close

TERAS

BukuGAYATERASWARA-WARA

Monolog Beruang di Dunia Manusia

Kenang-kenangan Mengejutkan

Teks oleh Setyaningsih*

“Singa laut maupun burung camar yang berkoak-koak tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Mengapa manusia begitu berbeda dalam hal ini?”

Pertanyaan ini barangkali tidak akan mudah terjawab dan cukup menghentak karena hadir dari beruang kutub, Baltazar, yang ditangkap pemburu lantas dikurung di kebun binatang Cile. Cendekiawan sekaligus politisi Cile, Claudio Orrego Vicuña, menggarap riwayat Baltazar dalam buku tipis manis-melankolis berjudul Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub (2018), diterjemahkan oleh Ronny Agustinus.

Buku hadir pasca kudeta militer 1973 sebagai alegori politik sekaligus rekonsiliasi di bawah kediktatoran dan keterpenjaraan. Di pengantar, penulis mengajukan permintaan yang lebih sederhana, “Anggap saja penerbitan karya ini merupakan penghormatan oleh manusia kepada seekor beruang yang bisa merasakan belas kasih dan berbela rasa, meski hidupnya dirundung segala kesusahan. Saat masih berada di balik jeruji kebun binatang, ia mampu meraih kebebasannya.”

Monolog Baltazar barangkali sempat mengingatkan kita pada Ismael, gorila dalam novel Ishmael (Freshbook, 2006) garapan Daniel Quinn. Di sini, Ishmael ditempatkan dalam wilayah yang lebih superior karena ia berpikir dan menilai manusia (pengunjung). Manusia mungkin merasa berhak menonton binatang di kandang kebun binatang, tapi tidak sanggup memberi penilaian apa pun kecuali kehendak melihat-lihat. Hal ini bisa dibuktikan oleh pernyataan Ishmael yang “menonton” dengan segenap pikir, “…manusia-manusia yang mengunjungi kami jelas-jelas membedakan diri mereka dari kami para binatang, tapi aku tak mampu memahami kenapa. Jika aku memahami apa yang membuat kami binatang, aku tetap tidak dapat memahami apa yang membuat mereka bukan binatang.” Manusia tetap manusia sekalipun memiliki kebinatangan diri yang mungkin lebih biadab dan buas.

Penangkapan Baltazar telah membawa hidup yang berubah; dari koloni keluasan kutub menjadi soliter dalam kandang. Kandang Baltazar justu menjadi ruang paling jitu bermonolog tentang kemanusiaan dengan kejenakaan-melankolia tapi manusiawi. Dalam detak-detak peradaban, kebebasan sering meminta bayaran pertumpahan darah. Tema itu selalu memicu perang, perlawanan, atau kekerasan. Dalam kasus Baltazar, ia justru mengajukan tema krusial ini dalam jasmani yang terkungkung. Lantas siapa yang bisa mengungkung pikiran, bahkan manusia yang berbekal senjata atau teknologi penghancuran apa pun.

Namun, Baltazar harus sadar kebinatangannya. Dalam koloni beruang, raganya tidak mendapat konsekuensi ditakuti atau membahayakan. Rasa sosial di dunia sesama ini tentu tidak bisa dibawa begitu ke wilayah manusia. Baltazar justru mendapat hukuman saat mencoba “berteman” dengan anak-anak yang begitu ia kagumi sebagai sosok bebas tanpa kelelahan juga tendensi kepentingan selayaknya manusia dewasa. Ia mengatakan, “Hari itu aku paham bahwa pertemanan dengan manusia tidak akan pernah bisa melampaui perasaan ramahku kepada mereka. Rasa takut yang memisahkan kami sedalam perairan gelap dari masa kecilku. Rasa saling tidak percaya, meski tidak beralasan, begitu lebar sampai tidak bisa ditanggulangi.”

Dalam tatanan manusia modern yang mengebunkan binatang seolah mengoleksi benda-benda, wagu ada istilah hidup berdampingan dengan sesama makhluk. Apalagi, menurunkan derajat ketakdiran sebagai manusia untuk setara dengan binatang. Bahkan kepada semasa manusia, tetap ada batasan untuk merasa lebih tinggi. Merendahkan yang lain tetaplah jadi bagian dari naluri purba manusia. Baltazar mengatakan, “Kadang aku yakin bahwa manusia mengira beruang tidak punya perasaan. Itu sebabnya mereka tidak menghargai hidup kami, masa lalu kami, atau impian-impian kami. Barangkali mereka juga berbuat begitu satu sama lain. Tapi buatku sungguh jahat seseorang bisa direnggut begitu saja dari dunianya, dikurung dalam kandang, dan dilarang hidup seperti semua orang lainnya.”

Di hikayat semacam pancatantra dari India, salah satunya yang amat tua serta terkenal seperti alegori politik para binatang dalam jagat Kalila dan Dimna, kita mendapati dunia hewan yang sepenuhnya terpisah dari kuasa manusia. Mereka membentuk dunia sendiri dengan dialog, bukan monolog, penuh pikiran, intrik, strategi, dan entitas moral sebagai percontohan bagi dan pencerminan dari umat manusia. Peran manusia dihilangkan, terganti oleh para binatang sebagai lakon yang ramai.

Kita membaca kenang-kenangan Baltazar sepertinya bukan sebagai fabel yang meriuh. Baltazar seperti harus sendirian mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kemanusiaan di dunia manusia. Bahkan meski dengan risiko ditembak oleh penjaga kandang kebun binatang yang merasa “direndahkan”, Baltazar telah berhasil merongrong dengan keprihatian atas kemapanan, egoisme, kekuasaan dunia manusia.

Judul : Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Penulis : Claudio Orrego Vicuña
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetak : Pertama, November 2018
Tebal : x+68 halaman

*Esais, penulis cerita Peri Buah-buahan Bekerja (Kacamata Onde, 2018). Tinggal di Solo.

read more
OASETERASWARA-WARA

Siapa Yesus Hari Ini?

Wajah Yesus

Dini hari Senin 9 April 1945 di kota kecil Flossenburg, Jerman. Seorang laki-laki 39 tahun memberi isyarat kepada petugas. Ia berlutut, berdoa khusyuk. Setelah itu ia berdiri, menanggalkan pakaian penjaranya.

Seorang perwira membacakan vonis hukuman mati. Bertelanjang dada, laki-laki itu melangkah tenang ke panggung tiang gantungan. Menaiki anak tangganya satu demi satu. Kedua tangannya menarik tali gantungan, ia memasukkan kepalanya.

Tubuhnya diam. Beberapa detik. Kini seluruh dirinya siap. Perwira memberi aba-aba. Algojo melaksanakan perintah. Dan dalam sekejap tubuh itu tergantung di udara. Sungguh suram pagi itu.

Laki-laki yang dihukum gantung itu adalah Dietrich Bonhoeffer. Dia martir di antara 12 juta yang dibunuh oleh kekejaman pemerintahan Adolf Hitler.

Dietrich kecil menghabiskan masa kecil di Breslau. Pada 1912 keluarganya pindah ke Berlin. Ayahnya, Karl Bonhoeffer, seorang ahli saraf terkenal. Sang ayah menanamkan disiplin kepada delapan anaknya, Dietrich anak keenam. Mereka dibesarkan dalam tradisi Lutheran. Mereka menentang Nazisme.

Semua kakaknya pengacara dan ilmuwan. Ketika ia memutuskan sekolah teologi, keluarga menentang. Gereja sangat membosankan, ketinggalan zaman, munafik, ujar mereka. Ia merespons, kalau begitu aku akan mengubahnya.

Tiga tahun ia kuliah di Universitas Tubingen. Usia 19 tahun ia menjadi doktor teologi dengan peringkat tertinggi. Khotbah pertamanya adalah, “Kekristenan berarti perubahan, penyangkalan, permusuhan terhadap masa lalu dan pikiran-pikiran kolot.”

Tahun 1928 pertama ia menjadi pendeta di gereja Barcelona Spanyol. Jemaatnya kebanyakan kaum elite. Sikap kolot jemaat membuatnya tak tahan. Hanya setahun, ia balik ke Jerman.

Waktu itu Jerman sedang dalam klimaks Depresi Besar. Dan pada masa bergejolak ia melahirkan dua buku The Communion of Saints dan Act and Being yang menjadi dasar teologisnya untuk bergerak. Kedua karya adalah upayanya untuk menarik gereja turun dari menara gading rohani, menyentuh masyarakat jalanan.

Usia 24 tahun ia menjadi dosen di Universitas Berlin. Mendapat beasiswa dari Union Teological Seminari New York, ia pun terbang ke sana, mengajar.

Di Amerika, ia melihat situasi politik negerinya dengan kaca mata asing. Ia sadar ancaman serius Nazi bentukan Hitler. Partai kecil Nazi sedang berubah menjadi gerakan nasional. Banyak kawan Jermannya bersimpati pada Nazi. Patriotisme yang penuh kebencian.

Nazi tak sama seperti komunis Rusia. Nazi mendukung gereja. Mereka ingin memulihkan wibawa Jerman, kata teman-temannya. Namun ia tidak percaya.

Franklin Fisher, koleganya yang berkulit hitam, mengajaknya ke Harlem. Gereja kulit hitam. Di sana pertama kali ia berpikir dari perspektif orang miskin dan tertindas. Hatinya galau melihat Fisher tidak dilayani di satu restoran gara-gara berkulit hitam.

Sejak itu di dalam dirinya bersikap melawan terhadap rasisme. Matanya terbuka melihat gereja terlalu sering mencari kesenangan dari kalangan terhormat. Bukan turut menderita dengan kelompok tertindas.

“Siapa Yesus tahun 1933 ini? Di mana Dia ditemukan? Di gereja yang tunduk kepada berhala? Tidak! Kalian akan menemukan Dia dalam diri tawanan, orang yang dianiaya, gelandangan di jalanan!” Khotbahnya sangat menyala di gereja.

Waktu itu Adolf Hitler sudah diangkat menjadi perdana menteri. Nazi menjadi gerakan politik kuat. Hitler menjanjikan masa depan Jerman yang gemilang tanpa unsur asing. Ia berambisi menjadikan bangsa Arya berkuasa.

Dua hari setelah Hitler berkuasa pada Februari 1933, Bonhoeffer berpidato melalui radio. Secara terbuka ia menentang Hitler. Sayangnya tidak didukung gereja. Gereja tengah mesra dengan Hitler.

Sepanjang masa Republik Jerman, gereja kehilangan dukungan pemerintah. Sekarang Hitler menyambut gereja. Ia menjanjikan gereja yang kuat. Banyak pemimpin gereja terpesona dengan gagasan Hitler. Mereka pasang bendera Nazi saat ibadah.

“Karena Hitler maka Kristus menjadi nyata di tengah kita,” teriak satu gereja.

“Di puncak kekacauan sejarah gereja, Hitler menjadi kejernihan yang indah! Melalui dia kita mampu melihat Sang Juruselamat.”

“Kristus telah datang kepada kita melalui Adolf Hitler!”

Gereja dipenuhi skandal. Ia tak berhenti berjuang. Bersama kawannya, Martin Niemoller, ia memimpin gerakan Kristen bawah tanah yang menentang Gereja Nazi Jerman.

Saat di London tahun 1934, ia mengumpulkan 5000 pendeta dan kaum awam dan membentuk Gereja yang Mengaku (Confessing Church) disingkat GyM. Mereka menggugat gereja yang bebas alias tak terikat negara.

GyM menyelenggarakan pertemuan nasional di Wuppertal-Barmen. Peserta menandatangani Deklarasi Barmen. Mereka menentang Gereja Nazi Jerman yang bertentangan dengan iman Kristen.

Dua bulan kemudian Presiden Von Hindenburg wafat. Hitler perdana menteri merangkap Presiden. Uskup Nazi menyerukan semua pendeta mengucapkan sumpah patuh kepada Sang Fuhrer.

Konflik antara Gereja Nazi dan GyM memuncak. Gereja-Gereja Sedunia mengadakan konperensi di Denmark tetapi tidak tahu perpecahan dua gereja di Jerman. Mereka mengundang Dietrich sebagai pembicara. Ia berkotbah pagi yang tak terlupakan tentang perdamaian dunia.

Pada musim panas 1935, GyM memperlengkapi 25 murid untuk peperangan spiritual. Tahun 1937 Gestapo membatasi GyM. Pendeta-pendetanya ditangkap. Murid-murid yang dilatih Dietrich diinterogasi dan dianiaya. Polisi Hitler menutup seminari. Tahun 1938 orang Yahudi secara terbuka dibedakan hak-haknya dari warga Jerman.

Malam Kristal (Kristallnacht). Pada 10 November 1938. Pengikut Hitler membakar dan menjarah 195 sinagoge dan 8000 toko Yahudi. Penghancuran, penjarahan dan pembakaran berlangsung setiap hari. Kerumuman melihat tetapi tidak membantu. Dunia marah tetapi tak ada yang bertindak sebagai penengah.

