close

OASE

OASETERASWARA-WARA

Sepanjang Semarang-Jatisrono

Romansa Puasa_preview

Teks Yuanita Maya

Ibu membuka jendela mobil sambil mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, meminta maaf sekadarnya kepada Bapak yang tengah berpuasa. Yang dimintai maaf tenang-tenang saja, sementara istrinya mengembuskan asap Gudang Garam filter yang berbual-bual di udara. Asap menguarkan aroma manis yang pekat, yang hingga puluhan tahun kemudian dalam ingatan tetap saja lekat.

Para perokok sepakat bahwa menahan lapar kala puasa boleh dibilang mainan anak-anak. Tapi menahan hasrat merokok selama belasan jam adalah neraka lapis pertama. Masih beberapa jam lagi sebelum Bapak bisa menyalakan Bentoel Biru-nya, tapi Ibu cuek menyedot rokok dengan gayanya yang khas serta sedap dipandang itu.

“Sana yang puasa kenapa sini yang asem,” begitu komentar Ibu sambil lalu kalau ada yang protes semacam ini, ”Pengertian, dong, kasihan suami lagi puasa.”

Karena satu dan dua alasan, Tuhan mengaruniai ibu saya, perempuan paling cuek bebek di dunia, suami berbeda agama yang sabar luar biasa. Bapak Muslim dan Ibu Katolik. Bapak rajin menunaikan tradisi agama, Ibu cenderung mengabaikannya. Saya yakin, kalau dalam hidupnya sekali saja Ibu pernah berpantang sebulan pada masa prapaskah seperti Katolik saleh lainnya, maka ia akan paham betapa menderitanya menghirup wangi aroma kretek saat ia berpantang. Tapi bukan Ibu kalau tidak lihai berdalih.

“Puasa tidak ada yang maksa kok manja,” dengusnya berkelit.

Ibu janda canggih lima anak perempuan dan Bapak perjaka tingting dari desa yang lugu dan sederhana. Dari perkawinan mereka lahir dua anak perempuan tambahan. Mereka menikah di Catatan Sipil, sebab kala itu belum terbit peraturan pemerintah yang mewajibkan dua insan yang menikah wajib satu agama; satu aturan kelak sangat merepotkan dan tak jelas faedahnya.

Dalam rentang perkawinan yang berakhir oleh maut itu, Bapak dan Ibu sepakat untuk tidak merecoki keyakinan masing-masing. Perkawinan mereka bukan sejenis perkawinan yang tenang-tenang tanpa prahara; lagipula di mana ada pernikahan yang berjalan damai tanpa perkara? Mengingat sifat Ibu yang meledak-ledak dan tidak sabaran, apa pun bisa ia permasalahkan. Bapak dan Ibu bisa bertengkar soal mertua, ipar, keuangan, pekerjaan, sebut apa saja. Tapi sejauh yang saya ingat, tak pernah mereka meributkan keyakinan masing-masing.

Maka, jauh sebelum memasuki gerbang sekolah dan menghapalkan sila-sila Pancasila, kami sudah belajar di rumah. Tentu tidak secara sadar, karena Bapak –sebagai contoh- tidak pernah mengikuti ibadah keluarga besar Ibu sambil melantangkan butir-butir Pancasila sila Pertama. Ibu juga tidak pernah menyiapkan sahur untuk Bapak sambil berkata, ”Harusnya aku jadi juru tatar P-4”, misalnya. Bapak tidak merasa terganggu jika di rumah memasang lagu rohani Kristen keras-keras. Ibu dengan setia menemani Bapak bertarawih, walau mungkin ia menunggu dengan jemu sambil dalam hati menggerutu.

Dari ketujuh anak Bapak dan Ibu, seorang Muslimah dan sisanya Kristen. Tidak satupun beragama Katolik, sekalipun mengirimkan anak-anak ke sekolah Katolik terbaik adalah tradisi keluarga kami. Bisa dibilang Ibu cukup kesepian secara iman. Atau mungkin tidak, mengingat ia sendiri kurang berminat dalam menjalankan liturgi agama sebagai sebuah kebiasaan. Sejauh menjadi anaknya, saya melihat Ibu sebagai sosok yang lebih senang mengamalkan ajaran agama dalam perilaku sehari-hari ketimbang yang bersifat liturgis.

Jadi boleh dibilang merokok di samping suaminya yang sedang berpuasa adalah satu-satunya hal paling tidak sensitif yang dilakukan Ibu. Atau mungkin ini sudah menjadi konsensus di antara mereka, siapapun yang memegang kemudi punya hak untuk merokok di dalam mobil ber-AC. Apalagi perjalanan mudik Semarang-Jatisrono, desa kelahiran Bapak, makan waktu cukup lama, lebih kurang enam jam. Emang enak setir mulutnya asem?

Dalam ingatan kanak-kanak saya pada dekade 80-an, perjalanan mudik yang ditempuh dalam momen puasa memberi Bapak hak istimewa untuk duduk di kursi navigator. Sementara kami menghabiskan waktu dengan cekikikan atau mengobrol di kursi belakang, Ibu tidak mengganggu Bapak yang kadang tertidur lama di sebelahnya. “Duduk di samping sopir itu artinya navigator. Kalau tidak bisa memandu ya minimal jangan molor,” yang biasanya disemprotkan Ibu kepada navigator tukang ngorok, tidak berlaku bagi Bapak yang tertidur dalam lesi di sampingnya. Bapak gagal menjalankan fungsi sebagai navigator, tapi Ibu tetap melajukan gas tanpa kendor.

Berpuasa, sekalipun merupakan kebiasaan, tetap hal yang berat dilakukan. Setidaknya itu yang Ibu pahami, dan ia tidak keberatan dalam perjalanan panjang itu, ditinggal tidur navigatornya. Untuk membantunya berkonsentrasi, Ibu memasang tape sambil berdendang atau bersiul-siul. Atau menyalakan batang rokoknya yang kesekian.

Mobil melaju kencang, hingga waktu berbuka tiba dan kami akan singgah di rumah makan untuk menemani Bapak berbuka. Kami sudah bosan mengobrol, namun Ibu tetap setia dalam tugasnya menghantar kami ke rumah Simbah. Jatisrono adalah desa terpencil di Jawa Tengah dengan jalanan berkelok dan kerap berbatu-batu. Butuh keahlian khusus untuk menguasai medan semacam itu, tapi Ibu tidak menganggapnya beban dan menyetir penuh semangat, sementara suaminya terlelap dalam ibadah. Bukankah dalam Islam tidur kala puasa terhitung ibadah?

Mungkin tanpa Ibu sadari, sesosok malaikat melihat bahwa hari itu ada seorang istri yang rela menyetir sekian jam sepanjang jalan beraspal Semarang hingga jalanan berbatu-batu Jatisrono supaya suaminya bisa beribadah, dan mencatatnya sebagai ibadah pula. Siapa tahu?
*

*Yuanita Maya adalah penulis lepas, tinggal di Jakarta

read more
OASETERASWARA-WARA

Pendeta Baker

priest

Teks Ita Siregar
Foto Pixabay.com

Kita prihatin dengan berita 22 pendeta (per 3 April 2020) yang berpulang ke rumah Bapa karena terpapar virus Corona, apa pun peristiwanya. Kita gregetan mendengar beberapa dari hamba Tuhan menjadi pahlawan kesiangan di masa pagebluk ini. Mereka berkoar Tuhan lebih besar daripada Covid-19. Tentu saja. Virus hanyalah virus. Tuhan adalah Pemilik Semesta Alam.

Apa penjelasan yang waras dalam mengkonfrontasikan kekuasaan Tuhan dan keganasan virus yang bekerja senyap, sambil mempertaruhkan nyawa orang (baca umat)? Apakah terlalu malu dengan fakta bahwa anak Tuhan tidak kebal virus?

Tentang perihal di atas, saya mau berkisah tentang Pendeta Baker (baca baker, bukan beiker).

Dalam pelayanannya, Pendeta Baker menggumuli okultisme (dari bahasa Latin occultus (rahasia) dan occulere (tersembunyi). Kita (baca orang Kristen) suka dengan segala hal supranatural karena di luar kemampuan normal. Memang ada beberapa pendeta yang menunggangi talentanya menjadi kesenangan pribadi (mempertontonkan kemampuan itu karena ada udang di balik batu). Namun tak kurang pendeta yang bersikap mulia, menjadi hamba yang setia kepada Tuannya. Salah satunya adalah Pendeta Baker, yang akan saya ceritakan ini.

Suatu hari Pendeta Baker yang Batak dan istrinya yang Jawa mampir ke Balige. Dari Siborongborong mereka datang untuk satu urusan. Saya diperkenalkan kepada mereka oleh kawan saya. Perkenalan itu mengesankan karena cerita kawan saya saat bersamanya.

