus. Mesin tak berisik. Saya bisa sandarkan punggung dengan enak ke boks akrilik sesekali, ke belakang. Tim suka mengecek google map-nya. Saya lebih suka bertanya ke orang lewat. Selebihnya, kami setia pada petunjuk jalan.

Dari Dolok Sanggul motor menyentuh mulut Bakara. Setelah ini jalanan akan menurun, terus hingga di lembah, di bawah sana. Di satu ketinggian, kami berhenti. Mendengar deras sungai seperti tertawa. Memandang sawah-sawah malas membentang. Dinding-dinding bukit pinus bikin hati hijau. Lembah Bakara indah tiada tara. Konon, tentara Belanda banyak terjatuh dari kuda yang tergelincir akibat mata kelewat asyik memandang.

Kami mampir ke istana Sisingamangajara XII, di desa Bakti Raja. Kompleks bersih dan rapi. Serba hitam-merah-putih. Penjaga, adalah siapa saja keluarga Sinambela, marga dinasti raja, yang ada di sana. Ramah mempersilakan. Di halaman kompleks satu ompung menaruh sekarung mangga Toba yang sudah masak. Omakku boru Regar, jadi mar namboru ma ho tu ahu, katanya. Saya membeli satu plastic mangga.

Di satu rumah makan yang pernah saya kunjungi, saya berharap makan mi sup. Sayang tidak ada menu itu. Jadi kami makan siang ayam semur dan gulai daun singkong tumbuk. Tim bolak-balik diajak selfi oleh pemilik kedai, yang girang kedatangan bule. Dua putrinya antusias bertanya ini-itu, menyoal Tim. Saya penerjemah yang baik. Ganteng, kata mereka. Setelah saya memotret Tim dan mereka bertiga, beberapa kali, baru kami pergi.

Meski tertutup helm, rambut gimbal pirang Tim nongol. Kebuleannya segera dikenali. Di atas motor, seruan-seruan, Hello Mister, Hello Mister, berulang kali. Tim entah akan mengangkat tangan atau menjawab, Horas!

Kami parkir di depan onan. Seandainya kami tadi naik kapal, maka pelabuhan Bakara persis di belakang onan. Melewati gapuranya, seorang pedagang menawari minuman es kocok. Saya senang karena mereka pasangan penjual yang saya pernah mengobrol banyak. Dulu, si suami bercerita masa keemasan mencari lobster yang tersembunyi di balik-balik karang yang sulit, di tepian Toba. Usaha bagus itu kemudian menimbulkan banyak masalah, banyak perselisihan, dan akhirnya dia tinggalkan.

Kami berjalan lagi. Seorang menghadang jalan kami. Makan pisang goreng kami yang enak ini, katanya. Seribu sepotong. Bah! Enak, murah. Paduan yang sempurna. Di dermaga sederhana, dua kapal mangkal. Segerombolan anak kecil terpesona melihat ada makhluk serupa Tim di dunia ini. Mereka tertawa-tawa menyapa, hello, hello.

Kami melipir keluar pasar. Harus sigap. Masih banyak tempat harus dikunjungi. Hampir ke parkir motor, seorang pemuda memburu. Swandi Marbun, saya tour guide di Bakara, katanya menyalam saya. Matanya tertawa.

“Saya tahu kedatangan kalian dari teman. Kristine Sinambela dari Simangulampe. Katanya kenal Kakak,” katanya. Ah, betul. Saya menghubungi Aril Aritonang, teman Kristine, soal kedatangan saya hari ini.

“Di Homestay Simamora sedang berkumpul petugas Dinas Pariwisata Humbanghas (Kabupaten Humbang Hasundutan). Kalau bersedia, datanglah. Kita diskusi soal pariwisata,” katanya.

Kami setuju. Kami mengekor.

Homestay yang dimaksud oleh Swandi adalah rumah kayu panggung di tengah sawah. Depan-belakang bukit-bukit pinus di kejauhan. Homestay terdiri dari dua kamar, ruang tamu, dapur mungil, kamar mandi. Ada wifi. Ada antena parabola. Kelak saya tahu Dinas Pariwisata telah membangun 7 homestay serupa. Tercanggih persis menghadap Danau Toba.

Kami mengobrol dengan 7-8 petugas, yang antusias. Beberapa berbahasa Inggris dengan baik, bicara dengan Tim. Mereka sebutkan pariwisata yang mereka punya. Tempat kemping dengan sewa tenda murah, rafting, naik ke puncak Gonting, berenang di air jernih, sewa sepeda Rp35ribu per hari.

“Tadi kami ke pantai dekat mess Pemkab. Itu terbersih yang saya lihat selama saya di sini,” kata Tim.
Bakara tidak perlu apa-apa lagi karena dirinya indah. “Kami tinggal memikirkan kegiatan-kegiatan malam agar wisman punya banyak pilihan,” kata salah satu dari mereka.

Kami harus pamit. Kami akan ke air terjun Janji. Air terjun yang cipratan airnya terasa dari radius 50 meter. Kekuatan suaranya menyejuk hati.

Menuju ke sana, jalanan menyajikan pemandangan hebat. Ada pulau Simamora yang seperti menyembul hijau di tengah air danau. Tim beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Kami duduk di batu di pinggir jalan, hanya memandangi semua keajaiban itu.

Lalu kami ke Aek Sipangolu. Sumber air yang konon Raja Sisingamangaraja menancapkan tongkat di Gunung, sehingga mengalir air.

Sudah jam 5 sore. Kami harus cepat kecuali mau disergap gelap. Kami akan mengambil sepanjang sisi danau Toba, ke Muara. Matahari di belakang kami, berwarna emas. Awan-awan menutupi.

Kami balik lewat Sipinsur, jalanan yang membelah hutan. Bau dedaunan muda, segar minta ampun. Dan kami ketemu satu ketinggian lain. Berjejak di atasnya, seperti hendak terbang. Air danau tenang berkilau di sebuah jarak, pulau-pulau kecil diam sendiri. Perlahan matahari jatuh. Tiba-tiba kelabu, pekat. Angin lebih kencang, lebih dingin.