Pada masa itu ia sudah menjauh dari gereja. Ia menjadi orang Kristen tanpa gereja. Ia pergi ke Amerika Serikat tahun 1939. Baru sebulan ia pulang untuk kembali berjuang melawan pemerintah negerinya.

Ia tak mungkin mundur. Ia menjadi agen sipil inteligen. Ia membocorkan rahasia kepada sekutu. Tahun 1943 ia ditangkap dan dipenjara militer di Berlin atas tuduhan upaya membunuh Hitler. Hari-hari terakhirnya di Buchenwald dan Flossenburg, ia menulis buku Cost of Discipleship –harga menjadi murid.

Mengupayakan kesejahteraan masyarakat adalah wujud hukum kasih. Jadi apa kita sekarang? Dalam konteks Indonesia, apa arti beriman mengingat pembantaian 1965, korupsi yang keji, pembodohan intelektual, ketidakadilan bagi LGBT, kekerasan terhadap perempuan dan anak, diskriminasi kelas, perebutan ruang-ruang publik olehsekelompok elite, konflik Papua, ujaran kebencian yang massif, buka-bukaan sangat tak tahu malu, dan kejahatan lainnya?

Bapak-ibu gereja, para martir sudah memulai. Tak mungkin kita tinggal tenang. Gelisahlah. Upayakanlah kesejahteraan. Lawanlah kebatilan. Siapa Yesus hari ini?

*

Lukisan Wajah Yesus (2011)
Acrylic on paper
37x52cm

is/11/12/18
versi lengkap tayang di buletin profetika eklesia edisi desember 2018

read more
PersonaTERASWARA-WARA

Teologi Bernyanyi: Menemukan Makna dalam Kata & Nada

lukisan nyanyi

Teks Windy Mulia Liem*
Ilustrasi Surajiya**

Masih ingat kapan dan di mana pertama kali bernyanyi? Dan lagu apa yang dilantunkan?

Jika tidak yakin jawabannya, mungkin karena pengalaman itu ketika Anda masih sangat muda. Orangtua atau kerabat mungkin adalah guru sekaligus penggemar pertama Anda ketika pertama bernyanyi.

Bernyanyi adalah salah satu cara bercerita. Lagu Rasa Sayange mungkin diperebutkan oleh dua negara karena tidak tercatat asal-usul dan penciptanya. Bagi masyarakat Maluku, lagu itu telah turun-temurun dilantunkan, mengisahkan kecintaan pada kampung halaman.

Bernyanyi juga menjadi satu ciri khas orang Kristen. Pertama kali saya ke Sekolah Minggu, aktivitas saya adalah bernyanyi. Partisipasi aktif jemaat gereja biasanya terdiri dari tiga: berdoa, mendengarkan (Firman Tuhan), bernyanyi.

Seorang teman Muslim saya pernah bertanya: kenapa orang Kristen bernyanyi di gereja? Giliran saya bingung, hmm … kenapa ya? Mari kita telusuri bersama.

Bernyanyi sebagai Tradisi

Dari mana berasal tradisi bernyanyi di gereja? Kita mungkin berpikir itu warisan tradisi ibadah Yahudi di sinagog. Namun, rujukan pada abad pertama menyebutkan urutan ibadah di sinagog: berdoa, mendaras Kitab Suci dan homili (khotbah). Bernyanyi dan bermain musik merupakan tugas kaum Lewi. Tidak terlacak tradisi kuno mereka di sinagog melibatkan aktivitas bernyanyi. (Smith, 1994).

Dalam tradisi Yahudi, bernyanyi ditemukan dalam perkumpulan religius yang lebih privat. Dilakukan di rumah saat Paska, pesta perkawinan dan upacara pemakaman. Bernyanyi solois, bernyanyi bersahutan atau paduan suara. Aktivitas bernyanyi juga tercatat dalam makan malam terakhir dalam Perjanjian Baru (Mat 26:30 & Mrk 14:26).

Persekutuan gereja Kristen mula-mula mirip perkumpulan privat Yahudi. Pada dua abad setelah Masehi, persekutuan biasanya diadakan di rumah-rumah. Selain beribadah, mereka makan bersama. Beberapa sumber menyebutkan mereka berjaga-jaga sepanjang malam setelah ibadah (Smith, 1994). Kemiripan-kemiripan tersebut menjadi dasar kemungkinan bernyanyi di gereja dipengaruhi oleh perkumpulan privat religius Yahudi.

Bernyanyi sebagai pernyataan teologis

Ada tiga jenis lagu ibadah Kristen yang kita kenal sekarang, yaitu kidung (hymn), mazmur (psalm) dan pujian dan penyembahan kontemporer (praise & worship songs).

Terutama kidung, lagu ibadah berisi pesan dasar iman kristiani, yaitu 1) karakter Allah, 2) gereja dalam masyarakat, 3) kemanusiaan, dan 4) pemahaman kehidupan Kristen (Roberts, 2014). Kidung adalah sebuah bentuk pernyataan teologis. Kidung membantu penyampaian keimanan melalui kata-kata sederhana atau yang puitis.

Menurut penulis himnologi, Paul Schilling (1983), ekspresi teologis sebuah kidung bukan hanya tertuang pada lirik tetapi juga nada. Nada digabung dengan lirik untuk memperkuat -atau melemahkan- pesan. Substansi pesan ada pada lirik. Nada dan irama bersifat komplementer.

Sementara lagu pujian dan penyembahan kontemporer menitikberatkan pada musik. Musik dan liriknya lebih mudah diingat, mudah dinyanyikan karena cenderung repetitif. Tradisi musik ini berakar dari penginjilan kepada kaum hippies di Amerika pada 1960-an, yang disebut Jesus People (atau Jesus Movement).

Melalui genre musik modern, gerakan penginjilan itu menarik perhatian ratusan ribu anak muda. Padahal genre itu dipandang duniawi oleh kalangan gereja konservatif kala itu. Gerakan Jesus Movement kelak melahirkan industri musik Kristen kontemporer dan memicu pergantian gaya bermusik pada banyak gereja hingga sekarang (Eskridge, 2017).

Jadi, apa tujuan bernyanyi (rohani) dalam kekristenan?

Menurut beberapa penulis himnologi, bernyanyi dalam konteks kekristenan bukan untuk memamerkan aspek seni penyanyinya. Bernyanyi lebih pada mempersilakan Allah berbicara melalui lirik lagu. Bernyanyi dan bermusik adalah medium atau pelayan pesan Firman Allah (Guthrie, 2003).

Bernyanyi sebagai aktivitas emosional
Emosi manusia dapat dipengaruhi oleh musik. Dalam buku Confessiones, Agustinus dari Hippo mengakui kekuatan musik dalam sebuah lagu penyembahan. Ketika kata-kata sakral berpadu dengan musik yang indah, jiwa umat akan tergerak dan dikobarkan menuju kesalehan (Guthrie, 2003).

Pendapat tersebut sejalan dengan bukti ilmiah tentang persepsi otak terhadap musik. Sebuah eksperimen tayangan Brain Games pada episode The God Brain menunjukkan musik dan akustik ruang gereja berperan dalam membangun persepsi kita tentang kehadiran Tuhan. Ritme dan susunan nada menuntun emosi umat seirama lirik yang dinyanyikan. Langit-langit berkubah dan alat musik orgel di gereja Katolik misalnya, gaungnya membangun kesan kemegahan dan kekuasaan Tuhan.

Secara teknis, bernyanyi adalah proses merekonstrusi apa yang kita dengar. Pengalaman pertama manusia dengan suara berawal dalam kandungan. Bukan hanya suara, janin juga dapat mengenali emosi yang terkorelasi dengan suara yang didengar. Kemampuan ini berkembang melalui suara ibu pada masa trimester akhir kehamilan. Pembentukan reaksi emosi terhadap suara dipengaruhi oleh reaksi neuro-endokrin yang dihasilkan ibu dan dikomunikasikan kepada janin melalui hormon dalam darah (Miel, MacDonald, & Hargreaves, 2005). Ketika lahir, bayi sudah membawa bias atas emosi yang ditimbulkan oleh suara semasa dalam kandungan.

Jika musik dapat memanipulasi otak untuk merasakan emosi tertentu, apakah perasaan yang ditimbulkan oleh bernyanyi di gereja merupakan respons sensori semata? Apakah gereja secara sengaja memanfaatkan sensasi untuk mengendalikan emosi dan melemahkan nalar?

Kalau ya, apa bedanya dengan lagu-lagu Adele yang mengaduk-aduk emosi atau lagu-lagu Queen yang menggerakkan kaki kita menari? Apakah musik menjebak kita pada kepuasan raga semata?

Kekhawatiran serupa diajukan oleh Agustinus dari Hippo. Menurutnya, kepuasan mendengarkan musik dapat menggiring pikiran menuju ketaatan (kepada Allah). Namun ketika musik menggerakan dirinya lebih dari subyek lagu, ia telah berdosa dan lebih baik tidak mendengarkan lagu itu (Guthrie, 2003).

Bermusik dan bernyanyi yang berfokus pada kepuasaan indera sensori akan mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Keutamaan lagu terkandung dalam lirik, bukan nada. Calvin berpendapat bahwa musik memiliki kekuatan untuk mengubah rutinitas gerejawi yang dingin dan tidak bernyawa, menjadi pemujaan penuh semangat dan bergairah. Ia menganjurkan gereja untuk bernyanyi sekaligus berhati-hati agar fokus bukan pada pendengaran melodi, namun pada makna spiritual (Guthrie, 2003).

Pernyataan di atas kontras dengan apa yang dikatakan Paulus kepada jemaat Efesus:
“… hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” (Efesus 5:18-19)

Sebelumnya Paulus menasihatkan agar jemaat menjauhi kehidupan yang bodoh dan didorong oleh hawa nafsu. Hidup sebagai anak-anak terang salah satunya ditandai dengan bernyanyi dan bersorak demi Tuhan. Atau, Paulus menyarankan umat untuk bernyanyi sebagai perlawanan terhadap kebodohan dan hawa nafsu.

Menurut Guthrie (2003), saran tersebut didasari asumsi bahwa musik melibatkan tubuh dan rasa, serta pelibatan Roh Kudus. Roh Kudus tidak hanya bekerja untuk merestorasi pikiran, tetapi juga tubuh dan perasaan manusia. Melalui lagu dan musik, orientasi pujian diubah. Dari sekadar sensasi ragawi menjadi penyembahan pada Allah dan bermanfaat bagi komunitas. Aspek rasa tidak ditekan, namun diangkat dan diarahkan pada Allah.

Bernyanyi di Gereja = Mendengarkan

Bernyanyi turut andil membentuk identitas gereja. Peneliti Ronald L. Warren menulis bahwa kidung rohani berperan sebagai kontrol sosial. Menyanyikan kidung berkontribusi dalam membentuk identitas kongregasional. Ketika bernyanyi di gereja, tiap individu melafalkan kata-kata yang mengafirmasi iman, kata-kata yang mungkin terdengar memalukan jika diucapkan sendiri. Namun ketika mendengarkan pengakuan iman dilakukan bersama orang sekitarnya, pengukuhan iman menjadi lebih dalam. Ini disebut interstimulasi, yaitu ketika sekelompok orang yang sebelumnya asing, terhubung melalui perspektif yang sama. Interstimulasi dapat dicapai melalui simbol-simbol yang memiliki makna emosional, ritual, pengakuan iman atau bernyanyi bersama (Roberts, 2014).

Surat Paulus kepada jemaat Efesus berkonteks memberi penekanan pada bernyanyi secara kongregasional. Saat gereja bernyanyi, tiap individu menghasilkan suara yang berbeda namun saling mendapat bagian dalam lagu yang sama. Dalam musik, kita bertemu dengan berbagai identitas yang disatukan dalam ruang dan waktu, tanpa saling menghancurkan atau menegasi (Guthrie, 2003).

Ketika seseorang bernyanyi bersama di gereja, pada momen yang sama ia mendengarkan suara jemaat yang melebur dengan suaranya, menjadi suatu arus gelombang. Bernyanyi seperti menyuarakan cermin kehidupan jemaat Allah sebagai komunitas. Perbedaan dalam individu tidak lagi saling bertentangan namun disatukan melalui kasih Kristus.

Bernyanyi dalam Kerajaan Allah

Bagaimana imajinasi bernyanyi ketika Kerajaan Allah digenapi?
Jika Anda pernah ber-Sekolah Minggu, mungkin masa kecil Anda diisi dengan imajinasi tentang surga sebagai tempat manusia bernyanyi bersama malaikat, terus-menerus memuji Allah. Seperti KKR nonstop atau radio 24 jam. Bernyanyi di gereja adalah mencicipi sensasi surgawi.

Namun anggapan tersebut tidak didukung dengan landasan alkitabiah. Pandangan itu mungkin berasal dari anggapan populer pada masa prareformasi Kristen yang menitikberatkan pengalaman melihat Allah (visio Dei) sebagai sukacita yang utama dan tujuan akhir. Keselamatan diwujudkan dalam mistisisme, kontemplasi dan penyembahan dalam kondisi ekstasi mistis (Balke, 1992; van Wyk, 2001).

