close

WARA-WARA

BukuGAYATERASWARA-WARA

Pada Posisi Enak, Masih Perlukah Menjadi Orang Merdeka?

16 istri mengeluh

Menyoal merdeka, tak semua orang tertarik menjadi orang bebas. Sepanjang hidup nyaman tak kurang sesuatu pun, apa masih perlu menjadi merdeka?

Sejarah mengatakan orang Israel kuno tinggal di Mesir lebih dari 400 tahun dan ditindas, hidup kepayahan. Mungkin tidak semua merasakan hal sama. Ketika Musa memberitahu kabar gembira mereka akan keluar dari negeri terjajah ke negeri bebas yang berlimpah susu dan madu, beberapa orang merasa ragu.

Menjadi orang bebas tetapi hidup lebih sulit, untuk apa? Mungkin inilah keluhan seorang istri yang ragu pergi ke negeri yang menjadikan dirinya bebas:

akan menyeberangkah kita suamiku
setelah empat ratus tiga puluh tahun
tanah yang lahirkan leluhur anak cucu kita
gurun pasir oase kotakota
piramida kuil obelisk
cerita dewadewi

akan menyeberangkah kita
tinggalkan rumah home sweet home
sudut dapur yang kita rancang sendiri
kayukayu kursi meja yang kita plitur sendiri
kebunkebun yang kita tanami dengan cinta
jelai mijumiju ketimun bawang prei melon anggur
bir gandum basahi kerongkongan kita nyaman

bagaimana kalau kita rindu sungai nil yang bagaikan ibu
rumah bagi burung heron ibis ikan angsa kadal kuda nil
di tepinya kita duduk melamun segala letih menguap
angin utara yang sapu keringat kita sejuk
panas matahari keringkan pakaian kita
lembah yang memeluk hujan musim panas musim gugur
papirus gelagah dan o teratai air

benarkah negeri terjanji melimpah susu madu
bagaimana kalau itu isapan jempol pemimpin
bagaimana kalau allah kita bukan allah
bagaimana kalau kita jadi tinggal nama
bagaimana

sudah selesai kita pergi sekarang, istriku sayang
kita akan mengenang semua dengan hebat
tak mungkin kita lupakan
katakan selamat tinggal mesir
katakan terima kasih mesir
katakan maafkan mesir
kita pergi sekali
untuk selamanya

Doules membaca larik-larik puisi dan tertarik pada kalimat si istri soal pakaian kering. Akankah tempatku menjemur di negeri bebas kelak selepas dan seluas sekarang?

Tidak ada jawaban pasti. Hidup memang paradoks.

Diambil dari buku puisi Ia Dinamai Perempuan karya Ita Siregar.

Sia kontak WA 0852-0626-6722 atau email diadinamaiperempuan@gmail.com untuk memesan buku.

read more
BukuTERASWARA-WARA

Ia Dinamai Perempuan

Facebook-edit2

Kumpulan Puisi

Buku karya Ita Siregar ini berisi 54 puisi perempuan kitab suci. Masing-masing puisi dilengkapi ilustrasi oleh Doules Nggebu.

1.ibu maria
2.maria dari magdala
3.ratu syeba
4.perempuan tiang garam
5.perempuan yang melawan dengan bungkam
6.abigail
7.mikhal
8.perempuan pemanggil arwah
9.selia, anak perempuan yeta
10.lima anak perempuan zelafehad
11.hawa
12.sifra dan pua
13.herodias
14.perempuan siro-fenisia
15.ester
16.seorang istri berkeluh kepada suaminya
17.putri tamar
18.dina
19.persembahan janda miskin
20.putri bithia dari mesir
21.sara
22.perempuan yang dua belas tahun perdarahan
23.vasthi
24.gomer
25.ribka
26.hagar
27.sara kepada hagar
28.rahel
29.ruth
30.delila
31.perempuan yang kedapatan berzinah
32.perempuan dengan parfum 300 dinar
33.hanna
34.balada adara
35.martha
36.bibi yoseba
37.miryam
38.elizabeth
39.perempuan di sumur
40.janda sarfat
41.izebel
42.yael
43.zipora
44.tamar
45.rahab
46.perempuan kain ungu
47.istri potifar
48.salome
49.yedija binti adaya
50.batsyeba
51.gadis sulam
52.naomi
53.lea, perempuan yang menyewa suaminya sendiri
54.asnat

Pemesanan ke nomor WA 0852-0626-6722 atau email diadinamaiperempuan@gmail.com

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Pongkinangolngolan

Buku Tuanku Rao

There are no facts, only interpretations. –Nietzsche

Turiturian –bahasa Batak- artinya cerita, legenda, dongeng.

Parturi atau bayo parturi artinya story teller. Si tukang cerita. Si pendongeng. Dalam pemerintahan tradisional, parturi termasuk salah satu fungsinya. Dia bisa ahli sejarah atau sastra. Artinya, itu peran yang penting, sebagaimana bupati.

Orang-orang tua zaman dulu menyampaikan pesan, peristiwa, sejarah keluarga, dan lain-lain, secara lisan. Bentuknya bisa kotbah, nasihat, lagu, pantun, dan lain-lain. Para orangtua bercerita kebiasaan ompung dan adat leluhur kepada mereka yang lebih muda. Supaya cerita tak putus. Dan pendengar tidak memeriksa. Apakah fakta atau fiksi. Kisah diteruskan dari generasi ke generasi.

Adalah yang bernama Mangaraja Onggang Parlindungan. Kita singkat MOP. Tahun 1964 MOP menulis buku 700 halaman. Judulnya Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Teror agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833.

Sepuluh tahun kemudian sastrawan Haji Abdul Malik Karim Abdullah alias Hamka juga menulis buku. Judulnya Antara Khayal dan Fakta Tuanku Rao. Buku itu membantah buku MOP. Buku 80% isinya turiturian, kata Hamka.

Lama setelah itu, muncul Basyral Hamidy Harahap. Tahun 2007, mantan dosen Fakultas Sastra UI itu meluncurkan buku berjudul Greget Tuanku Rao. “Saya menulis untuk melengkapi apa yang luput dalam tulisan MOP,” kata Harahap.

Meski banyak orang menyindir tulisan MOP, Harahap berpendapat, toh perlu dibaca karena siapa tahu ada butir-butir berharga dari sana. Memang Harahap menyayangkan MOP membakar dokumen tulisan tangan ayahnya –Sutan Martua Radja- sumbernya dalam menulis buku. Alasannya, itu aib keluarga. Tak elok banyak orang tahu.

“Saya mengambil 10% (dari catatan ayah). Sisanya, biarlah aib itu hanya keluarga yang tahu,” kata MOP.

Apa aibnya?

Mereka adalah keturunan Tuanku Lelo. Ayah dari kakeknya MOP. Algojo kejam tanpa ampun dalam Perang Paderi di Tapanuli (1816-1833). Tuanku Lelo alias Idris Nasution adalah putra ke-6 Haji Hassan Nasution gelar Tuanku Kadi Malikul Adil, pedagang kuda beban. MOP ingin membersihkan nama Tuanku Rao dari yang melakukan itu.