Tim melesatkan kendaraannya. Berlomba dengan angin. Kami tiba di Balige sekitar pukul 7 malam. Turun dari motor, rindu Bakara sudah memanggil.

Oya, tentang Tim Voyage. Dia adalah petualang asal Jerman. Dia bertemu Sebastian Hutabarat di Medan, berencana hanya mampir satu dua hari di Balige, sekarang sudah dua bulan tinggal, karena akhirnya dia punya banyak agenda ini-itu. Sebentar lagi dia akan memulai tur menembus Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, bermotor. Seandainya melihat siluet dengan gambaran yang saya ceritakan di atas, dialah itu. Catatan perjalanannya dapat dilihat di motomundo.de

Seperti diakui petugas Dinas Pariwisata, warga dan PemKab sebaiknya gotong-royong memikirkan banyak kegiatan kreatif agar wisman tinggal lebih lama di Bakara. Tidak asal lewat. Seperti sudah terjadi pada Tim. (is/06/03/20)

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Lapis-Lapis Intertekstualitas dalam Buku Puisi Pelajaran dari Orang Samaria

Kaver Depan Pelajaran Orang Samaria

Orang Samaria yang baik hati (the Good Samaritan) adalah dongeng Yesus untuk murid-muridnya dalam rangka merenungkan siapa itu sesama manusia. Karena pesan universalnya, cerita dengan plot sederhana ini, populer dan mendunia. Kisah ini telah diterjemahkan ke beragam bentuk kreatif seperti cerita anak, komik, film, tari, selain kotbah pendeta di mimbar tentu saja.

Orang Samaria dibenci setengah mati oleh orang Yahudi lantaran mereka warga campuran. Mereka adalah hasil perkawinan dengan warga Asyur setelah mereka kalah perang, dan tinggal di kota Samaria, di utara Yudea. Di sana mereka mengadopsi agama baru dan meninggalkan agama lama.

Dan kebencian itu diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka tidak saling cakap. Tidak saling anggap. Tembok Berlin di antara mereka belum dihancurkan. Sampai ada cerita orang Samaria versi Yesus: Ada seorang Yahudi tergolek tak berdaya di jalan sehabis dirampok, tidak ditolong oleh sesamanya Yahudi, malah ditolong habis-habisan oleh musuh mereka: orang Samaria.

Puisi-puisi dari buku Pelajaran dari Orang Samaria karya Giovanni A.L. Arum ini seluruhnya biblis, artinya, diilhami oleh teks kitab suci.

Ketika penyair menulis puisi dengan meminjam dari teks-teks lain, maka karyanya menumpuk dengan lapisan makna. Bila sebuah teks dibaca berdasarkan teks lain, maka segala asumsi dan efek dari teks lain itu, memberi kebaruan dan mempengaruhi cara orang menafsir teks asli. Itu disebut intertekstualitas.

Alkitab adalah contoh konsep intertekstualitas karena teks dalam perjanjian baru (setelah Yesus lahir) ada dalam perjanjian lama, dengan kemungkinan lapis makna tadi.

Mari kita perhatikan petikan puisi Pelajaran dari Orang Samaria ini.

Di kedalaman dukamu yang porak-poranda

Ingin kukunjungi engkau dengan rindu paling mulia

Di sana, kutuntaskan ibadahku

Dengan cara sederhana

Membersihkan luka-luka cintamu

Dengan minyak dan anggur

Dengan cinta yang melampaui

Sekat-sekat hukum kenajisan

Puisi ini dapat dibaca mandiri tanpa pembaca pernah membaca kisah Orang Samaria sebelumnya. Makna bisa ditemukan melalui latar dan pengalaman pembaca. Barthes (1992) mengatakan bahwa suatu teks bukanlah satu baris kata yang melepaskan makna “teologis” tunggal (pesan pengarang atau Tuhan) tetapi merupakan ruang multi-dimensi berbagai tulisan, yang nyatanya tidak satupun asli, saling bercampur dan berbenturan. Teks adalah kutipan yang diambil dari esensi budaya yang tak terhitung jumlah(di dalam)-nya.

Frase duka yang porak-poranda mudah dipahami sebagai suatu keadaan duka berganda (keadaan membenci secara turun-temurun); yang pada beberapa orang dapat memunculkan rindu paling mulia, yaitu kerinduan hati yang berusaha mewujud setelah banyak kontemplasi; bahwa ibadah dengan cara sederhana yaitu spiritualitas pribadi yang dekat dan intim, yaitu membersihkan luka-luka cintamu, satu tindakan nyata yang dapat melampaui sekadar luka fisik; dengan minyak dan anggur, yang dalam tradisi kitab suci adalah simbol roh suci dan sukacita.

 Coba kita tampilkan satu puisi lain dengan gaya intertekstualitas ini.

 

Iman adalah sebuah siasat jatuh

Ke dalam gaya Tarik-Mu

 

Puisi di atas berjudul Sebagai benih yang harus jatuh. Penyair mengutip perkataan Yesus yang menganalogikan manusia sebagai benih. Bahwa manusia, sebagaimana benih, dapat tumbuh bersemi bila ia jatuh dan pecah di dalam tanah. Kematian yang memunculkan kehidupan baru. Lalu lapisan makna tadi dibenturkan dengan iman, sebuah keyakinan yang utuh dan bulat tak perlu bukti, dengan sifat gravitasi bahwa apa pun benda memang akan jatuh ke bawah. Sebuah temuan yang rajin, bukan?

Sekarang coba yang satu ini.

Cinta pada pandangan berbahaya

Tatapan Tuhan sungguh berbahaya

Jauh lebih tajam dari pedang bermata dua

 

Lagi-lagi penyair menunjukkan ketekunannya dalam menemukan dan menghadirkan suasana intertekstualitas antara sebuah ungkapan kearifan dan baris teks dalam kitab suci.