Imajinasi mengenai langit dan bumi yang baru memang tercatat dalam Perjanjian Lama dan Baru (Yes 65:17, 66:22; Why 21:1; 2 Ptr 3:13). Berkenaan nyanyian, Wahyu sedikit memberi gambaran tentang nyanyian baru (Why 5:9; 14:3) pada ciptaan dan dunia yang telah direstorasi. Seperti apa wujudnya, tidak banyak informasi dari Alkitab.

Beberapa kidung dan nyanyian, baik tradisional atau kontemporer, mencantumkan imajinasi Kerajaan Allah. Kehidupan di surga terasa pada bait terakhir lagu Di dalam Palungan (KJ 102) yang berbunyi: Dan hidup serta-Mu di surga kelak atau penggalan bait dua dalam lagu “Bila sangkakala menggegap” (KJ 278): Bila orang yang telah meninggal dalam Tuhannya dibangkitkan/Pada pagi mulia dan berkumpul dalam rumah lestari dan megah.

Beberapa kidung menggambarkan nuansa penyembahan yang berkesinambungan:
Hai Kristen, nyanyilah (NKB 1):
Di surga yang baka kita menyembah-Nya/ Bernyanyi s’lamanya. Haleluya! Amin!
Atau bait terakhir lagu Ya Yesus terkasih” (KJ 382):
Di surga mulia ku pasti senang memujimu, Yesus/Di dalam terang, nyanyianku ini tetap terdengar/Kasihku padaMu semakin besar

Pandangan tentang surga sebagai rumah atau tujuan akhir yang tergambar dalam kidung-kidung tersebut mendapat kritik dari teolog Aiden Wilson Tozer. Ia menyindir, “Orang Kristen tidak mengatakan kebohongan. Mereka hanya pergi ke gereja dan menyanyikannya.” Gambaran surga sebagai tujuan akhir setelah kematian tidak diturunkan oleh ajaran Yahudi dan Alkitab.

Teolog Richard Middleton dalam bukunya yang bertema eskatologi alkitabiah berpendapat bahwa gambaran pergi menuju tempat bernama surga kemungkinan dipengaruhi oleh ajaran Plato abad kelima. Menurut dualisme Platonis, manusia terbagi menjadi tubuh mortal dan jiwa yang immortal. Begitu pula penggambaran semesta: alam suprasensori (transenden) dan alam sensori.

Pandangan Platonis meluas berkat pemikiran filsuf Yunani Plotinus (204-270) yang dikenal sebagai Neoplatonisme. Neoplatonisme turut mempengaruhi pandangan bapak-bapak gereja yang mengartikulasikan injil dengan kultur dan pengetahuan yang berkembang di masanya, termasuk Agustinus dan Pseudo-Dionysius. Karena itu gereja perlu berhati-hati pada asimilasi ide-ide yang mungkin tidak sejalan dengan ajaran Kristen (Middleton, 2014).
Kembali ke bernyanyi dalam Kerajaan Allah.

Orang Kristen diajarkan bahwa tujuan hidup adalah menyembah dan memuliakan Allah. Makna tersebut kerap direduksi menjadi ekspresi verbal dan emosional untuk memuji Allah. Sementara Paulus mengajarkan kita untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2). Menyembah Allah mencakup apapun yang kita lakukan (Middleton, 2014).

Menurut C. S. Lewis (1946), tidak ada yang boleh dinyanyikan atau dikatakan di gereja yang tidak bertujuan -langsung atau tidak langsung- untuk memuliakan Allah atau mendidik umat. Jika gereja adalah gambaran cara hidup manusia yang ditebus, maka kegiatan bernyanyi mencerminkan hal itu. Bernyanyi dalam konteks dunia yang sudah direstorasi dalam Kerajaan Allah bertujuan sama dengan aktivitas lain. Bernyanyi adalah bagian dari kerangka tujuan penciptaan, yaitu untuk kemuliaan Allah, bukan kepuasan manusia.

Tidak suka bernyanyi?

Kecintaan saya pada bernyanyi sedikit banyak dipengaruhi oleh kultur dan dukungan orang sekitar. Mereka meyakinkan saya pandai bernyanyi. Saya pun kagum pada musik yang menggerakkan emosi, apalagi lirik lagu yang begitu dekat dengan pengalaman pribadi. Saya bernyanyi karena alasan yang egois.

Dengan alasan di atas, Anda mungkin berpikir bahwa bernyanyi di gereja mudah untuk saya karena saya menyukainya. Namun saya masih punya kesulitan menyanyikan lagu yang tidak saya nikmati secara sensori, termasuk kidung-kidung gereja. Beberapa kidung terasa kaku, kurang puitis, kurang estetis atau progresi akordnya kurang indah. Banyak penilaian subyektif yang saya diam-diam layangkan pada kidung Kristen karena kurang enak didengar. Padahal liriknya justru bermakna mendalam.

Saya juga sadar bahwa tidak semua orang suka bernyanyi. Ada yang menganggap diri tidak dapat bernyanyi atau tuli nada (meskipun penelitian memperkirakan sangat sedikit orang yang benar-benar tuli dana, dalam Henry & McAuley, 2010).

Siapa pun tidak dapat memaksa Anda untuk bernyanyi. Perlu dipahami bahwa kepuasan individu bernyanyi di gereja tidak sepenting yang diyakini. Mungkin ada anggapan, kalau saya menikmati lagu, tentu Tuhan senang. Hingga tanpa sadar, kita menempatkan diri lebih dulu daripada Tuhan.

Literatur yang saya temukan untuk tulisan ini justru mengatakan bahwa kepuasan pribadi dan sensasi emosional bukan inti bernyanyi di gereja. Sebaliknya, kita diminta untuk mereduksi kepuasan ragawi dan berfokus pada subyek nyanyian.
Hal ini mengingatkan saya pada saran salah seorang pelatih paduan suara. Menurutnya, ketika bernyanyi dalam paduan suara, semakin kita berfokus pada kepuasan diri, maka kita sedang mengorbankan kepuasan pendengar (Yohanes, 2018). Banyak aspek yang tidak kalah penting dari kepuasan pribadi saat bernyanyi bersama. Harmonisasi suara kita dengan orang lain, kepuasan pendengar, hingga pesan yang ditangkap melalui nyanyian. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati musik yang dinyanyikan, namun kita bukan bernyanyi hanya untuk diri sendiri.

Ketika kita ingin memaknai bernyanyi di gereja, kita perlu bertanya, siapakah subyek utama dalam nyanyian kita? Apakah diri sendiri, orang lain atau Dia?

*
(Daftar rujukan tersedia)
*Jemaat dan pelatih paduan suara di Gereja Komunitas Anugerah
*Perupa, tinggal di Yogyakarta

read more
OASETERASWARA-WARA

Jangan Kasih Kendor (Sampah) Plastik

water-bottle

Membaca masalah plastik di satu harian minggu lalu, saya ingat satu peristiwa.

Pada Maret 2017 seorang budayawan negeri ini ingin bertemu sembilan sahabat mudanya. Kesembilan itu para intelektual dan penulis. Dalam rangka itu saya diminta mengurus. Mencari tempat nyaman dan tenang agar mereka dapat mengobrol bebas seharian.

Dari sembilan yang didamba, empat muncul (padahal sudah dibayar untuk semua). Kepada masing-masing budayawan kita menyerahkan tulisan 13 halaman spasi rapat, untuk dibaca. Tulisan berjudul Manifesto: Appelatio Fraternitatis Rosae Crucis dirilis tahun 2014.

Manifesto ini kedua kali diserukan oleh sekumpulan orang yang menyebut diri Fraternity. Tahun 1614 mereka menerbitkan Manifesto Fama Fraternitatis Rosae Crucis,yang adalah respons terhadap kekacauan atas krisis Eropa saat itu. Prancis misalnya, seratus tahun tak berhenti perang agama.

Manifesto Appelatio hasil pertemuan Fraternity ini melahirkan tiga fokus utama: spiritualitas, kemanusiaan, ekologi. Sejumlah pemikir dan pemimpin Negara -terutama Jerman, Prancis, Inggris-bereaksi serentak tahun yang sama.

Manifesto Appelatio mengurutkan fokus sebagai berikut. Pertama, spiritualitas. Bahwa agama-agama dunia dianggap tidak lagi mampu menjawab permasalahan global manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dasar seperti kejujuran, integritas, kesamaan, persaudaraan, dinihilkan. Itulah ketika istilah money does not buy happiness, lahir.

Kedua, kemanusiaan. Bahwa seluruh umat manusia memiliki darah yang sama: kemanusiaan. Dan seluruh umat manusia bersaudara apa pun -kulit putih, kuning, hitam, merah. Sikap tidak toleran adalah bentuk kebodohan atau kesombongan pribadi atau golongan yang melukai kemanusiaan.

Ketiga, ekologi. Bahwa setiap manusia adalah ekolog. Logikanya, bagaimana manusia merasa bahagia tanpa peduli lingkungan tempat tinggalnya (baca: planet bumi)? Fakta mengatakan, segala jenis polusi, kerusakan ekosistem, penggundulan hutan yang massif, pembunuhan spesies hewan, dan hal-hal buruk lain adalah cermin ulah manusia.

Di antara ketiga, paling penting dan mendesak adalah ekologi. Jadi masalah ini dibidik sang budayawan? Saya mikir, apa dan bagaimana status Bumi sekarang ya?

Tan Malaka memberi pernyataan dalam Madilog (1943) bahwa bobot Bumi akan tetap sama. Dalam pengertian saya, pertambahan penduduk tidak akan membuatnya lebih berat. Pada keadaan tertentu Bumi akan melaksanakan seleksi alam dalam rangka membuat dirinya ajeg.

Thomas Malthus, filsuf abad 18, sudah bilang bahwa reproduksi manusia yang tidak dapat diredam akan berujung pada kelebihan manusia. Kematian prematur secara pasti mendatangi umat manusia.

PBB mencatat tren populasi global sejak tahun 1950. Sebagian besar keluarga mengalami penurunan dalam jumlah anak. Tingkat kesuburan mencapai ‘level pengganti’ yakni 2,1 anak per perempuan. Artinya, anak yang lahir kira-kira akan menggantikan orangtua mereka (mengisi ruang di Bumi).

Saat ini penduduk Bumi sekitar 7 miliar. Akan 9 miliar tahun 2050. Semua orang butuh makan. Pertambahan manusia akan mempengaruhi ketersediaan pangan.

Di sisi lain, tidak semua wilayah daratan Bumi dapat dihuni. Atau ditanami. Beberapa wilayah beriklim ekstrim atau tempat terlalu terpencil. Total wilayah yang dapat dihuni luasnya kurang dari tiga persen wilayah daratan Bumi. Dari luas itu, sekitar 35%-40% untuk pertanian.

Ketersediaan air bersih dan jumlah makanan –terutama daging- adalah masalah lain. Seandainya seluruh manusia vegetarian pun –artinya pangan yang dihasilkan cuma untuk manusia- maka lahan pertanian 1,4 miliar hektar cukup untuk kasih makan 10 miliar orang.

Solusi lain agar manusia tidak buang-buang makanan. Faktanya, 40% pangan dunia ternyata tidak dikonsumsi alias terbuang sia-sia (karena beberapa alasan).

Sampah adalah masalah mengerikan lainnya. Riset mencatat 150 juta penduduk Indonesia hidup di pesisir. Diperkirakan 38 juta ton per tahun sampah dibuang ke laut dan 30%-nya sampah plastik. Dari angka itu 80% sampah laut di Indonesia dominan dihasilan Pulau Jawa.

Sampah laut berupa plastik mempengaruhi lebih 800 spesies satwa laut karena menelan, terjerat atau tertransfer kontaminasi kimiawi. Lebih dari 25% sampel ikan yang diambil dari pasar-pasar ikan dunia mengandung plastik. Di Asia Tenggara, sampah plastik paling banyak adalah kemasan makanan dan puntung rokok.

Bersyukur kita sudah merespons dengan tindakan. Pada Agustus 2018 misalnya, pungut sampah di 91 titik di tanah air mengumpulkan 360 ton sampah laut dan pesisir. Pada hari bersih-bersih dunia September lalu, sekitar 13 juta manusia dunia membersihkan sampah di 144 negara, dan Indonesia partisipan terbesar dengan 3,3 juta orang.

Belakangan, mengganti sedotan bukan plastik diserukan. Produk sedotan bukan plastik banyak dijual. Pusat-pusat swalayan membuat peraturan tidak kasih plastik. Kalau ini bukan cerita baru.

Memang sebagian besar kita masih di koordinat agama. Dikit-dikit agama, dikit-dikit surga-neraka. Tetapi bayangkan, seandainya seluruh rumah ibadah keenam agama negeri ini punya program rutin bersih-bersih lingkungan. Setengah masalah kita selesai.