Tuanku (seperti kiai sekarang) Rao adalah gelar untuk Pongkinangolngolan. Ia babere (kemenakan dari saudara perempuan) Sisimangamangaraja IX (1778-1819). Dinasti bermarga Sinambela. Kenapa tanpa marga?

Karena ayah Pongkinangolngolan adalah Gindoporang Sinambela, putra Sisingamangaraja VIII (1771-1788). Ibunya Gana Sinambela, Putri Sisingamangaraja IX. Sinambela vs Sinambela. Ya, mereka inses. Dan itu tabu bagi hukum Batak. Hukumannya dirajam sampai mati.
Tak tega, Sisingamangaraja IX mengusir adik dan pamannya, keluar dari Bakkara. Dalam keadaan Putri Gana hamil, mereka dibuang ke Singkil Aceh.

Di Singkil, Gindoporang bergabung angkatan polisi Aceh karena ia cakap berkuda. (Dinasti Sisingamangaraja terkenal karena punya kuda-kuda yang kuat dan tangkas). Dan ia masuk Islam. Namanya menjadi Muhammad Zainal Amirudin Sinambela. Gana Sinambela sendiri tetap beragama asli Batak.

Anak mereka pun lahirlah. Gindo memberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela. Gana memanggil bayinya Pongkinangolngolan. Diambil dari kata Pongki na Ngolngolan. Fakih yang menunggu-nunggu. Sampai usia 9 tahun Pongki diasuh ibunya, menurut agama ibunya.

Lalu Sisingamangaraja IX wafat di Bakkara. Penggantinya, Sisingamangaraja X (1819-1841), memaafkan kesalahan Gana, saudara perempuannya. Dia mengirim utusan untuk menjemput Putri Gana dan Pongkinangolngolan. Gindoporang tetap di Singkil.

Di Bakkara, Pongkinangolngolan kerap diajak berburu rusa oleh sang paman. Untuk meredakan gosip, Pongkinangolngolan diberi marga Simorangkir. Diangkat anak oleh saudara perempuan Gana, Sere Sinambela. Suaminya Hulubalang Djomba Simorangkir.

Upacara itu diendus para datu. Mereka keukeuh Pongkinangolngolan harus dihukum mati. Alasan, mereka melihat tahi lalat berambut di lidah Pongkinangolngolan. Raja-raja dinasti Sisingamangajara dikenali dengan dilana marimbulu. Ada tahi lalat berambut di lidah. Kalau dibiarkan hidup, bisa-bisa keponakan bunuh paman. Demi kekuasaan. Begitu ramalan para datu.

Meski sedih, tidak ada jalan bagi Sisingamangaraja X kecuali menurut. Bila dilanggar, keseimbangan sosial dan diplomasi Dinasti dipertaruhkan. Masa itu Bakkara sudah berelasi baik dengan banyak pihak luar, untuk berdagang.

Pongkinangolngolan dihukum dengan ditenggelamkan ke danau Toba. Tubuhnya diikat pada kayu dan diberati batu-batu.

Hari yang ditentukan tiba. Di tepi danau, Sisingamangaraja datang untuk inspeksi terakhir. Diam-diam, dia menyelipkan kantong kulit berisi uang perak ke baju kemenakan tersayang. Dan melonggarkan ikatan-ikatan pada kayu.

Pongkinangolngolan ditenggelamkan namun selamat karena ikatan-ikatan mudah lepas. Dia mengapung di atas air, di atas kayu. Angin membawanya ke Narumonda, hulu sungai Asahan. Dia ditemukan oleh nelayan bernama Lintong Marpaung.

Lintong sangat sayang kepada Pongkinangolngolan. Khawatir keberadaannya diketahui para datu Bakkara, Marpaung membawanya ke Laguboti. Di sana ia dijual seharga 3 ringgit burung, ke Sahala Simatupang, seorang Syanghai Boss. Syanghai-Boss adalah kepala rombongan pedagang.

Sahala berdagang hingga ke Sipirok Sumatera Selatan. Di Sipirok, Pongkinangolngolan menyerahkan 6 ringgit burung –uang dari pamannya – kepada bosnya, agar ia dapat bebas.

Lalu ia bekerja untuk Raja Baun Siregar. Juragan kuda. Enam tahun bekerja, dia memutuskan merantau ke Minangkabau. Di sini ia bertemu Djamangarait Nasution, penjual kuda beban. Ia diminta mengurus 24 kuda untuk nanti dijual ke Datuk Bandaharo Ganggo. Waktu itu usianya sudah 15 tahun.

Datuk Ganggo seorang ulama. Dia sedang menyiapkan rombongan pergi ke Kamang. Dia akan berjumpa kawannya, Tuanku Nan Renceh.
Di Kamang sedang ada gerakan pembersihan agama Islam. Berawal dari tiga orang haji kembali dari Mekah. Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik. Mereka dari Mazhab Hambali. Mengajarkan agama Islam yang sangat murni.

Dalam perjalanan dari Lubuksikaping ke Kamang selama lima hari, ia mengenal Peto Syarif (kelak Tuanku Imam Bonjol).

Di Kamang, Tuanku Nan Renceh mendengar ia kemenakan Sisingamangaraja X, memintanya dari Datuk Ganggo, untuk bekerja kepadanya.
Oleh Tuanku Nan Renceh, ia dimuslimkan. Namanya menjadi Umar Katab. Ia disekolahkan tentara Paderi dan lulus memuaskan. Ia di bawah komando Haji Piobang, tentara kavaleri yang pernah berperang untuk Turki di Mesir. Waktu itu usianya 24 tahun.

Pongkinangolngolan bergelar Tuanku Rao. Ia disekolahkan ke Siria setelah naik haji di Mekkah. Tahun 1816 ia kembali ke Sipirok dan menjadi Gubernur Militer Tentara Paderi selama dua tahun. Tahun 1821, dalam pertempuran gagah berani melawan Belanda di Air Bangis, dia wafat. Jenazahnya tidak pernah ditemukan. Ia meninggalkan istrinya Zaharah Daudi dan 3 anak.