Dalam buku Divine Love Story (2019), penulis Naek S Meliala, memberi subjudul yang menarik: Dalam permainan cinta, Dia pun kalah. D huruf besar merujuk pada Tuhan. Bab-bab dalam buku itu menjelaskan sebuah konsep (yang gawat) bahwa begitu cinta Tuhan kepada manusia -makhluk ciptaan-Nya, sehingga dalam interaksi untuk mendapat perhatian manusia sepenuhnya kepada-Nya, Tuhan pun menyerah, kalah.

Buku itu mengutip banyak teks kitab suci yang menunjukkan Tuhan menangis, Tuhan menyesal, Tuhan Haus. Intinya, Dia yang Maha Segala dikecilkan oleh manusia yang serba terbatas. Bagaimana penjelasannya?

Pintu maaf Tuhan selalu terbuka bagi setiap manusia yang meminta ampun, berapa kali dan seberapa parahnya pun dosa itu. Sementara pada teks yang berbeda, ada teks yang mengatakan setiap dosa berujung maut. Bukanlah dengan demikian artinya Tuhan berkali-kali menyerah, demi manusia dapat abadi bersama-Nya?

Dalam konteks sekarang, bisa saja hal ini dianggap sebagai sebuah penistaan terhadap ke-Maha-an Tuhan (tunggu saja didemo). Tetapi itulah cinta. Sesuatu yang zahir. Sebuah kegilaan. Seperti penyair yang coba katakan dalam baris-baris puisi ini.

Karena iman adalah lintasan kegilaan

Maka Nuh bersiteguh mengerjakan bahtera

 

Sebenarnya tipis garis antara menggunakan intertekstualitas sebagai perangkat sastra dan menjiplak, bahkan seandainya pun tidak pernah dimaksudkan. Sementara penggunaan intertekstualitas yang kompleks dianggap sebagai alat canggih dalam penulisan. Pemanfaatan intertekstualitas akan melibatkan ideologi, konsep, atau yang lain, cerita atau sumber teks.

Penulisan ulang cerita yang populer dalam konteks modern dapat dipandang sebagai penggunaan intertekstualitas yang berbudaya. Yang pasti, intertekstualitas adalah alat penulisan yang sayang bila diabaikan. Ia membuka kemungkinan dan perspektif untuk membangun sebuah cerita dan menghadirkan makna baru dalam lapisan-lapisannya.

Ada 52 puisi dalam buku ini, namun saya mengambil hanya 4 di sini. Selamat membaca dan menemukan lapisan makna, yang bagi saya telah memberi rasa seperti melompat-lompat atau sukacita yang mengharukan, melihat bagaimana frase kata memberi kepuasan dalam spiritualitas.

 

Pelajaran dari Orang Samaria

Oleh Giovanni A.L. Arum

13x19cm

86 halaman

Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora

2119

 

itasiregar/09/12/19

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Menyibak Praktik Karismatik     

Foto Buku Lusifer

Teks Ita Siregar

Bila Anda mahasiswa Kristen tahun 80-an, di Bandung misalnya, mungkin novela ini akan mengingatkan Anda pada suatu ketika. Sebuah gerilya rohani yang sangat kuat terjadi di kampus-kampus.

Mahasiswa-mahasiswi yang berlatar Kristen “dikristenkan” ulang. Keyakinan kepada Kristus dicek kembali, jangan-jangan selama ini percaya dengan cara yang salah, tidak alkitabiah, masih terbelenggu roh-roh nenek moyang, atau yang lain. Kalau itu yang terjadi, maka mesti dibersihkan hingga ke akar-akarnya, agar hidup yang benar dapat dimulai. Anda menjadi Kristen lahir baru.

Banyak mahasiswa terperangah dengan pengetahuan itu. Kristen sejak kecil, tapi ke mana saja selama ini? Syukurlah, mata yang dulu buta jadi celik. Sekarang jelas, kenapa Yesus mesti lahir di dunia dan mati disalibkan. Bagi mereka yang mendapat pencerahan, diberi tanggung jawab sama:  memberitahu kabar baik ini kepada yang lain, agar mereka pun mendapat hidayah.

Seperti memperoleh tugas yang mulia, banyak mahasiswa terlibat dalam pusaran yang baru, lupa dengan tujuan utama ke Bandung: kuliah. Mereka disibukkan dengan pertemuan dengan pembimbing rohani, belajar kitab suci, meneliti ayat-ayat, mendoakan orang lain, dan kegiatan lain. Sangat sangat sibuk. Tapi semua tak terasa berat karena baru kali ini hidup menjadi berarti. Bahkan menyesal, kenapa berita hebat ini baru terbuka sekarang?

Lantas mahasiswa-mahasiswa menjadi pembimbing rohani, pemimpin kelompok, pembicara, pendoa, konselor, pendengar, penggerak, dan yang lain, demi keselamatan orang lain. Persekutuan kecil di mana-mana. Kelompok doa 4-5 orang di perpustakaan kampus, di taman-taman kota, di rumah-rumah kos, di mana saja.

Tak jarang mahasiswa berhenti di semester 6 atau cuti untuk sementara waktu karena terlalu banyak hal rohani mendesak harus dilakukan. Hal surgawi lebih penting daripada hal duniawi. Menjadi sarjana bisa kapan-kapan. Tetapi siapa peduli jiwa-jiwa yang akan binasa? Setiap orang yang tidak bayar harga tidak layak untuk pekerjaan ini.

Mahasiswa-mahasiswa garda depan itu pun melapor ke orangtua masing-masing, bahwa mereka telah menerima panggilan yang lain di Bandung. Menjadi penjala manusia. Bukan menjadi sarjana dunia.

Lalu mereka membuka pelayanan baru, berkembang menjadi besar, menjadi gereja. Tahun demi tahun berlalu. Mahasiswa-mahasiswa baru direkrut untuk menjadi pekerja baru. Setiap mahasiswa yang tergerak melayani jiwa-jiwa, menjadi pelayan penuh waktu. Hidup menjadi lebih fokus.

Namun, tak sedikit mereka yang dulu merasa terpanggil tetapi ternyata tidak benar-benar terpanggil, mengalami burnt out. Mereka terbakar dan gosong luar dalam. Mereka minggat dari keluarga Allah, menjadi manusia biasa. Bahkan menjadi penentang, musuh.