Kontribusi sebagai individu, yang kecil-kecil sajalah. Bawa kantong belanja sendiri, pilah-pilah sampah makanan dan plastik di dapur, tegur keras orang yang buang sampah di jalan.

Bumi butuh pertolongan kita, Manusia! Sudah pasti. Sudah pasti juga surga tempat bersih menyenangkan. Sebagai manusia spiritual, bagusnya kita membiasakan diri dengan lingkungan bersih, kalau mau betah di surga.

foto pixabay

is/29/1/2019

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

balada buat asnat istriku

Joseph Asenath

lalu firaun menamai yusuf zafnat-paaneah, serta memberikan asnat, anak potifera, imam di on, kepadanya menjadi istrinya. –kejadian 41: 45

pengantar:
setelah yusuf menjadi orang nomor dua di mesir, empat bulan kemudian, firaun menyuruhnya pergi ke kota heliopolis –atau on- untuk bertemu potifera (pentephres dalam bahasa mesir), imam tinggi yang sangat dihormati di seluruh mesir.

imam di mesir bertugas hanya di kuil untuk merayakan dewa-dewa. ia bertanggung jawab membuka segel pintu kuil, menyalakan obor di seluruh dinding kuil, mendaras doa-doa, menyalakan dupa, membersihkan patung dewa-dewa dalam kuil (yang terbuat dari emas solid), menaruh pakaian bersih dan perhiasan, mempersembahkan makanan dan minuman, mengatur para penyanyi mencanting lagu-lagu pujian. petang hari, dia membersihkan jejak kaki di lantai kuil, menyegel pintu kuil kembali.

potifera punya anak gadis perawan bernama asnat (as-neith dalam bahasa mesir, artinya favorit dewi neith, asenath dalam bahasa inggris). asnat sangat cantik jelita. banyak putra raja dan bangsawan mesir ingin menyuntingnya. konon putra firaun pun ingin mengawini asnat, dilarang oleh firaun karena menganggap mereka beda status.

imam di mesir hidup sejahtera. asnat tinggal di dekat kuil, di rumah orangtuanya. ia diberitahu oleh ayahnya bahwa yusuf akan datang menemuinya, atas perintah firaun. asnat sangat bersusah hati karena ia sudah mendengar siapa yusuf. yusuf anak yang dibuang oleh keluarga, penggembala domba (pekerjaan yang menjijikkan bagi orang mesir), mantan budak, berselingkuh dengan istri majikan, pemimpi. dia hanya beruntung karena dapat mengartikan mimpi firaun. ia tak sudi diperistri oleh yusuf.

ketika diberitahu bahwa kereta yusuf sudah mendekat gerbang rumah, asnat lari ke loteng. ia mengintip yusuf dari jendela kamar. ia melihat yusuf turun dari kereta kencana yang ditarik empat kuda putih. yusuf mengenakan tunik putih, jubah linen ungu, mahkota dua belas permata. tongkat raja di tangan kanan dan di tangan kirinya ranting zaitun. ternyata yusuf luar biasa tampan. asnat jatuh cinta kepada yusuf pada pandangan pertama.

asnat dipanggil turun oleh orangtuanya untuk bertemu yusuf. ketika yusuf pamit pulang, potifera memintanya untuk mencium asnat, yusuf menolak. dalam tradisi ibrani, tidak diperkenankan seorang laki-laki mencium perempuan yang belum menjadi istri, katanya. kala itulah asnat sadar bahwa seperti dirinya, yusuf pun masih perawan. perjaka tingting.

asnat berusia 18 tahun ketika itu. dan yusuf sekitar 33 tahun. asnat adalah satu-satunya perempuan yang dalam hidup yusuf, seumur hidupnya.
 
balada buat asnat istriku
-dari yusuf, nyanyian

asnat, putri potifera
tinggi semampai tubuhmu
keindahanmu melebihi hator
milik dewi neith engkau
aku datang kepadamu
dengan hati gentar

ini buah tanganku
anggur dan kurma
buah delima bunga ara
dan sepasang merpati
untukmu
 
jangan kau pandang aku
seperti jubah dan mahkota ini
tongkat dan cincin ini
kereta kencana ini
ini hanyalah hiasan firaun
untukku
aku bukan raja muda mesir
aku hanya laki-laki ibrani rudin
yang terusir
dari negeri sendiri
 
aku tinggal di rumah ayahku
di betel tanah yang subur
ayahku seorang pahlawan
melahirkan ribuan ternak
ayahku seorang pendongeng
melahirkan ribuan cerita
heroik masa mudanya
ia seperti allah bagiku
aku aman berada dekatnya
 
ayahku punya dua istri dua gundik
aku anak dari rahel ibuku
saudara laki-lakiku sebelas
satu kakak perempuanku
aku mencintai mereka
mereka mencintaiku
dengan cara mereka
 
memang terbuang aku
memang budak aku
memang terpenjara aku
memang pemimpi aku
namun tak kubiarkan kedua tanganku
mereka-reka yang jahat
karena kuingat pesan ayahku
sepasang mata di tempat tinggi
mengawasiku
 
asnat, kekasihku
di rumah potifar
aku dijadikan cabul
dijebloskan ke sel busuk
namun aku luput
dari azab dan penalti
dari mutilasi
karena allah ayahku allah kakekku
melindungi aku
 
di tahanan
juru minuman raja
juru roti raja
menjadi ikhwanku
mereka bermimpi
dan aku membaca mimpi mereka
lalu juru roti dibebaskan
tapi juru minuman diputus mati
 
dua tahun berlalu
aku dilupakan
tapi ubin sel belum berlumut
ketika firaun telah bermimpi
dan gelisah
karena apa yang ia lihat
 
tujuh lembu gemuk
tujuh lembu kurus
tujuh bulir gandum bernas
tujuh bulir gandum kurus
 
berbekal gelar si penafsir mimpi
aku dibawa ke istana megah
bertemu firaun
kalau mampu membaca mimpiku, katanya
hanya ada dua pilihanmu
hidup seperti raja mesir
atau lenyap seperti kutu busuk
 
kala itu aku berpikir
inilah akhir hidupku
mati terhukum
tetapi asnat, cintaku
allah mengingatku
langit terbuka
angin berembus berbisik ke telingaku
rahasia mimpi firaun
tentang tujuh tahun kelimpahan
dan tujuh tahun kekeringan
sehingga terbebaslah firaun
dari beban mimpi
lalu ia memberiku nama baru
zafnat-paaneah
sebab katanya
allah bersabda ia hidup
 
dan segala kebesaran ini
yang ia berikan kepadaku
begitu agung
begitu mulia
tetapi dibanding kebebasanku
bukan apa-apa
aku diberi kesempatan kedua
untuk hidup bermakna
 
sekarang mari
kita berhadap-hadapan
bimbinglah aku
menjadi seorang kekasih
karena aku tak pernah kenal
apa itu perempuan
 
lagi asnat, istriku
aku bersumpah
takkan mendua hati seperti ayahku
meski ia pahlawanku
karena kau satu-satunya perempuan bagiku
waktu ini
dan selamanya
 
 

Lukisan Joseph & Asenath oleh tidak dikenal, dipamerkan di Staatliche Museen
 

is/17/1/19

 

 

 

 

 

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Tragedi Cinta Dina dan Sikhem

shechem_siezes_dinah

Pada suatu hari Dina
Berjalan-jalan ke Sikhem
Berkenalan kupu-kupu bebungaan kota itu
 
Wajah segar serupa embun
Mata rupawan serupa bulan
Senyum ranum serupa anggur musim panen
 
Konon, sedetik mata Sikhem tercucuk pandang gadis itu
Tertusuk ia oleh panah cinta
Tergiur liurnya
Terpukul-pukul jantungnya
Limbung hatinya tak tahan
 
Marilah, dik, naiklah ke sotoh istana yang dibuat ayahku
Yang membuat kota ini di atas namaku
Kau tengoklah pebukitan hijau di seberang sana
Itulah Gerizim
Gunung penghubung antara langit dan bumi
Dan lihat itu tarbantin
Pohon keramat tempat kami menyembah Asyera, dewi kesuburan kami
Yang di bawahnya kakekmu Abram bermezbah
dari letih hijrahnya
 
Dan Dina tak berpaling dari mulut manis Sikhem
Yang tak henti meneteskan madu
Tangannya mencengkeram lengan laki-laki muda itu
“Aku takkan kembali ke rumah ayahku
Sampai kau ceritakan padaku semua tentangmu
Sebab sakit asmara aku”
 
Pinang gadis itu menjadi istriku, Ayah, seru Sikhem kepada Hemor
Mari kita menjadi saudara, Saudaraku, ujar Hemor kepada Yakub
 
Berembug Yakub dengan kedua belas lelaki di kemahnya
Panas telinga mereka membara
Mendengar penghinaan suku tak bersunat itu
Menginjak-injak martabat mereka
 
“Mari kita beri satu pelajaran orang tak beradab itu,” sumpah mereka
Katakan kita sepakat menggelar kenduri tujuh hari tujuh malam
Asalkan mahar kulit khatan sebanyak laki-laki dewasa
 
Dan, dengan kegirangan meluap
Sikhem dan Hemor pulang ke kota mereka
Di pintu gerbang mereka berkampanye
“Hari ini sejarah baru bangsa kita toreh
Biarlah kitab-kitab mencatatnya
Kita akan merger dengan bangsa yang beradab
Ekonomi politik budaya militer
Kita akan menjadi satu yang besar disegani
Karena itu baiklah setiap laki-laki dewasa
Memotong kulit khatannya masing-masing
Di rumahnya sendiri”
 
Sementara itu dua anak lelaki Yakub
Mengasah mata pedang mereka baik-baik
Dan sepuluh lainnya
Menguatkan hati mereka baja
 
Pada hari ketiga
(ketika laki-laki dewasa kota Sikhem masih kesakitan)
Mereka mendatangi kota itu
Seperti pahlawan pergi perang
Dengan pedang di tangan kiri dan kanan
Simeon dan Lewi
Menebas setiap laki-laki dewasa tanpa kecuali
Sedang sepuluh lainnya
Menjarah kota itu bersih
Menarik Dina keluar dari sana
(Sedang ia menjerit menangisi masa muda Sikhem
Yang mati sia-sia)
 
Yakub, lihatlah
Langit hitam di atasmu
Tanah merah di bawahmu
Kota Sikhem berubah yatim
Ditinggalkan para lelakinya
 
Kau mengundang celaka ke rumah kita, anak-anakku
“Siapa suruh memperlakukan kita seperti kotoran?”
 
O Dina, o Sikhem
Kisah kalian
Bukankah kitab-kitab sudah mencatatnya?
 
Gambar diambil dari Wikipedia
 

is/15/1/19/

read more
PersonaTERASWARA-WARA

Sepeda Bambu dan Revitalisasi Desa Singgih Kartono

foto singgih

Oleh Ita Siregar

Ia mendesain sepeda bambu dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Ia membuat konsep pasar kebun bambu dan melibatkan warga dalam merevitalisasi kehidupan di Dusun Ngadiprono.

Singgih Kartono kecil membaca biografi Thomas Alva Edison –penemu lampu pijar- dan terinspirasi untuk menjadi seorang penemu. Ia masih kelas 4 SD ketika itu. Saat membaca kumpulan surat Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang, ia terpanggil untuk memaknai 21 April, tanggal kelahirannya. Memang kurang dari sepuluh buku yang tuntas dibaca -termasuk kisah gadis cilik Toto Chan-  namun itu cukup mewarnai hidupnya.

Dik Ton – dari nama Kartono- begitulah keluarga dan teman dekat memanggilnya. Ia merasa anak yang beruntung. Ayahnya seorang guru yang kemudian menjadi kepala dinas kecamatan. Ia mewarisi kesederhanaan, jiwa kepemimpinan dan pioneership ayahnya. Meski keluarganya tidak tergolong berada tetapi sang ayah mengupayakan agar kelima anaknya mendapat pendidikan tinggi.

Singgih lahir dan besar di Kandangan Temanggung. Ia kuliah di Jurusan Desain dan Produk FSRD ITB. Suami dari Tri Wahyuni –teman SMA- ini mengaku berat pada tahun-tahun pertama kuliah. Pasalnya di SMA ia kurang serius melatih keterampilan kesenirupaan. Baru pada tahun kedua, kegemaran ngoprek  di masa kecil memberinya kemudahan dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Setelah lulus tahun 1992, ia bekerja di PT Prasidha Adhikriya Bandung yang bergerak di bidang industri kerajinan kayu. Ia belajar langsung dari pendirinya, Surya Pernawa. Tahun 1995 ia balik ke desa dan merintis usaha mainan anak dari bahan kayu, bersama seorang partner. Ia memang tidak menyukai kehidupan kota yang ramai dan padat. Di antara lima saudara, hanya ia yang kembali ke desanya, hingga sekarang.