Begitulah kisah Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Di buku MOP.

itasiregar/05/06/2020

read more
PuisiWARA-WARA

ziarah panjang berbatu seorang bernama rudolf manurung

sunrise-by heiko stein pixabay

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
para orangtua berkatimu membangun dikajo di atas tanah leluhur
setahun tiga bulan kau lahirkan dia seperti anakmu sendiri
seorang pendeta mendaras doa diamini keluarga kerabat handai tolan
hatimu girang istrimu chef penuh cinta merawat perut pengunjung
dengan lobster kukus segar dari danau besar titipan semesta

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
baru tiga bulan usianya dibakar api enam jam rata dengan tanah oleh adik tersayang
dan seorang polisi galau yang mengotori tangannya dengan alat peledak
dengan alasan tak seorang tahu kecuali mereka dan tuhan yang mereka sembah
kau pandangi reruntuhannya seperti kau melihat kematianmu sendiri
para calon pelanggan ratapi nasib tak sempat dilayani buah tangan istrimu

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
satudua polisi jebloskan kau ke penjara dengan dusta kau aniaya alat negara
kau ikhlas dikurung tiga bulan ditemani tatap redup ratusan pasang mata sesama
yang tak kuasa menggapai keadilan karena tak ada uang di tangan
hatimu lebih kuat dari intan kala bertemu udara bebas di hadapanmu
membentang gunung batu yang keras kepala seperti setan

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
kau dan istri tercinta alami getir hidup sementara semangat baja
antara medan balige samosir kau ukur jalanjalan yang menghubungkan
kemanusiaanmu dengan tuhanmu sambil batinmu bertanya kenapa dan kenapa
saudara sedarah mengangkat tumitnya di atas kepalamu hanyutkan kenangan
hangat di rumah ibu kalian menjadi kering tak berbelas kasihan

kenapa ziarah serupa ini terpilih untukmu, rudolf manurung
tak mengerti kau tatap mata hakim di depanmu jaksa di sisi kirimu
pembela di sisi kananmu tepekur mencari ayatayat pantas untuk
dijatuhkan kepadamu membiarkan hati nurani tertinggal
kedinginan sunyi di ujung hati sedang kau berpikir dosa menjerat
dan sengsara dunia orang mati telah tiba selagi kau bernapas

ziarah ini memang untuk kau daki dengan kakimu, rudolf manurung
jangan siasiakan udara murni pemandangan suci dari ketinggian milikmu sendiri
jangan percaya suap gemerlap kekuasaan mobil mengilap kepunyaan siapapun
sepertimu, mereka hanya manusia serupa bunga yang hari ini ada besok layu dan tiada
sedang lubuk para musuhmu merana tak dikunjungi cinta tak pernah gagal
biarkan akhir ceritamu elok didengar karena tuhan yang kaupercaya
hapus air dimatamu ganti tawa dimulutmu

puisi oleh ita siregar
foto heiko stein dari pixabay

is/10/07/20

read more
OASETERASWARA-WARA

Sepanjang Semarang-Jatisrono

Romansa Puasa_preview

Teks Yuanita Maya

Ibu membuka jendela mobil sambil mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, meminta maaf sekadarnya kepada Bapak yang tengah berpuasa. Yang dimintai maaf tenang-tenang saja, sementara istrinya mengembuskan asap Gudang Garam filter yang berbual-bual di udara. Asap menguarkan aroma manis yang pekat, yang hingga puluhan tahun kemudian dalam ingatan tetap saja lekat.

Para perokok sepakat bahwa menahan lapar kala puasa boleh dibilang mainan anak-anak. Tapi menahan hasrat merokok selama belasan jam adalah neraka lapis pertama. Masih beberapa jam lagi sebelum Bapak bisa menyalakan Bentoel Biru-nya, tapi Ibu cuek menyedot rokok dengan gayanya yang khas serta sedap dipandang itu.

“Sana yang puasa kenapa sini yang asem,” begitu komentar Ibu sambil lalu kalau ada yang protes semacam ini, ”Pengertian, dong, kasihan suami lagi puasa.”

Karena satu dan dua alasan, Tuhan mengaruniai ibu saya, perempuan paling cuek bebek di dunia, suami berbeda agama yang sabar luar biasa. Bapak Muslim dan Ibu Katolik. Bapak rajin menunaikan tradisi agama, Ibu cenderung mengabaikannya. Saya yakin, kalau dalam hidupnya sekali saja Ibu pernah berpantang sebulan pada masa prapaskah seperti Katolik saleh lainnya, maka ia akan paham betapa menderitanya menghirup wangi aroma kretek saat ia berpantang. Tapi bukan Ibu kalau tidak lihai berdalih.

“Puasa tidak ada yang maksa kok manja,” dengusnya berkelit.

Ibu janda canggih lima anak perempuan dan Bapak perjaka tingting dari desa yang lugu dan sederhana. Dari perkawinan mereka lahir dua anak perempuan tambahan. Mereka menikah di Catatan Sipil, sebab kala itu belum terbit peraturan pemerintah yang mewajibkan dua insan yang menikah wajib satu agama; satu aturan kelak sangat merepotkan dan tak jelas faedahnya.

Dalam rentang perkawinan yang berakhir oleh maut itu, Bapak dan Ibu sepakat untuk tidak merecoki keyakinan masing-masing. Perkawinan mereka bukan sejenis perkawinan yang tenang-tenang tanpa prahara; lagipula di mana ada pernikahan yang berjalan damai tanpa perkara? Mengingat sifat Ibu yang meledak-ledak dan tidak sabaran, apa pun bisa ia permasalahkan. Bapak dan Ibu bisa bertengkar soal mertua, ipar, keuangan, pekerjaan, sebut apa saja. Tapi sejauh yang saya ingat, tak pernah mereka meributkan keyakinan masing-masing.

Maka, jauh sebelum memasuki gerbang sekolah dan menghapalkan sila-sila Pancasila, kami sudah belajar di rumah. Tentu tidak secara sadar, karena Bapak –sebagai contoh- tidak pernah mengikuti ibadah keluarga besar Ibu sambil melantangkan butir-butir Pancasila sila Pertama. Ibu juga tidak pernah menyiapkan sahur untuk Bapak sambil berkata, ”Harusnya aku jadi juru tatar P-4”, misalnya. Bapak tidak merasa terganggu jika di rumah memasang lagu rohani Kristen keras-keras. Ibu dengan setia menemani Bapak bertarawih, walau mungkin ia menunggu dengan jemu sambil dalam hati menggerutu.

Dari ketujuh anak Bapak dan Ibu, seorang Muslimah dan sisanya Kristen. Tidak satupun beragama Katolik, sekalipun mengirimkan anak-anak ke sekolah Katolik terbaik adalah tradisi keluarga kami. Bisa dibilang Ibu cukup kesepian secara iman. Atau mungkin tidak, mengingat ia sendiri kurang berminat dalam menjalankan liturgi agama sebagai sebuah kebiasaan. Sejauh menjadi anaknya, saya melihat Ibu sebagai sosok yang lebih senang mengamalkan ajaran agama dalam perilaku sehari-hari ketimbang yang bersifat liturgis.

Jadi boleh dibilang merokok di samping suaminya yang sedang berpuasa adalah satu-satunya hal paling tidak sensitif yang dilakukan Ibu. Atau mungkin ini sudah menjadi konsensus di antara mereka, siapapun yang memegang kemudi punya hak untuk merokok di dalam mobil ber-AC. Apalagi perjalanan mudik Semarang-Jatisrono, desa kelahiran Bapak, makan waktu cukup lama, lebih kurang enam jam. Emang enak setir mulutnya asem?