*

Saya tidak tahu kapan gerakan karismatik kekristenan Indonesia dimulai. Mungkin tahun 70-an atau lebih awal. Yang saya tahu banyak gereja baru muncul dengan pemimpin mahasiswa-mahasiwa yang dalam cerita saya di atas. Tidak perlu sekolah teologi untuk menjadi pendeta. Roh Kudus sendiri akan menjadi gurunya. Kira-kira begitu keyakinannya.

Gereja yang berawal dari gerakan karismatik memiliki ciri-ciri pentakostalisme. Seorang karismatik percaya bahwa sedikitnya orang Kristen (baca: orang percaya) punya satu karunia roh. Tuhan tidak pilih kasih. Dianalogikan sebagai anggota tubuh Kristus, maka setiap orang Kristen mempunyai peran –besar atau kecil- yang menyebabkan tubuh itu berfungsi dengan baik.

Salah satu karunia roh yang dimaksud adalah glossolalia atau bahasa roh atau bahasa lidah. Bahasa lidah menjadi penanda bahwa orang tersebut dipenuhi oleh Roh Kudus. Manifestasi Roh Kudus ditandai dengan kesembuhan ilahi, mukjizat-mukjizat, atau glosolalia. Sebenarnya hal ini biasa seperti halnya kegiatan jemaat perdana setelah Yesus wafat atau semasa Paulus.

Pada kenyataannya, glossolalia tidak mengena pada semua orang. Namun sudah keburu terpatri dalam hati bahwa ketiadaan bahasa lidah berarti orang tersebut kurang percaya. Itulah sebabnya, di beberapa gereja karismatik, bahasa lidah dipelajari, dengan menyebutkan dahulu beberapa kata untuk memancing kehadiran Roh Kudus.

Novela Lusifer! Lusifer! yang ditulis oleh Venerdi Handoyo dan diterbitkan oleh POST Press ini, menurut saya, adalah cermin dari apa yang terjadi pada beberapa gereja karismatik, pada level ekstrem. Tidak semua gereja. Tetapi banyak gereja.

Istilah-istilah dalam percakapan, ayat-ayat kitab suci yang dipakai, nama-nama tokoh, cara berdoa, kalimat-kalimat dalam dialog di dalam buku, menggambarkan kejadian sebenarnya di dunia nyata. Tertarik untuk mengetahuinya, sila baca buku ini.

 

Novela Lusifer! Lusifer!

Penulis Venerdi Handoyo

Xii + 126 halaman 13x19cm

Penerbit POST Press

Juli 2019

 

Itasiregar/11 Sept/2019

 

read more
BukuCERITAPuisiTERASWARA-WARA

Surga/Neraka Itu Dihadirkan

HMRS

Teks Arie Saptaji*

 

“Anda tidak dapat membaca Alkitab tanpa menyimak pesan Tuhan peduli kepada mereka yang tersingkir, yang terinjak-injak, yang tertindas!” kata Philip Yancey, penulis Amerika yang kerap menyuarakan kegelisahannya atas gereja.

Eko Saputra Poceratu dalam buku puisinya Hari Minggu Ramai Sekali (HRMS), menangkap pesan itu. Sembari mengumandangkan latar Papua dan Maluku, penyair muda ini memberi kredo pada awal buku:

Pada awalnya Tuhan menciptakan kata,/lalu sastra,/ maka kutulis puisi sebagai bentuk/ paling realistis untuk melayani/ yang tertindas.

Menggemakan Doa Bapa Kami, yang memohon agar kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga, Eko dalam Ada Neraka di Papua menyatakan bahwa surga dan neraka itu dihadirkan. Puisi ini mengingatkan kita hidup bukan sekadar untuk antre masuk surga, tetapi berjuang menghadirkan surga di bumi.

Sekalipun neraka itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ ketidakadilan di Papua

 Puisi sebagai Sikap Politik

Puisi-puisi Eko menawarkan dua latar yang jarang dalam khasanah sastra Indonesia, yaitu kristiani dan wilayah Timur Indonesia.

Gaya tuturnya mengingatkan kita pada puisi-puisi balada Rendra. Namun, Eko lebih lugas dan hemat metafora.

Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal,/ sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima,/ siapa yang tiba” (HMRS, h. 24).

Hal paling menyegarkan tak lain kredo kepenyairannya: bahwa Eko menulis puisi sebagai bentuk pelayanan bagi mereka “yang tertindas”. Baginya, menulis puisi adalah sikap politik.

Sastra kita banyak dipengaruhi oleh ideologi Manifesto Kebudayaan (Manikebu) yang mempromosikan konsep “seni untuk seni”, suatu sikap berkesenian yang apolitis. Mengutip cuitan Mikael Johani tentang Manikebu: an ideology that voices not dissent, but a divorce from everyday,  reality that has sterilized Indonesian literature, especially poetry, sucked the politics out of it, and turned it into spineless, hallmark drivel that helps prop up the status quo.

Eko memilih menyempal dan memasuki barisan penyair yang menggunakan puisi untuk menyuarakan sikap politik. Dan, betapa tajam suara yang tersiar melalui kumpulan puisi ini!

Terantuk dan Tersentak

Sebagai orang Jawa yang belum pernah menginjakkan kaki di Papua dan Maluku, saya terantuk konteks lokal. Sageru atau kusu-kusu, misalnya. Apa itu? Mungkin seperti ini rasanya orang Indonesia Timur membaca Pengakuan Pariyem atau puisi-puisi Wiji Thukul.

Saya teringat komentar seorang teman Toraja saat membaca novel saya, Warrior: Sepatu untuk Sahabat. Terlalu Jawa, keluhnya. Tapi, saya tak ingin mengeluh. Saya ingin menikmati dan merayakan keragaman warna lokal, yang menolong saya untuk menengok keragaman Indonesia tanpa perlu beranjak dari tempat duduk.