Tahun 2003 ia memulai usaha sendiri yang diberi nama: Magno. Tahun 2005 Magno memproduksi dan merambah pasar. Melalui proses berliku, Magno mendapat banyak penghargaan desain internasional. Tahun 2008 Magno meraih penghargaan Good Design Award Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design. Pada 2009 Brit Insurance Design Award/Product of the Year Design Museum London. Magno dikenal luas di Jepang, Eropa, dan Amerika.

Semua itu dimulai dari kecintaannya pada materi kayu. Sewaktu kecil, ia betah berjam-jam nonton tukang kayu bekerja. Ia bikin mainan kayu atau bahan apa saja yang ada di desa. Mainan buatan pabrik masih langka saat itu. Kalau pun ada, tidak terjangkau harganya.

Penyuka teh manis panas pagi hari ini sebenarnya tidak suka berolah raga. Namun pada usia 44 tahun ia bersepeda nyaris setiap hari untuk menjaga kesehatan. Lalu ia melihat desain sepeda bambu karya Craig Calfee dan sangat terkesan. Terinspirasi, ia mendesain sepeda bambu pada 2013. Ia menggunakan Bambu Petung atau Dendrocalamus asper yang tersedia melimpah di desa dan sekitar tempat tinggalnya. Diameternya besar dan dindingnya tebal sehingga memungkinkan membuat rangka sepeda dengan ukuran seragam. Konstruksi bilah tangkup usuk bambu kerangka atap rumah menjadi sumber inspirasinya untuk meningkatkan kekakuan batang bambu. Bilah tangkup dihubungkan dengan sambungan metal dan membentuk kerangka sepeda. Desainnya lolos uji laboratorium dan kendara jarak jauh Jakarta-Madiun sejauh 750 km, dengan beban 90 kg tanpa kerusakan apapun.

Sepeda bambu itu diberi merk Spedagi – dari kata sepeda dan pagi. Para perajin lokal diberdayakan. Spedagi menarik orang luar ke desa. Fenomena inilah kemudian menginspirasi Singgih dalam menemukan solusi dari masalah umum desa, yaitu brain drain SDM terdidik dari desa ke kota. Kelak Spedagi bukan hanya merk namun gerakan yang mengajak anak-anak muda balik ke desa.

Pasar Papringan Ngadiprono misalnya. Pasar itu adalah salah satu proyek Revitalisasi Desa Spedagi. Papringan (kebun bambu) merupakan aset desa. Sayangnya papringan tidak terpelihara, hanya jadi tempat buang sampah. Atas ajakan Imam Abdul Rofiq, anak muda lokal, ia dan tim Spedagi, juga Fransisca Callista sebagai project manager, menyulap papringan yang kumuh, gelap, dan banyak nyamuk, menjadi bersih tertata. Di sana warga menjual kuliner, kerajinan tangan dan hasil pertanian.

Memulainya tidak dapat dibilang mudah. Tim melakukan pemetaan sosial. Warga didatangi dari pintu ke pintu. Puluhan kali pertemuan formal dan informal dilakukan barulah ditemukan konsep yang paling sesuai dengan warga dan potensi lokal. Sejak awal warga diajak turut memikirkan agar tidak terjadi kesan mereka akan menerima bantuan. Singgih ingin bukan sekadar pasar dalam arti fisik, namun sebuah aktivitas yang terorganisasi baik.

Mereka pun merekoleksi penganan desa. Gatot, tiwul, wedang, gudeg, sayuran dan buah-buahan hasil bumi, makanan kering, mainan kayu, dll. Lantas mereka merekonstruksi makanan, penampilan, rasa, cara menata, mengemas dan berjualan. Mereka hanya memakai bahan lokal. Tanpa  terigu, MSG dan pewarna buatan. Sebagai ganti warga membuat tepung dari beras dan ketela.

Sebagai alat pembayaran dipakai koin pring. Ide ini datang dari Liris, putri kedua Singgih yang membuat bazar sekolah dengan alat pembayaran khusus. Pring dicetak dan ditentukan nilainya. Satu pring senilai Rp2 ribu. Cara itu efektif dalam mengontrol penjualan.

Pasar tambah ramai karena propaganda gratis pengunjung yang menceritakan keunikan pasar melalui media sosial mereka. Orang berduyun-duyun datang dan menikmati desa tempo dulu, lengkap dengan penganan khas desa dan gending Jawa.

Sejak berdiri tahun 2016, sekitar 80%  dari 110 kepala keluarga turut berdagang. Pasar dibuka dua kali selapan (35 hari) setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, mulai pukul 6 pagi sampai pukul 12. Dibuka dua kali selapan agar ritme dan kultur desa tidak banyak berubah.

Sabtu adalah hari desa gotong-royong menyiapkan segala untuk ditampilkan di pasar. Keberadaan Pasar memberi kesegaran baru bagi warga desa. Petani menjadi lebih berpengetahuan sehingga hasil lebih produktif. Mereka pun diajar mengelola uang sehingga pendapat naik tidak dibarengi dengan menjadi konsumtif.  Sekarang ada sekitar 3000 pengunjung setiap kali pasar buka.

Kini banyak berdiri pasar dengan konsep serupa. Pada satu sisi menggembirakan, sayangnya mereka tidak menyebut sumber inspirasi. Padahal dalam dunia kreatif hal tersebut diperlukan sebagai kepatutan dan etika. Karena itu ayah dua putri ini berharap pemerintah sebagai penyelenggara negara dapat mendorong terbangunnya iklim kreatif dan endorsement bagi para kreator. Apa yang dilakukan Spedagi sebenarnya membantu pemerintah dalam memberdayakan masyarakat dengan hasil yang dapat dibanggakan. Sudah semestinya pemerintah mendukung secara aktif dan rendah hati dalam mengadopsi ke konsep perencanaan pembangunan daerah.

Seterusnya ia ingin mengembangkan hal-hal yang mendorong kemandirian desa. Secara internal mandiri dalam hal keuangan dan pendidikan sehingga dapat tetap tinggal di desa. Secara eksternal, konsep pasar menjadi inspirasi dalam merevitalisasi desa lain.

“Ke depan kami akan membuka kelas agar desa-desa lain dapat belajar apa yang sudah kami lakukan dan capai,ungkap penyuka T-shirt abu-abu ini.

Masih banyak gagasan di kepalanya, siap ditelurkan. Ia sering merasa diri terlalu keras dan to-the-point dalam bekerja dan berbicara, yang dirasanya kurang pas untuk masyarakat desa. Untunglah ada anak-anak muda di Spedagi yang membantu mewujudkan gagasannya.

Ngomong-ngomong, kenapa T-shirt abu-abu, Mas? Tertawa, ia menjawab, “Warnanya paling cocok untuk kulit saya.” (is/15/12/18)

Foto Singgih Kartono

read more
BukuTERASWARA-WARA

Menuju Cahaya Jokowi   

buku jokowi

Oleh Ita Siregar

Ketika Albertheine Endah melempar kaver buku Jokowi terbaru ke WAG Satupena, saya terpana membaca judul: Menuju Cahaya. Benak saya segera saja memunculkan kata: moksa, damai, hening, bening. Saya berpikir judul pastinya telah melewati skrining makna beberapa kepala, termasuk penulis.

Petang kemarin (Kamis, 13/12/18) saat peluncuran buku di Hotel Mulia Jakarta, Prof Dr Dato Sri Tahir memberi kata sambutan, juga mempertanyakan hal sama, tetapi kemudian ia bersetuju dengan judul setelah membaca buku.

Menurutnya, ada tiga hal sehingga Jokowi bersesuaian dengan judul Menuju Cahaya, yaitu 1) dia dapat berdiri di atas matahari, artinya seluruh hidupnya boleh diteropong tiap waktu oleh siapa pun dan akan didapati tak tercela –bukan berarti dia tidak pernah salah, 2) rekam jejak (politik) Jokowi yang ternyata bersih sejak kecil, sebagai pengusaha kayu, sebagai walikota Solo, sebagai gubernur Jakarta, sebagai Presiden Indonesia, dan 3) keluarga, yang sepenuhnya mendukung dan mempercayai Jokowi –meski mereka tidak selalu setuju.

Setelah saya membaca buku, saya pun setuju dengan pendapat itu. Tak sulit memahaminya karena penulis dengan lancar menarasikan kisah seperti kita sedang didongengi oleh Jokowi sendiri.

Jokowi kecil yang hidup prihatin di bantaran sungai bersama orangtua, yang kemudian ia simpulkan bahwa kemiskinan telah menempa mentalnya menjadi kuat dan tabah. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan orangtua dan disimpulkan Jokowi, pas dan tak berlebihan. Segala kepahitan hidup di masa lalu ia pandang sebagai tonggak sejarah yang tak terlupa.  Bahwa tanpa itu semua takkan ada Jokowi sekarang.

Dalam dunia kuliah dan bekerja, ia tidak berspekulasi. Semua diraih melalui belajar dan bekerja keras. Persis ia menjadi pengusaha kayu, bisnis furniture di Tanah Air sedang bersemi. Kerja keras membuatnya melaju. Karakternya yang berbela rasa dan berbelas kasihan kian matang. Istri dan ketiga anaknya kian mempercayai bahtera keluarga yang dipimpin Jokowi.

Setelah urusan keluarga beres, Jokowi memperhatikan dunia sekeliling. Kepeduliannya yang nyata mendorong kawan-kawan memberinya jalan untuk menjadi pemimpin mereka, di Solo. Tantangan itu diterima meski Jokowi tidak pernah bermimpi menjadi pengabdi Negara.

Blusukan adalah istilah kampanye yang diciptakan karena ia tak punya banyak uang. Keberhasilannya menangani Solo menarik perhatian Jakarta yang kala itu sedang mencari calon gubernur. Lagi-lagi ia tidak bermimpi hijrah ke Jakarta tetapi jalan sudah terbuka di depannya.

Bersama Ahok ia menunjukkan kepada warga Jakarta apa yang seharusnya sudah dicapai oleh ibukota negeri ini. Keberaniannya membongkar segala kegelapan sudut-sudut ibukota  membawa warga pada cahaya yang belum pernah diketahui sebelumnya. Dan ketika Indonesia sedang mencari seorang calon presiden, lagi-lagi Jokowilah yang dilirik meski sekali lagi, ia tidak pernah bermimpi presiden menjadi takdirnya. Tetapi pintu-pintu telah terbuka di depannya. Ia hanya tinggal masuk. Demikianlah orang yang tidak menginginkan kekuasaan diberi kekuasaan penuh oleh alam semesta.

Sepanjang 382 halaman buku mendedah karya Jokowi sebagai presiden. Pada halaman-halaman tertentu saya terharu ketika berulang-ulang  –dalam bahasa yang berbeda- ia mengatakan bahwa pembangunan harus menghampiri rakyat sudut mana pun. Ia memimpikan Indonesia yang berkeadilan sosial. Pada halaman lain saya kagum ia memandang status presiden sebagai pelayan rakyat yang sedang bekerja untuk kebaikan negeri, bukan seorang pejabat yang sedang mempertahankan rating survei. Humor sinis muncul sebagai responsnya terhadap fitnah dan hoaks keji tentang dirinya. Dengan program Nawa Cita ia berharap takkan lagi ada kisah-kisah sedih dari dunia pertanian kita.

Dengan segala kerja, kerja, kerja yang dia lakukan secara konsisten bersama Kabinet Kerjanya, selangkah demi selangkah kita Menuju Cahaya itu.

Sekarang saya merasa judul itu pas. Dialah yang kita perlu saat ini. Memang dia tidak sempurna tetapi tidak ada yang mencintai dan mengabdi kepada Indonesia, sebesar dia.

Oya, istilah Jokowi diberikan oleh buyer Prancis bernama Bernard untuk membedakan dia dari Joko-Joko yang lain. Begitu.

Pak Jokowi, terima kasih telah bersedia menjadi Presiden kami. Salute!   (is/14/12/18)

 

read more
OASETERASWARA-WARA

Teologi Membaca: Demi Kasih, Curiositas atau Cupiditas?

Ilustrasi Membaca

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Kita dikerubuti oleh kata-kata. Dalam dunia nyata dan maya. Kata-kata dari buku, surat kabar, novel, majalah, twitter, facebook, whatsapp, billboard, spanduk, layar kaca, blog, online. Ditambah buku-buku teks bagi mahasiswa. Kitab Suci bagi kaum beragama. Kata-kata mengendap dalam bawah sadar kita.

Seberapa banyak waktu dan energi kita habiskan untuk membaca per hari? Dan apa relasi teologisnya?

Teologi membaca (theology of reading) berbeda dengan teologi untuk membaca (theology for reading). Teologi untuk membaca bertujuan menolong kita memahami pikiran yang disampaikan oleh sumber, buku misalnya. Dari sana kita dapat menilai pengarang menganut pemikiran arus utama atau heterodoks atau bidah. Atau pesan yang disampaikan sekadar manis-manis iklan atau propaganda politik. Jadi teologi untuk membaca difokuskan pada konten yang dibaca.