Satu malam mereka berkendara melewati hutan. Malam tanpa bintang. Di daerah yang namanya mereka tak tahu, mesin mobil mati. Pendeta Baker menstarter mobil puluhan kali, gagal. Sampai jarinya pegal. Dan ia berhenti. Matanya memandangi setir sekian detik, lalu berkata, “Kita harus berdoa.”

Lantas ia mengucapkan doa pendek. “Tuhan, mesin mobil mati. Di luar gelap sekali. Tolong kami. Amin.” Setelah itu tangannya memegang kunci, memutarnya sekali, dan mesin pun nyala. Haleluya!

Lalu cerita lain. Kawan saya diserang sakit perut hebat. Ia buang-buang air, usus melilit-lilit seperti mau mati. Sambil meringis dia meminta Pendeta Baker untuk membawanya ke dokter.

Melihat kawan saya, Pendeta Baker mengambil segelas air putih, berkata, “Lihat, ini air minum biasa. Minum ini, sakitmu akan hilang.” Teman saya menenggaknya habis. Tak lama ia tertidur seperti bayi. Saat bangun, sakitnya sudah ngacir.

Pendeta Baker punya sekolah untuk calon pendeta di Siborongborong. Satu kali seorang mahasiswanya kesurupan. Teman-teman si kesurupan berusaha mengusir roh yang bikin kesurupan, tidak bisa. Si kesurupan makin kesurupan. Putus asa, mereka memberitahu Pendeta Baker.

“Kenapa kalian tidak usir setannya?”

“Sudah, Pak. Tapi tidak bisa.” (Ingat kisah murid-murid Yesus yang juga tak bisa mengusir roh jahat).
Jadi Pendeta Baker pun turun tangan. Dia menuju ke TKP. Di sana para mahasiswa sedang menyanyi lagu Allah kuasa melakukan segala perkara. Termasuk si kesurupan. Bah! Setan kok nyanyi lagu rohani, pikirnya.

“Berhenti menyanyi! Mari kita ulang! Kita konsentrasi pada syair lagu,” katanya.

Pendeta Baker mulai angkat suara, para mahasiswa mengikuti. Baru satu baris lirik, si kesurupan menjerit, “Panas, panas!” Seketika Pendeta Baker menghardik, “Pergi kau dari orang ini!” Setan pun pergi. Si kesurupan siuman.

“Setan sering ngaku-ngaku jadi siapa saja. Nenek moyang, kawan yang sudah meninggal, bahkan malaikat. Camkan itu,” kata Pendeta Baker kepada para mahasiswanya.

Lalu pada satu subuh pukul 3 asrama mereka dikagetkan oleh suara orang berkotbah. Suaranya kencang minta ampun. Ternyata seorang mahasiswa kemasukan roh khotbah. Dia berkotbah dalam bahasa Inggris, Rusia, Jawa, berganti-ganti. Padahal kawan itu tak bisa bercakap bahasa Inggris sehari-hari.

Teman-teman si pengkhotbah berusaha menyadarkan, tak berhasil. Akhirnya mereka kembali memanggil suhu, Pendeta Baker.

Pendeta Baker berdiri menghadap si pengkhotbah, memintanya memandang matanya “Siapa kamu?” tanyanya.

“Aku Gabriel,” jawab si pengkhotbah.

“Ah, Gabriel gadungan kamu! Pergi sekarang juga!” sentak Pendeta Baker.

Malaikat gadungan itu pun kabur. Si mahasiswa sadar, bertanya-tanya, “Kenapa kita di sini?”

Kemampuan Pendeta Baker dikenal dari mulut ke mulut. Banyak orang kemudian tahu. Dan mereka meminta tolong untuk urusan segala macam. Masalah penyakit, jodoh, ingin anak, relasi harmonis, dan lain-lain.

Pendeta Baker sadar bahwa talentanya sangat menggoda untuk diselewengkan. Umat atau siapa pun yang merasa tertolong, tentu tak keberatan menyerahkan amplop berisi persembahan kasih sekadarnya, yang kadang-kadang bukan sekadarnya.

Pendeta Baker telah berjanji kepada dirinya. Bahwa dia takkan hidup dari persembahan orang-orang yang dilayaninya. Karena itu dia bertani. Dia punya tanah 3000 meter. Dia menanami tanahnya dengan jeruk, alpukat, cabai, dan rupa-rupa yang lain. Setiap tiga bulan dia ke Padangsidempuan untuk menjual hasil ladang. Di pasar dia berjumpa dengan orang dari golongan apa pun, agama apa pun. Dia menjalani kesehariannya yang lain sebagai petani.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

Dia pun berkisah. Waktu kecil, pertama kali dia diajak oleh ibunya ke gereja orang dewasa. Mereka duduk mendengarkan orang di atas mimbar berbicara. Setelah itu jemaat membuang uang di kantong yang diedarkan. Dia bertanya kepada ibunya, apa pekerjaan orang itu. Pendeta, jawab ibunya. Sejak itu dia bercita-cita menjadi pendeta. Hanya berbicara, orang mendengarkan, setelah itu orang kasih uang. Gampang sekali, pikirnya.

Lalu tahun 70-an, dia dan abangnya akan sidi. Pendeta gereja meminta biaya Rp10.000 untuk masing-masing. Waktu itu ayahnya tak punya uang. Jadi dia bilang kepadanya, “Kau sidi belakanganlah dari abangmu ya. Bapak tak ada uang.” Pendeta Baker sedih padahal dia sudah membayangkan akan mengenakan kemeja putih lengan panjang.

Sejak itu dia berjanji, kelak menjadi pendeta, tak berharap persembahan umat. Pengalaman sidi selalu dia kenang sampai sekarang. Dan sudah selayaknya jemaat memikul tanggung jawab bersama. Menolong agar pendeta mereka menjalani tugas mulia secara bermartabat. Menjaga agar para hamba Tuhan kesayangan tak jual diri di bawah ketiak Tuhan.

Semoga kita dapat melewati masa pagebluk dengan kewarasan. Bukan dengan iman yang klise.

(is/04/04/20)

read more
OASETERASWARA-WARA

Kopi Pertama

Ill. Kopi Pertama

Kemarin dia menunjukkan foto suaminya. Saya melihatnya dengan antusias, menggeser-geser touch screen hapenya, berkata pelan, “Waduh, masih muda ya.” Saya bisa mengatakan itu karena wajah yang tampak di sana tak menunjukkan kerut, kulitnya terang.

“Iya, Kak, masih 43 tahun waktu meninggal,” jawabnya.

Suaminya meninggal September lalu karena narkoba. Balige tahun 2000-an, katanya, sangat gawat. Laki-laki pemakai berkeliaran di kota, beberapa perempuan muda ikut-ikutan, bikin kota jadi menyeramkan. Teman-teman main suaminya itu sudah bermatian, lebih dulu.

Mereka berdua punya tiga anak. Laki-laki semua. Suaminya diciduk polisi saat mereka di rumah. Bungsunya masih 3-4 tahun usianya. Sebelum polisi menangkap, suaminya melesakkan barang terlarang itu ke telapak tangannya.

“Apa nya kau ini?” katanya tak mengerti.

Suaminya pikir polisi akan jatuh kasihan bila melihat barang itu di tangan seorang ibu dengan tiga anak laki-laki kecil. Kalau si ibu ditangkap, siapa mengurus anak-anak itu? Tetapi suaminya salah. Polisi galak menanyainya sampai dia tak mampu berkelit. Bagaimana bisa bohong? Di lengan suaminya kentara banyak bekas suntikan obat terlarang.

Memang sudah kecanduan berat suaminya itu. Kalau sedang sakau, dia akan terserang demam hebat, yang membuatnya merinding melihatnya. Bagaimana seorang manusia tega merusak diri dengan merindu obat-obatan sialan itu?

Dan malam itu suaminya dibawa pergi. Anak-anaknya masih terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi. Dan ia tahu apa yang dilakukan polisi kepada orang-orang seperti suaminya. Mereka akan dibawa ke hutan sana, dipukuli ditendangi disiksa sehabis-habisnya. Biar kapok, pikir polisi. Tapi sampai sumsum tulang mereka menagih obat. Seperti penjara besi berlapis tujuh.

Lalu suaminya dijatuhi 7 tahun penjara. Dia mengadu kepada ayahnya. Ayahnya tahu menantunya sebenarnya berhati baik. Hanya salah pergaulan. Ayahnya mengupayakan segala sesuatu, menebus waktu menantunya, tujuh tahun dipotong menjadi 3 tahun.

Selama 3 tahun dia bekerja apa saja dengan tangannya. Ada tiga anak yang harus diberi makan setiap hari. Ia mencuci pakaian orang, membereskan rumah orang, apa saja. Begitu terus sampai selesai 3 tahun. Suaminya dibebaskan.