Sebagai pembaca Kristen, saya tersentak menyimak kegelisahan Eko terhadap gereja dan lingkungannya. Gereja cenderung menyukai puisi-puisi religius ala Hallmark, sejenis yang ditawarkan oleh Manikebu tadi. Orang Kristen lebih suka gambar-gambar elok dengan kutipan ayat atau kata-kata menggugah. Puisi-puisi Eko, sebaliknya, meski dibumbui humor, lebih mirip pil pahit.

Saya tepekur, betapa gereja (baca: saya) lebih menelanjangi dosa-dosa personal, tetapi memalingkan muka dari dosa-dosa sosial. Kita sibuk berebut masuk surga, tetapi alpa berjuang menghadirkan surga di dunia. Puisi-puisi Eko menempelak kecenderungan tersebut.

Mariana dan Maria Zaitun

Salah satu (atau salah enam) puisi yang mencekam adalah Episode Mariana (1) sampai Episode Mariana (6). Perempuan yang mati beranak di Papua  adalah puisi pedih tentang perempuan yang tertindas.

Saya menyandingkan puisi itu dengan puisi Rendra, Nyanyian Angsa. Bagaimana nasib Mariana dalam puisi Eko dan Maria Zaitun dalam puisi Rendra?

Maria Zaitun terusir dari rumah pelacuran, pergi ke dokter yang memberinya suntikan vitamin C, lalu ke gereja. Koster gereja menahannya di luar pintu. Pastor menemuinya untuk menghakimi. Dan Malaikat penjaga firdaus menguntit dengan wajah dengki. Sampai di tepi kali ia bertemu Sang Mempelai. Ia mengalami penebusan dan pembebasan: Pelacur dan pengantin adalah saya. Simul justus et peccator.

Mariana mirip-mirip nasibnya. Ia terusir dari pernikahannya, dikhianati suaminya, dalam kondisi hamil lima bulan. Tanpa uang, ia tersaruk-saruk di jalanan. Naik angkot, seorang lelaki membayar ongkosnya, namun menggagahinya: tanda-tanda sudah tak memihak seorang janda. Ia mendapat pekerjaan di pabrik kayu setelah mandor menidurinya: Dari kasur ke kasur. Mariana mati saat melahirkan, bayinya diadopsi orang.

Berbeda dari Rendra, Eko mengeliminasi kehadiran Tuhan dan gereja dalam puisinya. Tuhan dan gereja hadir saat Mariana dan suami menikah, menguap setelah mereka bercerai. Mengapa Mariana tidak mengadukan nasibnya kepada Tuhan atau gereja? Seandainya Mariana lari ke gereja, akankah nasibnya lebih baik? Atau senasib dengan Maria Zaitun?

 Tenggelam di Jakarta

Pesan kumpulan puisi ini menjadi relevan di tengah kondisi Papua sekarang. Tim Kemanusiaan yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Nduga menyatakan 182 pengungsi meninggal di tengah konflik bersenjata.

“Tingkat pelanggaran kemanusiaan yang terlalu dahsyat. Ini bencana besar bagi Indonesia sebenarnya, tapi Jakarta santai-santai saja,” kata John Jonga, anggota tim.

Ketidakadilan di Papua terekam dalam puisi Matahari Papua. Benar Matahari turun di Papua. Namun, alih-alih menerbitkan harapan, matahari bawa angin dua arah/ arah kemiskinan dan arah ketidakadilan.

Bukan matahari yang mengkhianati mereka tapi kota (baca: Jakarta). Puisi itu menutup diri dengan pahit: matahari memang terbit di papua dan tenggelam di jakarta”. Matahari harapan yang terbit di Papua (di-)tenggelam(-kan) di (atau oleh) Jakarta. Maka nerakalah yang tersisa.

Buku HMRS tipis saja. Namun, ia lantang mengumandangkan suara kenabian. Puisi-puisinya adalah suara kenabian, penyambung lidah kaum yang tertindas.

***

*Penulis dan peresensi, tinggal di Yogyakarta

 

Hari Minggu Ramai Sekali

Penulis: Eko Saputra Poceratu

Penerbit: Bentara

Tahun 2019

Tebal 84 halaman

13x19cm

 

read more
Serba-SerbiTERASWARA-WARA

Mendengar Suara Kenabian dari Timur

Eko 3

Teks Rudi Fofid*

Ketika generasi milenial belum kenal novel Cinta dan Kewajiban (Balai Pustaka, 1941), penulisnya Luc Wairata, lokasi cerita Tihulale, muncul Eko Saputra Poceratu dari Tihulale, Pulau Seram, Maluku. Melihat geliat Eko dalam sepuluh tahun terakhir, Luc Wairata serasa lahir kembali.

Walau bertubuh mungil, Eko tidak kecil di panggung. Saban kali pentas, ia berubah api yang membakar, sekaligus embun penyejuk. Begitulah sarjana teologi yang bergiat di Bengkel Sastra Batu Karang, Bengkel Sastra Maluku, dan Bengkel Sastra Kintal Sapanggal ini. Dia menjadi provokator damai dalam rupa-rupa aksi karitatif dengan menyuguhkan puisi.

Bila kenal Eko melalui facebook, orang menyangka penyair muda ini cuma bisa romantis. Saban hari ada saja status yang bisa bikin gadis mati dalam pelukan. Lihat statusnya ini: Kalau dengan peluk, hatimu remuk, maka kuharap dengan cium, bibirmu ranum.

Kaum milenial penggemar Eko dengan sensasi teks romantis mungkin kecewa membaca antologi puisi Hari Minggu Ramai Sekali (HMRS). Eko yang romantis, nyaman, hits, gaul, penuh pesona Dilan, ternyata tidak menghadirkan aliran puisi romantisme ke dalam buku puisinya itu.

HMRS adalah buku kritis dan serius. Eko merambah realitas sosial yang jarang dimasuki penyair sebayanya. Dia bertolak lebih dalam, duc in altum. Dia suguhkan diksi atau frasa asli dan baru. Walau terkesan muda kasmaran di media sosial, tetapi dia matang gonad secara sastra.