Sedangkan theology of reading melampaui proses tindakan membaca. Alih-alih menerima atau menolak pesan dari tulisan, membaca adalah sebuah tindakan kasih –saat mulai sampai akhir membaca- dengan dasar Yesus Kristus, Sang Pengarang Kasih.

Membaca adalah tema refleksi teologi remeh-temeh kita kali ini. Sumbernya terutama dari Teology of Reading: The Hermeneutics of Love, Alan Jacobs, 2001.

Hukum Kasih

Setiap kristiani diikat oleh Hukum Kasih. Termasuk penulis maupun pembaca, dong? Iya.

Jika seorang penulis bertanya kepada Yesus tentang apa hukum apa yang terutama dan utama, maka tetap saja jawabNya seperti yang tertulis dalam injil: yang utama pertama: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu”; dan yang utama kedua: “Kasihilah sesamamu seperti mengasihi diri sendiri.”

Sebuah tulisan ditulis oleh seseorang di luar kita. Seseorang itulah sesama. Menurut Jacobs, tulisan adalah perpanjangan dari sesama kita (baik yang terhisab dengan Hukum Kasih atau yang tidak).

Tulisan merupakan medium yang mengaitkan dua pikiran, melalui jarak waktu dan ruang. Artinya, setiap kali membaca, kita menjumpai sesama kita. Dalam hal menghindari kesalahan dalam memahami maksud si sesama (baca: penulis) bukanlah tujuan utama dari kegiatan membaca.

Membaca dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan meski tulisan yang dibaca adalah sebongkah teks kaku yang panjang dan membosankan. Bagaimana pun, kita harus mengasihi tulisan tersebut –bahkan dalam keadaan kita tidak setuju dengan isi tulisan- sambil mengharapkan sesuatu yang baik muncul dari sana. Membaca dengan kasih menghadapkan kita pada satu risiko, dan risiko itu secara teologis, harus dirangkul.

Kontroversial, ya? Pastinya. Apalagi dalam kondisi sekarang, di mana kata-kata disengaja dibuat salah dan diproduksi scara besar-besaran demi sebuah tujuan jahat. Itu yang lebih sering mengemuka daripada yang benar. Mari kita menelusuri gagasan Jacobs tentang teologi membaca –dengan kasih- agar harapan sebuah perspektif baru, muncul.

Bahwa tak seorang pun dapat memenuhi Hukum Kasih bila ia tidak mengasihi. Sebaliknya, seorang yang mengasihi akan, seperti kata mazmur, gemar dalam ketetapan Allah dan merindukan hukum Allah setiap waktu (Mazmur 119: 16, 20). Artinya, kalau kita mengaku paham Kitab Suci -seluruh atau sebagian- tetapi tidak mengasihi Tuhan dan sesama, bohonglah itu semua.

Setiap hari kita berdoa jadilah kehendakMu di bumi seperti di Surga. Artinya, kita berharap melihat kasih diwujudkan pada saat kerja dan santai, saat mengurus keluarga dan beribadah kepada Tuhan, dalam segala waktu. Kasih mestinya dibuktikan dalam cara berpikir –termasuk menulis- dan berbicara –termasuk membaca.

Membaca dengan Kasih

Apa maksud interpretasi/tafsir berdasarkan Hukum Kasih?

Bapak Gereja, St Augustine (354-430), mengkritik bahwa teologi kristiani tidak memberi penjelasan sistematis soal tafsir yang berdasarkan kasih. Baik dalam konteks eksegesis dan eksposisi, secara alkitabiah. Bila ada yang merespons dengan mengatakan, pengertian akan didapat dari Tuhan, Augustine akan mengejar, berkata, tetapi Tuhan kan tidak pernah mengajar membaca alfabet.

Jika kita memahami kasih kepada Allah dan sesama sebagai persyaratan utama dalam membaca teks apa saja –termasuk novel, dokumen hukum, dan lainnya- maka kita memenuhi hukum kasih dalam pemikiran, perkataan dan perilaku kita. St Agustine mengabaikan soal kesalahan (dalam menafsir makna). Menurutnya, seorang pembaca kristiani yang dapat membangun kasih pada saat membaca namun tidak memahami maksud pengarang, dia tidak sedang ditipu atau merasa tertipu.

Orang yang salah menafsir itu seperti orang yang salah jalan. Ia meninggalkan jalan itu, melewati daerah lain, dan tiba pada tujuan yang sama, dengan jalan pertama tadi. Dalam rangka mengoreksi kesalahan, lebih bermanfaat bila orang tadi tidak putar balik, ambil jalan pintas atau jalan yang berlawanan. Jalan pintas mungkin akan menibakan orang itu pada teritori yang justru tidak dikenali dan berpotensi berbahaya, karena membuatnya lebih jauh dari tujuan semula.

Menurut Augustine, seseorang dapat abai terhadap maksud penulis Kitab Suci atau gagal memahami ayat atau pasal tertentu. Dia harus belajar agar tidak lagi melakukannya karena tujuan Allah adalah satu, begitu pula makna teks alkitab. Jika teks gagal dipahami, begitu pula kita gagal memahami maksud si penulis. Jika pembaca terus-menerus salah (dalam menafsir) dia akan dikalahkan terus.

Ketidakmampuan itu disebabkan manusia adalah makhluk yang sudah jatuh dalam dosa. Satu kali Yesus menjawab pertanyaan murid-muridNya, kenapa Ia berbicara dalam bentuk perumpamaan atau cerita. Jawabannya, karena meski melihat mereka tidak melihat, meski mendengar tetapi tidak mendengar dan mengerti (Matius 13:13). Dalam teks lain dikatakan, “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka” (2 Korintus 3:15).

Teks yang dipadati dengan pesan-pesan moral cenderung membosankan. Pemahaman yang rigid tidak menyisakan kesenangan bagi pembaca dalam membaca. Teori tafsir modern telah sangat menghilangkan kesenangan itu padahal tulisan untuk dinikmati, untuk diambil manfaat, dan membuat pembaca diberkati.

Kesenangan (voluptas) dalam membaca ada setelah merasakan apa yang indah, yang manis didengar, dicium, dirasa, disentuh. Curiositas adalah demi pengalaman membaca itu sendiri, bahwa membaca bukan untuk menderita ketidaknyamanan tetapi sebuah nafsu untuk mencari dan mengetahui. Curiositas dan voluptas adalah versi lain dari cupiditas, yaitu keinginan yang salah. Alasannya, keduanya mewakili kecacatan fokus: yaity berfokus pada hal yang salah atau pada hal benar dengan cara yang salah.

Dalam karya Confession, Augustine memunculkan curiositas berkorelasi negatif dengan memoria. Dengan memoria segala (ingatan) yang tersebar dapat ditarik kembali. Membaca melibatkan memoria dan curiositas – di dalam dan di luar batin. Memoria merupakan aktualisasi seseorang untuk merekonfigurasi pengalaman dan memperbaharui pemahaman yang ilahi.

Ngomong-ngomong, apa boleh baca puisi atau cerita atau drama? Membaca karya sastra tidak dapat dikatakan dosa. Alasannya, kita mengerahkan seluruh perhatian pada tulisan atas dasar ordo amoris: bahwa manusia seharusnya mencintai segala ciptaan dalam relasinya dengan Allah. Nyatanya, karya seni adalah kesempatan untuk mendapat kesegaran dan rekresi dan kesenangan. Bahwa membaca sastra atau membaca secara mendalam merupakan cara tak tergantikan dalam mengasah ketajaman dan kebijakan.

Dalam hal jenis bacaan, pembaca adalah raja, yang menentukan tulisan apa yang akan dibaca. Jika berdasarkan kasih kepada Allah dan sesama maka digambarkan dengan caritas. Jika berdasarkan keinginan sendiri merujuk pada cupiditas. Istilah ini menjadi pembeda antara orang yang hidup saleh dan tidak.

Mencintai sesama selalu berisiko. Entah sesama itu akan membalas atau menolak kasih kita, dan kita tetap berjuang untuk menunjukkan kebaikan. Jika mengasihi Allah dalam membaca maka kita akan memperhatikan apa yang kita baca, yang memiliki otoritas kebenaran atau tidak.

Mengejar Pengertian

Fenomena teks –demi memperoleh kebijakan dan otoritas – dikenal dalam tradisi agama Yahudi. Zohar, seorang mistis Yahudi, mengibaratkan Taurat bagai gadis yang cantik dan terhormat, dipingit di istana yang indah dan terpencil. Ia punya kekasih yang hanya gadis itu yang tahu.

Sang kekasih terus lewat-lewat di gerbang, matanya memonitor sekeliling. Gadis itu menyadari keberadaan sang kekasih, dan ia memikirkan untuk melakukan sesuatu. Perlahan ia mendorong pintu hingga sedikit celah terbuka, menunjukkan diri kepada sang kekasih, lalu cepat-cepat menutup pintu. Meski sekilas, sang kekasih melihat. Dia mahfum bahwa karena cintanyalah gadis itu memperlihatkan  diri. Sejak itu hatinya tertuju kepada si gadis. Begitu juga Taurat, hanya terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh cinta. Orang harus mengejar Taurat dengan sepenuh kekuatan, seperti mengejar seorang kekasih.

Talmud (catatan hukum, etika, kebiasa, sejarah Yahudi) bagi orang Yahudi pun didedikasikan bagi Allah. Bahwa, “Satu kali kamu mungkin meninggalkan Aku, tetapi tidak TauratKu” digambarkan oleh Emanuel Levinas (1906-1995) tentang orang Yahudi yang harus “mencintai Taurat lebih daripada mencintai Tuhan” (bayangan Ulangan 6:4-9).

Dalam Sejarah Membaca, Alberto Manguel (1948-   ) menulis, “Pada hari raya Shavout, memperingati hari Musa menerima Hukum Taurat dari tangan Allah, seorang anak laki-laki siap ditahbiskan. Tubuhnya dibelitkan selendang doa dan diserahkan oleh ayahnya kepada gurunya. Guru itu menempatkan si anak di pangkuannya, memperlihatkan kepada si anak sebuah piring yang di atasnya tertera huruf Ibrani dan kutipan ayat dari Kitab Suci, berikut tulisan, “Kiranya Taurat menjadi kesukaanmu.” Lalu piring itu dilumuri madu dan anak itu menjilatnya, demikianlah tubuhnya digambarkan mencerna kata-kata kudus. (bayangan Mazmur 19:10 dan Yehezkiel 3:3).

Perlakuan yang sama terhadap otoritatif teks terjadi di biara-biara pada abad pertengahan. Mereka mempraktikkan lectio (membaca) dan meditatio (meditasi, merenungkan) yang digabung, dan hasilnya adalah ruminatio –mengunyah firman/kata.

Merenungkan adalah mendekatkan diri selekat mungkin pada kalimat yang diucapkan dan menimbang semua kata dengan cara diperdengarkan bersuara dengan maksud memahami kedalaman maknanya. Mencerna isi teks dengan mengunyah untuk memunculkan seluruh rasa. Itu yang disebut oleh St Augustine palatum cordis atau in ore cordis, artinya kurang lebih the taste of the heart dan the ear of the heart. Pembaca atau pendengar dalam hati dapat merasakan makna saat mempelajari puisi atau bagian-bagian musik karena hati mencapai teks atau musik sebagai sebuah kejernihan dan kekuatan dalam hidup.

Mencerna sebuah teks suci atau yang kuat diekspresikan dengan cara hikmat oleh pendengar yang membaca demi pengertian. Petrach (1304-1307) misalnya, mencium teks Virgil (70-19BC) sebelum ia membukanya. Erasmus (1469-1536) melakukan hal sama kepada teks Cicero (106-43BC). Machiavelli (1469-1527) berpakaian resmi setiap kali akan membaca sebagai tanda penghargaan terhadap teks. Sikap tersebut merupakan penghargaan secara langsung. Dan kritik sastra adalah sebuah bentuk penghargaan.

Petrarch menjelaskan alasan dia mengutip tulisan pengarang-pengarang klasik: Tidak ada yang sangat menyentuh daripada aksioma orang-orang besar. Saya pakai itu untuk menguji diri saya, untuk melihat apakah itu berisi sesuatu yang solid dan mulia, kokoh atau tegar dalam menghadapi keberuntungan yang buruk, atau untuk menemukan jangan-jangan pikiran saya cupet. Saya berterima kasih kepada pengarang yang memberi saya kesempatan untuk menguji pikiran saya.

David Lyle Jeffrey (1941-    ) mengomentari frase Petrarch yang mengisyaratkan kebergantungan pada otoritas pengarang, dengan berkata, saya baru sadar telah ditipu oleh pikiran sendiri. Hal itu sekaligus menunjukkan sikap skeptik iman kristen terhadap masalah interpretasi yang diprivatisasi, seperti pernyataan St Augustine di atas.