Dalam ingatan kanak-kanak saya pada dekade 80-an, perjalanan mudik yang ditempuh dalam momen puasa memberi Bapak hak istimewa untuk duduk di kursi navigator. Sementara kami menghabiskan waktu dengan cekikikan atau mengobrol di kursi belakang, Ibu tidak mengganggu Bapak yang kadang tertidur lama di sebelahnya. “Duduk di samping sopir itu artinya navigator. Kalau tidak bisa memandu ya minimal jangan molor,” yang biasanya disemprotkan Ibu kepada navigator tukang ngorok, tidak berlaku bagi Bapak yang tertidur dalam lesi di sampingnya. Bapak gagal menjalankan fungsi sebagai navigator, tapi Ibu tetap melajukan gas tanpa kendor.

Berpuasa, sekalipun merupakan kebiasaan, tetap hal yang berat dilakukan. Setidaknya itu yang Ibu pahami, dan ia tidak keberatan dalam perjalanan panjang itu, ditinggal tidur navigatornya. Untuk membantunya berkonsentrasi, Ibu memasang tape sambil berdendang atau bersiul-siul. Atau menyalakan batang rokoknya yang kesekian.

Mobil melaju kencang, hingga waktu berbuka tiba dan kami akan singgah di rumah makan untuk menemani Bapak berbuka. Kami sudah bosan mengobrol, namun Ibu tetap setia dalam tugasnya menghantar kami ke rumah Simbah. Jatisrono adalah desa terpencil di Jawa Tengah dengan jalanan berkelok dan kerap berbatu-batu. Butuh keahlian khusus untuk menguasai medan semacam itu, tapi Ibu tidak menganggapnya beban dan menyetir penuh semangat, sementara suaminya terlelap dalam ibadah. Bukankah dalam Islam tidur kala puasa terhitung ibadah?

Mungkin tanpa Ibu sadari, sesosok malaikat melihat bahwa hari itu ada seorang istri yang rela menyetir sekian jam sepanjang jalan beraspal Semarang hingga jalanan berbatu-batu Jatisrono supaya suaminya bisa beribadah, dan mencatatnya sebagai ibadah pula. Siapa tahu?
*

*Yuanita Maya adalah penulis lepas, tinggal di Jakarta

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Elegi Mira Waria

Ill Mira Waria

-setelah membaca Kematian Sang Waria oleh Andreas Harsono

mira waria dituduh mencuri dompet dan telepon genggam
pemilik dompet seorang sopir melapor kepada preman
preman mendatangi mira waria di kamar kos sederhana
diajak ke tempat parkir longroom new priok container
lima ratus meter dari gang salak kontrakan mira waria

di tempat parkir si pemilik dompet melontarkan tuduhan
dua puluh lima sopir kenek kuli angkutan jadi saksi
mira waria terdesak tak kuasa bela diri
preman preman menunjuk nunjuk kepalanya
memukulnya menghajarnya seperti kesetanan
mira waria lemas terjongkok
mulutnya tetap membantah

sampai seorang jagoan menuang dua liter bensin ke kepala mira waria
suaranya keras mengancam hendak membakar
korek api dinyalakan didekatkan ke muka mira waria
diluar perkiraan si jagoan
percik api melompat jatuh di pakaian dan tubuh mira waria

wusss …. api menjalar cepat

seketika api membakar rambut mira waria gundul
wajahnya menyala hingga gosong
sopir kenek kuli angkutan kabur ketakutan
tinggal sang jagoan panik memadamkan api
melepas baju mira waria digeret masuk ke dalam got
gelora api padam lalu

mira waria keluar dari got sendiri dengan tubuh penuh luka
kakinya berjalan gontai terseok nenuju kontrakan sederhana
dia pikir lebih bagus menyongsong mati di kamar sendiri
tapi dia jatuh terduduk dekat satu musala
orang berkerumun mencari tahu mencari bantuan
membawa mira waria ke rumah sakit koja
kala itu adzan bergema sendu di cilincing

esok harinya mira waria memutuskan mati sendiri
meninggalkan kenalan dan kawan kumpulkan sumbangan
empat juta untuk bayar biaya rumah sakit dan tanah kuburan

mira waria merasa tak ada lagi alasan hidup di dunia
setiap hari hanya menunggu berganti
diskriminasi penghinaan penangkapan
negeri ini mencatat delapan puluh delapan persen korban kriminalisasi
terjadi pada manusia seperti mira waria atau transgender istilah ilmiahnya
sudah berlangsung dua belas tahun dan pasti
takkan banyak berubah kecuali peningkatan kekerasan

mira waria tahu tak ada lagi alasan hidup di dunia
dia tak menyesali hidup empat puluh dua tahun
dilahirkan ibu tersayang di makassar
melewati banyak waktu bingung memahami diri
pada ketika ia mampu menamai diri
saat sama keluarga menolak hidup yang dipilihnya
tak ada jalan lain kecuali tinggalkan semua di kampung
kabur ke ibukota tanpa ktp tanpa keterampilan

ia membuktikan ibukota lebih kejam dari ibu tiri
hidup tak mudah hingga ia jajakan diri mudah
sekadar napas lebih panjang hingga esok hari
seperti godot ia menunggu hidup menjadi ramah
tapi manusia sejenis mira waria akan selalu dikepung basa basi gaya negeri ini
empat puluh sembilan produk hukum dan kebijakan bahkan
diskriminasi adalah jerat bagi orang sejenis mira waria dikriminalisasi
undang undang anti pornografi bilang seks sesama jenis menyimpang
aturan agama menghukum mati matian manusia serupa mira waria
dengan cambuk seratus kali dan penjara seratus bulan

di negeri ini manusia serupa mira waria harus paham
bahwa tak ada tempat sejengkal terbuka
bahwa menahan napas tak lebih baik daripada bernapas
bahwa berkata jujur akan menjorokkan ke nista lebih dalam
bahwa berpikir untuk mati adalah paling bijaksana
dunia akan baik-baik saja tanpa seorang mira waria
dunia tak peduli meski wajah kemanusiaannya tercoreng tinta tebal

dalam luka terhina paling mencekau
sendu mira waria merasa tenang
dalam ingatan masa kanak-kanaknya
yang maha tak mungkin tak mencintai ciptaannya
dalam keadilan
dalam kemesraan
maka di dekat rumah tuhan ia rebahkan diri
dia tahu yang maha tak menolak siapa pun seburuk apa pun
seperti dunia menyiksanya dengan segala ancaman surga neraka

yang maha dalam ingatannya
adalah tangan yang mendekap sepenuh rindu
menyambut dengan senyum paling baru
membersihkan luka luka tubuhnya
mengecup amis darah kering di keningnya
menghapus semua kenangan buruk di benaknya
menjadi steril dan suci dan
mira waria tak sempat menangis ketika
tuhan menggendong dan mengayunnya di udara
tuhan yang ia kenang pada masa kanak kanaknya
bukan tuhan yang ia dengar pada masa dewasanya

foto shutterstock.com
itasiregar/13/04/20

read more
OASETERASWARA-WARA

Pendeta Baker

priest

Teks Ita Siregar
Foto Pixabay.com

Kita prihatin dengan berita 22 pendeta (per 3 April 2020) yang berpulang ke rumah Bapa karena terpapar virus Corona, apa pun peristiwanya. Kita gregetan mendengar beberapa dari hamba Tuhan menjadi pahlawan kesiangan di masa pagebluk ini. Mereka berkoar Tuhan lebih besar daripada Covid-19. Tentu saja. Virus hanyalah virus. Tuhan adalah Pemilik Semesta Alam.