Lalu ayahnya membelikan suaminya mobil angkutan agar bisa cari uang sebagai sopir. Mereka keluarga bahagia selama beberapa waktu. Sampai lingkungan buruk itu kembali menarik-narik suaminya. Lagi-lagi narkoba jahanam. Dia menyesali suaminya yang kurang gigih bertobat. Tapi apa mau dikata? Apa mau disesali? Itulah suaminya. Yang lebih dan kurangnya ia harus terima, bersih.

Kemudian suaminya jatuh sakit. Sangat sakit. Hanya mendekam di tempat tidur. Kurus tak berdaya. Makanan tidak dapat ditelannya.

Setahun terakhir adalah hari-hari yang berat baginya. “Kalau dipikir-pikir, bagaimana aku bisa bangun pagi, mengurus anak-anak dan suami dan rumah, kerja. Seperti mimpi, Kak. Seperti mimpi,” katanya.

Hari-hari terakhir. Suaminya sudah berulang kali meminta maaf. Karena telah membiarkan istri bekerja menafkahi keluarga. Dan dia memaafkan. Dia memaafkan dengan tulus. Apa lagi? Setiap akan pergi kerja, dia tanya suaminya, “Boleh nya aku pergi?”

“Pergilah. Asal cepat kau pulang. Sambil kau doakan aku, doakan aku,” kata suaminya.

Tubuh suaminya terlalu parah sampai mereka perlu membawanya ke rumah sakit. Mereka bergantian menjaga. Sekarang ketiga anak mereka sudah besar.

“Kalau Bapak meninggal, apa Mamak bisa membiayai kami?” tanya si bungsu memandang ibunya, ragu.

Ia memandang mata anaknya dengan gusar, menjawab, “Bah! Bisa! Gampang nya cari duit itu. Asal kau mau kerja!”

Dan hari penentuan itu pun tibalah. Suaminya pergi dalam sunyi. Tanpa pesan, tanpa kata. Sulungnya, yang waktu itu seharian menjaga, pergi pulang lalu ayahnya pergi. Dan dia sangat menyesali ayahnya. “Pak, seharian aku jaga kau, kau tak pesan apa-apa sama aku! Aku pergi sebentar, kau pergi nya!”

Kepergian itu menghentak kesadarannya. Ia tidak tahu apa dia senang atau sedih. Bebannya sudah terangkat tetapi kekosongan melanda jiwanya. Dia menyesali suaminya yang tidak berusaha hidup lebih lama untuk mendampinginya melihat cucu-cucu yang lahir kelak. Banyak yang dia sesali. Banyak juga kenangan yang kembali. Anak-anak mengasihi ayah mereka. Itulah kebaikan suaminya yang tak terhapus oleh ketidakmampuannya melawan pengaruh jahat dari luar dirinya.

“Hidup aku ini seperti mimpi, Kak. Seperti mimpi!” dia menekan kata mimpi. Saya mengangguk-angguk, mencoba paham.

“Orang bilang aku makin gemuk. Lihat Kakak kemarin aku pesta kan? Tak satu pun kebayaku muat.” Dia tertawa.

Saya ikut tertawa, mengangguk-angguk. Saya senang melihatnya senang. Dia telah melewati banyak kegelapan dalam hidup, dengan keberanian.

Sepanjang pagi hingga siang itu kami ngobrol, langit terus merajuk, menangis. “Enak kalau minum kopi dingin begini,” katanya.

“Mau? Aku bikinin ya? Dengan susu manis?”

Dia setuju. Saya bersemangat. Senin sampai Sabtu dia datang, mungkin untuk 3-4 jam membereskan rumah kawan saya, tempat saya tinggal selama hampir empat bulan, baru hari ini kami mengobrol hebat. Benang-benang merah jadi lurus sekarang. Dan saya ingin merayakannya. Membuatkan kopi untuknya. Meski dia tak suka kopi buatan saya. Terlalu pahit, katanya. (itasiregar/16/02/20)

read more
OASETERASWARA-WARA

In Memoriam Graha Bhakti Budaya

FTI 2016

(1968-2020)

Sejak 2012 saya membantu Radhar Panca Dahana (RPD) membuat kegiatan –perhelatan dan pertunjukan teater terutama- di Taman Ismail Marzuki (TIM). Seringnya di Graha Bhakti Budaya (GBB).

Setiap tahun misalnya, Federasi Teater Indonesia (FTI) menyelenggarakan Malam Anugerah FTI. Acara ini dalam rangka mengapresiasi karya dan kerja senior teater, dan Maecenas-nya. Yang menyerahkan penghargaan para tokoh dan pembesar negeri ini.

Menjadi mediator antara RPD dan teman-teman pengurus TIM, tidaklah mudah. Yang satu idealis, yang satu saklek administratif. Pertama kali berurusan dengan keduanya, bikin sesak napas. Ini bagian paling menantang. Saya dipingpong dengan alasan masing-masing. Kalau saya lapor, “Ndak bisa, Mas, orang TIM bilang bla bla bla …”, eh saya malah didesak, “Ndak bisa gitu dong, Ta. Kamu bilang ke mereka bla bla bla ….” Dan pihak TIM bergeming. Oh, Tuhan!

Karena sering berada di antara dunia yang sama-sama keras dan mendesak, lama kelamaan saya menemukan mekanisme sendiri untuk “menyelamatkan “ diri dari “tekanan” keduanya. Saya makin tahu di mana celah “mengalahkan” keras kepala RPD dan paham gentingnya masa depan teman-teman TIM bila bersikap longgar dengan peraturan. Kepentingan saya hanya satu: pekerjaan selesai. Dan saya tidak spaning.

Alasan RPD menyelenggarakan kegiatan semacam ini bukan karena dia kelebihan duit. Tidak sama sekali. Tetapi bahwa teater adalah kegiatan paling mengekspresikan kehidupan. Saya menyetujui pendapat itu ketika belajar mengurus acaranya. Karena sebuah pertunjukan teater penting diselenggarakan dan perlu diselenggarakan secara serius, di tempat yang baik dan terhormat.

TIM (baca GBB) dan RPD, adalah dua tempat saya belajar. Saya bergelut dengan perasaan sendiri dalam memahami manusia-manusia selama proses kerja. Mental saya terbentuk saat berbicara dengan para undangan yang adalah para tokoh dan senior, seniman dan artis yang terlibat, media yang biasa diundang, teman-teman panitia, penonton, dan pihak keamanan (polisi). Selama acara saya bisa jadi apa saja, dan itu tak penting. Yang penting acara mengalir sebaik-baiknya. Saya menjadi host, memastikan kamar kecil bersih, memikirkan kesejahteraan perut teman-teman panitia, menjawab pertanyaan orang luar.

Ruang-ruang di GBB menjadi saksi saya kena semprot RPD, di depan orang-orang. Sekali lagi, itu tidak lagi penting. Bagi saya, mengenali kebutuhan diri dan sesama mekar bersama waktu itu. Artinya, menghargai seorang presiden sama pentingnya dengan menghargai tukang parkir.

Acara Dialog Presiden&Kebudayaan tahun 2014 menghadirkan Prabowo dan Jokowi. Ketika itu saya sadar, pada posisi kebudayaan, mereka adalah manusia dengan segala kekurangan-kelebihan. Saya masih ingat (dan geli) di ruang transit, Pak Prabowo berkata, “Makhluk apa itu kebudayaan.”

Tahun 2015, ketika FTI menghadirkan Kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, dan tokoh teater Akhudiat, saya tidak takut berdebat dengan kepala polisi dan ketua FPI Jakarta. Ketika kepala polisi berkata kepada saya untuk menghentikan kegiatan dengan alasan keamanan (waktu itu ratusan FPI sudah berkumpul di halaman TIM), saya menjawab, “Pak, ini acara kebudayaan, siapa pun bahkan presiden, tidak boleh menghentikan kegiatan ini. Kalau ada demontrasi di depan sana, ya Bapak tolong bantu amankan, dong. Jangan malah kami yang disuruh berhenti. Gimana sih Bapak ini?”

Dan acara lain, dan yang lain, pada tahun berbeda. Semua didokumentasikan abadi, direkam oleh dinding-dinding GBB. Dengan puluhan ingatan pernah dan sering beracara di sini, TIM adalah tempat yang dekat di hati. Saya biasa mampir –sendiri atau dengan kawan, sekadar makan Soto Surabaya, ngobrol atau nonton teater.

Terakhir tahun 2019 ke sana, saya melihat banyak wajah berubah. Kompleks warung pada sisi kanan lokasi, dirubuhkan. Itu saja sudah bikin hati sunyi. Melihat suasana berubah, mencipta rasa asing dan panik sendiri. Membaca rencana revitalisasi oleh penguasa, dan aksi-aksi #saveTIM oleh teman-teman seniman yang bergulat dengan pertanyaan, “Entah kapan usaha ini berakhir”, saya ikut bertanya-tanya, apa jadimu, TIM?