Bayangkan Tuhan yang transenden dan imanen, tinggi, agung, dan mulia telah dirangkul, dipeluk, diakrabi, dan bisa dikilik-kiliknya. Tuhan jadi sahabat karib Eko dalam merambah air ketuban, luka, nanah, anyir, tetapi juga enteng dengan mimbar, jubah, kitab suci, nyanyian, hingga uang kolekte.

Melalui HMRS, Eko membalik paradigma. Realitas sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, hingga keagamaan adalah realitas jungkir-balik. Sebab itulah, dengan pembalikan, Eko memperbaiki paradigma ke posisi normal.

Butuh ratusan halaman untuk membahas HMRS. Akan tetapi, secara sangat ringkas, dapat disebut, dengan 20 puisi, Eko bagai lantang berseru di tengah gurun. Siapakah tidak tercabik membaca bait-bait ini?:

sekalipun surga itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ orang miskin di Papua// sekalipun neraka itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ ketidakadilan di Papua//” (Ada Neraka di Papua)

Matahari turun di Papua/ bawa angin dua arah/ arah kemiskinan dan arah ketidakadilan// aku di sana/ di dalam dada cenderawasih/ nyanyian kemanusiaan lebih terdengar dari jantung binatang//“ (Matahari Papua)

Miskin dan ketidakadilan adalah pergulatan lintas zaman. Eko mengingatkan fokus pembangunan kesejahteraan dan keselamatan. Diksi “miskin” dan “ketidakadilan” memaksa kita merambah ke mana-mana, dan semoga sampai pada ucapan bahagia. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Dengan pola Yesus, Eko membalik paradigma derita miskin menjadi miskin itu bahagia. Ah, Eko!

Eko terus saja membongkar alam pikiran kita yang terbalik. Perempuan yang lemah, gampang kena rayu ular sejak di Eden, disuguhkan Eko secara heroik dalam puisi Selamat Dari Bahaya:

… ini uang dari laci pendeta/ berarti juga dari bapa-nya yang di surga/ jadi mari minta terima kasih/ karena tuhan sudah pakai bapak pendeta secara ajaib/ untuk membiayai perkawinan kita besok lusa/ namun kau marah/ kau tampar aku/ di depan meja sembahyang/ di depan kitab suci dua buah/ terbuka tidak sengaja/ mazmur pujian: selamat dari bahaya.

Eko menghadirkan perempuan sebagai tiang moral. Perempuan tidak lemah. Ia pencegah korupsi, penangkal keburukan. Dalam hal ini, puisi yang ditulis di Yapen Waropen (2017), mendahului Wakil Ketua KPK Alexander Marwata yang baru saja mengajak finalis Putri Indonesia 2019, bila berkeluarga, kiranya sanggup kendalikan suami agar tidak korupsi.

Kalau hanya menerka judul tanpa membaca isi, orang bisa salah kira bahwa Eko dan HMRS mengajak tamasya ke pantai elok di Maluku. Tidak! Eko justru sangat serius dan tidak ramai. Dia sedang membantai prasangka dan perilaku menyimpang dalam relasi manusia dan Tuhan. Secara intim, nama Tuhan 15 kali disebut sebagai pihak ketiga, yang sedang dibicarakan secara sinis, bercanda, seperti membicarakan kawan baik.

Aku datang dengan rapih, kemeja mahal, sepatu mahal, supaya Tuhan terkesima.

Eko pakai pendekatan seksual. Pakai baju bagus supaya lawan jenis jatuh pesona, termasuk Tuhan. Orang ke gereja mempertonton kelamin sekunder dan tersier demi merayu lawan jenis.

Aku datang dengan amplop khusus, supaya Tuhan lirikkan matanya pada siapa yang banting sepatu di pintu masuk

Ungkapan ini adalah pendekatan material. Tuhan dilukiskan matre jadi bisa dirayu pakai uang. Inilah gratifikasi. “Aku” mewakili prasangka jemaat dalam kultur masyarakat korup bahwa Tuhan bisa disuap.

Buku HMRS beredar ketika Paus Fransiskus mengkritik uskup dan pastor agar tidak menjual rahmat demi uang. Sungguh sebuah momentum yang indah. Eko mengkritik jemaat, sedangkan Paus mengkritik para pelayan.

Puisi Episode Mariana adalah kemewahan lain. Eko sodorkan Mariana yang “dibeatifikasi” secara spektakuler. Enam episode dalam 16 halaman. Mungkin kelak Mariana akan dikenang laksana Maria Zaitun dalam Nyanyian Angsa WS Rendra, atau Maria Magdalena dalam musik opera Jesus Christ Superstar.

Bayangkan Distrik Yapen Timur, Papua Barat, pada Senin, 14 Agustus 2017. Itulah tempat dan tanggal lahir Episode Mariana. Enam episode lahir tiga hari menjelang pesta 72 tahun Kemerdekaan RI. Permenungan Mariana adalah permenungan Indonesia. Mariana adalah rakyat jelata yang didera ketidakadilan. Eko yang rindu keadilan menggugat hal itu.

Eko memang mengiris tali napas kita, sampai benar-benar putus napas bersama Mariana. Tentu Eko gagal andai berhenti pada kematian. Justru dalam susah sengsara, air mata, dan derita, Eko terbitkan harapan. Tidak sia-sia dia belajar teologi. Kependetaan dan kenabian sang penyair terpancar di sini:

Mariana sudah tamatkan riwayat// Bayinya meliuk seperti ulat sagu/Ketika dievakuasi dari dalam sana// Bayi Mariana menari yospan//

Ulat sagu adalah larva kumbang sagu, yang biasa dimakan orang Maluku dan Papua. Eko memilih ulat sagu sebagai metafora. Ibu mati tetapi bayi hidup. Bahkan bayi itu menari yospan, tarian Papua yang dinamis. Ulat sagu dan yospan, diksi yang sempurna.

Kehadiran Eko di permukaan sastra Indonesia, tentulah baru satu jejak kecil. Jalan masih panjang. Biarpun begitu, Eko telah melanjutkan tradisi puisi di Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku.