Apa penjelasan yang waras dalam mengkonfrontasikan kekuasaan Tuhan dan keganasan virus yang bekerja senyap, sambil mempertaruhkan nyawa orang (baca umat)? Apakah terlalu malu dengan fakta bahwa anak Tuhan tidak kebal virus?

Tentang perihal di atas, saya mau berkisah tentang Pendeta Baker (baca baker, bukan beiker).

Dalam pelayanannya, Pendeta Baker menggumuli okultisme (dari bahasa Latin occultus (rahasia) dan occulere (tersembunyi). Kita (baca orang Kristen) suka dengan segala hal supranatural karena di luar kemampuan normal. Memang ada beberapa pendeta yang menunggangi talentanya menjadi kesenangan pribadi (mempertontonkan kemampuan itu karena ada udang di balik batu). Namun tak kurang pendeta yang bersikap mulia, menjadi hamba yang setia kepada Tuannya. Salah satunya adalah Pendeta Baker, yang akan saya ceritakan ini.

Suatu hari Pendeta Baker yang Batak dan istrinya yang Jawa mampir ke Balige. Dari Siborongborong mereka datang untuk satu urusan. Saya diperkenalkan kepada mereka oleh kawan saya. Perkenalan itu mengesankan karena cerita kawan saya saat bersamanya.

Satu malam mereka berkendara melewati hutan. Malam tanpa bintang. Di daerah yang namanya mereka tak tahu, mesin mobil mati. Pendeta Baker menstarter mobil puluhan kali, gagal. Sampai jarinya pegal. Dan ia berhenti. Matanya memandangi setir sekian detik, lalu berkata, “Kita harus berdoa.”

Lantas ia mengucapkan doa pendek. “Tuhan, mesin mobil mati. Di luar gelap sekali. Tolong kami. Amin.” Setelah itu tangannya memegang kunci, memutarnya sekali, dan mesin pun nyala. Haleluya!

Lalu cerita lain. Kawan saya diserang sakit perut hebat. Ia buang-buang air, usus melilit-lilit seperti mau mati. Sambil meringis dia meminta Pendeta Baker untuk membawanya ke dokter.

Melihat kawan saya, Pendeta Baker mengambil segelas air putih, berkata, “Lihat, ini air minum biasa. Minum ini, sakitmu akan hilang.” Teman saya menenggaknya habis. Tak lama ia tertidur seperti bayi. Saat bangun, sakitnya sudah ngacir.

Pendeta Baker punya sekolah untuk calon pendeta di Siborongborong. Satu kali seorang mahasiswanya kesurupan. Teman-teman si kesurupan berusaha mengusir roh yang bikin kesurupan, tidak bisa. Si kesurupan makin kesurupan. Putus asa, mereka memberitahu Pendeta Baker.

“Kenapa kalian tidak usir setannya?”

“Sudah, Pak. Tapi tidak bisa.” (Ingat kisah murid-murid Yesus yang juga tak bisa mengusir roh jahat).
Jadi Pendeta Baker pun turun tangan. Dia menuju ke TKP. Di sana para mahasiswa sedang menyanyi lagu Allah kuasa melakukan segala perkara. Termasuk si kesurupan. Bah! Setan kok nyanyi lagu rohani, pikirnya.

“Berhenti menyanyi! Mari kita ulang! Kita konsentrasi pada syair lagu,” katanya.

Pendeta Baker mulai angkat suara, para mahasiswa mengikuti. Baru satu baris lirik, si kesurupan menjerit, “Panas, panas!” Seketika Pendeta Baker menghardik, “Pergi kau dari orang ini!” Setan pun pergi. Si kesurupan siuman.

“Setan sering ngaku-ngaku jadi siapa saja. Nenek moyang, kawan yang sudah meninggal, bahkan malaikat. Camkan itu,” kata Pendeta Baker kepada para mahasiswanya.

Lalu pada satu subuh pukul 3 asrama mereka dikagetkan oleh suara orang berkotbah. Suaranya kencang minta ampun. Ternyata seorang mahasiswa kemasukan roh khotbah. Dia berkotbah dalam bahasa Inggris, Rusia, Jawa, berganti-ganti. Padahal kawan itu tak bisa bercakap bahasa Inggris sehari-hari.

Teman-teman si pengkhotbah berusaha menyadarkan, tak berhasil. Akhirnya mereka kembali memanggil suhu, Pendeta Baker.

Pendeta Baker berdiri menghadap si pengkhotbah, memintanya memandang matanya “Siapa kamu?” tanyanya.

“Aku Gabriel,” jawab si pengkhotbah.

“Ah, Gabriel gadungan kamu! Pergi sekarang juga!” sentak Pendeta Baker.

Malaikat gadungan itu pun kabur. Si mahasiswa sadar, bertanya-tanya, “Kenapa kita di sini?”

Kemampuan Pendeta Baker dikenal dari mulut ke mulut. Banyak orang kemudian tahu. Dan mereka meminta tolong untuk urusan segala macam. Masalah penyakit, jodoh, ingin anak, relasi harmonis, dan lain-lain.

Pendeta Baker sadar bahwa talentanya sangat menggoda untuk diselewengkan. Umat atau siapa pun yang merasa tertolong, tentu tak keberatan menyerahkan amplop berisi persembahan kasih sekadarnya, yang kadang-kadang bukan sekadarnya.

Pendeta Baker telah berjanji kepada dirinya. Bahwa dia takkan hidup dari persembahan orang-orang yang dilayaninya. Karena itu dia bertani. Dia punya tanah 3000 meter. Dia menanami tanahnya dengan jeruk, alpukat, cabai, dan rupa-rupa yang lain. Setiap tiga bulan dia ke Padangsidempuan untuk menjual hasil ladang. Di pasar dia berjumpa dengan orang dari golongan apa pun, agama apa pun. Dia menjalani kesehariannya yang lain sebagai petani.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

Dia pun berkisah. Waktu kecil, pertama kali dia diajak oleh ibunya ke gereja orang dewasa. Mereka duduk mendengarkan orang di atas mimbar berbicara. Setelah itu jemaat membuang uang di kantong yang diedarkan. Dia bertanya kepada ibunya, apa pekerjaan orang itu. Pendeta, jawab ibunya. Sejak itu dia bercita-cita menjadi pendeta. Hanya berbicara, orang mendengarkan, setelah itu orang kasih uang. Gampang sekali, pikirnya.

Lalu tahun 70-an, dia dan abangnya akan sidi. Pendeta gereja meminta biaya Rp10.000 untuk masing-masing. Waktu itu ayahnya tak punya uang. Jadi dia bilang kepadanya, “Kau sidi belakanganlah dari abangmu ya. Bapak tak ada uang.” Pendeta Baker sedih padahal dia sudah membayangkan akan mengenakan kemeja putih lengan panjang.