Kenosis: Sebuah Gerakan

Apakah benar pembaca mencintai penulisnya? Mencintai dan menghargai, samakah?

Kasih yang murni bagi orang lain disebut kenosis, yang mensyaratkan pengosongan diri seseorang. Konsekuensinya, mengisi kekosongan itu dengan berfokus pada Yang Lain. Yesus adalah contoh kenosis, seperti kata Paulus, “ … dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus, yang walau dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milih yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya …” (Filipi 2: 5-7)

Kenosis merupakan gerakan atau sikap penting dalam mengasihi sesama yang ditandai dengan kepedulian penuh. Jiwa dikosongkan demi menerima pada diri yang dipandang, dalam seluruh kebenarannya. Tradisi kenosis sebagai satu aliran besar dalam dunia Barat, yang ekspresinya ditemukan dalam frase  I am you – saya adalah kamu. Dalam hal ini, seseorang kehilangan dirinya dalam obyek yang dia kontemplasi.

Seorang yang sedang tenggelam, menyadari ketakberdayaannya, menyerahkan diri dengan memandang diri terus, sampai nyawanya terlepas. Dunia menjadi obyek kasih yang murni. Pengosongan diri dalam sikap penuh perhatian dan kasih yang sempurna. Ketika istrinya meninggal dunia (1864), penulis Rusia Dostoevsky berkata bahwa untuk mengasihi seseorang sebagai mana adanya sesuai perintah Kristus, itu tidak mungkin. Setelah kemunculan Kristus sebagai bentuk ideal manusia dalam daging, menjadi sangat jelas bahwa itulah yang tertinggi.

Penutup

Ada sekitar 90 kata baca –beserta turunannya- di Alkitab. Beberapa adalah alasan untuk membaca.

Allah mewajibkan umat Israel, “Apabila seluruh orang Israel datang menghadap hadirat Tuhan, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, maka haruslah engkau membacakan hukum Taurat ini di depan seluruh orang Israel.” Ulangan 31:11

Untuk mendapat pengertian, “Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti (Nehemia 8:8).

Memberi efek menenangkan, “Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah , lalu dibacakan di hadapan raja.” (Ester 6:1).

Untuk mengungkap rahasia, “Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja.” Daniel 5:8.

Untuk menghibur, “Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan (Kisah 15:31) dan kesaksian hidup, “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.” Markus 12: 10.

Perintah Yesus, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Lukas 10:26

Untuk Kekekalan, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3

Is/12/7/18

 

 

 

 

read more
PersonaTERASWARA-WARA

Nh Dini dalam Kenangan  

Foto NH DIni lama

Membaca Nh Dini (1936-2018)

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Catatan ini tidak bulat genap. Beberapa buku Nh Dini yang belum kubaca, tetap tak terbaca karena kurang kesempatan. Ada satu buku yang ingin benar kubaca ulang, yaitu Pada Sebuah Kapal. Karya ini sebagai pembuka mata perihal menjadi perempuan dan pilihan. Namun peristiwa membaca cukup lama dan lupa detail cerita.

Alasan ingin membaca ulang karena belakangan dalam buku terbaru Dini, Dari Fontenay ke Magallianes, muncul tokoh ‘kaptenku’ dan aku tergelitik mengetahui rahasia kecil, apakah tokoh itu sama dengan ‘kapten kapal’ di novel Pada Sebuah Kapal. Memang Dini pernah menulis bahwa ‘tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan hidup daripada hanya khayalan’ (Dua Dunia, ix).

Aku telepon Endah, siapa tahu ia mengoleksi buku tersebut di lemari bukunya. Tapi sayang seribu sayang, tidak ada. Dia mengusulkan ke Jose Rizal TIM, tapi tak sempat mengubek toko padat buku itu. Ketika milis Apresiasi Sastra meluncurkan program menulis tokoh penulis untuk diskusi dua pekanan, nama Nh Dini segera memenuhi kepalaku. Sudah lama rasanya ingin melakukan riset kecil-kecilan tentang pengarang ini.

Karya-karya Nh Dini kukagumi sejak lama. Dia menulis yang hampir semua tentang diri dan hidupnya tanpa beban dan pretensi. Sikap dan keberaniannya dalam menulis mengesankan dan penting buatku. Beberapa teman berkomentar serupa, Dini hebat karena mampu membeberkan permasalahan yang masih tabu di masyarakat serta kebanyakan melukiskan tokoh perempuan bukan sebagai makhluk lemah.

Juga sebelum melahirkan tulisan ini, aku ingin sekali ketemu beliau langsung di Yogya. Hanya sekadar silaturahmi. Sebuah pertemuan fisik selalu memberiku warna lain dalam menulis dan membayangkan. Seperti ketika tidak sengaja ketemu Pak Budi Darma di Festival Ubud 2005, yang kubayangkan penulis Olenka, Orang-orang Bloomington, adalah manusia usil dan mungkin menyebalkan. Ternyata tidak betul sama sekali. Tapi juga tidak bisa membayangkan bagaimana kesanku bila bertemu Nh Dini langsung. Mas Sigit Susanto sudah mengirimi peta kenangannya bertetangga rumah Sekayu, tempat tinggal masa kecil Nh Dini. Aku meminta tolong Mas Putu Fajar Arcana untuk ancer-ancer lokasi. Endah semangat akan menemani ke Yogya. Sementara tugas-tugas kantor dan pribadi tak berkurang menuntut perhatian, menipiskan waktu bahkan mengirim tulisan ini dalam keadaan terlambat. Jadi, kawan, begitu historisnya. Maafkan kekuranggigihanku menghayati semua buku Dini dan terimalah catatan ini dengan sukacita. Satu kali aku mesti melengkapinya, sedikitnya buat kukonsumsi sendiri.

Mengenal Nh Dini lewat Karya-karyanya

Baginya hidup adalah menyelesaikan tugas-tugas hidup dan menuliskannya. Membaca buku-buku Nh Dini adalah membaca sebuah kehidupan dari masa ke asa. Hampir sepanjang hidup ia menulis dan mencatat peristiwa-peristiwa. okoh-tokoh dalam bukunya lebih banyak bertipe the girl next door. Begitu ekat dengan kita, begitu nyata. Tidak muluk-muluk.

Sebagai penulis ia telah melakukan tugas dengan baik, konsisten, tidak bolong-bolong, tidak banyak bicara. Ia memiliki daya tahan mengagumkan. Ia telah menemukan estetikanya sendiri dalam menulis. Seandainya anggota pasukan, maka ia akan termasuk yang khusus, karena berlatih tekun, militan, memutuskan satu tindakan tepat dan cepat. Dalam satu percakapan lewat email, JJ Kusni berkata bahwa Les Miserables karya Victor Hugo (1802-1885), pemimpin Gerakan Romantisme Perancis, merupakan tonggak penting sejarah bangsa Prancis. Buku itu menjadi bacaan wajib di sekolah menengah di Prancis hingga kini. Oka Rusmini, penulis perempuan asal Bali, telah juga mengupayakan agar bukunya, Tarian Bumi (2000), menjadi buku bacaan wajib pelajar SMA. Beberapa alasan mendasari hal tersebut. Salah satunya pendapat Majalah Horison Juli 2001, yang membandingkan novel Tarian Bumi dengan ujaran novelis Inggris Graham Greene yang merasa telah menemukan India yang sebenarnya justru dalam novel-novel dan cerita-cerita pendek yang ditulis RK Narayan.

Buku-buku Nh Dini bahkan memiliki keistimewaan, ia mencatat berbagai peristiwa secara detail, sehingga ketika ia menulis satu buku, cerita dalam buku itu berasal dari catatan yang akurat dan lengkap, seperti peristiwa sejarah dari masa ke masa hidup Dini. Catatan harian Dini masih tersimpan dengan baik di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Metode sama telah dilakukan BJ Habibie, mantan Presiden kita, menulis buku Detik-detik yang Menentukan (2006) berdasarkan catatan peristiwa penting di awal pemerintahannya, tidak mengandalkan ingatan.

Dini menggambarkan keadaan umum yang terjadi sehari-hari di keluarga, lingkungan, keadaan sosial dan finansial masyarakat, kehidupan serta perkembangan seni, transportasi, jenis makanan. Secara tak langsung Dini melukiskan mental manusia Jawa hidup di masa itu. Menarik mengetahui bagaimana orang-orang dalam masyarakat berpikir dan bertindak.

Karena cerita-cerita cukup detail dan cenderung datar, risiko respons pembaca amat mungkin seperti yang diakui Sigit Susanto, bahwa ia lebih sering mengantuk membaca buku Nh Dini. Tapi buku-buku Dini menjadi serupa referensi yang tidak terhindarkan. Sungguh semarak bila penulis (daerah) Indonesia melukiskan keadaan manusia, masyarakat, masalah sosial lokal daerah masing-masing dalam bukunya. Perempuan penulis asal India, Arundhati Roy, menulis hal detail satu keluarga di Kerala dengan setting tahun 1960-an dalam buku The Gods of Small Things. Jhumpa Lahiri, menulis The Namesake yang menampilkan detail peristiwa dan konflik istiadat yang terjadi dalam satu keluarga, yang merupakan refleksi masyarakat pada masa itu serta mengekspresikan pengalaman dan pemahaman tentang kehidupan. Antropolog Koentjaraningrat (alm) berpendapat pada hakikatnya fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang, fenomena tersebut dapat dimunculkan kembali sehingga menjadi wacana baru dengan proses kreatif mengamati, menganalisis, menginterpretasikan, merefleksi, membayangkan, dan yang lain.

Budi Darma mengungkapkan bahwa sastra Indonesia tidak memiliki semangat besar feminisme. Menurutnya, dari sekian banyak karya perempuan pengarang, hanya Nh Dini yang secara terus menerus menyuarakannya. Karya-karya Dini sejak tahun 1950-an sampai akhir abad-20 diikat oleh aspirasi yang kurang lebih sama, yaitu memarahi laki-laki. Mungkin Dini tidak membayangkan hal itu dalam novel dan buku-buku kenangannya. Seperti yang ia ungkapkan, ia hanyalah menulis kenyataan hidup. Ia mengaku bahwa kegiatan mengarang, selain untuk menarik keuntungan kebendaan, ia menginginkan supaya orang, dalam beberapa hal kaum lelaki, mengenal dan mencoba mengerti pendapat dan pikirannya sebagai wakil wanita pada umumnya (Sekayu, 76). Secara tegas ia berkata bahwa ia tidak mau disetir pihak tertentu untuk menulis sesuatu dengan data diselewengkan demi maksud komersil. Ia menelurkan karya-karyanya secara menyeluruh, takkan menyelesaikan karangannya sebelum ada rasa puas dihatinya. Bahkan, satu novel Dini yang dianggap penting, yaitu La Barka, proses pengumpulan data-data detail dilakukannya selama sepuluh tahun sementara untuk mengetiknya hanya diperlukan waktu satu bulan saja.

Masa kecil yang bermakna

Dari membaca satu dua bukunya, akan segera terasa karakter Dini yang ‘dingin’, tenang, adil, ramah, teguh, memiliki citra diri yang kuat, pemerhati kehidupan yang kritis, dan ‘rasa’ Jawa yang kental. Kepekaannya terhadap lingkungan dan karakter manusia-manusia di sekelilingnya bermula dari keluarganya.

Masa kecilnya istimewa dan menjadi dasar yang bermakna bagi kelanjutan hidup setelah masa itu. Ia menulis beberapa buku seri kenangan untuk setiap masa itu. Sebuah Lorong di Kotaku menceritakan kisahnya dan keluarga ketika ia masih sangat muda dan belum sekolah. Sekayu adalah kisah sehari-hari peristiwa ia mulai SD, SMP, dan masa remaja berikut peristiwa-peristiwa yang melingkupi keluarga.

Dari buku-buku kenangan Dini terlukis gambaran fisiknya yang kecil, kulit agak gelap, cara berbicara pelad. Sewaktu keluarga mengunjungi kerabat di Solo, seorang sepupu Dini yang nyinyir, setiap kali mengolok-oloknya, berkata, ‘ah, kamu kecil, semakin hitam saja, dan kau semakin pelad’.

Menanggapi hal itu Dini hanya tertawa dan merasa bahwa sepupunya tidak memiliki hal lain yang membanggakan selain mengolok-olok orang. Ia tidak menimpali, membiarkan olok-olok itu masuk ke kuping kiri dan keluar ke kuping kanan. Citra dirinya terkembang baik.

Di kelas 6 SD dia sudah paham apa yang disukai, orang atau teman mana yang bisa cocok dengannya atau tidak. Ia sudah menentukan bahwa ia tidak menyukai abangnya karena alasan tidak sepaham (bukan karena salah salam). Di kelas 6 SD, dia bisa tahu apa yang disukai, orang-orang mana yang bisa dia sukai atau tidak. Bahkan sebenarnya di usia yang sangat muda itu ia turut memikirkan keuangan keluarga.