Dari kampus Tanah Lapang Kecil Ambon telah muncul pendeta-pendeta yang sastrawi seperti Piet Tanamal, Wem Davids, Jacky Manuputty, Rudy Rahabeat, Morika Tetelepta, Weslly Johannes, Wirol Haurissa, dan sebagainya.

Tidak berlebihan jika berharap bahwa Eko sebagai titisan Luc Wairata juga kelak berada di jalan yang sama dengan Pendeta Fridolin Ukur, Pastor YB Mangunwijaya atau Kiai Mustofa Bisri dalam kancah sastra Indonesia. Dengan begitu, suara kenabian dari Timur Indonesia semakin nyaring, sebagaimana sudah dimulai Eko dengan HMRS.

Ambon, 2 Juli 2019

*Redaktur pelaksana Malukupost.com, penerima Maarif Award 2016 sebagai tokoh pelaku damai di tanah Maluku, pendiri bengkel sastra Maluku.

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Monolog Beruang di Dunia Manusia

Kenang-kenangan Mengejutkan

Teks oleh Setyaningsih*

“Singa laut maupun burung camar yang berkoak-koak tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Mengapa manusia begitu berbeda dalam hal ini?”

Pertanyaan ini barangkali tidak akan mudah terjawab dan cukup menghentak karena hadir dari beruang kutub, Baltazar, yang ditangkap pemburu lantas dikurung di kebun binatang Cile. Cendekiawan sekaligus politisi Cile, Claudio Orrego Vicuña, menggarap riwayat Baltazar dalam buku tipis manis-melankolis berjudul Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub (2018), diterjemahkan oleh Ronny Agustinus.

Buku hadir pasca kudeta militer 1973 sebagai alegori politik sekaligus rekonsiliasi di bawah kediktatoran dan keterpenjaraan. Di pengantar, penulis mengajukan permintaan yang lebih sederhana, “Anggap saja penerbitan karya ini merupakan penghormatan oleh manusia kepada seekor beruang yang bisa merasakan belas kasih dan berbela rasa, meski hidupnya dirundung segala kesusahan. Saat masih berada di balik jeruji kebun binatang, ia mampu meraih kebebasannya.”

Monolog Baltazar barangkali sempat mengingatkan kita pada Ismael, gorila dalam novel Ishmael (Freshbook, 2006) garapan Daniel Quinn. Di sini, Ishmael ditempatkan dalam wilayah yang lebih superior karena ia berpikir dan menilai manusia (pengunjung). Manusia mungkin merasa berhak menonton binatang di kandang kebun binatang, tapi tidak sanggup memberi penilaian apa pun kecuali kehendak melihat-lihat. Hal ini bisa dibuktikan oleh pernyataan Ishmael yang “menonton” dengan segenap pikir, “…manusia-manusia yang mengunjungi kami jelas-jelas membedakan diri mereka dari kami para binatang, tapi aku tak mampu memahami kenapa. Jika aku memahami apa yang membuat kami binatang, aku tetap tidak dapat memahami apa yang membuat mereka bukan binatang.” Manusia tetap manusia sekalipun memiliki kebinatangan diri yang mungkin lebih biadab dan buas.

Penangkapan Baltazar telah membawa hidup yang berubah; dari koloni keluasan kutub menjadi soliter dalam kandang. Kandang Baltazar justu menjadi ruang paling jitu bermonolog tentang kemanusiaan dengan kejenakaan-melankolia tapi manusiawi. Dalam detak-detak peradaban, kebebasan sering meminta bayaran pertumpahan darah. Tema itu selalu memicu perang, perlawanan, atau kekerasan. Dalam kasus Baltazar, ia justru mengajukan tema krusial ini dalam jasmani yang terkungkung. Lantas siapa yang bisa mengungkung pikiran, bahkan manusia yang berbekal senjata atau teknologi penghancuran apa pun.

Namun, Baltazar harus sadar kebinatangannya. Dalam koloni beruang, raganya tidak mendapat konsekuensi ditakuti atau membahayakan. Rasa sosial di dunia sesama ini tentu tidak bisa dibawa begitu ke wilayah manusia. Baltazar justru mendapat hukuman saat mencoba “berteman” dengan anak-anak yang begitu ia kagumi sebagai sosok bebas tanpa kelelahan juga tendensi kepentingan selayaknya manusia dewasa. Ia mengatakan, “Hari itu aku paham bahwa pertemanan dengan manusia tidak akan pernah bisa melampaui perasaan ramahku kepada mereka. Rasa takut yang memisahkan kami sedalam perairan gelap dari masa kecilku. Rasa saling tidak percaya, meski tidak beralasan, begitu lebar sampai tidak bisa ditanggulangi.”

Dalam tatanan manusia modern yang mengebunkan binatang seolah mengoleksi benda-benda, wagu ada istilah hidup berdampingan dengan sesama makhluk. Apalagi, menurunkan derajat ketakdiran sebagai manusia untuk setara dengan binatang. Bahkan kepada semasa manusia, tetap ada batasan untuk merasa lebih tinggi. Merendahkan yang lain tetaplah jadi bagian dari naluri purba manusia. Baltazar mengatakan, “Kadang aku yakin bahwa manusia mengira beruang tidak punya perasaan. Itu sebabnya mereka tidak menghargai hidup kami, masa lalu kami, atau impian-impian kami. Barangkali mereka juga berbuat begitu satu sama lain. Tapi buatku sungguh jahat seseorang bisa direnggut begitu saja dari dunianya, dikurung dalam kandang, dan dilarang hidup seperti semua orang lainnya.”

Di hikayat semacam pancatantra dari India, salah satunya yang amat tua serta terkenal seperti alegori politik para binatang dalam jagat Kalila dan Dimna, kita mendapati dunia hewan yang sepenuhnya terpisah dari kuasa manusia. Mereka membentuk dunia sendiri dengan dialog, bukan monolog, penuh pikiran, intrik, strategi, dan entitas moral sebagai percontohan bagi dan pencerminan dari umat manusia. Peran manusia dihilangkan, terganti oleh para binatang sebagai lakon yang ramai.