Sejak itu dia berjanji, kelak menjadi pendeta, tak berharap persembahan umat. Pengalaman sidi selalu dia kenang sampai sekarang. Dan sudah selayaknya jemaat memikul tanggung jawab bersama. Menolong agar pendeta mereka menjalani tugas mulia secara bermartabat. Menjaga agar para hamba Tuhan kesayangan tak jual diri di bawah ketiak Tuhan.

Semoga kita dapat melewati masa pagebluk dengan kewarasan. Bukan dengan iman yang klise.

(is/04/04/20)

read more
FeaturedGAYAPerjalananTERASWARA-WARA

Rabu Onan di Bakara

Pulau Simamora

Teks Ita Siregar
Foto Tim Voyage

Seminggu sebelum hari Rabu saya sudah mengajak Tim Voyage Hopper, ke Bakara. Rabu hari pasar (onan) di sana. Kita naik kapal, saya bilang. Lembah hijau yang menawan itu, sudah memanggil-manggil.

Selasa sore kami mengecek ke pelabuhan Balige. Petugas bilang kapal akan lepas jangkar pukul 8, teng. Keberangkatan yang ambisius. Pagi selalu repot. Tim juga belum bangun. Mungkin. Saya tenang berpikir kami akan ber-trail saja.

Kami siap jam 11. Agak telat memang. Matahari sudah sengit. Syukurlah angin sibuk meniup-niup panas.
Dari Balige, motor trail Tim meluncur mulus ke arah Siborongborong. Jalanan bagus. Mesin tak berisik. Saya bisa sandarkan punggung dengan enak ke boks akrilik sesekali, ke belakang. Tim suka mengecek google map-nya. Saya lebih suka bertanya ke orang lewat. Selebihnya, kami setia pada petunjuk jalan.

Dari Dolok Sanggul motor menyentuh mulut Bakara. Setelah ini jalanan akan menurun, terus hingga di lembah, di bawah sana. Di satu ketinggian, kami berhenti. Mendengar deras sungai seperti tertawa. Memandang sawah-sawah malas membentang. Dinding-dinding bukit pinus bikin hati hijau. Lembah Bakara indah tiada tara. Konon, tentara Belanda banyak terjatuh dari kuda yang tergelincir akibat mata kelewat asyik memandang.

Kami mampir ke istana Sisingamangajara XII, di desa Bakti Raja. Kompleks bersih dan rapi. Serba hitam-merah-putih. Penjaga, adalah siapa saja keluarga Sinambela, marga dinasti raja, yang ada di sana. Ramah mempersilakan. Di halaman kompleks satu ompung menaruh sekarung mangga Toba yang sudah masak. Omakku boru Regar, jadi mar namboru ma ho tu ahu, katanya. Saya membeli satu plastic mangga.

Di satu rumah makan yang pernah saya kunjungi, saya berharap makan mi sup. Sayang tidak ada menu itu. Jadi kami makan siang ayam semur dan gulai daun singkong tumbuk. Tim bolak-balik diajak selfi oleh pemilik kedai, yang girang kedatangan bule. Dua putrinya antusias bertanya ini-itu, menyoal Tim. Saya penerjemah yang baik. Ganteng, kata mereka. Setelah saya memotret Tim dan mereka bertiga, beberapa kali, baru kami pergi.

Meski tertutup helm, rambut gimbal pirang Tim nongol. Kebuleannya segera dikenali. Di atas motor, seruan-seruan, Hello Mister, Hello Mister, berulang kali. Tim entah akan mengangkat tangan atau menjawab, Horas!

Kami parkir di depan onan. Seandainya kami tadi naik kapal, maka pelabuhan Bakara persis di belakang onan. Melewati gapuranya, seorang pedagang menawari minuman es kocok. Saya senang karena mereka pasangan penjual yang saya pernah mengobrol banyak. Dulu, si suami bercerita masa keemasan mencari lobster yang tersembunyi di balik-balik karang yang sulit, di tepian Toba. Usaha bagus itu kemudian menimbulkan banyak masalah, banyak perselisihan, dan akhirnya dia tinggalkan.

Kami berjalan lagi. Seorang menghadang jalan kami. Makan pisang goreng kami yang enak ini, katanya. Seribu sepotong. Bah! Enak, murah. Paduan yang sempurna. Di dermaga sederhana, dua kapal mangkal. Segerombolan anak kecil terpesona melihat ada makhluk serupa Tim di dunia ini. Mereka tertawa-tawa menyapa, hello, hello.

Kami melipir keluar pasar. Harus sigap. Masih banyak tempat harus dikunjungi. Hampir ke parkir motor, seorang pemuda memburu. Swandi Marbun, saya tour guide di Bakara, katanya menyalam saya. Matanya tertawa.

“Saya tahu kedatangan kalian dari teman. Kristine Sinambela dari Simangulampe. Katanya kenal Kakak,” katanya. Ah, betul. Saya menghubungi Aril Aritonang, teman Kristine, soal kedatangan saya hari ini.

“Di Homestay Simamora sedang berkumpul petugas Dinas Pariwisata Humbanghas (Kabupaten Humbang Hasundutan). Kalau bersedia, datanglah. Kita diskusi soal pariwisata,” katanya.

Kami setuju. Kami mengekor.

Homestay yang dimaksud oleh Swandi adalah rumah kayu panggung di tengah sawah. Depan-belakang bukit-bukit pinus di kejauhan. Homestay terdiri dari dua kamar, ruang tamu, dapur mungil, kamar mandi. Ada wifi. Ada antena parabola. Kelak saya tahu Dinas Pariwisata telah membangun 7 homestay serupa. Tercanggih persis menghadap Danau Toba.

Kami mengobrol dengan 7-8 petugas, yang antusias. Beberapa berbahasa Inggris dengan baik, bicara dengan Tim. Mereka sebutkan pariwisata yang mereka punya. Tempat kemping dengan sewa tenda murah, rafting, naik ke puncak Gonting, berenang di air jernih, sewa sepeda Rp35ribu per hari.

“Tadi kami ke pantai dekat mess Pemkab. Itu terbersih yang saya lihat selama saya di sini,” kata Tim.
Bakara tidak perlu apa-apa lagi karena dirinya indah. “Kami tinggal memikirkan kegiatan-kegiatan malam agar wisman punya banyak pilihan,” kata salah satu dari mereka.

Kami harus pamit. Kami akan ke air terjun Janji. Air terjun yang cipratan airnya terasa dari radius 50 meter. Kekuatan suaranya menyejuk hati.

Menuju ke sana, jalanan menyajikan pemandangan hebat. Ada pulau Simamora yang seperti menyembul hijau di tengah air danau. Tim beberapa kali berhenti untuk mengambil foto. Kami duduk di batu di pinggir jalan, hanya memandangi semua keajaiban itu.

Lalu kami ke Aek Sipangolu. Sumber air yang konon Raja Sisingamangaraja menancapkan tongkat di Gunung, sehingga mengalir air.

Sudah jam 5 sore. Kami harus cepat kecuali mau disergap gelap. Kami akan mengambil sepanjang sisi danau Toba, ke Muara. Matahari di belakang kami, berwarna emas. Awan-awan menutupi.