Waktu ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di sekolah dasar, ia pergi ke sekolah yang lumayan jauh dari rumah. Setiap hari ia harus berjalan bolak-balik melewati dua desa. Beberapa teman kelasnya mempunyai sepeda khusus perempuan. Sesekali ia ikut dibonceng. Tapi karena arah rumah tidak sama, lebih sering ia harus berpeluh meneruskan berjalan kaki sampai rumah. Sementara itu sepeda ayahnya menganggur, sepeda orang dewasa yang bahkan tidak dilirik oleh kedua abangnya. Dini kecil begitu memimpikan sepeda, tapi ia sangat memahami kondisi keuangan keluarga. Ketika ibunya menyarankan untuk mencoba belajar mengayuh sepeda ayahnya yang besar itu, ia segera setuju. Ia menerima nasihat ibunya bahwa kendaraan adalah alat untuk memudahkan hidupnya. Ia mulai berlatih mengayuh dengan bersusah payah. Setelah terampil ia ke sekolah dengan sepeda itu, tanpa menghiraukan apa kata orang. Pengaruh ibunya amat besar dalam memberinya kesempatan untuk mengenal lingkungan lain di luar rumah dan kota lain dan ia mulai bisa menilai perbedaan-perbedaan yang ada.

Dini kecil sudah tergabung dengan perkumpulan seni tari Eka Kapti. Ia membayar iuran secara teratur setiap bulan, mengikuti latihan, memperhatikan peran-peran yang dibawakan para tokohnya. Ia menerima ketika terkadang ia tidak kebagian peran karena suaranya terlalu kecil. Tapi kemudian kelak ia mendapat peran-peran yang cocok untuknya dalam pementasan-pementasan tari yang secara teratur digelar setiap tahun.

Lakon-lakon itu juga membuatnya peka dengan baik-buruk kehidupan dan sikap-sikap manusia dalam menanggapi hidupnya. Dalam hal berbahasa dan menulis, sudah terlihat sejak dia di SD. Guru bahasa Indonesianya memuji karangannya, tapi sedikit mengritik bahwa seharusnya ia menggunakan kata ‘khawatir’ daripada ‘kewatir’, yang adalah bahasa Jawa. Menanggapi hal itu, Dini menjawab dengan tegas bahwa kata khawatir berasal dari bahasa Arab. Itu sebabnya ia memilih untuk menggunakan kata kewatir, yang artinya sama namun diambil dari bahasa Jawa. Ia katakan bahwa bahasa lokal akan terasa lebih dekat dengan masyarakat daerah pemakai bahasa.

Dini remaja peka membaca gelagat teman-temannya. Bila ia tidak menyukai seseorang, ia akan bisa merasakan dan menentukan sendiri sikapnya. Ia akan mundur, tidak bertegur sapa dengan mesra, hanya bergaul sekedarnya saja. Tapi bila ia suka, ia akan menghabiskan banyak waktu bersamanya, berbicara apa saja dan sangat menghargai hubungan itu. Di masa remajanya ia pernah jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, ia tidak bisa makan tidak bisa tidur. Tapi ketika kemudian ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, ia mundur secara teratur. Meskipun sedih ia memahami bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa terpenuhi.

Di usia 15 tahun, ia mulai menulis cerita atau naskah drama secara teratur ke RRI Semarang. Ketika pertama kali akan mengambil honor ke kantor itu, satu petugas RRI tidak percaya bahwa ialah penulisnya. Dini tidak tersinggung, hanya berkata bahwa apa tidak mungkin seorang yang kecil bisa menulis secara itu? Ketika petugas itu mengantar Dini pamit dan melihatnya mengambil sepeda besar untuk laki-laki, ia tidak berkomentar lagi. Pada masa kecil dan remajanya, ia sudah memikirkan banyak hal, baik keluarga, lingkungan, dan kegemarannya sendiri. Ia sudah mampu mengelola banyak konflik dalam memutuskan, menerima, menilai, memilih. Dan itu adalah sebuah keterampilan untuk menjadi mandiri.

Peristiwa dalam karya

Buku pertama Dini, Dua Dunia, merupakan kumpulan cerpen, terbit tahun 1956. Ia dicatat sebagai penulis dengan karya sastra angkatan 50-60-an. Menyusul setelah itu novel Pada Sebuah Kapal diterbitkan tahun 1973. Karya ini dianggap sangat diperhitungkan oleh para pengamat sastra Indonesia. Pada tahun yang sama, Marga T. meluncurkan novel Karmila. Kritikus sastra A. Teew menjuluki karya-karya tersebut sebagai sastra pop, untuk membedakan tulisan mereka dengan sastra serius dan menggarisbawahi kelarisan (dan ketidakseriusan) karya. Tak lama setelah itu, tahun 1975, Raumanen, novel Marianne Katoppo yang memenangkan Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta, diterbitkan. Jejak ini diikuti banyak pengarang lain, di antaranya Aryanti, Ike Soepomo, La Rose, Maria A. Sardjono, Mira W., Titie Said,, Veronika, Yati Maryati Wiharja, juga Selasih, Rahma Asa, Nina Pane, Lili Munir, seiring dengan munculnya majalah wanita dengan oplah besar di sekitar tahun 70-an.

Sekitar tahun itu perekonomian Indonesia mulai membaik. Daya beli masyarakat meningkat dan muncul permintaan baru, termasuk koran, majalah, buku. Kantor penerbitan dan media massa mulai berkembang. Sejumlah besar majalah mingguan atau bulanan yang di antaranya ditujukan bagi pembaca perempuan. Perbaikan ekonomi merupakan sebuah prasyarat untuk membangun lingkungan yang mau menerima sastra dan seni, papar seorang. Sastra populer harus diakui telah mempunyai pengaruh yang lebih luas pada pembaca, dan membantu meningkatkan kebiasaan membaca di Indonesia karena jumlah pembaca yang besar.

Sementara itu menurut Budi Darma, sastra Indonesia juga penuh dengan sastra kabur. Ada puisi gelap, novel antihero dan anti plot, drama yang tidak jelas, dan lain-lain, mulai bangkit tahun 1970-an dan masih berlanjut hingga kini. Mengapa sastra kabur memukau, apakah mempunyai dimensi masa depan yang baik ataukah hanya sesaat, menurut Budi, jawabannya bisa banyak.

Namun nama Nh Dini adalah satu dari sedikit pengarang perempuan yang penting di negeri ini. Karya-karyanya dianggap sangat reprensentatif bagi banyak persoalan wanita yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. Putu Wijaya berkomentar ‘kebawelan yang panjang’ untuk menyebut Dini sebagai pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif.

Dini memilih kalimat-kalimat sederhana untuk menggambarnya satu peristiwa. Mudah menebak arah simpatinya. Satu hari, kakaknya, Maryam, menikah. Waktu upacara pidakan, yaitu kaki pengantin lelaki menginjak telur lalu kakinya dibasuh pengantin wanita, Dini tidak merasa terharu dengan simbol seorang istri melayani suami itu. Waktu itu hatinya malah merana melihat telur dibuang-buang hanya digunakan sebagai perlambang (Sekayu, 174). Ia menulis berbagai peristiwa dengan latar belakang kesulitan ekonomi yang merata di mana-mana. Ia menampilkan sistem transportasi buruk. Naik bis untel-untelan, penumpang seperti ikan tongkol dipaksa masuk lebih banyak, juga masalah kereta api. Hingga kini, lukisan tersebut masih tetap abadi, bahkan mungkin lebih buruk dengan banyaknya kecelakaan yang mengiringinya di akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007. Sungguh ironis tapi itulah yang terjadi.

Dini menata kalimat-kalimatnya dengan cermat, tak terburu-buru, tekun, runut. Ia memperhitungkan kata-katanya. Ia sudah berbahasa dengan baik, bahkan sejak awal ia memulai debut menulis dan mendapat keuntungan dari sana, dimulai di masa SMP. Ia menyukai proses dalam menulis. Baginya, hal yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, ia tulis dulu di catatannya dengan tulis tangan.

Hal itu juga karena ia suka merenung, menganalisa kembali dan lebih mengutamakan kepuasannya dalam menyelesaikan tulisan. Satu cerita pendeknya yang panjang, Istri Konsul (2000) terasa berbeda dengan karya Dini lain yang terasa lebih longgar dan jelas. Di sini Dini merangkai kata dan kalimatnya secara rapat dan cepat. Bila dilihat dari rentang masa dan konflik tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, Dini bisa membuatnya menjadi satu novel. Lompatan-lompatan plot yang dilakukannya tidak seperti kebiasaannya yang detail.

Hampir semua masa dalam kehidupan Dini tercatat dalam buku-bukunya. Tapi masa ketika ia menjadi pramugari Garuda, yang cukup lama, yaitu sepuluh tahun, antara tahun 1950-1960, tidak tampak dalam buku-bukunya atau saya belum menemukannya.

Perempuan dan seks dalam karya

Dini setiap kali menampilkan nama perempuan dalam tokoh-tokoh di novelnya. Seorang pengamat mengatakan bahwa tokoh-tokoh perempuan yang diciptakan pengarang perempuan lebih merupakan manusia perempuan dan bukan sekadar konsep mengenai bagaimana seharusnya menjadi perempuan. Dalam satu tulisan Sapardi Djoko Damono, tokoh perempuan yang ‘diciptakan’ oleh laki-laki lebih merupakan konsep, yakni apa yang oleh laki-laki dianggap sebagai ‘perempuan.

Dra Sariyadi Nadjamuddin-Tome, MS, dosen FBS Unima Tondano meneliti dan membuat makalah tentang permasalahan wanita dalam novel Nh Dini, La Barka. Isu wanita di buku ini terutama berkaitan dengan pembagian kerja secara seksual, cinta segitiga dan sosiokultural dalam suatu perkawinan campur. La Barka melegitimasi bahwa tidak selalu kekeliruan, kelemahan, tindak deviasi, bersumber pada diri kaum wanita, seperti pandangan tradisional selama ini.

Permasalahan yang ditampilkan dianggap memberi daya tarik tersendiri juga aktual karena sering dibicarakan dan dibahas dalam berbagai seminar pakar sastra dan komunitas gerakan perempuan. La Barka memiliki potensi menjadi saksi di zamannya mengenai masalah wanita yang dianggap sebagai warga kelas dua (the second sex) akibat partiarchal power, paham yang dapat menyebabkan ketimpangan sosial. Menurut Sariyadi, penelitian dengan teori kritis sastra feminis yang diterapkan dalam analisis teks La Barka, menghasilkan pembuktian bahwa teori kritis sastra feminis dapat dimanfaatkan dalam penelitian sastra yang bersifat ilmiah.

Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. “Saya spontan menuliskannya. Kalau sekarang saya disuruh membacakannya di depan umum, saya baca. Hal itu unsur kehidupan juga, seperti bernafas. Kenapa kalau bernafas tidak malu. Seks dalam bentuknya tersendiri adalah satu puisi,” ujarnya. Melani Budianta, pemerhati sastra di Jakarta mengatakan, sastra populer hasil karya perempuan pengarang di akhir 1990-an telah memunculkan sebuah generasi baru, yang berani mengeksplorasi seksualitas lebih dalam, memakai cara penulisan yang berbeda dan bahasa yang lebih puitis. Namun karya mereka sama sekali tidak dipandang sebagai pornografi, misalnya Saman karya Ayu Utami dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu. Esais Nirwan Dewanto mengatakan seksualitas bukanlah sesuatu yang baru. Nh Dini sudah menggarap masalah tersebut pada novel Pada Sebuah Kapal, hanya saja Dini tidak begitu radikal.

Di buku terbarunya, Dari Fontenay ke Magallianes, Dini menulis dengan gaya lebih segar dan memikat. Ia banyak melukiskan perasaannya tentang peristiwa liburan, tinggal bersama dengan satu keluarga sahabat Prancis dalam satu rumah, berbagai makanan yang disajikan berikut rasanya, kehamilan keduanya yang tak terduga dan tak diharapkan, dan tentu saja perselingkuhan yang menggetarkan dengan sang kapten. Tentang yang terakhir itu dia tulis secara gamblang dan terang-terangan. Ia mengungkapkan betapa tertekan hidup bersama (mantan) suami Prancisnya yang pelit dan garing.

Namun karakternya yang adil, Dini tetap memuji kebaikan hati suaminya yang memberinya beberapa kebebasan, misalnya berlibur ke Indonesia dan dapat bersekolah kembali sesuai cita-citanya. Buku ini indah dan semarak seperti musim semi meskipun lahir dari pengalaman pahit si pengarang. Sebentar lagi ia berusia 71 tahun. Sebenarnya bisa saja usianya lebih muda karena ia lahir 29 Februari 1936, artinya berulang tahun setiap empat tahun. Di satu buku kenangannya, ia mengutip sajak Rendra, bahwa hidup bukan untuk mengeluh, tapi tugas yang harus diselesaikan demi kehormatan.

Sebagai penulis, Dini telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

 

Januari 2007

read more
1 2 3 4
Page 1 of 4