Kita membaca kenang-kenangan Baltazar sepertinya bukan sebagai fabel yang meriuh. Baltazar seperti harus sendirian mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kemanusiaan di dunia manusia. Bahkan meski dengan risiko ditembak oleh penjaga kandang kebun binatang yang merasa “direndahkan”, Baltazar telah berhasil merongrong dengan keprihatian atas kemapanan, egoisme, kekuasaan dunia manusia.

Judul : Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Penulis : Claudio Orrego Vicuña
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetak : Pertama, November 2018
Tebal : x+68 halaman

*Esais, penulis cerita Peri Buah-buahan Bekerja (Kacamata Onde, 2018). Tinggal di Solo.

read more
BukuTERASWARA-WARA

Menuju Cahaya Jokowi   

buku jokowi

Oleh Ita Siregar

Ketika Albertheine Endah melempar kaver buku Jokowi terbaru ke WAG Satupena, saya terpana membaca judul: Menuju Cahaya. Benak saya segera saja memunculkan kata: moksa, damai, hening, bening. Saya berpikir judul pastinya telah melewati skrining makna beberapa kepala, termasuk penulis.

Petang kemarin (Kamis, 13/12/18) saat peluncuran buku di Hotel Mulia Jakarta, Prof Dr Dato Sri Tahir memberi kata sambutan, juga mempertanyakan hal sama, tetapi kemudian ia bersetuju dengan judul setelah membaca buku.

Menurutnya, ada tiga hal sehingga Jokowi bersesuaian dengan judul Menuju Cahaya, yaitu 1) dia dapat berdiri di atas matahari, artinya seluruh hidupnya boleh diteropong tiap waktu oleh siapa pun dan akan didapati tak tercela –bukan berarti dia tidak pernah salah, 2) rekam jejak (politik) Jokowi yang ternyata bersih sejak kecil, sebagai pengusaha kayu, sebagai walikota Solo, sebagai gubernur Jakarta, sebagai Presiden Indonesia, dan 3) keluarga, yang sepenuhnya mendukung dan mempercayai Jokowi –meski mereka tidak selalu setuju.

Setelah saya membaca buku, saya pun setuju dengan pendapat itu. Tak sulit memahaminya karena penulis dengan lancar menarasikan kisah seperti kita sedang didongengi oleh Jokowi sendiri.

Jokowi kecil yang hidup prihatin di bantaran sungai bersama orangtua, yang kemudian ia simpulkan bahwa kemiskinan telah menempa mentalnya menjadi kuat dan tabah. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan orangtua dan disimpulkan Jokowi, pas dan tak berlebihan. Segala kepahitan hidup di masa lalu ia pandang sebagai tonggak sejarah yang tak terlupa.  Bahwa tanpa itu semua takkan ada Jokowi sekarang.

Dalam dunia kuliah dan bekerja, ia tidak berspekulasi. Semua diraih melalui belajar dan bekerja keras. Persis ia menjadi pengusaha kayu, bisnis furniture di Tanah Air sedang bersemi. Kerja keras membuatnya melaju. Karakternya yang berbela rasa dan berbelas kasihan kian matang. Istri dan ketiga anaknya kian mempercayai bahtera keluarga yang dipimpin Jokowi.

Setelah urusan keluarga beres, Jokowi memperhatikan dunia sekeliling. Kepeduliannya yang nyata mendorong kawan-kawan memberinya jalan untuk menjadi pemimpin mereka, di Solo. Tantangan itu diterima meski Jokowi tidak pernah bermimpi menjadi pengabdi Negara.

Blusukan adalah istilah kampanye yang diciptakan karena ia tak punya banyak uang. Keberhasilannya menangani Solo menarik perhatian Jakarta yang kala itu sedang mencari calon gubernur. Lagi-lagi ia tidak bermimpi hijrah ke Jakarta tetapi jalan sudah terbuka di depannya.

Bersama Ahok ia menunjukkan kepada warga Jakarta apa yang seharusnya sudah dicapai oleh ibukota negeri ini. Keberaniannya membongkar segala kegelapan sudut-sudut ibukota  membawa warga pada cahaya yang belum pernah diketahui sebelumnya. Dan ketika Indonesia sedang mencari seorang calon presiden, lagi-lagi Jokowilah yang dilirik meski sekali lagi, ia tidak pernah bermimpi presiden menjadi takdirnya. Tetapi pintu-pintu telah terbuka di depannya. Ia hanya tinggal masuk. Demikianlah orang yang tidak menginginkan kekuasaan diberi kekuasaan penuh oleh alam semesta.

Sepanjang 382 halaman buku mendedah karya Jokowi sebagai presiden. Pada halaman-halaman tertentu saya terharu ketika berulang-ulang  –dalam bahasa yang berbeda- ia mengatakan bahwa pembangunan harus menghampiri rakyat sudut mana pun. Ia memimpikan Indonesia yang berkeadilan sosial. Pada halaman lain saya kagum ia memandang status presiden sebagai pelayan rakyat yang sedang bekerja untuk kebaikan negeri, bukan seorang pejabat yang sedang mempertahankan rating survei. Humor sinis muncul sebagai responsnya terhadap fitnah dan hoaks keji tentang dirinya. Dengan program Nawa Cita ia berharap takkan lagi ada kisah-kisah sedih dari dunia pertanian kita.

Dengan segala kerja, kerja, kerja yang dia lakukan secara konsisten bersama Kabinet Kerjanya, selangkah demi selangkah kita Menuju Cahaya itu.

Sekarang saya merasa judul itu pas. Dialah yang kita perlu saat ini. Memang dia tidak sempurna tetapi tidak ada yang mencintai dan mengabdi kepada Indonesia, sebesar dia.

Oya, istilah Jokowi diberikan oleh buyer Prancis bernama Bernard untuk membedakan dia dari Joko-Joko yang lain. Begitu.

Pak Jokowi, terima kasih telah bersedia menjadi Presiden kami. Salute!   (is/14/12/18)

 

read more
1 2 3 5
Page 1 of 5