Semalam, membaca catatan emosional kawan-kawan di media sosial mereka, lalu foto GBB dirubuhkan oleh alat berat, mata saya hanya melihat dan jantung bekerja lebih cepat. Sejak berdiri tahun 1968 hingga kemarin, ia 52 tahun. Suka-duka ceritanya ada di jutaan hati yang pernah bersentuhan dengannya. Sepertinya badan saya gemetar karena tak mampu bilang, “Pak, ini tempat kami merayakan ekspresi kebudayaan. Presiden atau siapa pun tidak boleh merubuhkan ini. Jangan kami disuruh berhenti. Bapak ini gimana sih?” (is/06/02/20)

Keterangan Foto:
Acara Malam Anugerah FTI 2016 oleh Federasi Teater Indonesia

read more
OASETERASWARA-WARA

Kritik Sastra Terbatas

‘As I see it, Pinocchio was motivated by a need to prove himself, while both Hansel and Gretel were driven by an inborn rebelliousness.’

Sudah beberapa kali saya mendengar Radhar Panca Dahana mengungkap kekagumannya kepada Joko Pinurbo dalam memahami puisi. Itu terjadi karena Jokpin pernah secara tepat mengatakan apa yang dia “baca” dari satu puisi Radhar. Barangkali Radhar merasa perlu mengatakannya lagi dan lagi untuk menekankan pentingnya kritik/us di tengah belantara puisi. Arti lain, tidak mudah memahami puisi seseorang dengan tepat.

Abah D Zawawi Imron, penyair senior kesayangan, si Bulan Tertusuk Ilalang (1982), tiap ketemu, seingat saya, beliau pasti cerita soal pertemuannya yang mengesankan dengan Sitor Situmorang, si Bunga di Atas Batu (1989). Kalau yang ini, itu karena beliau tahu saya orang Batak.

“Apa artinya Bunga di Atas Batu, Bah?” Saya berpikir malas.

“Kamu pikir dulu, dong. Mungkin ndak bunga di atas batu?”

Baru saya ngeh. Memahami satu larik kadang-kadang seperti mengisi teka-teki silang. Kalau betul akan pas memenuhi kotak-kotak jawaban. Barangkali kemampuan Jokpin memahami puisi Radhar adalah semacam hasil latihan bekejaran dengan waktu dalam mengerti kata/kalimat dan apa yang ada di belakangnya. Ini sebuah kegirangan.

Sewaktu DKJ menggelar Lomba Kritik Sastra 2013 saya pikir saya akan turut serta. Buku yang langsung teringat saat itu adalah Perempuan yang Dihapus Namanya (2010) karya Avianti Armand. Hanya lima puisi (panjang) dalam buku itu. Empat puisi tentang empat perempuan dalam Perjanjian Lama yang merupakan temuan-temuan apresiatifnya. Namun dalam satu puisinya, menurut saya, satu dan dua hal telah terlewatkan oleh penulisnya, yang mungkin saya bisa bahas.

Zen Hae menulis sebuah esai bagus ketika dia diminta sebagai pembahas buku puisi itu di Komunitas Salihara. Avianti mengirimkan esai itu kepada saya. Judulnya panjang, yang saya ingat, Puisi-puisi yang Menggenapkan Kitab Suci. Semacam itulah. Kami sama-sama mengagumi tulisan itu. Dalam esainya Zen Hae mengaku menghabiskan waktu seminggu membaca di perpustakaan Freedom sebelum menulis esai tersebut.

Pada waktu yang berbeda saya bersama Damhuri Muhammad di satu kedai di UI. Saya lupa ngobrol apa, tetapi dia mengungkap bahwa dia punya sedikit kesulitan dalam memahami puisi-puisi Mario F. Lawi. Apakah penyebabnya sama seperti kasus saya bertanya kepada Abah Zawawi? Saya tidak bertanya lebih lanjut waktu itu.

Pada Green Literacy Camp 2019 desa Ponggok yang baru lalu, pada malam Poem Battle antara Jokpin dan M Aan Mansyur, wasit Anton Kurnia meminta Nana Djoened menjadi juri dadakan, Ibu Kades cantik yang bilang jarang membaca puisi itu menjawab, saya telah mendengar kedua puisi, dan saya memilih puisi M Aan Masyur karena saya lebih bisa mengikuti (baca: memahami).

Lebih mutakhir saya baru saja membaca Keledai dalam Kitab Suci, resensi Saddam HP di basabasi.co tentang buku puisi Mario F. Lawi, Keledai Yang Mulia (2019). Saya menduga Saddam menulis resensi itu dalam sekali “klik” saja, mengingat unsur kedekatannya dengan penulisnya, mereka satu perguruan, sering bercakap-cakap, dan alasan lain. Mungkin.

Saya boleh jadi masih akan menemukan pengalaman-pengalaman baru dalam membaca puisi dan mendengar para penikmati puisi memahami puisi-puisi yang mereka baca. Ini sangat membesarkan hati. Puisi selalu dan bisa dipahami.

Bagaimana pun saya belum berani merapat ke Abang Ahmad Yulden Erwin dalam hal menulis dan membaca puisi. Soalnya dalam menghitung saja saya perlu ekstra hati-hati. Boro-boro membaca puisi secara matematis.

(itasiregar/13/07/19)

read more
OASETERASWARA-WARA

Ponggok Wani Sinau

Umbul kapilaler

Foto Umbul Kapilaler Desa Ponggok

Apa yang akan terjadi bila 83.931 desa (BPS tahun 2018) di Indonesia punya hari-hari perayaan literer?

Saya bayangkan orang-orang duduk membaca-menulis di ruang-ruang di perpustakaan. Mereka akan bikin museum sendiri. Mereka akan mengenal diri seutuhnya. Hoax bukan lagi teror.

Adalah satu Desa Ponggok. Mereka baru saja menyelenggarakan festival literasi, bertajuk Green Literacy Camp (GLC) 2019. Sejak pertama kegiatan dikawinkan dengan isu lingkungan. Selama 4 hari 3 malam, 29 narasumber berbagi pengetahuan, melayani warga. Penyelenggaranya Pemdes, pendananya Bumdes. Ini berita luar biasa.

Saya telah mendatangi beberapa kegiatan literasi desa. Katakankah Festival Ubud di Bali, Festival Rumah Dunia di Banten, Festival Sastra Boja di Kendal. Penggagas memulai dengan semangat yang tak mudah patah. Tiap tahun mereka merayakan ulang kegiatan karena merasa masih banyak yang perlu dibicarakan. Waktu berlari dan mereka membuat jeda-jeda asyik agar waktu tak kabur begitu saja.

Penyelenggara biasanya mengundang segelintir narasumber dan melibatkan sebanyak mungkin warga atau pengunjung. Kegiatan nonprofit semacam ini harus bermanfaat sebanyak-banyaknya karena berbiaya mahal. Mereka merogoh kocek dalam-dalam karena sulit meyakinkan donatur di awal bahwa kegiatan ini akan terus berlangsung.

Dalam hal dana Ponggok barangkali lebih siap. Desa ini dinyatakan makmur, bahkan paling makmur di kelasnya, meninggalkan jauh kesan desa tertinggal yang disematkan padanya tahun 2006. Dari 5 umbul (mata air) yang mereka punya, Umbul Ponggok memancurkan air 800 liter per detik. Satu perusahaan air kemasan terkenal negeri ini menyewa salah satu umbul di desa ini, untuk melancarkan usahanya.

Para narasumber tinggal di homestay milik Bumdes. Pengurus homestay tempat saya tinggal memberi info bahwa setiap bulan selalu ada tamu yang menginap. Pernah 105 orang dari Sulawesi magang selama dua minggu di desa, memenuhi homestay mereka. Satu kesibukan yang bermakna bagi sekitar 2000 orang populasi desa.

“Kira-kira enam bulan persiapan kegiatan,” ujar Atta Verin, pegiat literasi, yang menerjemahkan keinginan Kades membuat kegiatan literasi bagi warga. Atta dibantu pemuda Karang Taruna dan sekelompok mahasiswa yang sedang KKN di sana. Mereka mengemas wisata air sebagai bonus untuk menarik perhatian orang luar.

Saya menjadi narasumber di dua sesi. Kelas menulis esai dan kelas jurnalisme warga. Heran juga mendapati hanya seorang warga di kelas yang disebut terakhir. Semua peserta adalah mahasiswa Jateng dan Jatim yang tahu kegiatan dari medsos. Dari warga tersebut saya tahu bahwa kegiatan semacam itu masih asing bagi mereka, tidak lebih penting daripada menyelesaikan yang rutin.

Sayang memang. Nama-nama Kang Maman, Jokpin, Aan Mansyur, Sekar Chamdi, belum menggelorakan rasa ingin tahu warga. Artis Nadine Chandrawinata mungkin bernasib lebih baik dalam hal ini.

Kades Junaedi Mulyono akrab dipanggil Bopo Djoened, dalam satu sambutannya mengatakan Ponggok sedang diperhatikan dunia, bukan hanya oleh Indonesia. Desa ini menjadi tempat belajar mereka yang ingin desanya berhasil. Karenanya ia mencanangkan wani sinau (berani belajar) sebagai upaya terus menyegarkan desa.