Kami balik lewat Sipinsur, jalanan yang membelah hutan. Bau dedaunan muda, segar minta ampun. Dan kami ketemu satu ketinggian lain. Berjejak di atasnya, seperti hendak terbang. Air danau tenang berkilau di sebuah jarak, pulau-pulau kecil diam sendiri. Perlahan matahari jatuh. Tiba-tiba kelabu, pekat. Angin lebih kencang, lebih dingin.

Tim melesatkan kendaraannya. Berlomba dengan angin. Kami tiba di Balige sekitar pukul 7 malam. Turun dari motor, rindu Bakara sudah memanggil.

Oya, tentang Tim Voyage. Dia adalah petualang asal Jerman. Dia bertemu Sebastian Hutabarat di Medan, berencana hanya mampir satu dua hari di Balige, sekarang sudah dua bulan tinggal, karena akhirnya dia punya banyak agenda ini-itu. Sebentar lagi dia akan memulai tur menembus Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, bermotor. Seandainya melihat siluet dengan gambaran yang saya ceritakan di atas, dialah itu. Catatan perjalanannya dapat dilihat di motomundo.de

Seperti diakui petugas Dinas Pariwisata, warga dan PemKab sebaiknya gotong-royong memikirkan banyak kegiatan kreatif agar wisman tinggal lebih lama di Bakara. Tidak asal lewat. Seperti sudah terjadi pada Tim. (is/06/03/20)

read more
OASETERASWARA-WARA

Kopi Pertama

Ill. Kopi Pertama

Kemarin dia menunjukkan foto suaminya. Saya melihatnya dengan antusias, menggeser-geser touch screen hapenya, berkata pelan, “Waduh, masih muda ya.” Saya bisa mengatakan itu karena wajah yang tampak di sana tak menunjukkan kerut, kulitnya terang.

“Iya, Kak, masih 43 tahun waktu meninggal,” jawabnya.

Suaminya meninggal September lalu karena narkoba. Balige tahun 2000-an, katanya, sangat gawat. Laki-laki pemakai berkeliaran di kota, beberapa perempuan muda ikut-ikutan, bikin kota jadi menyeramkan. Teman-teman main suaminya itu sudah bermatian, lebih dulu.

Mereka berdua punya tiga anak. Laki-laki semua. Suaminya diciduk polisi saat mereka di rumah. Bungsunya masih 3-4 tahun usianya. Sebelum polisi menangkap, suaminya melesakkan barang terlarang itu ke telapak tangannya.

“Apa nya kau ini?” katanya tak mengerti.

Suaminya pikir polisi akan jatuh kasihan bila melihat barang itu di tangan seorang ibu dengan tiga anak laki-laki kecil. Kalau si ibu ditangkap, siapa mengurus anak-anak itu? Tetapi suaminya salah. Polisi galak menanyainya sampai dia tak mampu berkelit. Bagaimana bisa bohong? Di lengan suaminya kentara banyak bekas suntikan obat terlarang.

Memang sudah kecanduan berat suaminya itu. Kalau sedang sakau, dia akan terserang demam hebat, yang membuatnya merinding melihatnya. Bagaimana seorang manusia tega merusak diri dengan merindu obat-obatan sialan itu?

Dan malam itu suaminya dibawa pergi. Anak-anaknya masih terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi. Dan ia tahu apa yang dilakukan polisi kepada orang-orang seperti suaminya. Mereka akan dibawa ke hutan sana, dipukuli ditendangi disiksa sehabis-habisnya. Biar kapok, pikir polisi. Tapi sampai sumsum tulang mereka menagih obat. Seperti penjara besi berlapis tujuh.

Lalu suaminya dijatuhi 7 tahun penjara. Dia mengadu kepada ayahnya. Ayahnya tahu menantunya sebenarnya berhati baik. Hanya salah pergaulan. Ayahnya mengupayakan segala sesuatu, menebus waktu menantunya, tujuh tahun dipotong menjadi 3 tahun.

Selama 3 tahun dia bekerja apa saja dengan tangannya. Ada tiga anak yang harus diberi makan setiap hari. Ia mencuci pakaian orang, membereskan rumah orang, apa saja. Begitu terus sampai selesai 3 tahun. Suaminya dibebaskan.

Lalu ayahnya membelikan suaminya mobil angkutan agar bisa cari uang sebagai sopir. Mereka keluarga bahagia selama beberapa waktu. Sampai lingkungan buruk itu kembali menarik-narik suaminya. Lagi-lagi narkoba jahanam. Dia menyesali suaminya yang kurang gigih bertobat. Tapi apa mau dikata? Apa mau disesali? Itulah suaminya. Yang lebih dan kurangnya ia harus terima, bersih.

Kemudian suaminya jatuh sakit. Sangat sakit. Hanya mendekam di tempat tidur. Kurus tak berdaya. Makanan tidak dapat ditelannya.

Setahun terakhir adalah hari-hari yang berat baginya. “Kalau dipikir-pikir, bagaimana aku bisa bangun pagi, mengurus anak-anak dan suami dan rumah, kerja. Seperti mimpi, Kak. Seperti mimpi,” katanya.

Hari-hari terakhir. Suaminya sudah berulang kali meminta maaf. Karena telah membiarkan istri bekerja menafkahi keluarga. Dan dia memaafkan. Dia memaafkan dengan tulus. Apa lagi? Setiap akan pergi kerja, dia tanya suaminya, “Boleh nya aku pergi?”

“Pergilah. Asal cepat kau pulang. Sambil kau doakan aku, doakan aku,” kata suaminya.

Tubuh suaminya terlalu parah sampai mereka perlu membawanya ke rumah sakit. Mereka bergantian menjaga. Sekarang ketiga anak mereka sudah besar.

“Kalau Bapak meninggal, apa Mamak bisa membiayai kami?” tanya si bungsu memandang ibunya, ragu.

Ia memandang mata anaknya dengan gusar, menjawab, “Bah! Bisa! Gampang nya cari duit itu. Asal kau mau kerja!”

Dan hari penentuan itu pun tibalah. Suaminya pergi dalam sunyi. Tanpa pesan, tanpa kata. Sulungnya, yang waktu itu seharian menjaga, pergi pulang lalu ayahnya pergi. Dan dia sangat menyesali ayahnya. “Pak, seharian aku jaga kau, kau tak pesan apa-apa sama aku! Aku pergi sebentar, kau pergi nya!”

Kepergian itu menghentak kesadarannya. Ia tidak tahu apa dia senang atau sedih. Bebannya sudah terangkat tetapi kekosongan melanda jiwanya. Dia menyesali suaminya yang tidak berusaha hidup lebih lama untuk mendampinginya melihat cucu-cucu yang lahir kelak. Banyak yang dia sesali. Banyak juga kenangan yang kembali. Anak-anak mengasihi ayah mereka. Itulah kebaikan suaminya yang tak terhapus oleh ketidakmampuannya melawan pengaruh jahat dari luar dirinya.