Moga Joko Winarno, Ketua Panitia sekaligus Direktur Bumdes, dalam menyelenggarakan GLC berikutnya, mendorong warga untuk wani menjadi narasumber, berbagi warisan cerita dari 5 umbul dan bagaimana mereka berevolusi, cerita para leluhur desa, pohon-pohon gayam yang setia, ikan-ikan nila yang rajin bertelur. Moga perpustakaan Ponggi sudah berpindah ke tempat lebih luas karena buku-buku bertambah. Moga Pramoedya, Widji Tukul, Nh Dini, Moh Hatta, Tolstoy, Rumi, dan yang lain akrab di telinga. Jadi bila tahun ini mereka belum mendengar nama Goenawan Mohamad, termaafkanlah.

Kredit foto Akhmad Doddy Firmansyah

(itasiregar/juli/2019)

read more
OASETERASWARA-WARA

Siapa Yesus Hari Ini?

Wajah Yesus

Dini hari Senin 9 April 1945 di kota kecil Flossenburg, Jerman. Seorang laki-laki 39 tahun memberi isyarat kepada petugas. Ia berlutut, berdoa khusyuk. Setelah itu ia berdiri, menanggalkan pakaian penjaranya.

Seorang perwira membacakan vonis hukuman mati. Bertelanjang dada, laki-laki itu melangkah tenang ke panggung tiang gantungan. Menaiki anak tangganya satu demi satu. Kedua tangannya menarik tali gantungan, ia memasukkan kepalanya.

Tubuhnya diam. Beberapa detik. Kini seluruh dirinya siap. Perwira memberi aba-aba. Algojo melaksanakan perintah. Dan dalam sekejap tubuh itu tergantung di udara. Sungguh suram pagi itu.

Laki-laki yang dihukum gantung itu adalah Dietrich Bonhoeffer. Dia martir di antara 12 juta yang dibunuh oleh kekejaman pemerintahan Adolf Hitler.

Dietrich kecil menghabiskan masa kecil di Breslau. Pada 1912 keluarganya pindah ke Berlin. Ayahnya, Karl Bonhoeffer, seorang ahli saraf terkenal. Sang ayah menanamkan disiplin kepada delapan anaknya, Dietrich anak keenam. Mereka dibesarkan dalam tradisi Lutheran. Mereka menentang Nazisme.

Semua kakaknya pengacara dan ilmuwan. Ketika ia memutuskan sekolah teologi, keluarga menentang. Gereja sangat membosankan, ketinggalan zaman, munafik, ujar mereka. Ia merespons, kalau begitu aku akan mengubahnya.

Tiga tahun ia kuliah di Universitas Tubingen. Usia 19 tahun ia menjadi doktor teologi dengan peringkat tertinggi. Khotbah pertamanya adalah, “Kekristenan berarti perubahan, penyangkalan, permusuhan terhadap masa lalu dan pikiran-pikiran kolot.”

Tahun 1928 pertama ia menjadi pendeta di gereja Barcelona Spanyol. Jemaatnya kebanyakan kaum elite. Sikap kolot jemaat membuatnya tak tahan. Hanya setahun, ia balik ke Jerman.

Waktu itu Jerman sedang dalam klimaks Depresi Besar. Dan pada masa bergejolak ia melahirkan dua buku The Communion of Saints dan Act and Being yang menjadi dasar teologisnya untuk bergerak. Kedua karya adalah upayanya untuk menarik gereja turun dari menara gading rohani, menyentuh masyarakat jalanan.

Usia 24 tahun ia menjadi dosen di Universitas Berlin. Mendapat beasiswa dari Union Teological Seminari New York, ia pun terbang ke sana, mengajar.

Di Amerika, ia melihat situasi politik negerinya dengan kaca mata asing. Ia sadar ancaman serius Nazi bentukan Hitler. Partai kecil Nazi sedang berubah menjadi gerakan nasional. Banyak kawan Jermannya bersimpati pada Nazi. Patriotisme yang penuh kebencian.

Nazi tak sama seperti komunis Rusia. Nazi mendukung gereja. Mereka ingin memulihkan wibawa Jerman, kata teman-temannya. Namun ia tidak percaya.

Franklin Fisher, koleganya yang berkulit hitam, mengajaknya ke Harlem. Gereja kulit hitam. Di sana pertama kali ia berpikir dari perspektif orang miskin dan tertindas. Hatinya galau melihat Fisher tidak dilayani di satu restoran gara-gara berkulit hitam.

Sejak itu di dalam dirinya bersikap melawan terhadap rasisme. Matanya terbuka melihat gereja terlalu sering mencari kesenangan dari kalangan terhormat. Bukan turut menderita dengan kelompok tertindas.

“Siapa Yesus tahun 1933 ini? Di mana Dia ditemukan? Di gereja yang tunduk kepada berhala? Tidak! Kalian akan menemukan Dia dalam diri tawanan, orang yang dianiaya, gelandangan di jalanan!” Khotbahnya sangat menyala di gereja.

Waktu itu Adolf Hitler sudah diangkat menjadi perdana menteri. Nazi menjadi gerakan politik kuat. Hitler menjanjikan masa depan Jerman yang gemilang tanpa unsur asing. Ia berambisi menjadikan bangsa Arya berkuasa.

Dua hari setelah Hitler berkuasa pada Februari 1933, Bonhoeffer berpidato melalui radio. Secara terbuka ia menentang Hitler. Sayangnya tidak didukung gereja. Gereja tengah mesra dengan Hitler.

Sepanjang masa Republik Jerman, gereja kehilangan dukungan pemerintah. Sekarang Hitler menyambut gereja. Ia menjanjikan gereja yang kuat. Banyak pemimpin gereja terpesona dengan gagasan Hitler. Mereka pasang bendera Nazi saat ibadah.

“Karena Hitler maka Kristus menjadi nyata di tengah kita,” teriak satu gereja.

“Di puncak kekacauan sejarah gereja, Hitler menjadi kejernihan yang indah! Melalui dia kita mampu melihat Sang Juruselamat.”

“Kristus telah datang kepada kita melalui Adolf Hitler!”

Gereja dipenuhi skandal. Ia tak berhenti berjuang. Bersama kawannya, Martin Niemoller, ia memimpin gerakan Kristen bawah tanah yang menentang Gereja Nazi Jerman.

Saat di London tahun 1934, ia mengumpulkan 5000 pendeta dan kaum awam dan membentuk Gereja yang Mengaku (Confessing Church) disingkat GyM. Mereka menggugat gereja yang bebas alias tak terikat negara.

GyM menyelenggarakan pertemuan nasional di Wuppertal-Barmen. Peserta menandatangani Deklarasi Barmen. Mereka menentang Gereja Nazi Jerman yang bertentangan dengan iman Kristen.

Dua bulan kemudian Presiden Von Hindenburg wafat. Hitler perdana menteri merangkap Presiden. Uskup Nazi menyerukan semua pendeta mengucapkan sumpah patuh kepada Sang Fuhrer.

Konflik antara Gereja Nazi dan GyM memuncak. Gereja-Gereja Sedunia mengadakan konperensi di Denmark tetapi tidak tahu perpecahan dua gereja di Jerman. Mereka mengundang Dietrich sebagai pembicara. Ia berkotbah pagi yang tak terlupakan tentang perdamaian dunia.

Pada musim panas 1935, GyM memperlengkapi 25 murid untuk peperangan spiritual. Tahun 1937 Gestapo membatasi GyM. Pendeta-pendetanya ditangkap. Murid-murid yang dilatih Dietrich diinterogasi dan dianiaya. Polisi Hitler menutup seminari. Tahun 1938 orang Yahudi secara terbuka dibedakan hak-haknya dari warga Jerman.

Malam Kristal (Kristallnacht). Pada 10 November 1938. Pengikut Hitler membakar dan menjarah 195 sinagoge dan 8000 toko Yahudi. Penghancuran, penjarahan dan pembakaran berlangsung setiap hari. Kerumuman melihat tetapi tidak membantu. Dunia marah tetapi tak ada yang bertindak sebagai penengah.

Pada masa itu ia sudah menjauh dari gereja. Ia menjadi orang Kristen tanpa gereja. Ia pergi ke Amerika Serikat tahun 1939. Baru sebulan ia pulang untuk kembali berjuang melawan pemerintah negerinya.

Ia tak mungkin mundur. Ia menjadi agen sipil inteligen. Ia membocorkan rahasia kepada sekutu. Tahun 1943 ia ditangkap dan dipenjara militer di Berlin atas tuduhan upaya membunuh Hitler. Hari-hari terakhirnya di Buchenwald dan Flossenburg, ia menulis buku Cost of Discipleship –harga menjadi murid.

Mengupayakan kesejahteraan masyarakat adalah wujud hukum kasih. Jadi apa kita sekarang? Dalam konteks Indonesia, apa arti beriman mengingat pembantaian 1965, korupsi yang keji, pembodohan intelektual, ketidakadilan bagi LGBT, kekerasan terhadap perempuan dan anak, diskriminasi kelas, perebutan ruang-ruang publik olehsekelompok elite, konflik Papua, ujaran kebencian yang massif, buka-bukaan sangat tak tahu malu, dan kejahatan lainnya?

Bapak-ibu gereja, para martir sudah memulai. Tak mungkin kita tinggal tenang. Gelisahlah. Upayakanlah kesejahteraan. Lawanlah kebatilan. Siapa Yesus hari ini?

*

Lukisan Wajah Yesus (2011)
Acrylic on paper
37x52cm

is/11/12/18
versi lengkap tayang di buletin profetika eklesia edisi desember 2018

read more
OASETERASWARA-WARA

Jangan Kasih Kendor (Sampah) Plastik

water-bottle

Membaca masalah plastik di satu harian minggu lalu, saya ingat satu peristiwa.

Pada Maret 2017 seorang budayawan negeri ini ingin bertemu sembilan sahabat mudanya. Kesembilan itu para intelektual dan penulis. Dalam rangka itu saya diminta mengurus. Mencari tempat nyaman dan tenang agar mereka dapat mengobrol bebas seharian.

Dari sembilan yang didamba, empat muncul (padahal sudah dibayar untuk semua). Kepada masing-masing budayawan kita menyerahkan tulisan 13 halaman spasi rapat, untuk dibaca. Tulisan berjudul Manifesto: Appelatio Fraternitatis Rosae Crucis dirilis tahun 2014.

Manifesto ini kedua kali diserukan oleh sekumpulan orang yang menyebut diri Fraternity. Tahun 1614 mereka menerbitkan Manifesto Fama Fraternitatis Rosae Crucis,yang adalah respons terhadap kekacauan atas krisis Eropa saat itu. Prancis misalnya, seratus tahun tak berhenti perang agama.

Manifesto Appelatio hasil pertemuan Fraternity ini melahirkan tiga fokus utama: spiritualitas, kemanusiaan, ekologi. Sejumlah pemikir dan pemimpin Negara -terutama Jerman, Prancis, Inggris-bereaksi serentak tahun yang sama.

Manifesto Appelatio mengurutkan fokus sebagai berikut. Pertama, spiritualitas. Bahwa agama-agama dunia dianggap tidak lagi mampu menjawab permasalahan global manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dasar seperti kejujuran, integritas, kesamaan, persaudaraan, dinihilkan. Itulah ketika istilah money does not buy happiness, lahir.

Kedua, kemanusiaan. Bahwa seluruh umat manusia memiliki darah yang sama: kemanusiaan. Dan seluruh umat manusia bersaudara apa pun -kulit putih, kuning, hitam, merah. Sikap tidak toleran adalah bentuk kebodohan atau kesombongan pribadi atau golongan yang melukai kemanusiaan.

Ketiga, ekologi. Bahwa setiap manusia adalah ekolog. Logikanya, bagaimana manusia merasa bahagia tanpa peduli lingkungan tempat tinggalnya (baca: planet bumi)? Fakta mengatakan, segala jenis polusi, kerusakan ekosistem, penggundulan hutan yang massif, pembunuhan spesies hewan, dan hal-hal buruk lain adalah cermin ulah manusia.

Di antara ketiga, paling penting dan mendesak adalah ekologi. Jadi masalah ini dibidik sang budayawan? Saya mikir, apa dan bagaimana status Bumi sekarang ya?

Tan Malaka memberi pernyataan dalam Madilog (1943) bahwa bobot Bumi akan tetap sama. Dalam pengertian saya, pertambahan penduduk tidak akan membuatnya lebih berat. Pada keadaan tertentu Bumi akan melaksanakan seleksi alam dalam rangka membuat dirinya ajeg.

Thomas Malthus, filsuf abad 18, sudah bilang bahwa reproduksi manusia yang tidak dapat diredam akan berujung pada kelebihan manusia. Kematian prematur secara pasti mendatangi umat manusia.

PBB mencatat tren populasi global sejak tahun 1950. Sebagian besar keluarga mengalami penurunan dalam jumlah anak. Tingkat kesuburan mencapai ‘level pengganti’ yakni 2,1 anak per perempuan. Artinya, anak yang lahir kira-kira akan menggantikan orangtua mereka (mengisi ruang di Bumi).

Saat ini penduduk Bumi sekitar 7 miliar. Akan 9 miliar tahun 2050. Semua orang butuh makan. Pertambahan manusia akan mempengaruhi ketersediaan pangan.

Di sisi lain, tidak semua wilayah daratan Bumi dapat dihuni. Atau ditanami. Beberapa wilayah beriklim ekstrim atau tempat terlalu terpencil. Total wilayah yang dapat dihuni luasnya kurang dari tiga persen wilayah daratan Bumi. Dari luas itu, sekitar 35%-40% untuk pertanian.

Ketersediaan air bersih dan jumlah makanan –terutama daging- adalah masalah lain. Seandainya seluruh manusia vegetarian pun –artinya pangan yang dihasilkan cuma untuk manusia- maka lahan pertanian 1,4 miliar hektar cukup untuk kasih makan 10 miliar orang.

Solusi lain agar manusia tidak buang-buang makanan. Faktanya, 40% pangan dunia ternyata tidak dikonsumsi alias terbuang sia-sia (karena beberapa alasan).

Sampah adalah masalah mengerikan lainnya. Riset mencatat 150 juta penduduk Indonesia hidup di pesisir. Diperkirakan 38 juta ton per tahun sampah dibuang ke laut dan 30%-nya sampah plastik. Dari angka itu 80% sampah laut di Indonesia dominan dihasilan Pulau Jawa.

Sampah laut berupa plastik mempengaruhi lebih 800 spesies satwa laut karena menelan, terjerat atau tertransfer kontaminasi kimiawi. Lebih dari 25% sampel ikan yang diambil dari pasar-pasar ikan dunia mengandung plastik. Di Asia Tenggara, sampah plastik paling banyak adalah kemasan makanan dan puntung rokok.

Bersyukur kita sudah merespons dengan tindakan. Pada Agustus 2018 misalnya, pungut sampah di 91 titik di tanah air mengumpulkan 360 ton sampah laut dan pesisir. Pada hari bersih-bersih dunia September lalu, sekitar 13 juta manusia dunia membersihkan sampah di 144 negara, dan Indonesia partisipan terbesar dengan 3,3 juta orang.

Belakangan, mengganti sedotan bukan plastik diserukan. Produk sedotan bukan plastik banyak dijual. Pusat-pusat swalayan membuat peraturan tidak kasih plastik. Kalau ini bukan cerita baru.

Memang sebagian besar kita masih di koordinat agama. Dikit-dikit agama, dikit-dikit surga-neraka. Tetapi bayangkan, seandainya seluruh rumah ibadah keenam agama negeri ini punya program rutin bersih-bersih lingkungan. Setengah masalah kita selesai.

Kontribusi sebagai individu, yang kecil-kecil sajalah. Bawa kantong belanja sendiri, pilah-pilah sampah makanan dan plastik di dapur, tegur keras orang yang buang sampah di jalan.

Bumi butuh pertolongan kita, Manusia! Sudah pasti. Sudah pasti juga surga tempat bersih menyenangkan. Sebagai manusia spiritual, bagusnya kita membiasakan diri dengan lingkungan bersih, kalau mau betah di surga.

foto pixabay

is/29/1/2019

read more
OASETERASWARA-WARA

Teologi Membaca: Demi Kasih, Curiositas atau Cupiditas?

Ilustrasi Membaca

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Kita dikerubuti oleh kata-kata. Dalam dunia nyata dan maya. Kata-kata dari buku, surat kabar, novel, majalah, twitter, facebook, whatsapp, billboard, spanduk, layar kaca, blog, online. Ditambah buku-buku teks bagi mahasiswa. Kitab Suci bagi kaum beragama. Kata-kata mengendap dalam bawah sadar kita.

Seberapa banyak waktu dan energi kita habiskan untuk membaca per hari? Dan apa relasi teologisnya?

Teologi membaca (theology of reading) berbeda dengan teologi untuk membaca (theology for reading). Teologi untuk membaca bertujuan menolong kita memahami pikiran yang disampaikan oleh sumber, buku misalnya. Dari sana kita dapat menilai pengarang menganut pemikiran arus utama atau heterodoks atau bidah. Atau pesan yang disampaikan sekadar manis-manis iklan atau propaganda politik. Jadi teologi untuk membaca difokuskan pada konten yang dibaca.

Sedangkan theology of reading melampaui proses tindakan membaca. Alih-alih menerima atau menolak pesan dari tulisan, membaca adalah sebuah tindakan kasih –saat mulai sampai akhir membaca- dengan dasar Yesus Kristus, Sang Pengarang Kasih.