“Hidup aku ini seperti mimpi, Kak. Seperti mimpi!” dia menekan kata mimpi. Saya mengangguk-angguk, mencoba paham.

“Orang bilang aku makin gemuk. Lihat Kakak kemarin aku pesta kan? Tak satu pun kebayaku muat.” Dia tertawa.

Saya ikut tertawa, mengangguk-angguk. Saya senang melihatnya senang. Dia telah melewati banyak kegelapan dalam hidup, dengan keberanian.

Sepanjang pagi hingga siang itu kami ngobrol, langit terus merajuk, menangis. “Enak kalau minum kopi dingin begini,” katanya.

“Mau? Aku bikinin ya? Dengan susu manis?”

Dia setuju. Saya bersemangat. Senin sampai Sabtu dia datang, mungkin untuk 3-4 jam membereskan rumah kawan saya, tempat saya tinggal selama hampir empat bulan, baru hari ini kami mengobrol hebat. Benang-benang merah jadi lurus sekarang. Dan saya ingin merayakannya. Membuatkan kopi untuknya. Meski dia tak suka kopi buatan saya. Terlalu pahit, katanya. (itasiregar/16/02/20)

read more
OASETERASWARA-WARA

In Memoriam Graha Bhakti Budaya

FTI 2016

(1968-2020)

Sejak 2012 saya membantu Radhar Panca Dahana (RPD) membuat kegiatan –perhelatan dan pertunjukan teater terutama- di Taman Ismail Marzuki (TIM). Seringnya di Graha Bhakti Budaya (GBB).

Setiap tahun misalnya, Federasi Teater Indonesia (FTI) menyelenggarakan Malam Anugerah FTI. Acara ini dalam rangka mengapresiasi karya dan kerja senior teater, dan Maecenas-nya. Yang menyerahkan penghargaan para tokoh dan pembesar negeri ini.

Menjadi mediator antara RPD dan teman-teman pengurus TIM, tidaklah mudah. Yang satu idealis, yang satu saklek administratif. Pertama kali berurusan dengan keduanya, bikin sesak napas. Ini bagian paling menantang. Saya dipingpong dengan alasan masing-masing. Kalau saya lapor, “Ndak bisa, Mas, orang TIM bilang bla bla bla …”, eh saya malah didesak, “Ndak bisa gitu dong, Ta. Kamu bilang ke mereka bla bla bla ….” Dan pihak TIM bergeming. Oh, Tuhan!

Karena sering berada di antara dunia yang sama-sama keras dan mendesak, lama kelamaan saya menemukan mekanisme sendiri untuk “menyelamatkan “ diri dari “tekanan” keduanya. Saya makin tahu di mana celah “mengalahkan” keras kepala RPD dan paham gentingnya masa depan teman-teman TIM bila bersikap longgar dengan peraturan. Kepentingan saya hanya satu: pekerjaan selesai. Dan saya tidak spaning.

Alasan RPD menyelenggarakan kegiatan semacam ini bukan karena dia kelebihan duit. Tidak sama sekali. Tetapi bahwa teater adalah kegiatan paling mengekspresikan kehidupan. Saya menyetujui pendapat itu ketika belajar mengurus acaranya. Karena sebuah pertunjukan teater penting diselenggarakan dan perlu diselenggarakan secara serius, di tempat yang baik dan terhormat.

TIM (baca GBB) dan RPD, adalah dua tempat saya belajar. Saya bergelut dengan perasaan sendiri dalam memahami manusia-manusia selama proses kerja. Mental saya terbentuk saat berbicara dengan para undangan yang adalah para tokoh dan senior, seniman dan artis yang terlibat, media yang biasa diundang, teman-teman panitia, penonton, dan pihak keamanan (polisi). Selama acara saya bisa jadi apa saja, dan itu tak penting. Yang penting acara mengalir sebaik-baiknya. Saya menjadi host, memastikan kamar kecil bersih, memikirkan kesejahteraan perut teman-teman panitia, menjawab pertanyaan orang luar.

Ruang-ruang di GBB menjadi saksi saya kena semprot RPD, di depan orang-orang. Sekali lagi, itu tidak lagi penting. Bagi saya, mengenali kebutuhan diri dan sesama mekar bersama waktu itu. Artinya, menghargai seorang presiden sama pentingnya dengan menghargai tukang parkir.

Acara Dialog Presiden&Kebudayaan tahun 2014 menghadirkan Prabowo dan Jokowi. Ketika itu saya sadar, pada posisi kebudayaan, mereka adalah manusia dengan segala kekurangan-kelebihan. Saya masih ingat (dan geli) di ruang transit, Pak Prabowo berkata, “Makhluk apa itu kebudayaan.”

Tahun 2015, ketika FTI menghadirkan Kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, dan tokoh teater Akhudiat, saya tidak takut berdebat dengan kepala polisi dan ketua FPI Jakarta. Ketika kepala polisi berkata kepada saya untuk menghentikan kegiatan dengan alasan keamanan (waktu itu ratusan FPI sudah berkumpul di halaman TIM), saya menjawab, “Pak, ini acara kebudayaan, siapa pun bahkan presiden, tidak boleh menghentikan kegiatan ini. Kalau ada demontrasi di depan sana, ya Bapak tolong bantu amankan, dong. Jangan malah kami yang disuruh berhenti. Gimana sih Bapak ini?”

Dan acara lain, dan yang lain, pada tahun berbeda. Semua didokumentasikan abadi, direkam oleh dinding-dinding GBB. Dengan puluhan ingatan pernah dan sering beracara di sini, TIM adalah tempat yang dekat di hati. Saya biasa mampir –sendiri atau dengan kawan, sekadar makan Soto Surabaya, ngobrol atau nonton teater.

Terakhir tahun 2019 ke sana, saya melihat banyak wajah berubah. Kompleks warung pada sisi kanan lokasi, dirubuhkan. Itu saja sudah bikin hati sunyi. Melihat suasana berubah, mencipta rasa asing dan panik sendiri. Membaca rencana revitalisasi oleh penguasa, dan aksi-aksi #saveTIM oleh teman-teman seniman yang bergulat dengan pertanyaan, “Entah kapan usaha ini berakhir”, saya ikut bertanya-tanya, apa jadimu, TIM?

Semalam, membaca catatan emosional kawan-kawan di media sosial mereka, lalu foto GBB dirubuhkan oleh alat berat, mata saya hanya melihat dan jantung bekerja lebih cepat. Sejak berdiri tahun 1968 hingga kemarin, ia 52 tahun. Suka-duka ceritanya ada di jutaan hati yang pernah bersentuhan dengannya. Sepertinya badan saya gemetar karena tak mampu bilang, “Pak, ini tempat kami merayakan ekspresi kebudayaan. Presiden atau siapa pun tidak boleh merubuhkan ini. Jangan kami disuruh berhenti. Bapak ini gimana sih?” (is/06/02/20)

Keterangan Foto:
Acara Malam Anugerah FTI 2016 oleh Federasi Teater Indonesia

read more
1 2 3 8
Page 1 of 8