Membaca adalah tema refleksi teologi remeh-temeh kita kali ini. Sumbernya terutama dari Teology of Reading: The Hermeneutics of Love, Alan Jacobs, 2001.

Hukum Kasih

Setiap kristiani diikat oleh Hukum Kasih. Termasuk penulis maupun pembaca, dong? Iya.

Jika seorang penulis bertanya kepada Yesus tentang apa hukum apa yang terutama dan utama, maka tetap saja jawabNya seperti yang tertulis dalam injil: yang utama pertama: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu”; dan yang utama kedua: “Kasihilah sesamamu seperti mengasihi diri sendiri.”

Sebuah tulisan ditulis oleh seseorang di luar kita. Seseorang itulah sesama. Menurut Jacobs, tulisan adalah perpanjangan dari sesama kita (baik yang terhisab dengan Hukum Kasih atau yang tidak).

Tulisan merupakan medium yang mengaitkan dua pikiran, melalui jarak waktu dan ruang. Artinya, setiap kali membaca, kita menjumpai sesama kita. Dalam hal menghindari kesalahan dalam memahami maksud si sesama (baca: penulis) bukanlah tujuan utama dari kegiatan membaca.

Membaca dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan meski tulisan yang dibaca adalah sebongkah teks kaku yang panjang dan membosankan. Bagaimana pun, kita harus mengasihi tulisan tersebut –bahkan dalam keadaan kita tidak setuju dengan isi tulisan- sambil mengharapkan sesuatu yang baik muncul dari sana. Membaca dengan kasih menghadapkan kita pada satu risiko, dan risiko itu secara teologis, harus dirangkul.

Kontroversial, ya? Pastinya. Apalagi dalam kondisi sekarang, di mana kata-kata disengaja dibuat salah dan diproduksi scara besar-besaran demi sebuah tujuan jahat. Itu yang lebih sering mengemuka daripada yang benar. Mari kita menelusuri gagasan Jacobs tentang teologi membaca –dengan kasih- agar harapan sebuah perspektif baru, muncul.

Bahwa tak seorang pun dapat memenuhi Hukum Kasih bila ia tidak mengasihi. Sebaliknya, seorang yang mengasihi akan, seperti kata mazmur, gemar dalam ketetapan Allah dan merindukan hukum Allah setiap waktu (Mazmur 119: 16, 20). Artinya, kalau kita mengaku paham Kitab Suci -seluruh atau sebagian- tetapi tidak mengasihi Tuhan dan sesama, bohonglah itu semua.

Setiap hari kita berdoa jadilah kehendakMu di bumi seperti di Surga. Artinya, kita berharap melihat kasih diwujudkan pada saat kerja dan santai, saat mengurus keluarga dan beribadah kepada Tuhan, dalam segala waktu. Kasih mestinya dibuktikan dalam cara berpikir –termasuk menulis- dan berbicara –termasuk membaca.

Membaca dengan Kasih

Apa maksud interpretasi/tafsir berdasarkan Hukum Kasih?

Bapak Gereja, St Augustine (354-430), mengkritik bahwa teologi kristiani tidak memberi penjelasan sistematis soal tafsir yang berdasarkan kasih. Baik dalam konteks eksegesis dan eksposisi, secara alkitabiah. Bila ada yang merespons dengan mengatakan, pengertian akan didapat dari Tuhan, Augustine akan mengejar, berkata, tetapi Tuhan kan tidak pernah mengajar membaca alfabet.

Jika kita memahami kasih kepada Allah dan sesama sebagai persyaratan utama dalam membaca teks apa saja –termasuk novel, dokumen hukum, dan lainnya- maka kita memenuhi hukum kasih dalam pemikiran, perkataan dan perilaku kita. St Agustine mengabaikan soal kesalahan (dalam menafsir makna). Menurutnya, seorang pembaca kristiani yang dapat membangun kasih pada saat membaca namun tidak memahami maksud pengarang, dia tidak sedang ditipu atau merasa tertipu.

Orang yang salah menafsir itu seperti orang yang salah jalan. Ia meninggalkan jalan itu, melewati daerah lain, dan tiba pada tujuan yang sama, dengan jalan pertama tadi. Dalam rangka mengoreksi kesalahan, lebih bermanfaat bila orang tadi tidak putar balik, ambil jalan pintas atau jalan yang berlawanan. Jalan pintas mungkin akan menibakan orang itu pada teritori yang justru tidak dikenali dan berpotensi berbahaya, karena membuatnya lebih jauh dari tujuan semula.

Menurut Augustine, seseorang dapat abai terhadap maksud penulis Kitab Suci atau gagal memahami ayat atau pasal tertentu. Dia harus belajar agar tidak lagi melakukannya karena tujuan Allah adalah satu, begitu pula makna teks alkitab. Jika teks gagal dipahami, begitu pula kita gagal memahami maksud si penulis. Jika pembaca terus-menerus salah (dalam menafsir) dia akan dikalahkan terus.

Ketidakmampuan itu disebabkan manusia adalah makhluk yang sudah jatuh dalam dosa. Satu kali Yesus menjawab pertanyaan murid-muridNya, kenapa Ia berbicara dalam bentuk perumpamaan atau cerita. Jawabannya, karena meski melihat mereka tidak melihat, meski mendengar tetapi tidak mendengar dan mengerti (Matius 13:13). Dalam teks lain dikatakan, “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka” (2 Korintus 3:15).

Teks yang dipadati dengan pesan-pesan moral cenderung membosankan. Pemahaman yang rigid tidak menyisakan kesenangan bagi pembaca dalam membaca. Teori tafsir modern telah sangat menghilangkan kesenangan itu padahal tulisan untuk dinikmati, untuk diambil manfaat, dan membuat pembaca diberkati.

Kesenangan (voluptas) dalam membaca ada setelah merasakan apa yang indah, yang manis didengar, dicium, dirasa, disentuh. Curiositas adalah demi pengalaman membaca itu sendiri, bahwa membaca bukan untuk menderita ketidaknyamanan tetapi sebuah nafsu untuk mencari dan mengetahui. Curiositas dan voluptas adalah versi lain dari cupiditas, yaitu keinginan yang salah. Alasannya, keduanya mewakili kecacatan fokus: yaity berfokus pada hal yang salah atau pada hal benar dengan cara yang salah.

Dalam karya Confession, Augustine memunculkan curiositas berkorelasi negatif dengan memoria. Dengan memoria segala (ingatan) yang tersebar dapat ditarik kembali. Membaca melibatkan memoria dan curiositas – di dalam dan di luar batin. Memoria merupakan aktualisasi seseorang untuk merekonfigurasi pengalaman dan memperbaharui pemahaman yang ilahi.

Ngomong-ngomong, apa boleh baca puisi atau cerita atau drama? Membaca karya sastra tidak dapat dikatakan dosa. Alasannya, kita mengerahkan seluruh perhatian pada tulisan atas dasar ordo amoris: bahwa manusia seharusnya mencintai segala ciptaan dalam relasinya dengan Allah. Nyatanya, karya seni adalah kesempatan untuk mendapat kesegaran dan rekresi dan kesenangan. Bahwa membaca sastra atau membaca secara mendalam merupakan cara tak tergantikan dalam mengasah ketajaman dan kebijakan.

Dalam hal jenis bacaan, pembaca adalah raja, yang menentukan tulisan apa yang akan dibaca. Jika berdasarkan kasih kepada Allah dan sesama maka digambarkan dengan caritas. Jika berdasarkan keinginan sendiri merujuk pada cupiditas. Istilah ini menjadi pembeda antara orang yang hidup saleh dan tidak.

Mencintai sesama selalu berisiko. Entah sesama itu akan membalas atau menolak kasih kita, dan kita tetap berjuang untuk menunjukkan kebaikan. Jika mengasihi Allah dalam membaca maka kita akan memperhatikan apa yang kita baca, yang memiliki otoritas kebenaran atau tidak.

Mengejar Pengertian

Fenomena teks –demi memperoleh kebijakan dan otoritas – dikenal dalam tradisi agama Yahudi. Zohar, seorang mistis Yahudi, mengibaratkan Taurat bagai gadis yang cantik dan terhormat, dipingit di istana yang indah dan terpencil. Ia punya kekasih yang hanya gadis itu yang tahu.

Sang kekasih terus lewat-lewat di gerbang, matanya memonitor sekeliling. Gadis itu menyadari keberadaan sang kekasih, dan ia memikirkan untuk melakukan sesuatu. Perlahan ia mendorong pintu hingga sedikit celah terbuka, menunjukkan diri kepada sang kekasih, lalu cepat-cepat menutup pintu. Meski sekilas, sang kekasih melihat. Dia mahfum bahwa karena cintanyalah gadis itu memperlihatkan  diri. Sejak itu hatinya tertuju kepada si gadis. Begitu juga Taurat, hanya terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh cinta. Orang harus mengejar Taurat dengan sepenuh kekuatan, seperti mengejar seorang kekasih.

Talmud (catatan hukum, etika, kebiasa, sejarah Yahudi) bagi orang Yahudi pun didedikasikan bagi Allah. Bahwa, “Satu kali kamu mungkin meninggalkan Aku, tetapi tidak TauratKu” digambarkan oleh Emanuel Levinas (1906-1995) tentang orang Yahudi yang harus “mencintai Taurat lebih daripada mencintai Tuhan” (bayangan Ulangan 6:4-9).

Dalam Sejarah Membaca, Alberto Manguel (1948-   ) menulis, “Pada hari raya Shavout, memperingati hari Musa menerima Hukum Taurat dari tangan Allah, seorang anak laki-laki siap ditahbiskan. Tubuhnya dibelitkan selendang doa dan diserahkan oleh ayahnya kepada gurunya. Guru itu menempatkan si anak di pangkuannya, memperlihatkan kepada si anak sebuah piring yang di atasnya tertera huruf Ibrani dan kutipan ayat dari Kitab Suci, berikut tulisan, “Kiranya Taurat menjadi kesukaanmu.” Lalu piring itu dilumuri madu dan anak itu menjilatnya, demikianlah tubuhnya digambarkan mencerna kata-kata kudus. (bayangan Mazmur 19:10 dan Yehezkiel 3:3).

Perlakuan yang sama terhadap otoritatif teks terjadi di biara-biara pada abad pertengahan. Mereka mempraktikkan lectio (membaca) dan meditatio (meditasi, merenungkan) yang digabung, dan hasilnya adalah ruminatio –mengunyah firman/kata.

Merenungkan adalah mendekatkan diri selekat mungkin pada kalimat yang diucapkan dan menimbang semua kata dengan cara diperdengarkan bersuara dengan maksud memahami kedalaman maknanya. Mencerna isi teks dengan mengunyah untuk memunculkan seluruh rasa. Itu yang disebut oleh St Augustine palatum cordis atau in ore cordis, artinya kurang lebih the taste of the heart dan the ear of the heart. Pembaca atau pendengar dalam hati dapat merasakan makna saat mempelajari puisi atau bagian-bagian musik karena hati mencapai teks atau musik sebagai sebuah kejernihan dan kekuatan dalam hidup.

Mencerna sebuah teks suci atau yang kuat diekspresikan dengan cara hikmat oleh pendengar yang membaca demi pengertian. Petrach (1304-1307) misalnya, mencium teks Virgil (70-19BC) sebelum ia membukanya. Erasmus (1469-1536) melakukan hal sama kepada teks Cicero (106-43BC). Machiavelli (1469-1527) berpakaian resmi setiap kali akan membaca sebagai tanda penghargaan terhadap teks. Sikap tersebut merupakan penghargaan secara langsung. Dan kritik sastra adalah sebuah bentuk penghargaan.

Petrarch menjelaskan alasan dia mengutip tulisan pengarang-pengarang klasik: Tidak ada yang sangat menyentuh daripada aksioma orang-orang besar. Saya pakai itu untuk menguji diri saya, untuk melihat apakah itu berisi sesuatu yang solid dan mulia, kokoh atau tegar dalam menghadapi keberuntungan yang buruk, atau untuk menemukan jangan-jangan pikiran saya cupet. Saya berterima kasih kepada pengarang yang memberi saya kesempatan untuk menguji pikiran saya.

David Lyle Jeffrey (1941-    ) mengomentari frase Petrarch yang mengisyaratkan kebergantungan pada otoritas pengarang, dengan berkata, saya baru sadar telah ditipu oleh pikiran sendiri. Hal itu sekaligus menunjukkan sikap skeptik iman kristen terhadap masalah interpretasi yang diprivatisasi, seperti pernyataan St Augustine di atas.

Kenosis: Sebuah Gerakan

Apakah benar pembaca mencintai penulisnya? Mencintai dan menghargai, samakah?

Kasih yang murni bagi orang lain disebut kenosis, yang mensyaratkan pengosongan diri seseorang. Konsekuensinya, mengisi kekosongan itu dengan berfokus pada Yang Lain. Yesus adalah contoh kenosis, seperti kata Paulus, “ … dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus, yang walau dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milih yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya …” (Filipi 2: 5-7)

Kenosis merupakan gerakan atau sikap penting dalam mengasihi sesama yang ditandai dengan kepedulian penuh. Jiwa dikosongkan demi menerima pada diri yang dipandang, dalam seluruh kebenarannya. Tradisi kenosis sebagai satu aliran besar dalam dunia Barat, yang ekspresinya ditemukan dalam frase  I am you – saya adalah kamu. Dalam hal ini, seseorang kehilangan dirinya dalam obyek yang dia kontemplasi.

Seorang yang sedang tenggelam, menyadari ketakberdayaannya, menyerahkan diri dengan memandang diri terus, sampai nyawanya terlepas. Dunia menjadi obyek kasih yang murni. Pengosongan diri dalam sikap penuh perhatian dan kasih yang sempurna. Ketika istrinya meninggal dunia (1864), penulis Rusia Dostoevsky berkata bahwa untuk mengasihi seseorang sebagai mana adanya sesuai perintah Kristus, itu tidak mungkin. Setelah kemunculan Kristus sebagai bentuk ideal manusia dalam daging, menjadi sangat jelas bahwa itulah yang tertinggi.

Penutup

Ada sekitar 90 kata baca –beserta turunannya- di Alkitab. Beberapa adalah alasan untuk membaca.

Allah mewajibkan umat Israel, “Apabila seluruh orang Israel datang menghadap hadirat Tuhan, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, maka haruslah engkau membacakan hukum Taurat ini di depan seluruh orang Israel.” Ulangan 31:11

Untuk mendapat pengertian, “Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti (Nehemia 8:8).

Memberi efek menenangkan, “Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah , lalu dibacakan di hadapan raja.” (Ester 6:1).

Untuk mengungkap rahasia, “Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja.” Daniel 5:8.

Untuk menghibur, “Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan (Kisah 15:31) dan kesaksian hidup, “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.” Markus 12: 10.

Perintah Yesus, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Lukas 10:26

Untuk Kekekalan, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3

Is/12/7/18

 

 

 

 

read more
OASETERASWARA-WARA

Mufakat Kebangsaan Indonesia (2)

Komisi Ideologi

Pokok-pokok Pikiran Sidang Komisi Ideologi

  1. Ideologi Pancasila dibutuhkan untuk mengatasi problem kenegaraan dan kebangsaan, yang terkait dengan keberadaan bangsa Indonesia. Pancasila merupakan saripati dari nilai bersama dalam masyarakat Indonesia. Butir-butirnya diuraikan dalam living values/ nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Keragaman yang tak terbatas ini memerlukan ideologi untuk menyatukannya. Untuk itu, Pancasila perlu dimaknai dengan menguatkan aspek kosmologis dan kultural. Pancasila bukan sesuatu yang asing karena digali dari masyarakat kita. Kesatuan perlu dipahami bukan sebagai penyeragaman, tapi keterhubungan. Sebagai ideologi formal, Pancasila sudah “selesai”. Yang belum selesai adalah pemaknaannya. Seperti dalam masyarakat Bali yang memiliki hukum formal adat, Tri Hita Karana[1], tidak dapat diutak-atik. Tapi pada tingkat perarem, hal ini dapat dibicarakan dan direvisi kembali. Proyek kita sekarang adalah Pancasila ideologi lintas generasi dalam bangsa kita.
  2. Ideologi berarti gagasan-gagasan besar untuk membangun masyarakat. Membangun merupakan sesuatu yang abstrak tapi riil, mempengaruhi dan mengonstruksi cara hidup dan cara berpikir masyarakat Indonesia. Saat ini ditemukan kesenjangan antara kesepakatan final terhadap Pancasila sebagai ideologi dengan penerapannya di dalam masyarakat. Kita perlu pembudayaan atau internalisasi nilai-nilai Pancasila. Tantangannya kini pada jiwa memiliki masyarakat terhadap Pancasila.
  3. Tantangan-tantangan yang dimaksud di atas adalah kecenderungan untuk mempertentangkan kesetiaan terhadap agama dan negara, monopoli interpretasi terhadap Pancasila, dan sakralisasi Pancasila. Untuk menjawab tantangan ini kita perlu pendidikan kewarganegaraan/ civic education untuk menginternalisasi Pancasila sebagai representasi ideologi yang integratif dan inklusif melalui strategi partisipatif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
  4. Pancasila merupakan nilai-nilai universal yang perlu diperkenalkan kepada dunia global.

[1] Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan) yaitu prinsip-prinsip universal berupa memiliki hubungan baik dengan Pencipta, alam, dan sesama manusia.

Jakarta, 24 November 2018

Pimpinan Sidang Komisi Ideologi

Marko Mahin

 

read more
1 2 3
Page 1 of 3